
"Ghani!" panggil Bylla, setelah lelaki itu menyelesaikan petikan terakhirnya.
Ghani mengangkat wajahnya, dan menatap Bylla. Meskipun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, namun ia mengulas senyuman lebar.
"Suaramu sangat merdu, kamu sangat meresapi setiap liriknya," puji Bylla sambil tersenyum.
"Kamu suka?" tanya Ghani.
"Iya," jawab Bylla seraya menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah jika kamu suka, karena lagu itu memang untukmu." Ucap Ghani dengan pelan.
Butuh usaha yang cukup keras untuk melontarkan kalimat itu, mati-matian ia melawan rasa gugup yang sedari tadi menyusup dalam dirinya. Usai mengatakan kalimat itu, jantungnya berdetak dengan lebih cepat, bahkan keringat pula mulai membasahi kening dan pelipisnya.
"Wah rasanya aku sangat senang," kata Bylla sambil tertawa renyah.
"Aku senang jika kamu senang." Jawab Ghani.
"Tapi kenapa kamu memilih lagu itu?" tanya Bylla dengan tiba-tiba.
"Lagu itu melukiskan perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta. Cinta dalam diam yang belum tersampaikan, mungkinkah Ghani juga dalam posisi yang demikian," batin Bylla sambil menilik wajah Ghani. Mencoba mengartikan setiap mimiknya.
"Karena aku, aku___" Ghani menggantungkan kalimatnya, lidahnya terasa kelu dan tak mampu mengucapkan kata 'karena aku mencintaimu'
"Lihat, ada pedagang ice cream! Kau mau?" tanya Ghani dengan cepat, sambil menunjuk ke tepi jalan, di mana pedagang ice cream sedang menghentikan motornya.
"Boleh." Jawab Bylla.
"Kamu mau rasa apa?" tanya Ghani seraya beranjak dari duduknya.
"Coklat saja."
"Oke, tunggu sebentar, ya!" ucap Ghani sambil melangkah pergi meninggalkan Bylla.
Ghani bernapas lega, jantungnya sedikit rileks saat jaraknya dengan Bylla semakin jauh.
Namun Ghani kembali gelisah, kala tiba di dekat pedagang ice cream. Ia merogoh beberapa recehan yang ia dapat hari ini, tidak terlalu banyak.
"Satu berapa, Bang?" tanya Ghani.
"Sepuluh ribu saja," jawab pedagang itu sambil tersenyum.
Ghani menimang-nimang recehan yang ada dalam genggamannya. Untuk makan nanti malam, untuk besok, tidak akan cukup jika ia membeli dua. Hari ini, Arron sedang tidak enak badan, ia tidak bisa membantunya mencari recehan.
"Satu saja Bang, rasa coklat ya," kata Ghani sambil tersenyum.
"Baik, Mas."
Tak lama kemudian, Ghani sudah kembali ke tempat Bylla. Ia menyodorkan ice cream yang baru saja dibelinya.
"Punyamu mana?" tanya Bylla sambil meraih ice cream yang diberikan oleh Ghani.
"Gigiku sensitif, aku tidak bisa makan yang dingin-dingin," jawab Ghani sembari duduk di bangku.
"Oh begitu, mmm makasih ya," ucap Bylla seraya mengulas senyuman manis di bibir ranumnya.
__ADS_1
"Hanya ice cream, tidak perlu berterima kasih. Oh ya, kamu mau cerita apa?" tanya Ghani.
"Ini tentang kakiku, Papa sudah menemukan dokter ahli untuk menyembuhkan aku. Beberapa hari kedepan orangnya akan datang ke sini," ucap Bylla dengan riang.
"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya." Jawab Ghani.
"Iya. Tapi, ada sedikit hal yang membuatku kurang nyaman." Ucap Bylla dengan pelan.
"Apa itu?" tanya Ghani.
"Menurut rencana, dokter itu akan tinggal di sini. Tapi, jika kakiku membutuhkan perawatan yang lebih, aku yang harus datang ke Paris, karena di sana alatnya lebih lengkap. Sebenarnya aku tidak ingin meninggalkan negara ini," jawab Bylla sambil menghela napas panjang.
Ghani menatap Bylla lekat-lekat, "serahkan semuanya kepada Allah, kamu masih percaya kan, kalau takdir itu selalu indah."
"Iya, aku percaya." Jawab Bylla dengan senyuman lebar.
***
Kerlip bintang berpendar indah di langit tinggi. Mega kelabu berarak pelan mengikuti kemana angin membawanya. Ghani duduk di atas tikar, di sebelah Arron yang sedang berbaring. Ghani menatap suasana malam, lewat jendela kamar yang dibuka lebar. Ia memetik senar gitar yang setia menemani setiap harinya.
Setitik asa bersemi
Menjadi melodi dalam sanubari
Bayang dirimu yang menjelma dalam rindu
Laksana harmoni dalam alunan laguku
"Trenyuh banget Bang liriknya, lagunya siapa?" tanya Arron sambil melirik Ghani sekilas. Wajahnya hanya tampak samar-samar di tengah keremangan malam.
"Laguku dong," jawab Ghani sambil tertawa renyah.
"Belum juga," sahut Ghani.
"Pepet terus Bang, cepat dihalalin. Biar nanti aku punya keponakan yang matanya biru," ucap Arron.
