Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Empat Hari Kemudian


__ADS_3

"Maafkan saya, Om!" ucap Reymond sambil tetap menunduk.


"Pergilah!" kata Kairi tanpa menatap Reymond.


Tanpa banyak kata, Reymond langsung berbalik, dan melangkah pergi meninggalkan keluarga Bylla. Kairi menatapnya dengan amarah yang semakin membara.


"Kau telah menyakiti putriku, kedepannya, jangan berharap untuk mengembangkan bisnismu di Eropa. Kau akan menyesali perbuatanmu ini, lelaki berengsek!" geram Kairi dalam hatinya.


Kairi tahu, jika Frans Been Jackson berencana mengembangkan sayapnya di Benua Eropa. Tapi sekarang, semua itu tidak akan terjadi. Da Vinci cukup berkuasa di sana, dan Kairi akan memanfaatkan itu untuk menutup celah bagi keluarga Jackson.


"Dasar lelaki sialan! Dengarkan aku baik-baik, suatu saat nanti kau yang akan lumpuh, dan istrimu akan membuangmu. Karma itu ada, bodoh! Dasar kau lelaki berengsek! Kau akan miskin, kau akan cacat, kau akan hancur, dan kau akan mati!" teriak Keyvand. Ia mengumpat dan mengucapkan segala macam sumpah serapah untuk melampiaskan kekesalannya.


"Sudahlah! Jangan membuang tenagamu, hanya untuk meladeni lelaki seperti dia!" ucap Kairi sambil menepuk bahu Keyvand dengan pelan.


"Tapi Om, dia itu sangat kurang ajar. Bisa-bisanya dia meninggalkan Bylla, disaat dia sedang tertimpa musibah. Lelaki macam apa dia, tidak punya hati!" gerutu Keyvand dengan kesal.


"Aku tidak menyangka, jika Reymond adalah lelaki yang seperti itu. Selama ini sikapnya sangat baik, aku pikir itu adalah cinta yang tulus, tapi ternyata, ahh kasihan Bylla," ucap Bu Mirna seraya menyeka sudut matanya yang basah.


"Sekarang kita tahu, seperti apa aslinya Reymond. Semoga suatu saat nanti, Bylla menemukan pendamping hidup yang benar-benar mencintainya dengan tulus." Sahut Pak Louis.


"Ngomong-ngomong di mana Bylla?" tanya Kairi sambil menatap Keyvand dan Bu Mirna.


"Ya Allah aku lupa, Bylla sedang ada di taman. Aku akan segera menyusulnya, Om!" teriak Keyvand sambil berlari meninggalkan paman, kakek, dan neneknya.


***


Di antara bunga-bunga mawar yang mekar beraneka warna. Bertemankan angin yang menerpa, meriapkan rambutnya. Bylla duduk di atas kursi roda, sendiri, meratapi luka yang baru saja menoreh dalam sanubari.


Perlahan Bylla memetik bunga mawar yang ada di hadapannya. Mawar putih yang kelopaknya sudah layu dan mengering. Persis seperti cintanya, pernah mekar dengan indahnya, namun kini juga layu, mengering, dan mungkin juga akan mati.


Cinta, mengajarkannya tentang indahnya rasa. Namun, cinta juga mengenalkannya pada pedihnya luka. Lelaki yang mengenalkannya pada indahnya pertemuan, kini juga mengenalkannya pada pahitnya perpisahan.


"Dia lelaki berengsek, Byl! Jangan pernah meneteskan air matamu demi dia!" kata Keyvand yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Bylla.


"Aku tidak menangis." Jawab Bylla dengan pelan.


"Lalu itu apa?" sindir Keyvand sambil menatap Bylla.


"Aku menangis bukan hanya karena dia, tapi juga karena Mika. Kenapa tidak ada yang memberitahuku tentang keadaannya, termasuk kau. Kenapa kau menyembunyikannya dariku?" tanya Bylla mengalihkan pembicaraan.


Bodoh memang, jika ia masih menangisi kepergian Reymond. Tapi mau bagaimana lagi, kenyataannya sisa-sisa cinta itu masih ada, dan dari sudut hati yang paling dalam, masih ada mimpi untuk bersama kembali.


"Itu, itu aku hanya menuruti perintah Tante Ella dan Om Kairi," jawab Keyvand sambil menggaruk kepalanya.


"Antarkan aku ke tempat Papa, aku ingin pulang!" kata Bylla.


"Pulang?"


"Iya, aku sudah bosan di sini."


"Tapi kau belum sehat, Byl!" teriak Keyvand.


"Aku tidak peduli, aku ingin pulang!" jawab Bylla masih tetap pada keinginannya.

__ADS_1


Tak ada pilihan lain, akhirnya Keyvand mendorong kursi roda Bylla, dan membawanya kembali ke kamar.


Hari itu juga Bylla keluar dari rumah sakit. Meskipun dokter menahannya, namun Bylla bersikeras untuk pulang. Dan Kairi, ia memilih untuk menuruti keinginan Bylla, dia tahu bagiamana perasaan anaknya.


***


Empat hari kemudian.


Seorang lelaki dalam balutan pakaian kusam, sedang berjalan gontai di bawah terik matahari. Dia adalah Ghani, dia berjalan menyusuri jalanan beraspal sambil menenteng gitar kecil yang sudah menemaninya sejak bertahun-tahun yang lalu.


