
Rembulan dan mentari datang silih berganti. Dua puluh empat jam sudah berlalu sejak Bylla melihat berita pernikahan Ghani dan Evelyn.
Detik ini, dia sedang duduk di dekat jendela, di kamar apartemen. Menatap menara besi yang masih berdiri kokoh menantang langit.
Setetes air mata lolos begitu saja, membasahi pipi mulus nan menawan. Sang kekasih yang dinanti, tak jua memberikan kabar. Ke mana? Satu pertanyaan yang kerap kali Bylla lontarkan dalam hati.
"Tiga hari kamu menghilang tanpa kabar, dan kamu hanya meninggalkan sebuah berita yang menyakitkan. Ghani, apa salah jika aku berprasangka buruk padamu," gumam Bylla seorang diri.
Mata biru nan sendu kembali memandangi layar ponselnya. Masih tidak ada tanda-tanda pesan ataupun panggilan dari Ghani. Disaat ia sedang terluka karena sikap Mika. Kini Ghani malah menambah luka itu, membuatnya semakin pedih dan perih.
"Bylla!" panggil seseorang dari ambang pintu.
Bylla menoleh sambil menyeka air mata. Ternyata ibunya yang datang.
"Ada apa, kenapa menangis?" tanya Ella.
"Tidak apa-apa, Ma." Bylla terus menyeka air mata yang masih saja berjatuhan.
"Ayo cerita sama Mama, siapa tahu Mama bisa bantu." Ella tersenyum sambil mengusap rambut Bylla dengan lembut.
"Ghani Ma," ucap Bylla setelah diam beberapa detik.
"Ada apa dengan Ghani?" tanya Ella.
"Sudah tiga hari dia tidak memberi kabar, dan kemarin ... aku malah melihat beritanya yang menikah dengan Evelyn. Dia sama sekali tidak mencoba menjelaskan semua ini padaku. Apa memang kisah cintaku harus berakhir seperti ini, Ma? Dulu Reymond, dan sekarang ... Ghani," ungkap Bylla dengan air mata yang semakin meleleh.
"Mama mengerti bagaimana perasaan kamu. Menangislah jika itu bisa meringankan beban, tapi jangan lantas larut dalam masalahmu!
Ingat, dibalik kejadian pasti ada hikmah dan alasan. Serumit apapun masalahmu, Allah pasti akan memberikan jalan keluar," ujar Ella dengan senyum yang terus mengembang.
Bylla tak menjawab, ia hanya menatap ibunya lekat-lekat. Wanita terhebat yang pernah Bylla temui, ayahnya benar-benar lelaki yang beruntung. Tapi sayang keberuntungan itu tidak diturunkan padanya.
"Ma!" panggil Bylla setelah melamun cukup lama.
"Hmmmm."
"Pernahkah Mama mengalami kisah rumit seperti ini?" tanya Bylla.
__ADS_1
Ella tersenyum masam, "seperti ini tidak pernah, tapi jauh lebih rumit pernah."
"Benarkah, seperti apa itu Ma?" tanya Bylla seakan tak percaya.
Ayah dan ibunya adalah pasangan yang sangat romantis, dari Bylla berwujud gadis kecil, hingga kini sudah menjelma wanita dewasa. Tak pernah sekali pun, Bylla melihat mereka bertengkar. Ibunya adalah wanita yang sangat pandai menjaga sikap. Dan ayahnya adalah lelaki yang sangat memuliakan wanita. Rasanya tidak mungkin, jika mereka pernah mengalami hari buruk.
"Kamu ingin tahu?" Ella balik bertanya.
"Heem," jawab Bylla.
"Mama dan Papa pernah berpisah, ketika hampir menikah. Tapi ternyata Allah memberikan jalan untuk kami kembali bersama," ucap Ella.
"Mama serius? Apa yang membuat Mama dan Papa berpisah? Kulihat Papa orang baik, dan begitu juga dengan Mama." Bylla menegakkan duduknya, dan menatap ibunya lebih lekat.
"Kesalah pahaman. Kami saling mencintai, dan tidak pernah mengkhianati. Tapi keadaan membuat kami salah paham, hingga sampai pada perpisahan," ujar Ella.
"Aku masih tidak mengerti, Ma. Kesalah pahaman seperti apa yang membuat Mama dan Papa berpisah?" tanya Bylla.
"Kamu tidak perlu tahu detail masalah Mama di masa lalu. Hanya saja, satu hal yang harus kamu tahu Bylla. Jangan terburu-buru menilai sesuatu, tanpa kau tahu kejelasannya. Terkadang kenyataan tidak sesuai dengan keadaan yang kita lihat. Jika kamu memang mencintai Ghani, pertahankan perasaan itu, dan percayalah padanya. Ikuti kata hatimu Bylla, jangan menuruti emosi," terang Ella dengan panjang lebar.
