Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Menelepon Ghani


__ADS_3

Seiring jarum jam yang terus berputar, senyuman Bylla kian memudar. Menatap sang suami yang diam mematung tanpa membuka suara, perasaan kesal perlahan menyeruak dalam benak.


"Mon cherie, kamu tidak suka ya, dengan masakanku?" Bylla menunduk sembari memilin ujung taplak. Wajah ayunya dipenuhi gurat-gurat kesedihan.


"Mmm, bukan tidak suka, Ma cherie. Tapi ... kenapa kamu hanya menyajikan aneka buah? Ini akan sangat aneh kalau kita makan di pagi hari," jawab Ghani.


Ia kembali menatap hidangan yang tersaji. Salad buah, es buah, jus buah, dan juga rujak buah. Semua yang ada di meja, hanyalah olahan buah segar yang lebih nikmat disantap di kala siang .


"Mon cherie, ini buah segar yang mengandung banyak vitamin. Kita harus banyak mengonsumsi buah agar sehat dan bugar-agar kerjanya lebih semangat," kata Bylla dengan penuh semangat.


"Tapi, aku tidak kenyang kalau hanya makan ini, Ma cherie," ucap Ghani.


"Ini satu meja penuh, Mon cherie, masa iya kamu tidak kenyang!" teriak Bylla.


"Maksudku bukan begitu, aku ... aku butuh nasi, Ma cherie," sahut Ghani.


"Tapi aku ingin makan ini. Kenapa kamu tidak mau menuruti? Jika seperti ini saja kamu mengeluh, bagaimana nanti kalau aku sudah tua. Aku jelek, keriput, nggak bisa muasin kamu, nggak bisa melayani kamu. Apa kamu akan membuangku?" Bylla menatap Ghani dengan pandangan sendu. Seolah ia benar-benar tersakiti.


"Ma cherie, apa yang kamu katakan? Aku mencintai kamu, tidak mungkin aku melakukan itu," sahut Ghani dengan cepat.


"Kamu bohong! Kalau memang cinta, kamu tidak akan mengeluh dengan masakanku!" kata Bylla dengan intonasi yang lebih tinggi.


"Ma cherie, aku tidak mengeluh, aku hanya___"


"Kalau tidak mengeluh, cepat makan dan jangan protes lagi!" pungkas Bylla.


"Tapi Ma cherie___"


"Kalau masih bicara terus, berarti kamu memang tidak cinta!" Lagi-lagi Bylla memotong ucapan Ghani.


Ghani menghela napas panjang, sambil mengacak rambutnya dengan kasar.


"Baiklah, aku makan sekarang," ucap Ghani mengalah.


"Mau aku suapi?" tawar Bylla dengan senyum yang kembali mengembang.


Ghani mengernyit heran, belum lama dia bersedih, lantas emosi, dan sekarang kembali girang. Semudah itukah mood-nya berubah?

__ADS_1


"Mau nggak?" Bylla menyendok salad dan menyodorkannya ke mulut Ghani.


Tidak ada pilihan lain, lantas Ghani membuka mulutnya, dan menerima suapan dari wanita tercinta. Perpaduan rasa mayo, keju, dan manisnya buah mulai memenuhi rongga mulutnya. Ghani berusaha tersenyum, kendati rasa dingin cukup menyiksa tenggorokan.


"Enak, kan?" tanya Bylla, sepasang netranya memancarkan binar-binar kebahagiaan.


"Iya, sangat enak," jawab Ghani berbohong. Ia tidak ingin mengecewakan istrinya. Dilihat dari sikapnya yang aneh, Ghani menduga ada anugerah yang sudah hadir dalam cinta mereka.


"Kalau begitu aku suapi lagi, ya," ucap Bylla.


"Iya, dan aku yang menyuapimu." Ghani tersenyum sambil menyodorkan sendok ke mulut Bylla.


"Kamu selalu manis, aku jadi makin cinta." Bylla berujar sambil menerima suapan Ghani.


"Memang itu tujuan hidupku, membuatmu semakin cinta. Agar kamu tidak menyimpan niatan untuk meninggalkan aku. Walaupun hanya sedetik, aku nggak akan rela, Ma cherie," sahut Ghani. Senyum menawan terulas lebar di bibirnya.


"Aku tidak pernah ada niatan seperti itu. Tanpa kamu itu sakit, aku tidak mau mengulanginya lagi," kata Bylla.


"Syukurlah. Oh ya, nanti ke dokter yuk," ucap Ghani. Mereka saling menyuapi, sambil terus berbincang.


"Kamu sakit?" tanya Bylla dengan cepat.


"Lalu untuk apa ke sana?" Bylla kembali bertanya.


"Bulan ini tamunya belum datang, 'kan?" Ghani balik bertanya.


