Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Mengungkap Kejahatan Tommy


__ADS_3

Jarum jam menunjukkan tepat pukul 11.00 malam, Ghani dan Evelyn baru saja keluar dari pusat perbelanjaan. Hanya membeli lima jenis barang, namun Evelyn menghabiskan waktu beberapa jam. Entah dia sengaja, atau memang seperti itu caranya belanja.


"Kamu yakin nggak mau, Ghan?" tanya Evelyn sambil menyodorkan crepes yang baru saja dibelinya.


"Aku tidak lapar," jawab Ghani dengan nada datar.


Keduanya berjalan menembus dinginnya malam. Kendaraan masih melintas berlalu lalang, benar kata orang, Paris adalah kota yang tidak pernah tidur.


Evelyn memakan crepes sambil tersenyum licik, entah rencana apa yang sedang dirancangnya. Sementara Ghani, ia berjalan dengan perasaan dongkol. Ia sangat benci dengan kehidupannya saat ini.


"Ya Allah hamba lelah menghadapi semua ini, tolong berikanlah jalan untuk hamba," batin Ghani ditengah-tengah emosi.


"Ghan!" panggil Evelyn setelah hening beberapa saat lamanya.


"Hmmm."


"Kamu lelah, 'kan?" tanya Evelyn.


"Iya,"


"Ikut aku sebentar yuk, aku jamin lelahmu akan hilang," ucap Evelyn lengkap dengan senyum menawan.


"Ke mana?" tanya Ghani.


"Suatu tempat,"


"Tidak mau, aku ingin segera pulang." Ghani semakin mempercepat langkahnya.


"Ayolah, sebentar saja!" rengek Evelyn.


"Tidak Ev!" kata Ghani dengan nada tinggi.


"Sebenarnya Om Tom titip minuman. Tidak enak rasanya kalau hanya beli lantas pulang, aku bermaksud mengajakmu singgah sebentar. Minum bersama di sana, mau ya." Evelyn menggenggam lengan Ghani dengan lembut.


"Tommy lagi, Tommy lagi. Ya Allah sampai kapan hidupku akan seperti ini. Jika memang tidak ada jalan untuk menguak kesalahannya, tolong berikanlah jalan untuk hamba mencari uang. Hamba akan membayar denda, dan keluar dari Batas. Rasanya hamba tidak snaggup lagi, Ya Allah," batin Ghani.


"Mau 'kan?" Evelyn kembali bertanya.


"Terserah!" jawab Ghani.


Evelyn mengulas senyuman lebar, lantas ia mengajak Ghani ke tempat tujuannya.


Sekitar lima belas menit kemudian, mereka tiba di depan kelab malam. Ghani mengernyit heran, minuman seperti apa yang dimaksud Evelyn?


"Ev, kamu tidak salah tempat?" tanya Ghani.


"Tentu saja tidak." Evelyn menggelengkan kepala.


"Ini kelab 'kan?" Untuk apa kita ke sini?"


"Om Tom pesan vodka, dan tidak enak rasanya kalau hanya beli. Katanya kamu lelah, icip-icip dikit pasti lelahmu hilang. Ayolah, Ghan!" ajak Evelyn.


"Tidak, aku tidak mau ke tempat maksiat ini Ev! Dan aku juga tidak mau mengicip minuman laknat itu! Aku akan pulang." Ghani berbalik badan, dan hendak pergi.


"Ghani, tunggu!" Evelyn menarik tangan Ghani.


"Aku bilang tidak!" bentak Ghani dengan tatapan yang tajam.


"Baiklah, aku mengerti. Tapi Ghani, Om Tom benar-benar titip. Tolong antarkan aku ke sana, aku tidak mungkin sendirian," ucap Evelyn dengan pelan.

__ADS_1


"Hanya beli! Akuaku akan pergi, jika kau memaksa untuk minum," jawab Ghani.


"Iya, hanya beli. Maaf sudah membuatmu tidak nyaman." Evelyn mengulas senyuman lebar.


"Ya sudah, ayo!" kata Ghani masih dengan nada datar.


Hingar-bingar musik mulai memekakkan telinga, kala Ghani menapakkan kakinya di dalam kelab. Aroma alkohol tercium menyengat di hidung, membuat Ghani enggan untuk melangkah lebih jauh.