"Apa aku harus menunggu Ghani, tapi bagaimana jika nanti dia benar-benar mengkhianatiku, Ma?"
Bylla bergeming, ia sibuk mencerna setiap kata yang dilontarkan ibunya.
"Baiklah, aku akan menunggu hingga lusa. Tapi, jika sampai saat itu masih tidak ada kabar dari Ghani, aku tidak akan berharap lagi," batin Bylla.
***
Lima hari kemudian.
Tommy, personel Batas, dan kru lainnya telah tiba di Kepulauan Seribu. Turun dari kapal, dan melangkah menyongsong sinar mentari yang sudah merangkak tinggi.
Semuanya bernapas lega, setelah satu minggu penuh menguras tenaga di pulau terpencil. Akhirnya satu video klip yang cukup rumit berhasil diselesaikan, dan kini mereka dalam perjalanan pulang.
Pertama kali menginjakkan kaki di tanah, Ghani langsung merogoh ponselnya. Ia sudah tidak sabar untuk menghubungi sang kekasih.
Begitu banyak pesan yang masuk ke nomornya. Dari Livay, Alina, Arron, Bylla, dan teman lainnya. Satu nama yang pertama kali ia sentuh adalah nama Bylla. Ada 29 pesan yang belum terbaca.
__ADS_1
Tubuh Ghani seakan membeku detik itu juga, saat membaca satu pesan terakhir Bylla. Matanya membelalak lebar, dan bahkan ia sampai menghentikan langkah.
Baiklah, cukup sudah aku menunggu penjelasan darimu, Ghani. Meski aku masih tidak percaya kau akan melakukannya, tapi inilah fakta. Mungkin aku yang terlalu naif, mengharap cinta tulus dari sang bintang. Sementara di sekitarmu, banyak wanita yang lebih bersinar. Terima kasih sudah menjadikan aku sebagai tempat persinggahan. Kita berakhir di sini, Ghani.
"Bylla, apa maksudnya ini," gumam Ghani dengan jantung yang berdetak cepat.
Lantas ia menghubungi nomor Bylla, meminta penjelasan atas maksud pesannya. Namun sayang nomor Bylla tidak aktif. Lalu Ghani mencoba menghubungi lewat IG dan FB, tapi juga tidak bisa.
"Apakah aku sudah diblokir?" batin Ghani.
Kemudian ia meminjam ponsel milik Arsen, dan mencoba menghubungi Bylla. Namun hasilnya tetap nihil. Rupanya Bylla sudah menutup akunnya.
"Kenapa Ghan?" tanya Arsen kala melihat Ghani berdecak kesal.
"Aku ada masalah dengan Bylla," ucap Ghani dengan pelan.
"Ada apa?" Arsen kembali bertanya.
"Dia tiba-tiba memutuskan hubungan, tanpa kutahu apa salahku. Nomornya tidak aktif, dan akunnya sudah ditutup, aku tidak bisa menghubungi lagi sekarang." Ghani mengusap wajahnya dengan kasar. Sambil sesekali bibirnya berdecak pelan.
Satu orang di antara mereka tersenyum lebar, kala mendengar apa yang Ghani perbincangkan. Dia adalah Tommy, lelaki yang sangat mengharapkan perpisahan Ghani dan Bylla.
"Rupanya kau melakukan seperti apa yang kukatakan. Bagus, itu artinya kau masih takut dengan penjara. Aku ingin melihat hasil kerja kerasmu," batin Tommy.
Lantas ia merogoh ponsel yang masih tersimpan rapi di sakunya.
Tommy mengabaikan beberapa pesan masuk yang jumlahnya mencapai ratusan. Ia sudah tidak sabar untuk melihat berita yang pasti trending beberapa hari lalu.
Namun tiba-tiba senyuman Tommy memudar, dan ia malah tercengang. Berita yang paling utama bukan datang dari Ghani, melainkan dari Frans Been Jackson.
Tommy sedikit gemetaran, keringat dingin mulai bercucuran kala membaca artikel yang menyebutkan Frans dan Laras sudah mendekam di balik jeruji.
"Kenapa bisa seperti ini, siapa yang berani melakukannya? Jika demikian, keselamatanku juga terancam," batin Tommy dengan perasaan gusar.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Panik, takut, marah, semua bercampur jadi satu, dan mengaduk-aduk hatinya.
Sial!! Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tidak mau masuk penjara!
__ADS_1
Bersambung....