
Setelah sekian menit lamanya larut dalam pergolakan batin, akhirnya Ghani memutuskan untuk melakukan apa yang Tommy arahkan.
Menatap mimik ceria yang dipancarkan dari wajah rekan-rekannya, ia tak sampai hati bila harus mengecewakan mereka. Dan lagi, Tommy sudah memberikan pekerjaan besar untuknya, tidak mungkin ia membalasnya dengan mematahkan harapannya.
Hanya dengan pekerjaan ini, anak-anak asuhnya bisa mendapatkan masa depan yang layak, pikir Ghani kala itu.
"Ya Allah ampunilah dosa-dosa hamba, kuatkan iman hamba, dan berikanlah jalan yang lebih mudah," ucap Ghani dalam hatinya.
"Ghani!" panggil Tommy.
"Iya Om, saya akan melakukannya." Jawab Ghani dengan tegas.
"Bagus, aku tahu kamu sangat bijak. Ya sudah pelajari lagi, dan setelah itu kita mulai syutingnya," kata Tommy sambil tersenyum lega.
Sebelum kembali memelajari skenarionya, Ghani terlebih dahulu mengambil ponselnya. Ia mengirimkan pesan untuk Bylla.
Bylla, maaf tadi tidak bisa mengobrol lama denganmu. Aku masih bekerja, dan bahkan sampai saat ini aku masih di studio. Aku dan yang lainnya masih menggarap video untuk lagu Nafas Terakhir. Selamat tidur Bylla, semoga bermimpi indah. Jangan lupa untuk membuka jendela setelah bangun esok hari, sambutlah angin pagi yang membawa pesan rindu dariku.
Ghani tersenyum setelah mengirimkan pesan itu. Bayangan tentang Bylla yang merona, membuat semangatnya kembali membara.
"Jika ini berhasil, nama Batas akan segera melambung. Setelah itu, aku punya cukup bekal untuk menikahimu Bylla. Aku akan mengenalkanmu pada publik, sebagai pasanganku yang sebenarnya. Ya Allah, mudahkanlah jalan hamba," batin Ghani dalam hatinya.
Lantas ia mulai fokus memelajari skenario yang masih digenggamnya.
Sekitar lima belas menit kemudian, Ghani dan yang lainnya sudah siap untuk memulai adegan. Semua kru menempati posisinya masing-masing, semua fokus pada tugasnya sendiri-sendiri.
Di awal adegan, hanya Ghani dan Evelyn yang disorot kamera. Sedangkan yang lainnya, mereka masih menunggu giliran. Evelyn duduk manis di tepi ranjang, sedangkan Ghani, ia akan melangkah masuk dan menghampiri Evelyn.
"One, two, three, and action!" kata Tommy dengan lantang, bersamaan dengan bunyi clapper board yang cukup nyaring.
Ghani mulai melangkahkan kakinya, matanya menatap lekat ke arah Evelyn. Setibanya di sana, ia mengulurkan tangannya, yang kemudian disambut mesra oleh Evelyn.
Lantas Evelyn berdiri, dan mendekatkan wajahnya. Ia mengulas senyuman manis, lengkap dengan tatapan mata yang begitu lekat.
"Cut!" teriak Tommy.
Semua kru menghentikan aktivitasnya, termasuk juga Ghani dan Evelyn.
"Jangan terlalu kaku Ghani, kamu harus bersikap senatural mungkin. Seperti saat kamu menghadiri reality show. Ayo diulang lagi," kata Tommy sambil menatap Ghani.
"Iya Om, maaf." Ucap Ghani sambil mengembuskan napasnya dengan kasar.
"Rileks," bisik Evelyn tepat di telinga Ghani.
Ghani menoleh, dan mendapati Evelyn yang sedang tersenyum lebar.
"Kamu pasti bisa," ucap Evelyn. dengan pelan.
"Terima kasih."
Setengah jam telah berlalu, dan sudah empat kali Ghani gagal melakoni perannya. Tommy tampak sedikit kesal, begitu pula dengan kameramen dan kru lainnya yang harus berkali-kali mengulang adegan. Sementara personil lainnya, hanya bisa menghela napas panjang, berharap Ghani mampu bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya.
"Kenapa kamu jadi kaku seperti ini Ghan? Rileks, rileks! Lakukan seperti biasanya, seperti saat kamu menjadi pemain pendukung. Dia Evelyn, kamu sering beradu akting bersama dia saat reality show, kenapa sekarang kaku seperti ini? Kamu ada masalah sama dia?" tanya Tommy dengan nada yang sedikit tinggi.
Tommy beranjak dari duduknya dan mendekati Ghani yang sedang duduk di kursi. Audy dan Airin menyapukan sedikit make up di wajah Ghani dan Evelyn, agar riasannya tetap terlihat sempurna.
