Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Merampungkan Masalah


__ADS_3

Sang surya sudah bergulir menuju kaki langit barat, sinarnya begitu terik menerpa buana. Di dalam hotel bintang lima, di sudut Kota Paris. Seorang pria dewasa sedang mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Berbagai macam caci dan maki, ia lontarkan begitu saja.


"Seharusnya sekarang itu syuting, tapi mereka masih belum kembali. Dasar orang tidak tahu diri! Mati saja sekalian!" umpat Tommy dengan nada tinggi. Ia terus mengucapkan sumpah serapah sembari berusaha menghubungi Ghani dan Evelyn.


Satya, Arsen, Bryan, dan Rizky, mereka hanya diam di tempat. Tak berani menyahut apapun yang dikatakan Tommy. Mereka hanya membatin dalam hati, berdoa semoga Ghani dan Evelyn segera kembali.


Cukup lama mereka bertahan dalam posisi yang tidak mengenakkan. Duduk berjajar di atas sofa sambil menatap Tommy yang dikuasai amarah. Sesekali mereka menghela napas panjang, kala Tommy berteriak dengan keras.


Ketika jarum jam menunjukkan tepat pukul 01.00 siang, seseorang mengetuk pintu kamar.


"Itu pasti Ghani, buka pintunya!" perintah Tommy pada Satya.


Satya mengangguk sambil beranjak dari duduknya. Dalam hati ia memohon pada Tuhan, agar Ghani diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi amukan Tommy.


"Selamat siang," sapa resepsionis dengan ramah. Ternyata yang datang bukan Ghani.


"Siang," jawab Satya.


"Apakah Tuan Tommy ada di sini?"


"Iya, beliau ada di dalam," jawab Satya. Beruntung resepsionis menggunakan bahasa Inggris, sehingga ia bisa menjawabnya dengan mudah.


Belum sempat Satya menanyakan apa keperluannya, tiba-tiba tiga polisi datang menghampiri mereka. Jantung Satya berdetak cepat, dalam hati ia sangat was-was, ada apa gerangan?


"Ada apa, Pak?" tanya Tommy yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Satya.


"Kami mencari Saudara Tommy," jawab salah seorang dari mereka.


"Saya sendiri, ada apa?" tanya Tommy.


"Aku sedang di Paris, tidak mungkin 'kan mereka tahu masalah Revandio," batin Tommy.


"Kalau begitu silakan ikut kami ke kantor polisi, dan jelaskan kasus kriminal yang Anda perbuat." Polisi menarik tangan Tommy, dan melingkarkan borgol dengan cepat.


"Pak, apa-apaan ini. Saya tidak melakukan apa-apa, Anda jangan main tangkap. Saya ini pendatang di sini, surat-surat kami sudah lengkap. Jangan seenaknya sendiri, Pak!" teriak Tommy.


Arsen, Bryan, dan Rizky, mereka ikut beranjak dan melihat apa yang terjadi. Mereka membuka mulut lebar-lebar, tidak menyangka jika kepergiannya ke Paris akan berakhir seperti ini.


"Tolong jelaskan di kantor polisi, saya hanya menjalankan tugas. Tadi pagi, ada telepon dari Indonesia, dan menyatakan jika Anda adalah buronan. Bukti-bukti sudah lengkap, Anda terlibat kasus pembunuhan yang direncanakan terhadap keluarga Revandio!"


Seketika Tommy pucat pasi, tak menduga jika kasus itu bisa diungkap. Terlebih lagi saat ia sedang berada di luar negeri. Apakah menghilangnya Ghani dan Evelyn ada hubungannya dengan ini? Satu kalimat yang terus berputar dalam otaknya.


Tommy tak punya kuasa untuk melawan, ia mengikuti langkah polisi dengan hati yang tidak menentu.

__ADS_1


Benarkah hidupnya akan berakhir seperti ini?


Apakah tidak ada seseorang yang bisa menolongnya?


Berbagai pertanyaan mengusik dalam benak. Pertanyaan yang satupun tak ia tahu apa jawabannya. Dalam perjalanan, Tommy hanya berharap, semua ini hanya penggalan mimpi buruk dalam tidurnya.


"Sat, apa yang terjadi? Apa yang dilakukan Om Tom?" tanya Arsen.


"Revandio itu yang adiknya Tuan Frans, 'kan? Apakah Om Tom terlibat?" tanya Bryan.


"Mana kutahu, aku juga kaget ini!" sahut Satya.


"Apa kira-kira ini ada hubungannya dengan Ghani?" gumam Rizky.


"Ghani?"


"Iya, waktu dia bercerita tentang Alina dan Tuan Frans. Dia mewanti-wanti kita agar tidak memberitahukan hal itu pada Om Tom. Mungkin, sejak lama Ghani memang sudah tahu, hanya saja dia belum punya bukti," ujar Rizki mengutarakan opini.


"Bisa jadi. Mungkin ini alasannya, kenapa dia menghilang sejak semalam," sahut Satya.


"Kalian benar, semua ini pasti berhubungan." Arsen ikut menimpali.


"Tapi yang membuat aku bingung, kira-kira siapa yang membantu Ghani. Tidak mungkin dia melakukan ini sendiri, dan tidak mungkin juga kekasihnya. Mereka tak pernah berhubungan sejak berbulan-bulan yang lalu," sela Bryan.


"Apa mungkin video pernikahan itu sebagian dari rencana Om Tom? Kulihat, dia memang sangat tidak suka dengan hubungan Ghani dan Bylla," ujar Satya.


***


Di ruangan yang dominan warna putih dengan aroma obat-obatan yang khas, Evelyn mengerjap pelan. Bola matanya bergerak ke sana ke mari meneliti setiap jengkal tempat sekitar.


