
Ghani mondar-mandir di dalam kamarnya, sembari menunggu balasan dari Bylla.
Baru saja Ghani mengirimkan pesan panjang lebar padanya. Menceritakan tentang pertemuannya dengan Livay.
Setelah cukup lama berjalan ke sana ke mari tanpa tujuan yang jelas, Ghani berdiri tepat di dekat jendela. Menatap senja yang hampir menyapa dengan pikiran yang menerawang jauh ke segala arah.
"Mengingat tentang keterlibatan Om Tomny, ingin rasanya aku pergi dari sini. Tapi jika aku pergi, bagaimana caranya mengungkap semua ini," gumam Ghani seorang diri.
Kedua tangannya mencengkeram bingkai jendela dengan erat. Ia menghirup napas dalam-dalam, lantas mengembuskannya dengan kasar. Berharap masalahnya sedikit berkurang, seiring embusan napasnya.
"Ya Allah, berikankah jalan untuk hambamu ini," ucap Ghani sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Ternyata Bylla yang menelepon.
"Assalamu'alaikum, Bylla." Sapa Ghani sambil mengulas senyuman lebar.
"Waalaikumsalam, Ghani. Maaf ya baru telfon sekarang, tadi aku masih beres-beres," ujar Bylla.
"Iya tidak apa-apa, lagipula aku juga belum lama kok kirim pesannya." Jawab Ghani.
"Mmm Ghani, aku sudah membaca semua pesanmu. Ghan, jika boleh berpendapat, apa tidak lebih baik kamu keluar saja. Keterlibatan Om Tommy, membuatku khawatir. Jika dia tahu siapa dirimu, dan siapa Alina. Bahaya akan mengancam kalian berdua, Ghan," ucap Bylla dengan hati-hati.
"Untuk saat ini aku harus bertahan, karena jika keluar, itu akan membuatku dalam kesulitan, Bylla." Sahut Ghani.
"Kenapa begitu?"
"Dengan menjadi personel Batas, aku bisa tahu gerak-geriknya, aku juga punya banyak kesempatan untuk mengorek beberapa informasi darinya. Kamu jangan khawatir, aku pasti bisa menjaga diriku. Dan soal Alina, aku akan menyembunyikan dia sebelum Om Tommy tahu tentangnya," terang Ghani dengan panjang lebar.
"Begitukah?"
"Iya."
"Baiklah, aku percaya keputusanmu adalah yang terbaik. Ghani, aku minta maaf ya," ucap Bylla dengan pelan.
"Minta maaf, untuk apa?" tanya Ghani dengan heran.
"Om Vino belum bisa bantu kamu. Kasus yang ditanganinya cukup rumit, dia tidak bisa meninggalkan Surabaya, dia akan membantu kliennya sampai semuanya clear," jawab Bylla sambil mengembuskan napas kasar.
"Iya tidak apa-apa, aku di sini juga sambil berusaha Bylla. Doakan semoga semuanya berjalan lancar, ya!" sahut Ghani.
"Aku memilih untuk mempercayai Livay, dan semoga pilihanku ini tidak salah," sambung Ghani dalam hatinya.
"Doaku selalu menyertaimu, Ghan. Oh ya, aku juga mau bilang sesuatu sama kamu," ucap Bylla.
"Apa?"
"Kunjunganku ke Paris akan dipercepat, aku dan Mama akan terbang ke Eropa tiga hari lagi. Dan besok aku akan berangkat lebih dulu, aku akan singgah sebentar di tempatmu. Boleh kan?" ucap Bylla.
"Kamu serius, Bylla?"
"Iya. Boleh kan?"
__ADS_1
"Tentu saja boleh, bahkan aku sangat senang Bylla. Mungkin dua hari adalah waktu yang singkat, tapi setidaknya bisa sedikit mengobati rasa rinduku," jawab Ghani sambil tersenyum senang.
"Semoga jarak tak menjadi kendala Ghani. Aku pergi untuk kembali, begitu halnya dengan dirimu. Semoga waktu tak melekangkan rasa yang kita bina. Ghani, aku menunggu hari dimana aku dan kamu menjadi kita," ujar Bylla yang sontak saja membuat jantung Ghani berdetak cepat.
