
Bylla masih bergeming di tempatnya, meskipun Reymond dan Sania sudah berlalu cukup jauh. Bahkan perutnya yang tadi sangat mendesak untuk ke kamar mandi, kini tak lagi berasa apa-apa.
Satu kalimat singkat yang Reymond bisikkan, berhasil membuat Bylla penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Reymond? Satu pertanyaan yang benar-benar mengusik benaknya.
"Kenapa Reymond mengatakan hal itu padaku, apa benar dia sedang tidak baik-baik saja?" gumam Bylla sambil menghela napas panjang.
Disaat Bylla masih merenungkan ucapan Reymond, tiba-tiba ada yang menyentuh bahunya dari belakang.
Bylla tersentak kaget, bahkan ia sampai berteriak.
"Bylla, ini Mama," ucap Ella. Ternyata seseorang yang menyentuh Bylla adalah ibunya sendiri.
"Aku kaget Ma, aku kira siapa," jawab Bylla sambil tertawa.
"Kamu kenapa melamun di sini, kamu baik-baik saja, kan? Mama khawatir lho, kamu lama sekali di kamar mandi," kata Ella seraya menatap Bylla lekat-lekat.
"Aku tidak apa-apa Ma, tadi hanya bertemu teman, makanya jadi lama." Jawab Bylla.
"Apakah teman yang kamu maksud itu Reymond dan Sania?" tanya Ella.
Bylla menelan salivanya, kenapa ibunya bisa tahu, jika itu mereka.
"Bylla!" panggil Ella.
"Iya Ma." Jawab Bylla dengan singkat.
"Apa yang mereka lakukan? Merendahkan kamu, mengejek, atau apa? Katakan Bylla!" kata Ella dengan cepat, sorot matanya menyiratkan amarah.
"Tidak Ma, Reymond tadi cuma diam, hanya Sania yang menyapaku. Dia cuma menanyakan kabarku Ma, tidak macam-macam kok," jawab Bylla sambil tersenyum. Ia mencoba meyakinkan ibunya, bahwa tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
"Kamu serius, kamu tidak membohongi Mama?" tanya Ella.
"Tidak Ma."
"Reymond tidak mengatakan sesuatu?" Ella kembali bertanya. Dia yakin, Reymond pasti kaget saat melihat Bylla mulai belajar berjalan. Jadi tidak mungkin dia hanya diam saja.
Bylla terdiam, lagi-lagi ia teringat dengan kalimat yang Reymond bisikkan padanya.
"Bylla!" panggil Ella.
"Dia sedikit kaget Ma, dia tidak menyangka kalau aku sudah bisa meninggalkan kursi roda." Jawab Bylla dengan pelan.
"Heh pasti dia menyesal sudah menyia-nyiakan kamu, dasar lelaki berengsek. Bylla, kalau suatu saat nanti dia kembali, jangan pernah membuka hati untuknya. Lelaki seperti Reymond sangat tidak pantas untuk dicintai," ucap Ella dengan panjang lebar.
"I...iya Ma. Ya sudah ayo ke sana Ma, kasihan Papa menunggu sendirian," ajak Bylla sambil melangkahkan kakinya. Ia sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Ella sambil mengikuti langkah Bylla. Ia tak lagi bertanya, meskipun dalam hati ia yakin ada hal yang disembunyikan oleh Bylla.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam, Bylla dan orang tuanya baru saja tiba di rumah. Bylla langsung masuk ke dalam kamarnya, dan berdiri di dekat jendela.
Bylla membuka jendela, dan menyibak tirainya lebar-lebar, membiarkan angin malam berhembus menerpa wajahnya. Bylla menatap bintang dan rembulan yang menampakkan keanggunannya.
Aku sudah mendapatkan karma
Satu kalimat yang masih terngiang dalam ingatan Bylla. Apa gerangan maksudnya? Kenapa Reymond berbicara seperti itu padanya.
"Ahh," desis Bylla dengan pelan. Ia menghela napas panjang sambil memejamkan matanya, berharap kalimat itu menghilang dari pikirannya. Lalu ia duduk di kursi yang tak jauh dari jendela itu.
"Aduh kenapa aku terus memikirkannya sih, dia sudah menyakitiku, harusnya bagus dong kalau dia kena karma, biar tahu rasa," gerutu Bylla sambil menopang dagunya.
"Tapi kenapa terus kepikiran ya. Aku pensaran dengan pernikahannya, apa yang terjadi antara dia dan Sania." Bylla kembali berbicara pada dirinya sendiri.
