
"Alina, kok diam saja?"
Alina terkesiap, suara Ghani seakan menyadarkannya dari mimpi buruk.
"Bang Ghani! Bang Ghani kenapa!" pekik Alina setelah mendapatkan kembali kesadarannya. Dia berteriak histeris, saat melihat Ghani duduk di ranjang rumah sakit.
"Abang tidak apa-apa, Sayang. Kenapa kamu berteriak?" Di seberang sana, Ghani merasa keheranan.
"Kalau Bang Ghani tidak apa-apa, kenapa ada di rumah sakit? Itu dokternya mau ngapain?" tanya Alina. Kala itu, seorang bidan sedang berdiri di sebelah Ghani.
"Kamu salah paham, Alina. Abang ke sini bukan karena sakit, tapi mengantar Tante Putri. Kamu tahu, ada dedek bayi di dalam perutnya." Ghani mengarahkan kameranya ke samping, sehingga Alina dapat melihat Bylla yang sedang berbaring di ranjang.
Alina berteriak kegirangan, mendengar kabar ini, keinginannya untuk pulang kian berkobar. Lalu dia berbincang dengan Bylla, banyak hal yang ia ceritakan pada wanita itu, termasuk rasa rindunya pada kampung halaman.
"Ada apa, Nak?" tanya Bibi, ketika melihat Alina melonjak-lonjak. Bibi datang di saat Alina sudah mengakhiri sambungan teleponnya.
"Tante Putri hamil, Bi. Sebentar lagi aku punya adik," jawab Alina bersemangat.
"Alhamdulillah, Bibi ikut seneng dengernya, Nak." Bibi meletakkan susu cokelat di depan Alina, lantas beliau duduk di sampingnya.
Alina kembali menyalakan ponselnya. Ia akan menghubungi Arron sambil menunggu dinginnya susu. Bibi masih setia menemaninya, beliau ikut senang melihat Alina tertawa riang.
Tak lama kemudian, sambungan telepon terhubung, namun Arron sedang ada di luar. Dia sedang bersama Melani di sebuah butik, mempersiapkan kebaya untuk acara pernikahannya. Kendati kecewa karena tak bisa berbincang dengan teman-temannya, namun Alina tak lantas bersedih. Ia tetap bahagia, karena tahu jika Arron akan menikah.
_____
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela
Kau selalu ... ada
Suara Ghani mengalun merdu, menyatu dengan petikan gitar dan desir angin malam. Ia malantunkan lagu 'Dealova' milik musisi legendaris, Once. Lagu yang sedari dulu kerap kali ia nyanyikan dengan penuh perasaan. Bayangan Bylla senantiasa menari dalam ingatan, setiap kali ia membawakan lagu itu.
__ADS_1
Malam ini, untuk kedua kalinya Ghani menyanyikan lagu 'Dealova' tepat di depan Bylla. Namun kali ini, manik matanya bebas menatap dan beradu dengan manik biru milik 'gadis dalam rindu'. Tidak seperti waktu lalu, yang mengharuskannya menyanyi sambil menunduk.
Di antara sinar lampu yang temaram di taman belakang rumah, di bawah hamparan langit luas berbintang, Ghani memainkan melodinya dengan penuh cinta. Ia menyanyi khusus untuk wanita pujaannya. Ia sama sekali tak memperhatikan jemari yang memetik senar gitar, dari awal hingga akhir matanya tak beralih dari obyek yang bernama Bylla.
"Mon cherie, jangan terus menatapku," protes Bylla.
Ghani sudah menyelesaikan petikan terakhirnya sejak beberapa detik lalu, namun lelaki itu masih tak mengalihkan pandangan.
"Kenap, hmmm?" goda Ghani.
"Aku 'kan jadi malu," ujar Bylla.
"Aku hanya menatap wajahmu, Ma cherie. Biasanya aku tatap keseluruhan juga nggak malu, kan?" Ghani menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum lebar.
"Jangan bicara seperti itu!" teriak Bylla.
"Kenapa?"
"Nggak suka," sahut Bylla dengan cepat.
"Mon cherie, diam!" teriak Bylla dengan pelototan tajam. Ghani hanya menaggapinya dengan tawa keras.
"Aku tuh lagi ingin romantis-romantisan, kamu malah merusak suasana," gerutu Bylla dengan bibir yang manyun.
"Oh, istriku lagi ingin yang romantis." Ghani meletakkan gitar kecilnya, dan beringsut lebih mendekati Bylla. Lantas ia menangkup kedua pipinya.
"Ma cherie, apa yang kau pikirkan sekarang?" bisik Ghani.
Bylla menggigit bibir, hangat napas Ghani yang menyapu wajah, membuatnya terjebak dalam gejolak asmara.
"Aku, aku___"
"Kamu tahu apa yang menurutku romantis, itu ketika menatap wajahmu dengan mata dan hati. Dalam embusan napasmu, dalam kedipan matamu, di sanalah aku dapat menemukan arti cinta. Kamu tahu, panorama terindah yang pernah aku lihat ... itu adalah manik biru yang kau miliki. Aku sangat mencintaimu, Ma cherie, rasanya aku selalu ingin dan ingin menatap setiap hal yang ada dalam dirimu," ucap Ghani dengan lirih.