Bylla terkesiap, ucapan Ghani mengingatkannya pada tamu terakhir, yang datang sewaktu mereka masih ada di Paris. Itu artinya, bulan ini tidak ada tamu yang datang. Mungkinkah dirinya hamil? Apa itu alasannya, kenapa akhir-akhir ini sangat menyukai buah?


"Ma cherie!" panggil Ghani.


"Iya, bulan ini tamuku memang tidak datang. Mungkinkah aku___"


"Semoga saja. Makanya nanti ke dokter, ya, kita cari tahu jawabannya." Ghani menggenggam jemari Bylla dengan lembut. Ia tak tahu lagi bagaimana mengutarakan kebahagiaannya, jika Bylla benar-benar hamil.


"Kalau ternyata tidak?" gumam Bylla. Ia belum berani membayangkan hal yang lebih, karena usia pernikahannya masih terlalu dini.


"Ya tidak apa-apa, berati Allah belum menghendaki. Yang penting kita tahu bagaimana hasilnya. Iya atau tidak, semua wajib kita syukuri," kata Ghani dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


"Jangan kecewa ya, kalau seandainya nanti aku belum bisa memberikan keturunan untuk kamu," sahut Bylla.


"Ma cherie, apa yang kamu bicarakan. Aku tidak akan pernah kecewa, apapun yang terjadi. Aku mencintai setiap hal yang ada dalam dirimu, entah itu kekurangan, ataupun kelebihan. Cinta ini sangat tulus, Sayang." Ghani menangkup pipi Bylla, dan kemudian mencium keningnya.


_____


Alunan merdu musik Pop mengisi keheningan di salah satu rumah, di sudut Kota Kuala Lumpur.


Gadis kecil pemilik jemari lentik, mengembuskan napas kasar sembari menghentikan aktivitasnya. Kuas kecil ia letakkan, dan kini dia hanya diam mematung sembari memandangi hasil lukisannya yang belum rampung.


"Nak, kenapa?" tanya wanita paruh baya yang duduk di sebelahnya.


"Aku kangen mereka, Bi," jawab Alina tanpa mengalihkan pandangan. Ia terus menatap goresan cat air yang menyerupai dua lelaki dewasa dan tujuh anak-anak.


Bibi yang mengasuhnya sejak di Jakarta, merangkul Alina dengan erat. Wanita itu tahu bagaimana perasaan Alina saat ini. Kendati kebutuhan hidupnya terpenuhi dengan layak, namun ia terlihat kesepian. Ia kehilangan orang-orang yang selalu bersamanya.


"Nanti biar Bibi yang bicara sama Paman Sehan. Bulan depan 'kan sekolah Alina libur, siapa tahu beliau mau mengantarkan Alina ke Indonesia. Jangan sedih lagi, ya." Bibi mengusap-usap rambut Alina dengan lembut, sembari mendengarkan lagu milik Batas yang sedari tadi terus diulang.


"Bi!" panggil Alina.


"Hmmm."


"Aku ingin bicara dengan mereka, tapi tidak ada yang mengangkat telfonku. Bang Ghani, Bang Arron, semua mengabaikanku," ucap Alina dengan bibir yang mengerucut.


"Mereka tidak mengabaikan kamu, Sayang. Mungkin mereka sedang sibuk, sehingga tidak tahu kalau ada telfon masuk. Sekarang, rampungkan dulu lukisannya, setelah itu nanti coba dihubungi lagi, ya," kata Bibi membujuk Alina.


"Iya, Bi." Alina tersenyum lebar. Lantas ia mengambil kembali kuasnya, dan menyelesaikan lukisannya.


Setengah jam telah berlalu, dan kini Alina membereskan alat lukisnya. Kemudian ia meraih ponsel miliknya, dan kembali menghubungi Ghani-lelaki yang menjadi pahlawan dalam hidupnya.


Bibi pengasuh mengulum senyum, kala melihat binar kebahagiaan di mata Alina. Lantas beliau beranjak ke dapur, menyiapkan susu cokelat untuk nona kecilnya.


Alina masih terus menatap layar ponsel. Untuk kesekian kali, Ghani belum juga mengangkat teleponnya. Senyuman Alina mulai memudar. Rasa rindu yang tak jua berujung, menghadirkan rasa sesak di dada.


"Kamu ke mana sih, Bang," gumam Alina dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Namun, sebelum air mata itu melesak keluar, sambungan telepon terhubung. Alina melonjak girang, kala menatap Ghani yang berada di negeri seberang.

__ADS_1


Akan tetapi, rasa girang itu tak bertahan lama. Alina langsung menitikkan air mata, setelah menyadari apa yang terjadi dengan Ghani. Tubuhnya membeku, dan ia tak mampu mengucapkan sepatah kata. Inikah yang membuat Ghani tak kunjung menjawab teleponnya?


Bersambung...


__ADS_2