Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Alina Kembali


__ADS_3

Ghani menghalangi cahaya itu dengan telapak tangannya. Sinarnya yang begitu terang, amat sangat menyilaukan, sampai Ghani harus memicingkan matanya.


Ghani mengernyit heran, kala menatap mobil merah yang perlahan berhenti, tepat di depan rumahnya. Siapakah dia?


Ghani terpaku, menatap cahaya mobil yang semakin meredup. Buliran air terus berjatuhan dari ujung rambutnya.


Tak lama kemudian, sang pengemudi membuka pintu mobilnya. Hal pertama yang Ghani lihat adalah kaki jenjang yang dibalut high hells warna coklat.


Ghani tak mengalihkan pandangannya, ia tetap menatap sosok wanita yang datang ke tempatnya. Siapa, dan untuk apa?


Ghani membelalakkan matanya lebar-lebar, kala tahu siapa sosok wanita yang sekarang berdiri tepat di depan rumahnya. Bylla, dia terlihat begitu anggun, berdiri di tengah keremangan, di bawah payung biru.


Pandangan mata Ghani beralih pada sosok kecil yang ada dalam gendongan Bylla, sosok yang rasanya sangat familiar.


"Permisi!" ucap Bylla sambil menatap Ghani.


Ghani yang masih larut dalam pikirannya, sedikit tersentak saat melihat Bylla yang sudah berdiri tepat di hadapannya. Dan satu hal lagi yang membuat Ghani kaget, sosok yang ada dalam gendongan Bylla adalah Alina. Rambut panjangnya terurai, sedikit berantakan, dan ada perban yang membalut keningnya.


"Alina! Apa yang terjadi pada Alina?" tanya Ghani dengan cepat.


"Aku tidak apa-apa Bang." Jawab Alina.


"Kau, bukankah kau Ghani?" tanya Bylla sambil menunjuk ke arah Ghani.


"Iya, aku Ghani. Kau, kau masih mengingatku?"


"Tentu saja." Jawab Bylla sambil tersenyum lebar.


"Mmm, apa yang terjadi pada Alina? Terima kasih sudah menolongnya, aku tadi mencarinya kemana-mana."


"Aku bisa menjelaskan semuanya, tapi maaf, bolehkah aku masuk?" tanya Bylla.


"Oh tentu saja, silakan! Mari silakan masuk!" kata Ghani sedikit gugup.


Lalu ia membukakan pintu rumahnya.


"Maaf, hanya ada tikar. Aku, aku tidak punya kursi." Kata Ghani sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tidak apa-apa," jawab Bylla sambil melangkah masuk, dan duduk di atas tikar. Ia menurunkan Alina di sana.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ghani.


"Maaf, aku tidak sengaja menabraknya. Sebenarnya dia masih harus dirawat di rumah sakit, tapi dia bersikeras ingin pulang. Katanya dia tidak ingin membuat abangnya khawatir, aku tidak menyangka, jika abang yang dia maksud adalah kau." Bylla menjelaskan dengan panjang lebar.


"Aku tadi makan banyak camilan Bang, Tante putri sangat baik padaku." Ucap Alina dengan senyuman lucunya.


"Tante putri?" tanya Ghani sambil mengernyit heran.


"Iya, dia cantik, dan bermata biru, sama seperti putri yang ada dalam dongengnya Bang Ghani." Jawab Alina.


Ghani menunduk malu, tentu saja sama, karena waktu itu yang ada dalam bayangannya memanglah Bylla.


"Ghani, apa kau marah? Aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Aku berjanji akan mengobatkannya sampai sembuh, aku pasti akan bertanggungjawab." Kata Bylla dengan cepat. Melihat Ghani yang diam sambil menunduk, Bylla merasa tidak enak.


Mungkin lelaki di hadapannya ini sedang marah padanya, pikir Bylla kala itu.


"Oh, aku, aku tidak marah. Aku hanya sedikit kaget, dan terima kasih sudah membawanya ke rumah sakit." Ucap Ghani sambil merapikan rambut Alina.