"Apa bedanya biru dan hitam?"
"Biar kelihatan impor Bang," jawab Arron dengan asal.
"Ada-ada saja kau ini. Bagaimana keadaanmu, masih pusing?" tanya Ghani.
"Sudah mendingan Bang, hanya saja masih sedikit lemas." Jawab Arron.
"Ya sudah istirahat saja, biar besok cepat membaik," kata Ghani sambil beranjak dari duduknya. Ia melangkahkan kakinya, hendak keluar dari kamar.
"Ke mana Bang?" teriak Arron.
"Kamar mandi," jawab Ghani sambil meneruskan langkahnya.
Malam semakin larut, dan terus beranjak hingga dini hari. Jarum jam menunjukkan tepat pukul 01.00 pagi, Ghani baru saja terjaga dari tidurnya.
Ghani menggeliat pelan, lalu bangun, dan bergegas menuju ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, Ghani kembali ke kamar. Ia mengganti bajunya, dan menggelar sajadah kusam miliknya. Ghani bersiap untuk menghadap Sang Pencipta, memohon petunjuk atas jalan hidupnya.
__ADS_1
Di tengah sepinya malam, hanya deru nafas Arron yang terdengar samar-samar. Ghani melaksanakan shalat tahajjud dengan begitu khidmat. Kendati dalam kesederhanaan, Ghani selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Seusai shalat, Ghani duduk bersimpuh sambil mengucapkan dzikir. Setelah itu, ia menengadahkan tangan, bibirnya bergerak pelan melantunkan doa-doa.
"Ya Allah ampunilah semua dosa orang tua hamba, berikanlah tempat yang indah untuk mereka. Juga ampuni dosa-dosa hamba, tuntun hamba dalam menempuh jalan hidup yang telah Engkau gariskan." Ucap Ghani.
"Ya Allah, berikanlah petunjuk atas hubungan hamba dengan Bylla. Engkau yang maha tahu bagaimana perasaan hamba padanya, berikan jalan agar semua ini tidak menjadi dosa, Ya Allah." Sambung Ghani dengan suara yang pelan.
Ia sadar, hubungannya dengan Bylla kini semakin dekat, namun ia masih ragu untuk mengutarakan perasaannya. Terlepas dari Bylla akan menerimanya atau tidak, Ghani merasa dirinya masih belum pantas untuk mengatakan kalimat itu.
Walaupun Bylla adalah orang kaya, yang segala sesuatunya pasti sudah tercukupi. Namun sebagai lelaki, Ghani juga ingin bertanggungjawab, terlebih lagi jika ia sudah menyandang status suami.
Hal inilah yang membuat Ghani berada dalam dilema, terlalu dekat tanpa hubungan yang jelas, itu akan menjadi dosa. Namun mengajaknya menjalin hubungan yang jelas, ia juga merasa belum pantas.
Ghani menghela napas panjang, berharap semoga Tuhan segera menjawab keraguannya.
***
Sang surya semakin condong ke arah barat, sinarnya yang hangat berpadu dengan semilir angin yang berhembus perlahan. Ghani berjalan di antara debu-debu yang beterbangan, menyusuri jalanan beraspal tanpa mengenal lelah.
Dalam saku celananya, sudah terkumpul beberapa recehan, yang belum ia ketahui berapa jumlahnya. Ghani mengusap wajahnya yang berkeringat, demi anak-anak, itulah satu kalimat yang membuat semangatnya tetap membara. Meskipun lelah, letih, ia terus berusaha, demi mencukupi kebutuhan mereka.
Keadaan Arron sudah lebih baik, namun Ghani masih menyuruhnya beristirahat, tunggu benar-benar sehat baru ikut mencari recehan.
Ghani menghentikan langkahnya di depan pedagang kaki lima. Kebetulan kala itu, banyak orang yang berkerumun di sana. Ghani mulai memetik senar gitarnya, dan melantunkan lirik lagu, seirama dengan melodi yang dialunkan. Kali ini, ia menyanyikan lagu milik Astrid yang berjudul Tentang Rasa.
Tentang cinta yang datang perlahan
Membuatku takut kehilangan
Kutitipkan cahaya terang
Tak padam didera goda dan masa
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti
Tuk selamanya
Seusai Ghani menyelesaikan petikan terakhirnya, satu persatu dari mereka mulai memasukkan uang ke dalam plastik yang Ghani genggam. Ghani tersenyum sambil mengucapkan banyak terima kasih, meskipun hanya recehan, namun itu sangat berarti baginya.
Disaat Ghani hendak beranjak dari tempatnya, tiba-tiba seorang pria dewasa datang menghampirinya. Tubuhnya tegap dan kekar, wajahnya sedikit berewokan, namun kulitnya putih dan bersih.
"Tunggu!" teriak pria itu sambil melangkah lebih mendekati Ghani.
Ghani menghentikan langkahnya, dan menilik wajah pria itu. Siapa gerangan, dan ada perlu apa kiranya?
"Siapa namamu?" tanya pria itu saat sudah tiba di hadapannya.
"Ghani." Jawab Ghani.
__ADS_1
"Aku ingin berbicara denganmu, apakah kau punya waktu?" tanya pria itu dengan serius.
Bersambung....