"Dan aku tidak akan membiarkanmu menunggu terlalu lama. Setelah masalah Alina selesai, saat itu juga aku akan keluar dari Batas. Aku tak ingin lagi berurusan dengan Om Tommy. Jika kau sudah pulang, aku akan menikahimu. Mungkin bekalku belum banyak, tapi aku akan terus berusaha membuatmu bahagia," kata Ghani dengan serius.
"Aku tidak pernah memikirkan bekalmu Ghani. Cinta dan kesetiaan, itu sudah lebih dari cukup. Ghani, aku percaya padamu." Ujar Bylla.
"Cinta ini tak akan pernah pudar Bylla, dan kepercayaanmu tak akan ternoda." Jawab Ghani.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ghani membawa Alina pergi. Entah kemana, hanya dia dan bibi pengasuh yang tahu.
Satya, Rizky, Arsen, dan Bryan, mereka sangat heran melihat sikapnya. Ghani mengatakan, jika Alina akan dikembalikan ke Surabaya, karena bocah itu kurang nyaman dengan tempat barunya. Namun keempat rekannya tak ada yang percaya, mereka yakin ada suatu hal yang Ghani sembunyikan.
Ghani tiba di rumah sekitar pukul 10.00 siang. Keempat rekannya sudah bersiap pergi ke studio, mereka akan merilis satu lagu ciptaan Bryan. Diantara personel lainnya, Bryan lah yang paling sering menciptakan karya. Sementara Ghani, ia belum berani menunjukkan karyanya. Masih terlalu jauh dari Bryan.
"Sudah siap berangkat?" tanya Ghani, yang kala itu baru masuk ke ruang tengah.
"Sudah." Jawab Satya.
"Ghan, duduklah sebentar!" kata Bryan sambil menilik Ghani dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Ada apa?" tanya Ghani dengan gugup. Ia tahu teman-temannya mulai curiga.
"Jika kamu menganggap kita teman, katakan apa yang terjadi! Jika kamu masih tidak bicara, berarti kamu tidak pernah menganggap kita." Jawab Bryan dengan tegas.
"Aku, sebenarnya aku___"
"Masalahmu ada hubungannya dengan Tuan Frans, kan?" sela Satya sambil menatap Ghani dengan tajam.
"Iya." Jawab Ghani, ia tak bisa lagi mengelak.
"Ada apa, kamu mengenalnya?" tanya Bryan.
"Sebenarnya tidak, tapi Alina yang mengenal. Dia, dia adalah pamannya Alina." Jawab Ghani dengan pelan.
"Apa! Lalu kenapa kamu tidak mempertemukan mereka? Alina juga berhak bahagia Ghani, dia pasti senang jika bertemu dengan keluarganya." Kali ini Arsen yang angkat bicara.
"Hubungan mereka buruk Sen. Sejak orang tuanya meninggal, Alina dibuang ke Surabaya, dan bertemu denganku. Rumah ini, dulu merupakan tempat tinggal Alina. Tapi kemudian menjadi hak milik Tuan Frans," terang Ghani sambil menatap keempat temannya.
"Aku sudah bercerita, tolong jangan katakan apapun pada Om Tommy," sambung Ghani seraya menundukkan kepalanya.
"Tak kusangka Tuan Frans sekejam itu," gumam Satya.
"Iya, dia seperti orang yang berwibawa. Tapi ternyata, itu hanya topeng belaka," sahut Arsen.
"Dulu Alina mengalami trauma, dan aku tidak ingin dia kembali mengalami hal itu. Jadi aku membawanya pergi dari sini," ucap Ghani, tanpa memberikan keterangan ke mana ia membawa Alina.
"Lalu rencanamu apa, Ghan?" tanya Satya.
__ADS_1
"Entahlah aku juga masih bingung," jawab Ghani sembari menghela napas panjang.