Disaat Bylla masih larut dalam pikirannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata Ghani yang meneleponnya. Bylla mengulas senyuman lebar, kemudaian ia mengusap tombol hijau yang tertera di sana.
"Hallo, Assalamu'alaikum Ghani." Sapa Bylla.
"Waalaikumsalam Bylla, lagi apa?" tanya Ghani dari seberang sana.
"Kamu serius?" tanya Ghani.
"Iya, kenapa?" Bylla balik bertanya.
"Aku juga lagi duduk di dekat jendela, tapi bintangnya hanya tampak samar-samar, di sini mendung." Jawab Ghani.
"Benarkah, kenapa bisa sama ya," ucap Bylla tertawa renyah.
"Tanda-tanda jodoh." Jawab Ghani tanpa ragu-ragu.
Bylla mendekap dadanya, jantungnya berdegup lebih kencang, kala mendengar ucapan Ghani. Ahh hanya kalimat sederhana, tapi berhasil membuat Bylla merona.
"Bylla!" panggil Ghani.
"Ehmm iya."
"Kenapa diam?" tanya Ghani.
"Memikirkan kamu," jawab Bylla lagi-lagi sambil tertawa. Meskipun yang ia katakan sebenarnya adalah fakta, namun ia mengirinya dengan tawa, agar kesannya seperti sebuah canda.
"Aku juga memikirkan kamu," sahut Ghani dengan serius.
__ADS_1
"Eh, ehmm iyakah?"
"Iya, mana pernah aku bercanda." Jawab Ghani.
Belum sempat Bylla menjawab ucapan Ghani, tiba-tiba ada suara wanita yang terdengar samar-samar di belakang Ghani.
Ghani, ternyata kamu di sini. Aku tertidur dan kamu meninggalkanku begitu saja.
Maaf Ev, aku tahu kamu lelah, makanya aku tidak membangunkanmu.
Jantung Bylla berdetak dengan cepat. Mendengar percakapan Ghani dan Evelyn, hatinya mulai memanas.
"Ini di balik layar, tapi mereka terdengar begitu akrab. Untuk apa Evelyn pergi ke kamarnya Ghani, dan tertidur, lelah, apa yang tadi mereka lakukan?" batin Bylla sambil menggigit bibirnya.
Tunggu sebentar ya, aku masih menelepon temanku
Sambung Ghani masih berbicara pada Evelyn.
"Bylla!" panggil Ghani.
"Hmmm." Gumam Bylla dengan malas.
"Maaf ya aku tutup dulu teleponnya, aku masih ada sedikit pekerjaan, nanti aku hubungi lagi," ucap Ghani seperti tanpa beban.
"Tidak usah, setelah ini aku langsung tidur kok." Jawab Bylla dengan nada datar.
"Oh begitu, baiklah. Jangan lupa berdoa, dan semoga bermimpi indah," kata Ghani.
"Iya." Ucap Bylla dengan singkat, dan tanpa basa-basi ia langsung menutup sambungan teleponnya.
Bylla melemparkan ponselnya begitu saja ke atas meja. Ia bicara dengan nada datar, dan tanpa senyuman, berharap Ghani peka dan menjelaskan apa maksud ucapannya.
Namun kenyataannya, Ghani sama sekali tidak mengerti. Ia bahkan hanya mengucapkan mimpi indah, tanpa menjelaskan hubungannya dengan Evelyn, dan apa yang sedang mereka lakukan.
"Semalam ini, apa kira-kira yang mereka lakukan. Meskipun aku tahu Ghani adalah lelaki bijak yang selalu mendekatkan diri pada Tuhan-nya, tapi mendengar kata tidur dan lelah, pikiranku sedikit goyah. Apalagi Evelyn datang ke kamarnya, apa maksudnya ini?" kata Bylla seorang diri.
Lalu Bylla beranjak dari duduknya, ia berdiri menghadap jendela kamar yang terbuka lebar.
Bylla mendongak, dan kembali menatap hamparan langit yang dihiasi mega-mega kelabu.
"Kita berada di bawah langit yang sama, namun tempat kita berpijak, terbentang jarak yang begitu jauh. Ghani, akankah kita tetap pada perasaan yang sama hingga akhir nanti. Aku berharap cintaku kali ini berujung indah, bukan berujung luka seperti dulu." Ucap Bylla pada dinginnya malam. Seolah ia menitipkan harapannya pada angin malam yang berhembus pelan.
Seperti inikah rasanya cemburu?
Bersambung...
__ADS_1