Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Alina, Ada Apa?


__ADS_3

Tak lama berselang, Bylla ikut berdiri. Dia menatap Reymond yang masih terlarut dalam kenangan masa lalu. Raut wajahnya yang lesu, kini bertambah sendu. Bylla menghela napas panjang, sebelum membuka suara.


"Maaf ya Rey, aku tidak bisa memberimu kesempatan kedua," ucap Bylla sambil menatap Reymond.


Reymond mengusap wajahnya dengan kasar, "aku mengerti." Jawabnya dengan pelan.


Lantas Reymond membalikkan badannya, dan melangkah pergi meninggalkan Bylla. Bylla menatap punggungnya yang bergerak semakin menjauh. Sekelebat bayangan dimasa silam melintas begitu saja dalam ingatannya.


Reymond, sang pemilik cinta yang membawanya terbang ke awang-awang. Namun dia pula yang menghempaskannya jauh ke dasar bumi. Ahh semua tinggal kenangan, tak ada lagi hal yang bisa harapkan darinya. Kekecewaan cukup sudah membuatnya terbelenggu luka. Reymond tidak pantas untuk ia damba.


"Sejak kau memutuskan untuk pergi, sejak itu pula aku menghapus semua mimpi-mimpiku untuk bersamamu. Perasaan ini mengikis seiring keputusanmu yang menyakitiku. Aku bisa memaafkanmu, tapi aku tidak bisa membuka hatiku untukmu. Kita sudah berakhir, Rey," batin Bylla sambil menghela napas panjang.


Sementara itu, Reymond pergi bersama sejuta penyesalan yang menikam tepat di ulu hatinya. Kebodohan yang ia lakukan, menjadi bomerang bagi dirinya sendiri.


"Aku benar-benar bodoh, sangat bodoh. Bisa-bisanya aku meninggalkan Bylla, hanya demi wanita seperti Sania. Sekarang, dia sudah punya penggantiku. Aku sama sekali tidak ada harapan untuk bersamanya," batin Reymond sambil terus melangkahkan kakinya.


"Tapi siapa dia, sepertinya aku pernah melihatnya, namun aku lupa di mana. Wajahnya sangat tidak asing, apa aku memang pernah bertemu ya dengannya." Sambung Reymond sambil berusaha mengingat-ingat siapa sosok yang bersama dengan Bylla.


Setelah Reymond berlalu pergi, Ghani mengeluarkan masker dari dalam sakunya.


"Untuk apa?" tanya Bylla sambil mengerutkan keningnya.


"Ayo minum di kafe depan. Mumpung Alina tidur, tadi aku sudah minta tolong suster untuk menjaganya," jawab Ghani sambil menyunggingkan senyuman manis.


"Tidak apa-apa Alina kita tinggal?" tanya Bylla.


"Tidak, ada suster yang menjaganya. Lagi pula dia sedang tidur, kita juga tidak jauh kok, hanya di depan." Jawab Ghani.


"Kata dokter, dia sakit apa?" tanya Bylla.


"Demam, akibat cuaca buruk, dan dia kurang istirahat. Tadi suster sudah memberinya obat dan vitamin." Jawab Ghani.


"Semoga Alina lekas sembuh, kasihan dia," gumam Bylla dengan pelan.


"Amiinn, ya udah ayo!" ajak Ghani sambil memakai maskernya.


"Kenapa pakai masker sih, Ghan?" tanya Bylla, lagi-lagi sambil mengernyitkan keningnya.


"Memang belum terkenal, tapi siapa tahu ada yang mengenal. Buat jaga-jaga aja, ya udah ayo!" ajak Ghani sambil menggenggam jemari Bylla dan mengajaknya melangkah keluar dari rumah sakit.


"Jadi artis ribet juga ya," goda Bylla sembari tertawa renyah.


"Bukan artis Bylla," sahut Ghani sambil menatap kekasihnya.


"Terus?"


"Pengamen panggung." Jawab Ghani dengan santainya.

__ADS_1


"Kamu ada-ada aja Ghan," ujar Bylla, tawanya terdengar semakin renyah.


"Kamu cantik kalau tertawa," ucap Ghani yang sontak saja langsung membuat Bylla merona.


"Kamu pinter nggombal sekarang. Siapa yang ngajarin?" sindir Bylla sambil menunduk.


Genggaman di jemarinya terasa semakin hangat kala mendengar pujian cantik dari pemilik jemari itu.


"Kamu."


"Kok aku?" tanya Bylla dengan cepat.


"Karena hanya sama kamu, aku bisa nggombal," jawab Ghani sambil mengulas senyuman lebar di balik maskernya.


"Aku harap kamu nggak bohong Ghan," ujar Bylla.


"Sama kamu, aku nggak bisa bohong Bylla." Sahut Ghani.


Bylla semakin tersipu, entah belajar dimana, Ghani semakin pandai merayunya.


Tak lama kemudian, mereka berdua tiba kafe. Ghani memilih tempat duduk yang paling sudut. Ghani memesan jahe hangat, sedangkan Bylla, ia memesan matcha latte kesukaanya. Selain itu, mereka juga memesan pisang coklat dan roti bakar.


Sembari menunggu pesanan datang, Ghani merogoh sesuatu dari dalam saku celananya. Ia menurunkan maskernya, dan tersenyum ke arah Bylla.


"Kemarikan tangan kamu," ucap Ghani


Ghani mengeluarkan sesuatu dari genggamannya. Gelang emas berhiaskan batu permata warna biru safir, ia lingkarkan di tangan kekasihnya.


