Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Luka


__ADS_3

Sang surya telah kembali ke peraduannya. Kerlip bintang mulai tampak samar-samar, menghiasi hamparan langit tinggi.


Di tengah keremangan cahaya lilin yang menyala di atas meja, seorang lelaki berdiri di dekat jendela kamarnya. Menatap suasana malam yang gelap, karena saat itu, listrik di sekitarnya sedang padam.


Lelaki itu menunduk, mencengkeram bingkai jendela dengan sangat erat. Ia tak peduli dengan hembusan angin malam yang menerpa wajahnya, karena yang ia tahu hanyalah rasa sesak di dada, yang seakan tak menyisakan ruang untuk bernafas.


"Ya Allah aku berusaha untuk ikhlas, tapi kenapa dadaku ini rasanya sakit dan sesak. Dia akan menikah, tolong hapuskan perasaanku padanya Ya Allah." Gumam lelaki yang tak lain adalah Ghani.


Untuk pertama kalinya Ghani menyimpan rasa pada seorang wanita. Namun sayang seribu kali sayang, sebuah rasa yang baru saja mekar, terpaksa harus layu karena kenyataan tak sejalan dengan harapan.


"Seharusnya aku tidak boleh sedih, Bylla pasti lebih bahagia bersamanya. Siapa diriku, apa yang kupunya, yang bisa kuberikan padanya. Selain perasaan, tiada lagi yang aku miliki." Ucap Ghani. Ia mengedipkan netranya dengan cepat, mencoba menahan buliran bening yang sudah menggenangi bola matanya.


"Jangan menyerah, Bang! Baru calon kan, belum suami, masih ada harapan, Bang!" kata Arron sambil menepuk bahu Ghani.


"Aku tidak mau berharap lagi." Sahut Ghani dengan cepat. Ia menoleh, dan menatap sekilas ke arah Arron yang sedang berdiri di sampingnya.


"Kau menyerah, Bang?" tanya Arron.


"Bukan menyerah, hanya saja aku sadar diri. Aku memang tidak pantas untuk dia. Banyak hal yang dibutuhkan dalam suatu hubungan, dan aku, selain perasaan, aku tidak punya apa-apa lagi Ron. Apa yang bisa kuberikan untuk dia, tidak ada."


"Kamu salah Bang, selain perasaan, kamu juga masih punya Tuhan. Kamu sendiri yang pernah bilang padaku Bang, katamu doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, itu ibarat anak panah yang dilepaskan dari busurnya, cepat dan akurat. Kenapa kau tidak mencobanya, Bang? Tuhan punya segala cara untuk menyatukan setiap hamba-Nya, jika dia memang jodohmu, tidak ada yang tidak mungkin," ucap Arron sambil menatap Ghani.


Ghani mengangkat wajahnya, mendongak, dan menatap kerlip bintang yang terlihat semakin jelas. Selama ini dia selalu menyebut nama Bylla dalam setiap doanya, entah di pagi hari, siang, sore, atau juga di sepertiga malamnya. Namun kini ia ragu, masih pantaskah ia menyebut nama Bylla, masih bolehkah ia mengharapkan wanita itu. Dia akan menikah, bukankah dosa jika ia masih menginginkannya.


"Selama ini aku sudah melakukannya Ron, dan mungkin inilah jawabannya. Bylla bukan jodohku, dia jodohnya Reymond. Dan aku, mungkin Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang lain untukku." Ucap Ghani sambil tetap mendongak.


"Kau tidak ada keinginan untuk memperjuangkannya, Bang?" tanya Arron.


"Aku tidak mau menjadi orang ketiga." Jawab Ghani.


"Tapi Bang."


"Apalagi Ron? Lelaki yang dicintai Bylla itu adalah Reymond, bukan aku. Aku tidak punya hak untuk mengusik kebahagiaannya." Kata Ghani.

__ADS_1


Arron terdiam, ia tak mengucapkan sepatah katapun, namun netranya menilik wajah Ghani. Meskipun dalam keremangan, raut kekecewaan terpancar jelas dari wajahnya.


"Seharusnya kau tidak usah hadir dalam hidupnya Byl, dengan begitu dia tidak akan pernah mencintaimu, dan dia tidak akan terluka seperti ini. Aku tahu dia hanyalah lelaki miskin yang tidak memiliki harta dan benda. Tapi asal kau tahu, hatinya sangat mulia dan bijaksana, sesungguhnya aku tidak rela melihatnya menyimpan lara seperti ini. Kau memang baik, tapi tanpa kau sadari, kau juga kejam Bylla." Batin Arron tanpa mengalihkan pandangannya.


"Cinta sejati, itu tidak harus memiliki Ron. Cukup biarkan dia bahagia, dan hargai pilihannya, serta doakan yang terbaik untuk dia. Itulah makna cinta yang sebenarnya.


Jika memaksakan kehendak, tak peduli, dan tak mau menghargai perasaannya, itu bukan cinta, melainkan nafsu belaka." Ucap Ghani dengan pelan.


