
Sang senja hampir menyapa. Di tengah rona jingga, mobil polisi yang membawa Ghani dan Evelyn berhenti di halaman kantor. Dengan tangan yang dilingkari borgol, Evelyn melangkah sambil menangis. Ia merasa dunianya berhenti detik itu juga.
Di belakangnya, Ghani berjalan dengan langkah tegap. Satu hal yang akan ia lakukan setelah ini adalah membuat video klarifikasi. Ia akan meluruskan kesalah pahamannya dengan Bylla. Ia berharap, ini menjadi awal kembalinya hubungan mereka.
Evelyn langsung di bawa ke ruangan tertutup untuk menjalani pemeriksaan. Sedangkan Ghani, dia diarahkan ke ruang tahanan, karena Tommy sudah berada di sana.
"Untuk apa kau datang ke mari, hah!" hardik Tommy dengan tatapan penuh kebencian.
"Untuk melihatmu, Om," jawab Ghani dengan santainya.
"Silakan saja kau merasa menang, tapi ingat Ghani, suatu saat nanti aku pasti menuntut balas. Setelah aku bebas, aku akan membuatmu hidup segan mati tak mau," ancam Tommy.
"Jika niatmu masih buruk, polisi tidak akan melepaskanmu, Om!" sahut Ghani. Suaranya pelan, namun sangat tegas.
"Jangan terlalu percaya diri! Dibandingkan denganku, kau sangat lemah, kau tidak akan bisa menang! Kau hanya lelaki bodoh yang merasa paling pintar!" maki Tommy dengan penuh emosi.
"Aku memang lemah, tapi aku tidak bodoh, Om! Aku cukup pintar mengecohmu. Kau berusaha keras memisahkan aku dan Bylla, padahal bukan keluarga Da Vinci yang membantuku," jawab Ghani.
"Apa maksudmu?"
"Seseorang yang berdiri di belakangku, bukan anggota keluarga Da Vinci. Tapi dia adalah seseorang yang pernah kau kecewakan." Ghani berkata sambil memicingkan mata.
Lantas ia melangkah pergi, meninggalkan Tommy yang mematung di balik jeruji. Ia semakin melebarkan senyuman, satu lagi rekaman berhasil ia dapatkan.
Sebelum kembali ke hotel, Ghani berbincang sebentar dengan polisi. Menurut keterangan mereka, Tommy dan Evelyn akan diterbangkan ke Indonesia besok pagi. Ghani bernapas lega, setelah ini dia akan meninggalkan dunia hiburan tanpa kendala.
***
Jarum jam menunjukkan tepat pukul 07.00 malam. Ghani baru saja menginjakkan kakinya di depan pintu kamar hotel. Ghani mengetuk perlahan, hatinya sedikit bimbang hendak bertemu teman-temannya. Bagaimana kalau mereka marah? Bagaimana kalau mereka kecewa? Dua pertanyaan yang sedari tadi menghantui pikiran.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka. Tampak di sana Satya berdiri sambil mengusap wajahnya.
"Ghani, akhirnya kau datang juga! Ayo cepat masuk!" Satya menarik tangan Ghani dan mengajaknya duduk di sofa.
"Jelaskan sama kita apa yang sebenarnya terjadi!" kata Satya dengan tegas.
"Benar, ayo jelaskan! Cukup sudah kamu menyiksa kami dalam rasa penasaran!" timpal Bryan.
Ghani menatap teman-teman yang duduk di depannya. Menilik wajah mereka, dan mencoba memahami apa yang mereka rasa.
__ADS_1
"Kalian tidak marah?" tanya Ghani.
"Tentu saja tidak. Berani berbuat harus berani bertanggungjawab. Tidak peduli apa profesinya, hukum harus tetap berlaku!" jawab Satya. Arsen, Rizki, dan Bryan ikut mengangguk, mereka membenarkan ucapan Satya.
"Terima kasih banyak. Kalian tahu, aku tadi sangat ragu. Aku takut kalian marah dan kecewa. Maafkan aku, mungkin kejadian ini tidak mengenakkan kalian," ujar Ghani.
"Kami memang kecewa, tapi bukan sama kamu, melainkan sama Om Tom. Bertahun-tahun kami mengikutinya, dan ternyata dia orang yang seperti itu," jawab Bryan.
"Apa kalian tidak takut, jika nanti Batas akan bubar?" tanya Ghani dengan hati-hati.
"Kita memang belum cukup kuat untuk berdiri sendiri, tapi produser bukan hanya Om Tom, kita bisa ikut produser lain. Dan jika kita tidak menemukan produser, kita pasti bisa menemukan pekerjaan lain," sahut Satya.
"Betul, mencari uang bukan hanya lewat band. Masih ada banyak cara untuk mengais rezeki," timpal Arsen.
"Sebenarnya Batas tidak akan bubar." Ghani tersenyum sambil menatap teman-temannya.
"Apa maksudmu?" tanya Satya.
"Ada seseorang yang akan menyelamatkan Batas. Dia yang akan menjadi manager dan bertanggungjawab penuh atas band ini. Tapi, aku yang akan pergi. Mulai sekarang, aku bukan lagi personel Batas," ungkap Ghani. Dia menghela napas lega, seolah beban berat di pundaknya sirna seketika.