"Tidak apa-apa, Ghani," ucap Evelyn. Suaranya seakan luruh dalam alunan melodi yang cukup keras.


Dengan ragu Ghani kembali melangkah, matanya menatap kumpulan muda-mudi yang sedang berjoget mengikuti irama. Banyak di antaranya mengenakan pakaian kurang bahan, dan menari dengan gerakan erotis, seakan sengaja mengundang hasrat.


Ghani langsung memalingkan pandangannya, kala menatap dua insan yang sedang bercinta. Tanpa malu, keduanya melakukan adegan vulgar, tak peduli dengan beberapa pasang mata yang mungkin saja melihatnya.


"Ampuni hamba Ya Allah, tolong bebaskan hamba dari Batas, agar kejadian ini tidak terulang kedua kali. Cukup sekali ini saja, hamba menginjak tempat yang penuh maksiat," batin Ghani.


Evelyn menggandeng tangan Ghani, dan mengajaknya duduk di depan bartender. Ghani sangat risih, ia tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ini.


"Santai saja Ghan, tidak usah gugup begitu," ucap Evelyn.


"Mulai malam ini, kamu berada dalam kendaliku Ghani," batin Evelyn.


"Cepat pesan, setelah itu kita pulang!" tegas Ghani.


"Temani aku minum, sebentar saja," rengek Evelyn.


"Ev kamu___"


"Please." Evelyn menggenggam lengan Ghani dengan erat.


Ghani menilik wajah Evelyn, dia merasa muak dengan sikapnya yang sangat menjengkelkan.


"Ayolah Ghan, sebentar saja!" ucap Evelyn untuk yang kedua kali.


"Ghan!" panggil Evelyn.


"Baiklah, tapi tunggu sebentar. Aku akan ke kamar mandi dulu," ucap Ghani dengan senyuman lebar.


"Mau kuantar?"


"Tidak usah, aku bisa sendiri." Ghani melangkah pergi meninggalkan Evelyn.


"Kulihat akhir-akhir ini hubunganmu dengan Om Tommy cukup baik. Semoga saja keberuntungan masih berpihak padaku," batin Ghani.


"Aku cantik Ghani, jauh lebih cantik dari kekasihmu. Sampai mana kau bisa bertahan." Evelyn menatap punggung Ghani yang semakin menjauh. Otaknya dipenuhi rencana licik untuk menghancurkan Ghani.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Ghani kembali menghampiri Evelyn. Dia duduk di sebelahnya tanpa rasa canggung.


"Kamu yakin tidak mau mengicip ini, Ghan? Aku traktir lho," tawar Evelyn. Ia menggoyangkan gelas minumannya di depan wajah Ghani.


"Aku akan memesannya," jawab Ghani. Lantas ia meminta bartender untuk menyiapkan minumannya.


Evelyn terkesiap, ia tak menyangka akan semudah itu Ghani menerima tawarannya. Terlebih lagi, Ghani langsung memesan vodka. Ia pasti tumbang dalam beberapa tegukan, pikir Evelyn kala itu.


"Mari bersulang!" Ghani menyodorkan gelas minumannya, dan Evelyn langsung menyambut dengan hangat. Bunyi dentingan gelas terdengar samar-samar, bersamaan dengan senyuman yang terukir di bibir keduanya.


Hal itu terjadi berulang kali, entah sudah berapa botol yang mereka habiskan. Wajah Evelyn mulai memerah, kepalanya terasa pening dan sakit. Namun ia berusaha bertahan, ia tidak mau malamnya berlalu sia-sia.


"Kamu kenapa belum mabuk, Ghan?" tanya Evelyn antara sadar dan tidak. Kala itu, Ghani memang terlihat bugar.

__ADS_1


"Kamu yang terlalu cepat Ev, seharusnya kamu bertahan lebih lama, 'kan kamu yang mengajakku," jawab Ghani.


"Aku belum mabuk," sanggah Evelyn. Lantas ia kembali meneguk gelas minumannya hingga tandas.


"Nah, kalau gitu 'kan seru." Ghani ikut meneguk minuman miliknya. Ia tersenyum miring kala melihat Evelyn yang semakin kacau.


"Maafkan aku Ev, tapi kamu sendiri yang membuatku melakukan ini," batin Ghani.