"Jadi kau akan membiarkan dia menikah dengan lelaki lain, Bang? Kau tidak mau sedikit saja mempertimbangkan perasaan kamu?" tanya Arron.


"Tidak Ron. Aku ingin Bylla bahagia, siapa pun pilihannya, aku rela. Aku akan tetap menyimpan namanya dalam khalbuku, sebagai cinta yang pernah singgah dalam hidupku." Jawab Ghani.


***


Waktu bergulir dengan begitu cepatnya. Tak terasa tiga minggu sudah berlalu, sejak Bylla menerima lamaran Reymond. Kemarin, Reymond menemuinya, ia mengatakan bahwa lima hari lagi orang tuanya sudah kembali. Dan hari itu juga, Reymond akan mengajak mereka untuk bertandang ke rumahnya.


Dalam rasa bahagia, terbersit rasa pilu yang bersarang di hati Bylla. Ada sekelumit hal yang membuatnya cemas, dan tidak nyaman. Sejak kemarin, ia mencoba menghubungi orang tuanya, namun hingga saat ini belum ada jawaban dari mereka.


"Papa, Mama, kalian ke mana?" gumam Bylla dengan kecewa. Apa yang sebenarnya kekurangan yang ada dalam dirinya, kenapa orang tuanya tak pernah peduli padanya.


Disaat Bylla sedang larut dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba ponselnya berdering cukup nyaring. Bylla tersentak kaget, lalu ia menatap layar ponselnya. Senyuman lebar langsung mengembang di bibirnya, dengan cepat ia mengusap tombol hijau yang ada di sana.


"Hallo, Assalamu'alaikum Mama." Sapa Bylla.


"Waalaikumsalam, bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Ella dari seberang sana.


"Alhamdulillah aku baik Ma, di sana apa kabar? Papa dan Mama sehat juga, kan?" jawab Bylla balik bertanya.


"Alhamdulillah, kita juga sehat." Jawab Ella.


"Mama sedang apa sekarang?" tanya Bylla.


"Ini lagi tiduran di kamar. Kamu kok belum tidur Nak, bukannya di sana sudah larut?"

__ADS_1


"Baru pukul sepuluh Ma, dan kebetulan belum ngantuk. Papa di mana?"


"Papamu masih di kantor, mungkin sebentar lagi pulang." Jawab Ella.


"Oh begitu ya. Mmm Ma, sebenarnya aku ingin bicara sedikit hal dengan Mama." Ucap Bylla.


"Hal apa?"


"Beberapa hari yang lalu, Reymond melamarku Ma, dia ingin segera menikahiku. Waktu itu, dia sudah bicara dengan Oma dan Opa, dan rencananya minggu depan dia akan mengajak orang tuanya ke sini untuk membahas hari pernikahannya. Mama dan Papa bisa pulang, kan? Mama dan Papa mau kan menemui mereka?" tanya Bylla dengan harap-harap cemas. Takut jika jawabannya tidak sesuai dengan harapannya.


"Minggu depan?" tanya Ella, mengulangi ucapan Bylla.


"Iya Ma, bisa kan?"


"Mmm sepertinya kalau minggu depan kami belum bisa pulang, Nak. Ada sedikit urusan yang cukup mendesak di sini. Bagaimana kalau Mama dan Papa, pulangnya saat hari pernikahan kamu saja? Tidak apa-apa kan, Bylla?"


Mata Bylla mulai berkaca-kaca, ternyata jawaban ibunya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Kenapa? Kenapa selalu seperti ini?


"Sepenting apa urusan itu Ma, apakah lebih penting dari diriku? Ini menyangkut masa depanku Ma, apakah Mama dan Papa sama sekali tidak mau peduli?" tanya Bylla dengan nada yang tertahan. Sekuat tenaga ia mencoba menahan tangisnya.


"Maaf Nak, bukannya Mama dan Papa tidak peduli. Tapi, tapi urusan ini benar-benar mendesak. Di hari pernikahanmu nanti, Mama janji. Mama dan Papa pasti akan pulang." Jawab Ella.


Belum sempat Bylla menjawab ucapan ibunya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara lelaki yang sedang berbicara pada ibunya. Lelaki yang tak lain adalah ayahnya sendiri.


Ma, Mika mencarimu, temani dia! Aku akan minum sebentar.


"Jadi sebenarnya Papa ada di rumah, dan mereka sedang bersama Mika. Baiklah, aku tidak akan memaksa Mama dan Papa untuk pulang. Oma dan Opa sudah cukup bagiku, karena mereka lah orang tuaku," batin Bylla sambil mengakhiri sambungan teleponnya.


Kini ia tak kuasa lagi menahan air matanya, buliran-buliran bening itu terus berjatuhan di pangkuannya.


"Kenapa dulu aku dilahirkan, jika keberadaanku selalu diabaikan," batin Bylla sambil menggigit bibirnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2