Belum sempat Evelyn memahami situasi yang terjadi, seorang lelaki muda datang menghampiri.


"Kau sudah sadar, Ev." Ghani duduk di kursi, di sebelah brankar.


"Ghani ... kenapa aku ada di rumah sakit?" tanya Evelyn. Melihat Ghani yang terus tersenyum, hatinya malah tidak tenang.


"Kau semalam mabuk berat, aku takut terjadi apa-apa sama kamu. Jadi, aku membawamu ke sini," jawab Ghani.


"Iya, kepalaku masih sedikit pusing. Ghani, sekarang jam berapa, apa sudah pagi? Di mana ponselku." Evelyn meraih tas kecilnya, dan kebingungan mencari benda pipih yang teramat berharga.


"Sudah sore Ev, hampir pukul empat," kata Ghani dengan santainya.


"Pukul empat! Ghani kita harus segera kembali, jangan sampai Om Tom marah!" teriak Evelyn.

__ADS_1


"Marah pun bukan masalah." Ghani beranjak dari duduknya, dan merogoh saku celana. "Ponselmu," sambungnya.


"Kenapa, kenapa ada di kamu?" Evelyn meraih ponsel yang disodorkan padanya.


"Kenapa ponselku mati, mungkinkah low bat. Aduh, bagaimana ini, Om Tom bisa marah," batin Evelyn dengan perasaan getir.


"Aku yang sengaja mematikannya, Evelyn. Aku tidak ingin Om Tommy tahu keberadaan kita," ucap Ghani.


Evelyn terkesiap, jantungnya mulai berdegub kencang.


"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Evelyn, suaranya sangat pelan, seakan tercekat di tenggorokan.


"Karena aku tidak ingin rencanaku gagal. Kamu tahu, kenapa sekarang aku memberikan ponsel itu ke kamu, karena rencanaku sudah berhasil." Ghani menatap Evelyn dengan tajam, tatapan yang membuat tubuh lawan membeku di tempatnya.


"Aku, aku tidak mengerti. Apa, apa maksudmu?" tanya Evelyn sangat gugup. Ia beringsut, dan merapatkan tubuhnya di dinding. Andai saja bisa, dia ingin lari saat itu juga.


"Om Tommy harus bertanggungjawab atas perbuatannya terhadap keluarga Revandio," jawab Ghani dengan tegas.


"Kamu, kamu tahu itu." Evelyn menunduk, tidak berani menatap Ghani.


"Sangat tahu, dan aku juga tahu jika kamu terlibat. Kamu harus bertanggungjawab, Evelyn," kata Ghani tanpa basa-basi.


"Ghani, aku, aku hanya disuruh. Aku butuh uang, aku terpaksa menerima pekerjaan itu. Tolong Ghani, tolong jangan lakukan itu padaku!" Evelyn meraih tangan Ghani, dan menggenggamnya dengan erat. Bulir bening mulai menetes dari sudut matanya.


"Jelaskan itu di kantor polisi, Evelyn! Mereka yang punya kuasa menentukan hukuman untukmu!" kata Ghani dengan tegas.


"Ghani tolong jangan, aku tidak mau dipenjara. Aku hanya orang suruhan, tolong Ghani, tolong jangan lakukan itu! Kita teman, tolong jangan setega ini!" ucap Evelyn dengan tangis yang semakin pecah.


"Teman, teman seperti apa yang kau maksud! Kau hendak menjebakku dengan kehamilanmu, itukah yang kau anggap teman! Kau yang lebih dulu mengkhianatiku, Evelyn!" bentak Ghani.


"Kehamilan. Kau, kau tahu itu Ghani?"


"Sangat tahu. Tuhan masih berpihak padaku, Evelyn. Dia menunjukkan titik terang, lewat rencana licikmu. Kamu tahu kenapa aku tidak mabuk, karena aku sudah terbiasa dengan minuman itu," terang Ghani yang lantas membuat Evelyn tercengang.


"Terbiasa, jadi kau bukan lelaki yang ... lugu," gumam Evelyn.


"Kamu masih tidak mengerti juga? Dari awal kau mengajakku ke kelab, aku sudah curiga. Aku tahu kau akan menawariku minum, itu sebabnya aku pergi ke kamar mandi. Sambil ke sana, aku menemui salah satu bartender. Aku memesan air putih yang disamarkan dalam botol vodka. Maaf, jika menurutmu aku licik. Tapi aku hanya mengimbangi rencanamu, Ev. Dan dari sana, aku menemukan titik terang atas masalah yang sekian lama jalan di tempat," ungkap Ghani dengan senyuman lebar.


Evelyn tak mampu mengucapkan sepatah kata. Dia hanya membelalak sembari membuka mulutnya lebar-lebar. Tak pernah menduga, jika rencana yang ia susun dengan matang, malah menjadi bomerang bagi dirinya sendiri.


"Banyak hal yang kau katakan semalam, jujur aku juga kasihan dengan semua hal yang terjadi padamu. Tapi Evelyn, semua perbuatan harus dipertanggungjawabkan. Aku harus menepis rasa kasihanku padamu, demi mencari keadilan untuk Alina. Polisi sudah menunggu di luar, menurutlah, dan jelaskan dengan baik! Berdoalah semoga hukumanmu diberi keringanan, karena dalam kasus lain, kau juga menjadi korban," kata Ghani menjelaskan.


"Tidak! Tidak Ghani! Aku tidak mau dipenjara, tolong jangan lakukan ini, Ghani!" ucap Evelyn dengan air mata yang semakin berderai.

__ADS_1


"Maaf Evelyn, aku tetap pada keputusanku! Jelaskan saja apa yang kau alami pada polisi, aku yakin hukumanmu tidak terlalu berat!" kata Ghani tetap pada pendiriannya.


Bersambung...


__ADS_2