Ghani duduk di bawah pohon rindang yang tumbuh di pinggir taman. Sejak tadi ia hanya berjalan tak tentu arah, belum ada satu lagupun yang ia nyanyikan untuk mencari pundi-pundi uang. Hatinya sedang kalut, meskipun raganya ada di sini, namun tidak dengan pikirannya. Ia terus membayangkan sosok wanita yang selalu menjelma dalam kerinduan. Sosok wanita yang hari ini sedang bersanding di atas pelaminan.


Ghani menghela nafas panjang, ia kembali mengingat Arron dan anak-anak asuhnya. Ia meninggalkan mereka, dan menyuruh mereka berangkat, tanpa dirinya.


Flash back on


Ghani keluar dari kamarnya dengan pakaian kusam yang sudah ia kenakan sejak pagi. Ia menghampiri Arron yang sedang menyisir rambut Alina.


Ghani tersenyum kala melihat anak-anak asuhnya, mereka sedang mengenakan pakaian terbaik mereka. Satu-satunya pakaian yang warnanya masih kelihatan cerah, yang biasanya mereka kenakan disaat lebaran.


"Kok Bang Ghani belum siap-siap? Sudah jam satu lho Bang!" tanya Alina.


Arron melirik Ghani sekilas, ia tahu bagaimana perasaan temannya.


"Ayo buruan, Bang. Kalau terlambat, nanti Tante Putri akan kecewa!" Sahut Bayu.


"Iya Bang, ayo Bang!" Raffi ikut menimpali.


"Maaf ya, Abang tidak bisa ikut, Abang ada janji sama teman. Kalian pergilah bersama Bang Arron!" ucap Ghani sambil berjongkok di depan anak-anak.


"Iya, tapi Abang sudah terlanjur ada janji. Kalian pergi sama Bang Arron saja, ya!"


"Abang gak ikut makan enak dong!" ucap Bayu.


"Tidak apa-apa, Abang sudah besar, tidak perlu memikirkan Abang, ya!" kata Ghani sambil tersenyum.


"Tapi Bang."


"Sudah tidak apa-apa. Abang tinggal dulu ya, kasihan teman Abang sudah menunggu. Ron, jaga mereka baik-baik ya!" ucap Ghani sambil menepuk bahu Arron, lalu melangkah pergi meninggalkan mereka.


"Bang Ghani mau kemana sih Bang, kok bawa gitar, apa Bang Ghani mau mencari uang? Biaya angkotnya mahal ya, Bang?" samar-samar Ghani dapat mendengar suara Alina yang sedang bertanya kepada Arron.


"Tidak, Bang Ghani tidak mencari uang. Dia mau bertemu dengan temannya. Bang Ghani kan memang suka gitar, setiap keluar rumah, pasti dibawa gitarnya," jawab Arron, suaranya masih bisa ditangkap dalam telinga Ghani.


Mereka berencana pergi dengan menggunakan angkot, dan mereka sengaja berangkat siang, karena tidak inging berkumpul dengan tamu-tamu lain yang berasal dari keluarga berada. Dengan keadaan mereka yang sederhana, mereka merasa insecure jika berbaur bersama orang-orang kalangan atas.


Flash back off


Lagi-lagi Ghani menghela nafas panjang, ia merasa kasihan saat mengingat raut wajah Alina yang memancarkan kekecewaan.


"Maafkan aku, seharusnya aku tidak mengecewakan kalian. Tapi, aku benar-benar tidak bisa menyaksikan semua ini, terlalu menyakitkan!" ucap Ghani sambil beranjak dari duduknya.


"Aku mengecewakan kalian, karena tidak ikut pergi bersama. Sekarang, biar aku menggantinya dengan yang lain. Aku akan mencari uang, dan membeli coklat untuk kalian," kata Ghani seraya melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Ghani berjalan menyusuri jalan, dan tak lama kemudian, ia berhenti di sekitar pusat perbelanjaan. Ghani menghampiri beberapa orang yang sedang minum di kedai kecil pinggir jalan, kebetulan saat itu pengunjungnya cukup ramai.


Ghani mulai memetik senar gitarnya, dan mengalunkan melodi merdu yang menghanyutkan. Kali ini, ia menyanyikan lagu milik Once yang berjudul Dealova.


Ghani melantunkan liriknya dengan penuh penghayatan, ia benar-benar meresapi lagunya dengan perasaan.


Aku ingin menjadi mimpi indah


Dalam tidurmu


Aku ingin menjadi sesuatu


Yang mungkin bisa kau rindu


Karena langkah menempuh


Tanpa dirimu


Karena hati telah letih


Aku ingin menjadi sesuatu


Yang selalu bisa kau sentuh


Aku ingin kau tahu


Bahwa ku selalu memujamu


Tanpamu sepinya waktu merangkai hari


Bayangmu seakan-akan


Kau seperti nyanyian dalam hatiku


Yang memanggil rinduku padamu


Seperti udara yang ku hela


Kau selalu ada


Hanya dirimu yang bisa


Membuatku tenang


Tanpa dirimu aku merasa


Hilang dan sepi


Dan sepi


Bersamaan dengan bunyi petikan yang terakhir, mata Ghani menatap seseorang yang baru saja keluar dari butik. Mata Ghani membelalak lebar, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Ghani langsung beranjak pergi dan menghampiri orang itu.

__ADS_1


Ia tak peduli dengan semua orang yang terkesima, kala mendengarkan lagu yang baru saja dilantunkannya.


Bersambung...


__ADS_2