"Semoga kamu menyukainya, Bylla. Maaf, hanya ini yang bisa kuberikan untukmu," kata Ghani sambil tersenyum.


"Ghani, kamu tidak perlu melakukan ini. Yang kubutuhkan hanya dirimu dan cintamu. Aku tidak menuntut apa-apa Ghani, dengan kamu siap menikahiku saja, aku sudah bahagia," ucap Bylla sambil menggenggam gelang yang baru saja melingkar di tangannya.


"Aku tahu, tapi sebagai lelaki aku juga ingin membahagiakan calon istriku. Selama ini aku jauh dari kamu Bylla, aku hanya berusaha bersikap sedikit manis. Yah, agar kamu lebih mencintaiku," canda Ghani sambil tersenyum lebar.


"Kamu apaan sih Ghan, kamu pikir cintaku mudah pudar," sahut Bylla dengan bibir yang manyun.


"Bukan begitu, tapi yang namanya sayang, cinta. Wajar kan kalau takut kehilangan, apalagi kekasihnya secantik kamu, pasti banyak yang ngelirik," goda Ghani sembari menaikkan kedua alisnya..


"Ternyata bukan hanya penampilanmu saja yang berubah, tapi sifatmu juga. Jago banget nggombal, beda jauh sama Ghani yang dulu," sindir Bylla.


"Seandainya kamu jadi kekasihku sejak dulu, mungkin aku pinter nggombalnya juga dari dulu, Bylla." Sahut Ghani.


"Kok gitu?"


"Kan sudah kubilang, aku bisa nggombal kalau sama kamu," jawab Ghani.


"Masa lalumu terlalu sempurna Bylla. Meskipun dia pernah menyakitimu, tapi kalian pernah menjalin hubungan yang begitu lama. Kepercayaan diriku memang kurang, itu sebabnya sempat tersirat rasa takut akan kehilangan. Aku hanya berusaha membuatmu tidak bosan, Bylla," batin Ghani sambil menatap Bylla.

__ADS_1


"Ghani, aku benar-benar melabuhkan hatiku padamu. Jangan kecewakan aku, ya!" ucap Bylla sembari membalas tatapan Ghani.


"Tidak akan." Jawab Ghani.


***


Di suatu sore, tiga hari setelah Ghani membawa Alina ke rumah sakit. Kini lelaki itu sudah kembali ke Jakarta, ia baru saja menapakkan kakinya di Bandara Soekarno-Hatta.


Ghani berjalan sambil menuntun tangan mungil yang ikut mengiri langkahnya. Matanya yang bulat, menyiratkan binar-binar kebahagian.


Dia adalah Alina, gadis kecil yang berada dalam asuhan Ghani. Gadis itu teramat sangat menyayangi Ghani, hingga dia sakit kala merindukan Ghani yang tak kunjung kembali.


Alina terus merengek, dan tak mau ditinggalkan. Sementara Tommy, pria itu sudah berkali-kali menghubungi Ghani agar segera kembali.


Alhasil, Ghani membawa Alina ke Jakarta. Dia sudah membicarakan hal ini dengan Tommy.


Ghani bersedia dipotong sedikit gajinya, untuk membayar pelayan yang akan menjaga Alina. Membimbingnya belajar, dan juga mengantarnya ke sekolah. Saat ini, Alina duduk di kelas 1 SD.


Tak lama kemudian, Ghani dan Alina naik ke dalam mobil jemputannya. Mereka menikmati perjalanan sambil berbincang dan bercanda. Alina sangat bahagia, dia banyak bercerita tentang masa kecilnya. Jakarta adalah tanah kelahirannya.


"Andaikan Mama dan Papa masih ada, aku pasti akan mengenalkan Bang Ghani pada mereka," ucap Alina disela-sela ceritanya.


"Alina, Mama dan Pa___"


"Lihat Bang! Sangat indah kan?" teriak Alina sambil menunjuk ke arah samping. Tampak di sana gedung-gedung pencakar langit berbaris rapi di sepanjang jalan.


"Gedung itu?" tanya Ghani sembari mengerutkan keningnya.


Indah, apanya yang indah? pikir Ghani kala itu.


"Iya. Entahlah, sepertinya aku pernah melihat tempat ini, tapi aku lupa." Gumam Alina dengan pelan, raut wajahnya tampak sedikit murung.


"Alina, nggak boleh murung gitu. Ayo senyum lagi, kan ada Abang di sini. Abang akan menyayangi Alina, seperti Mama dan Papa, ya!" ucap Ghani sambil merangkul tubuh kecil Alina.


"Iya Bang."


Setelah melewati sekitar satu jam perjalanan, mobil berhenti di depan rumah mewah berlantai dua. Rumah yang menjadi tempat tinggal para personil Batas.


Ghani membimbing Alina turun dari mobil. Ia menuntun gadis kecil itu, sambil menenteng tas besar. Tas yang digunakan untuk membawa barang-barang milik Alina.


Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba Alina berhenti tanpa sepatah kata.


"Alina, ada apa?" tanya Ghani sambil mengernyit heran.


Gadis kecil itu tercengang, ia menatap bangunan kokoh di hadapannya dengan pandangan nanar. Jemari kecilnya menggenggam tangan Ghani dengan lebih erat. Ghani menyadari perubahan sikap Alina, namun ia tak dapat menebak ada apa gerangan.


"Alina, ada apa?" tanya Ghani untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2