"Kamu ganteng, tapi masih jauh sama Livay. Dia putih, kamu hitam," ucap Evelyn. Dia bicara sambil tertawa. Dia sudah sepenuhnya berada dalam pengaruh alkohol.


"Livay ganteng?"


"Iya, bahkan aku selalu ingin tidur dengannya. Tapi dia bodoh ... dia malah pergi sama orang jelek." Evelyn memanyunkan bibirnya.


Ghani membelalak lebar, "tidur? Seliar itu imajinasinya. Tapi ... kalau dia menyukai Livay, berarti dia tidak tertarik denganku. Lantas kenapa akhir-akhir ini sikapnya begitu?" batin Ghani.


"Kalau Om Tommy, ganteng nggak?" tanya Ghani.


"Tua bangka itu maksudmu? Dia jelek, sangat jelek. Aku muak dengannya, tapi aku harus menuruti keinginannya. Bahkan aku merelakan kesucianku diambil sama dia, ahhh menyebalkan! Mana operasi selaput dara mahal lagi, dan dia sering minta pula. Bisa bangkrut aku kalau tiap hari operasi," ungkap Evelyn dengan raut memelas.


Ghani menelan salivanya, kenyataan macam apa ini. Ternyata Tommy orang yang seperti itu, kasihan juga Evelyn. Tapi kenapa dia tidak melawan, dia tidak terikat kontrak. Seharusnya Tommy tidak bisa menindasnya 'kan.


"Kenapa kamu mau, Ev?" tanya Ghani.


"Dia mengancamku, aku tidak mau dipenjara." Evelyn mulai menitikkan air mata.


"Dipenjara?"


"Iya. Dulu aku butuh uang, dan aku menerima tawaran pekerjaan darinya. Aku dibayar seratus juta untuk mencelakai satu keluarga. Aku berhasil, mereka mati. Tapi gara-gara Ghani, masalah itu terungkit kembali. Semua bukti ada padaku, Tommy mengancam tidak mau menolong, jika aku tidak nurut dengannya. Aku pusing, aku nggak mau dipenjara," ungkap Evelyn. Ia benar-benar mabuk, sampai tak sadar dengan siapa ia bicara.


Darah Ghani mendidih kala mendengar penjelasan Evelyn. Tommy, dia lebih kejam dari yang ia bayangkan.


"Kau punya bukti?" tanya Ghani.


"Tentu saja tidak, yang punya bukti itu dia. Kalau aku punya bukti, aku sudah menjebloskan dia. Aku tidak akan takut dengannya. Aku tidak perlu melayani nafsunya, tidak perlu mengandung anaknya," jawab Evelyn.


"Kau mengandung anaknya!" teriak Ghani.


"Iya. Dan malam ini seharusnya aku menjebak Ghani, agar dia tidak berurusan lagi dengan Da Vinci. Kalau Ghani menikah denganku, dia ada dalam kendaliku. Dia tidak akan mengungkit lagi masalah ini, aku aman. Tapi kenapa aku malah diam di sini, bagaimana bisa aku sampai ke sini," kata Evelyn.


"Ya Allah, terima kasih Engkau masih melindungi hamba. Tapi apakah kira-kira ini cukup. Ya Allah berikanlah kemudahan untuk mengungkap semua ini," batin Ghani.


"Kau benar-benar hamil anak Tommy?" tanya Ghani.


"Tentu saja, hanya dia lelaki yang menyentuhku!" jawab Evelyn.


"Kau punya petunjuk lain?" tanya Ghani dengan berapi-api.


Evelyn diam sejenak, ia memegangi pelipisnya, seolah-olah sedang berpikir keras.


"Tidak, aku hanya punya bukti transferan. Dia membayarku saat itu juga," ujar Evelyn.


"Berikan itu padaku!" kata Ghani.


"Kau siapa?"


"Seseorang yang bisa menolongmu," ucap Ghani.


Evelyn merogoh tas kecilnya, dan mengambil sebuah dompet berwarna merah. Lantas ia mengambil secarik kertas yang ia selipkan di sana. Evelyn menyerahkan kertas itu pada Ghani.

__ADS_1


Ghani membacanya sekilas, "aku tidak janji kau akan bebas dari hukum. Tapi setidaknya, hukumanmu lebih ringan, daripada Tommy."


Bersambung...


__ADS_2