"Tidak perlu berterima kasih, sudah seharusnya aku melakukan itu." Jawab Bylla.


"Kenapa Bang Ghani basah?" tanya Alina.


"Tangan Bang Ghani sangat dingin," sambung Alina sambil menggenggam jemari Ghani.


Lagi-lagi Ghani menggaruk kepalanya, ia merasa sangat gugup, dan tidak tahu harus bersikap seperti apa.

__ADS_1


"Ghani!" panggil Bylla.


"Mmm iya," jawab Ghani sambil menoleh.


"Sudah malam, aku akan pulang. Sekali lagi aku minta maaf, sudah membuat adikmu terluka. Ini ada sedikit makanan yang tadi sempat aku beli, dan ini nomor telfonku, jika ada apa-apa dengan Alina, hubungi saja aku. Jika tidak ada halangan, besok aku akan menjenguknya," kata Bylla sambil meletakkan paper bag, dan kartu nama di atas tikar.


"Terima kasih, tapi seharusnya kamu tidak perlu repot-repot," ucap Ghani.


"Tidak apa-apa, ya sudah aku pergi dulu ya," kata Bylla.


"Iya, sekali lagi terima kasih ya."


"Iya."


"Hati-hati di jalan, Bylla."


"Iya," jawab Bylla sambil tersenyum manis.


Lalu ia beranjak dari duduknya, dan melangkah keluar rumah.


Ghani terus menatapnya, sampai Bylla melajukan mobilnya.


Setelah itu Ghani beralih menatap Alina, ia mendekap kedua pipinya, dan menilik perban yang membalut luka di keningnya.


"Kenapa bisa sampai seperti ini Alina? Ini rasanya pasti sangat sakit."


"Tidak Bang, tadi sudah diobati sama dokter." Jawab Alina.


"Kenapa kamu bisa tertabrak mobil, apa yang kamu lakukan?" tanya Ghani.


"Maaf Bang, tadi aku ikut Kak Bayu. Aku ingin membantu Bang Ghani, aku kasihan melihat Bang Ghani dan Bang Arron mencari uang setiap hari, hanya untuk kami.


Aku kehilangan jejak Kak Bayu, aku panik, aku berlari mencarinya, aku sampai tidak tahu jika ada mobil yang melaju di jalan itu." Ucap Alina menjelaskan dengan panjang lebar.


"Iya Bang, maaf," jawab Alina sambil menunduk.


"Abang sangat menyayangimu Alina, Abang tidak ingin kamu kenapa-napa," ucap Ghani sambil memeluk Alina dengan erat.


"Basah Bang!" teriak Alina sambil melepaskan pelukannya.


"Oh maaf," kata Ghani seraya mengusap baju Alina yang mulai basah. Alina menatapnya sambil tertawa.


"Oh ya, ini roti Bang, rasanya sangat enak." Kata Alina sambil menyentuh paper bag yang ada di hadapannya.


"Masa sih?"


"Iya Bang, aku tadi sudah memakannya di sana. Hmmm sangat lezat," jawab Alina.


"Kau mau lagi?"


"Sekarang aku masih kenyang Bang." Jawab Alina.


"Kalau begitu disimpan dulu ya, kita makan besok bersama teman-teman, bagaimana?"


"Setuju!" teriak Alina sambil mengacungkan jempolnya.


"Kalau begitu sekarang Alina ke kamar ya, cepat tidur. Abang mau mandi dulu," kata Ghani.


"Okey Bang," jawab Alina sambil melangkah pergi meninggalkan Ghani.


Kini tinggal Ghani sendiri yang berada di ruang tamu. Perlahan ia mengambil kartu nama yang tergeletak di atas tikar.


"Salsabylla Dela Vinci." Gumam Ghani, membaca selarik nama yang tertera di sana.


"Nama yang sangat cantik, secantik wajah dan perilakunya." Ucap Ghani.