"Maaf Om, sepertinya aku memang tidak bisa melakoni peran ini. Bagaimana, bagaimana kalau Bryan saja yang menggantikan aku, Om," ucap Ghani sambil melirik Bryan. Ia berbicara dengan gugup dan sangat berhati-hati, takut jika menyinggung produsernya.
__ADS_1
Lantas Bryan melangkah mendekati Tommy dan Ghani.
"Sepertinya Ghani benar Om, jika dia tidak bisa, hasilnya malah berantakan. Bagaimana kalau aku saja yang menggantikan dia?" tanya Bryan. Ia sependapat dengan Ghani, ia tahu jika ia sangat kesulitan mendalami perannya.
"Itu tidak mungkin Yan, publik itu meminta Ghani yang menjadi pasangannya Evelyn. Aku tidak mau ya, kalau nanti lagu ini rilis dan penjualannya jauh dibawah target!" sahut Tommy masih dengan nada tinggi.
"Apa kita tunda besok saja Om, mungkin Ghani lelah dan butuh istirahat," sela Satya seraya melangkah mendekati mereka.
"Kamu jangan aneh-aneh Sat, kita harus segera menyelesaikan syuting ini. Dari awal sudah kita rencanakan, lagu ini mulai tayang di awal bulan, kita tidak punya banyak waktu!" kata Tommy sambil menatap Satya dengan tajam.
Satya terdiam, begitu pula dengan personil yang lainnya. Ghani menunduk, hatinya kembali bergejolak. Di satu sisi ia tidak ingin melakukan hal itu, ia takut dosa, dan juga takut Bylla kecewa. Namun di sisi lain, Ghani juga tidak ingin mengecewakan teman-temannya. Mereka sangat berharap pada lagu ini.
"Baiklah, kita lanjutkan besok saja!" kata Tommy sambil menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
Tommy melangkahkan kakinya dengan cepat, ia meninggalkan ruangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Namun baru saja Tommy tiba di ambang pintu, Ghani memanggilnya.
"Tunggu Om!" panggil Ghani dengan tegas.
"Ada apa?" tanya Tommy tanpa menoleh.
"Kita lanjutkan sekarang, kita coba sekali lagi. Kali ini aku akan berusaha semaksimal mungkin," kata Ghani dengan sungguh-sungguh.
"Kamu yakin?" tanya Tommy sambil menoleh dan menatap Ghani. Detik berikutnya, ia kembali melangkah mendekati Ghani.
"Yakin Om, tapi___"
"Tapi apa?" tanya Tommy.
"Kita coba," jawab Tommy sambil menghela napas panjang.
Syuting kembali dimulai, para kru kembali pada posisinya masing-masing. Kendati sudah letih dan lelah, namun mereka berusaha menyelesaikan tugasnya dengan maksimal.
"One, two, three, and action!" teriak Tommy dengan suara yang lantang.
Ghani mulai melangkahkan kakinya, ia berjalan ke arah Evelyn sambil menatapnya lekat-lekat. Setelah adegan mencium kening dipangkas, Ghani merasa lebih rileks.
Ghani mengulurkan tangannya, dan kemudian disambut mesra oleh Evelyn. Evelyn berdiri tepat di hadapan Ghani, dan tubuh mereka semakin merapat. Ghani mulai mengangkat tangannya, dan membelai wajah dan leher Evelyn.
Di belakang sana, Tommy mengulas senyuman lebar. Ia merasa sangat puas dengan chemistry yang mereka ciptakan.
Ghani mengitari tubuh Evelyn, dengan jemari yang tetap saling bertautan. Ghani berhenti tepat di belakang Evelyn, lantas ia mulai membuka kancing gaun yang paling atas.
Ghani merengkuh pinggang Evelyn dari belakang, dan kemudian ia menyandarkan kepalanya di bahu Evelyn. Untuk beberapa detik lamanya, mereka bertahan pada posisi ini. Kemudian Evelyn membalikkan badannya, kala rengkuhan Ghani mulai melemah.
Evelyn tersentak kaget, saat mengetahui Ghani sudah memejamkan matanya. Evelyn menangis dan memeluk tubuh Ghani dengan erat. Lalu Evelyn terduduk lemah di lantai, ia memeluk kepala Ghani yang berada di atas pangkuannya. Evelyn menangis pilu, air mata berderaian membasahi kedua pipinya.
Lantas beberapa personil lain mulai berdatangan, mereka membopong tubuh Ghani dan membaringkannya di atas ranjang. Satya memeriksa denyut nadinya, dan ia menggelang lemah kepada rekan yang lainnya. Evelyn menutup mulutnya dengan erat, dan dalam hitungan detik, ia jatuh terkulai tak sadarkan diri.