Jemari Ghani mengusap-usap pipi Bylla dengan lembut, lantas mata keduanya kembali beradu. Dalam keremangan malam, mereka saling diam dan larut dalam lagu cinta yang mesra.
__ADS_1
"Mon cherie, sampai kapan kita dalam posisi seperti ini? Apa kamu tidak ingin menyapanya?" tanya Bylla tanpa mengalihkan pandangan.
Ghani tersenyum, kebahagiaan dalam hatinya kian membuncah. Kemudian ia menunduk, menatap tangan Bylla yang mengusap perutnya sendiri. Tanpa banyak kata, Ghani berjongkok di depan Bylla. Ia ikut mengusap perut istrinya yang masih rata.
"Selamat malam anak Papa, sehat-sehat ya di sana. Papa dan Mama sudah tidak sabar untuk menantikan kehadiran kamu, kami sangat menyayangimu, Nak." Usai mengucapkan beberapa kata, Ghani mencium perut Bylla cukup lama.
Ghani memejamkan mata, ia sangat bersyukur dengan anugerah yang Tuhan berikan padanya. Mengirimkan jodoh sesempurna Bylla, dan juga membiarkan keturuanannya tumbuh dalam rahim Bylla. Rasa syukur dan bahagia, tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Terlalu indah garis hidup yang Tuhan takdirkan untuknya.
Kemarin siang, adalah pertama kalinya mereka mengetahui kehadiran sang buah hati. Menurut keterangan dokter, janin dalam kandungan Bylla sudah menginjak usia lima minggu. Keadaannya sangat sehat, dan begitu pula dengan ibunya.
Usai mendengar kabar itu, Ghani langsung bersujud. Ia menitikkan air mata, sembari memanjatkan puji syukur.
Tak lama kemudian, ketenangan Ghani terusik. Bukan karena gemerisik angin, namun karena suara isak tangis yang terdengar samar-samar.
Ghani mendongak, dan didapatinya Bylla sedang menyeka beberapa bulir air mata.
"Kenapa menangis?" tanya Ghani. Tangannya terulur tanpa dipinta, ia mendekap pipi sang istri yang sedikit basah.
"Aku terharu," bisik Bylla. "Dulu aku tak pernah membayangkan, bisa memiliki cinta yang sesempurna ini. Aku sempat menyerah, dan menyalahkan keadaan yang mengantarku pada titik terendah. Tapi sekarang aku mengerti, kenapa dulu Allah mengujiku, karena Allah hendak menunjukkan arti cinta yang sebenarnya, karena Allah sudah mempersiapkan jodoh yang lebih sempurna. Aku sangat mencintaimu, Mas Ghani, sangat mencintaimu," sambungnya.
"Aku juga mencintaimu, aku___"
"Andai saja waktu dapat diulang, aku tidak akan pernah mencintai apalagi menjalin hubungan dengan pria lain. Aku akan menjaga hatiku, sampai aku menemukanmu," pungkas Bylla.
"Jangan katakan 'andai saja'." Ghani menempelkan jari telunjuknya di bibir Bylla. "Jalan yang sudah digariskan oleh Allah, itulah jalan yang terbaik untuk kita. Jangan dilihat dari sisi buruknya, tapi lihat hikmahnya. Kejadian masa lalu, mengajarkanmu tentang arti kehilangan. Kedepannya, kau akan lebih menghargai apa yang kau miliki, karena kau sudah merasakan sakitnya kehilangan. Sayang, aku tidak pernah menyesali masa lalumu. Entah berapa kali kau jatuh cinta dan menjalin hubungan ... aku tidak peduli, inginku hanyalah menjadi yang terakhir. Aku tak masalah dengan kisah cintamu yang telah lalu, yang terpenting sekarang kau mencintaiku, mau menjadi istriku, bersedia mengandung anakku, dan bersedia menghabiskan sisa waktumu bersamaku. Itu sudah sangat cukup, Sayang," sambungnya.
"Aku tidak tahu lagi harus berkata apa, yang jelas aku sangat berterima kasih. Terima kasih sudah mau hadir dalam hidupku, terima kasih sudah mau mencintaiku. Mas Ghani, aku bahagia bisa menjadi ibu dari anak-anakmu." Bylla menggenggam tangan Ghani, dan menciuminya. Aira mata bahagia terus menitik membasahi pipi.
Ghani tersenyum, dan kemudian beranjak. Ia merengkuh tubuh Bylla, dan membiarkan kepalanya bersandar di dada.
"Tersenyumlah! Kita sedang bahagia, jangan biarkan air matamu yang menjadi warna," bisik Ghani. Lantas ia mencium puncak kepala Bylla.
Kemesraan terpancar jelas didalam cinta kasih mereka. Keduanya tak pernah bosan memupuk rasa dalam ikatan suci. Hubungan yang sangat indah dan sempurna, hingga membuat bulan dan bintang merasa iri di atas sana.
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih untuk Kakak semua yang masih setia dengan novel Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa. Tak terasa, karya ini sudah tiba di penghujung kisah. Beberapa waktu lagi, aku sudah tak menulis cerita Ghani dan Bylla. Tinggal dua episode ya Kak, semoga masih sabar dan setia menanti.