"Melawan Tuan Frans bukanlah hal yang mudah, tapi bukan berati tidak bisa. Kebenaran pasti akan menang, walaupun harus melewati kerikil yang tajam. Ghani, kita adalah sahabat dan juga kerabat. Jika butuh apa-apa, katakan saja. Kita selalu siap membantumu! Kami memang berhutang budi pada Tuan Frans, tapi bukan berarti kami akan membenarkan sikapnya. Siapa pun dia, tindakannya ini salah. Kami tidak akan menutup mata hanya demi karier Ghani," kata Satya sambil menepuk bahu Ghani.
"Terima kasih."
***
Senja sudah lama padam, kini berganti malam yang datang menjelang. Ghani dan yang lainnya dalam perjalanan pulang, setelah seharian menguras tenaga di studio.
Keempat rekannya akan beristirahat lebih awal, namun lain halnya dengan Ghani. Dia akan pergi ke Bandara Soekarno-Hatta, untuk menjemput Bylla yang baru mendarat di Jakarta. Detik ini, Ghani sudah berpisah jalan dengan teman-temannya. Menikmati perjalanan malamnya hanya bersama supir taxi.
Sekitar setengah jam kemudian, taxi yang membawa Ghani sudah tiba di Bandara. Ghani bergegas menghampiri sang kekasih yang sudah menunggu sejak beberapa menit yang lalu.
Tak sulit menemukan keberadaan Bylla, kendati ia berbaur dengan ratusan orang. Sosoknya begitu mencolok di mata Ghani, entah karena mata birunya, rambut coklatnya, atau mungkin senyumannya.
"Ya Allah, sosok yang selalu kurindu, benar-benar hadir di hadapanku. Semoga Engkau mengizinkan hamba tuk menjadi imamnya," batin Ghani sembari mengayunkan kakinya. Matanya menatap sosok wanita yang berjalan ke arahnya.
Senyuman saling terlempar dari bibir keduanya, langkah kaki mengikis jarak yang tadi sempat terbentang. Ghani dan Bylla tersenyum lebih lebar, kala keduanya sudah berdiri saling berhadapan.
Belum sempat Ghani menyapa, Bylla sudah lebih dulu menghambur dalam pelukannya. Tak punya pilihan lain, lantas Ghani mendekap tubuh Bylla dengan erat.
"Bagaimana kabarmu, Ghani?" tanya Bylla dengan pelan, tanpa melepaskan pelukannya.
"Buruk."
"Apa yang terjadi?" tanya Bylla dengan cepat.
"Kamu selalu menyiksaku dalam rindu, rasanya hatiku remuk." Jawab Ghani dengan santainya.
"Tingkat nggombalmu sudah level maksimal ya, Ghan?" canda Bylla sambil tertawa renyah.
"Aku serius, Bylla." Jawab Ghani.
"Ya ya baiklah, berarti kabarku juga buruk. Karena kamu menghempaskan aku dalam penantian. Aku terpiar sendiri dalam sepi, hanya mampu menatapmu dalam ilusi. Rasa sedih ini seakan tak bertepi, Ghani." Ujar Bylla.
"Kamu pintar juga nggombal, mana puitis lagi," ucap Ghani sambil melepaskan pelukannya, dan mengacak rambut Bylla.
"Katanya kamu akan menikahiku, sebagai calon istri, sudah seharusnya aku mengikuti apa yang diajarkan oleh calon imamku," sahut Bylla dengan tawa yang renyah.
"Mmmm gitu ya, mulai nakal sekarang!" kata Ghani sambil mencubit kedua pipi Bylla.
Lantas keduanya tertawa renyah di tengah keremangan malam.
Pasangan yang tampak serasi, dengan posisi tangan yang saling menggenggam, membuat keduanya terlihat romantis.
Dan seseorang di kejauhan sana, memanfaatkan momen langka yang terpampang di hadapannya.
Vocalis Batas yang kabarnya menjalin hubungan dengan Evelyna Patricia. Tertangkap basah saat sedang berpelukan dengan wanita Indo. Apakah keduanya terlibat skandal?
"Ini akan menjadi berita yang paling hangat. Mulai besok, pundi-pundi rupiah akan mengalir di kantongku," ucap orang itu sambil menatap ponselnya. Hasil potretan yang benar-benar memuaskan.
__ADS_1
Bersambung...