"Cut!" teriak Tommy, detik selanjutnya ia tersenyum sambil bertepuk tangan.
"Luar biasa, sangat memuaskan!" kata Tommy.
"Ehhh emmm, emmm benarkah?" tanya Ghani.
"Iya, sesuai dengan harapan. Meskipun kau melakukan sedikit kesalahan, tapi tidak apa, yang penting adalah chemistry nya." Jawab Tommy.
__ADS_1
"Kesalahan?" tanya Ghani.
"Iya. Seharusnya tiga kancing yang kau buka, tapi kamu hanya membukanya satu, kamu sengaja melambatkan gerakanmu untuk mengulur waktu. Tapi tidak masalah, hasilnya sangat memuaskan. Ghani, mulai sekarang aku menghargai pendapat kamu. Maaf tadi aku sempat emosi," ucap Tommy sambil menepuk punggung Ghani dengan pelan.
"Jangan minta maaf Om, aku yang salah. Aku tadi___"
"Seharusnya aku memangkas adegan itu sejak awal, ya," sahut Tommy sambil tertawa.
"Lain kali kalau untuk Ghani, jangan pakai adegan seperti itu Om," kata Arsen sambil ikut tertawa.
"Kau benar. Ya sudah, ayo kita siapkan adegan selanjutnya. Ini lebih mudah, aku harap kamu tidak melakukan kesalahan lagi, Ghani," ucap Tommy seraya melirik Ghani.
"Semoga saja Om, bantu doa ya," canda Ghani.
Adegan selanjutnya, mereka lakukan di halaman belakang. Halaman yang sudah disulap bak pemakaman umum. Para personil berperan sebagai teman yang menghadiri acara pemakaman.
Setelah acara selesai, satu persatu temannya, mulai pergi meninggalkan pusara. Evelyn menangis sambil mencengkeram kelopak mawar. Ia memeluk batu nisan, dan menyandarkan kepalanya di sana. Di sebelahnya, Ghani berdiri sambil mengulurkan tangannya. Lalu setetes air matanya jatuh, karena tak bisa menyentuh sang istri. Lalu detik berikutnya ia tersadar, jika dirinya sudah berbeda alam dengan istrinya.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Sejak dua jam yang lalu, hujan mengguyur Kota Surabaya. Hujan deras yang disertai angin dan halilintar, melukiskan malam yang dingin dan mencekam. Banyak insan yang memilih untuk mengarungi dunia mimpi, ketimbang mendengarkan nyanyian alam yang menyeramkan.
Kendati demikian, Reymond masih duduk di kursi, di depan layar komputer. Ia sama sekali tidak ada niatan untuk memejamkan matanya. Ia melipat tangannya di dada, dengan pandangan datar yang menatap lurus ke meja. Entah apa yang menarik perhatiannya, sebotol air mineral, setumpuk buku, sekotak pensil, ataukah sederet angka yang berjajar rapi di dalam kalender.
Sania menghela napas panjang, kemudian ia melangkah, dan mendekati sang suami yang tersesat dalam lamunan.
"Rey!" panggil Sania sambil memegang bahu Reymond.
"Hmm." Gumam Reymond singkat, tanpa tersenyum dan tanpa menoleh.
"Ayo tidur!" ajak Sania.
"Tiurlah, aku belum ngantuk," jawab Reymond dengan nada datar.
"Aku tidak bisa tidur sendiri," ucap Sania.
"Jangan manja!" sahut Reymond dengan cepat.
"Rey, kita ini suami istri," ucap Sania, ia mencoba bersabar menghadapi sikap Reymond.
"Lalu?"
"Ya kamu jangan seperti ini dong, tolong hargai keberadaan aku," ucap Sania.
Reymond bergeming di tempatnya, bahkan ia tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Rey, ayo tidur!" rengek Sania sembari menggenggam lengan Reymond.
"Nanti." Jawab Reymond.
"Kamu kenapa sih Rey, jangan terlalu mengabaikan aku, aku ini istrimu. Jangan bilang kamu seperti ini, karena kamu masih ingat Bylla!" kata Sania dengan nada tinggi.
Reymond beranjak dari duduknya, dan menatap tajam ke arah Sania.
"Lalu kenapa kalau aku ingat Bylla, hah! Meskipun dia hanya sekedar mantan, tapi dia jauh lebih berharga, daripada istri yang hamil entah dengan siapa. Ingat Sania, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakui anak yang kamu kandung itu. Setelah dia lahir, aku akan menceraikanmu, paham!" bentak Reymond tepat di depan wajah Sania.
Bersambung....
__ADS_1