__ADS_1


"Takdir memang tak pernah salah, karena takdir adalah sesuatu yang sangat indah. Aku merasa malu, karena sempat meragukan takdir yang terjadi dalam hidupku. Bylla, maafkan aku, aku sudah lancang menyimpan rindu untukmu," ucap Ghani sambil tersenyum.


***


Di dalam sebuah ruangan yang cukup luas. Dua insan sedang duduk berhadapan, sesekali mereka tertawa, menyelingi perbincangan yang tampaknya sangat mengasyikkan. Dia adalah Bylla, wanita dengan mata yang menyimpan manik biru. Di hadapannya adalah Reymond, lelaki paling beruntung yang berhasil memenangkan hati Bylla.


Reymond baru saja datang ke tempat kerjanya, kebetulan dia baru saja meninjau lokasi pembangunan yang tempatnya tidak jauh dari kantor Bylla.


Reymond datang sambil membawa sekotak makan siang untuk kekasihnya.


"Akhirnya Rey selesai juga, lega rasanya," ucap Bylla sambil merenggangkan otot-otot tangannya.


"Lain kali kalau kerja jangan diporsi, masih ada hari esok sayang. Pikirkan kesehatan kamu, jangan sampai telat makan, dan jangan terlalu lelah!" kata Reymond sambil menatap kekasihnya.


"Aku hanya ingin mengurus perusahaan ini dengan baik Rey. Dengan susah payah Oma merintis bisnis ini, aku tidak ingin mengecewakannya. Kau tahu kan, Opa dan Oma sudah lanjut usia, sedangkan Papa dan Om Andra, mereka ada di luar negeri. Kalau bukan aku, siapa lagi yang akan mengurua bisnis ini." Ucap Bylla dengan panjang lebar.


"Aku mengerti, tapi aku juga mengkhawatirkan kamu. Aku tidak mau kau sakit, gara-gara telat makan, atau terlalu lelah. Berjanjilah untuk selalu menjaga kesehatan kamu, sayang!" kata Reymond.


"Iya, aku janji. Aku tidak akan memaksakan diri," jawab Bylla sambil tersenyum.


"Ya sudah cepat makan gih, keburu dingin, nanti tidak enak!" kata Reymond.


"Terima kasih ya Rey, tidak ada bosan-bosannya kamu perhatian sama aku," ucap Bylla sambil membuka kotak makan yang Reymond bawakan untuknya.


"Bersamamu aku tidak pernah bosan, Bylla." Kata Reymond.


"Kau sangat pandai merayu." Cibir Bylla.


"Tapi kau menyukainya, kan?"


"Yah kau benar, aku memang selalu menyukai apapun yang ada dalam diri kamu," ucap Bylla sambil tersenyum lebar, memamerkan barisan giginya yang putih dan rapi.


"Mulai pintar ya," kata Reymond sambil mencubit pipi Bylla.


"Belajar dari kamu." Jawab Bylla dengan tawa riangnya.


"Cepat makan, jangan ketawa terus!"


"Ada kamu, mana bisa aku menahan tawaku."


"Oh, jadi aku mirip badut?"


"Bukan begitu Rey."


"Lalu?"


"Maksudnya aku selalu senang kalau bersama kamu," jawab Bylla sambil menatap Reymond.


"Kurang puitis sayang." Kata Reymond sambil mengedipkan matanya.


"Aku bukan kamu!" Gerutu Bylla.


"Jadi sekarang kamu mengakui, kalau aku itu memang romantis?" goda Reymond.


"Ah diamlah! Aku mau makan," kata Bylla.


Dan Reymond menanggapinya dengan tertawa keras. Menggoda Bylla adalah salah satu hal yang sangat disukainya. Menatap pipi keksihnya yang merona, ah itu adalah pemandangan yang sangat indah.


"Rey!" panggil Bylla setelah ia terdiam cukup lama.


"Hmmm, kenapa?" tanya Reymond.


"Habis ini kau ke mana, apakah balik ke kantor? Bisa tidak mengantarkan aku, mengunjungi gadis yang kutabrak kemarin?" jawab Bylla balik bertanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2