"Ghani, apa maksudmu? Kita ini teman, keluarga. Jika memang bubar, kita semua pergi. Jika bertahan, kita sama-sama berjuang. Kau tidak boleh pergi sendiri!" sahut Rizki dengan cepat.
"Livay!" teriak mereka dengan serempak.
"Iya, dia dalah orang yang membantuku selama ini. Bukan hanya keinginannya, tapi keinginanku juga. Aku merasa tidak sanggup menjadi artis, aku lebih nyaman menjadi orang biasa yang tidak disorot publik. Itu sebabnya aku tidak keberatan dengan imbalan yang Livay minta. Kalian senang 'kan, kembali dengan Livay? Dia akan menjadi vocalis, sekaligus manager yang membawa nama Batas. Kalian bersedia 'kan, kembali bekerjasama dengan dia?" ucap Ghani dengan panjang lebar.
"Kami memang senang kembali bersama Livay, tapi kami juga keberatan kalau harus kehilangan kamu. Ghan, tidak bisakah kamu tetap dengan Batas? Jadi backing vocal, atau bass, atau melodi, atau apalah, yang penting kamu masih di sini." Bryan menatap Ghani dengan intens, berharap lelaki itu tidak pergi meninggalkan Batas.
"Maaf, aku tidak bisa. Aku tidak sanggup menjadi artis, semua itu bertolak belakang dengan prinsipku sendiri." Ghani menunduk, membayangkan bagaimana kehidupannya saat menjadi vocalis.
"Itu 'kan saat Om Tom yang jadi pembimbing kita. Kalau sekarang ganti Livay, kurasa semua itu tidak akan terjadi lagi, Ghani!" sahut Arsen.
"Benar, Livay pasti bisa mengerti. Ayolah Ghan, mari berjuang bersama-sama lagi," timpal Rizki.
"Maaf teman-teman, keputusanku sudah bulat. Aku hanya pergi dari Batas, aku tetap menjadi teman kalian. Jika waktu mengijinkan, aku akan sering mengunjungi kalian." Ghani mengulas senyuman lebar.
Keempat temannya tidak ada yang menjawab, namun mereka langsung menghampiri Ghani dan saling berpelukan erat.
"Meskipun ini berat, tapi aku menghargai keputusanmu. Berjanjilah untuk tetap menjadi teman." Satya menepuk punggung Ghani dengan pelan.
__ADS_1
"Aku berjanji," sahut Ghani.
"Lantas kapan kita pulang?" tanya Bryan seusai berpelukan.
"Om Tom dan Evelyn akan terbang besok pagi. Tapi aku, aku masih ingin menyelesaikan sedikit urusan," jawab Ghani.
"Aku mengerti, bagaimana kalau lusa?" Satya memandang keempat temannya.
"Aku setuju. Karena jika kita ikut terbang besok, tiketnya lebih mahal. Dan kita juga tidak mungkin 'kan, meninggalkan Ghani sendiri," sahut Bryan.
Arsen, Rizki, dan Ghani, mereka mengangguk menyetujui usul Satya.
"Sekarang bantu aku membuat video klarifikasi!" ucap Ghani dengan penuh semangat.
***
Kerlip bintang hanya tampak remang-remang. Rembulan yang mengggantung, menyembul malu-malu di balik awan kelabu. Di atas kursi, di balkon kamar, Bylla duduk menikmati dinginnya angin malam. Kedua jemari memainkan pena di atas kertas, sebuah buku tebal yang nyaris penuh dengan goresan aksara.
Usai menulis dengan pena, Bylla mengambil pensil. Kali ini, dia melukis sketsa wajah pada lembaran yang masih kosong. Seorang lelaki dan seorang wanita yang sedang tertawa bahagia. Sedangkan di belakangnya, seorang wanita menatap sambil menangis.
"Tak kusangka akhir kita seperti ini, Ghani," gumam Bylla.
Selesai melukis, Bylla membuka pada lembaran pertama. Di sana ada tulisan 'Tentang Rasa' dua kata yang menjadi judul dari buku yang ia pangku. Bylla mencoretnya, ia merasa judul itu kurang tepat. Lantas ia menulis judul baru, Sekeping Asa Yang Terserak.
"Judul yang tepat untuk menggambarkan kisah kita, Ghani. Tapi, kau tidak akan pernah membacanya. Tulisan ini, hanya bisa kusimpan untuk diriku sendiri." Bylla menghela napas panjang sembari menutup buku.
Belum sempat Bylla beranjak, dia dikejutkan oleh getar ponsel yang ada di sebelahnya. Bylla melirik dan mengernyit heran, Keyvand, pesan apa yang dia kirimkan?
Lantas Bylla membukanya, ternyata dia mengirimkan tautan video yang entah apa isinya. Tanpa ragu, Bylla langsung melihat.
Mata Bylla membelalak lebar, jantungnya berdetak cepat, keringat dingin mulai bercucuran hingga membuat tubuhnya gemetaran.
Dalam video itu, Ghani menglarifikasi tentang pernikahannya dengan Evelyn. Semua hanya settingan yang dibuat oleh Tommy, Ghani meminta maaf karena waktu itu tidak diberi sempat untuk menjelaskan. Ghani juga mengatakan, jika dirinya sudah punya kekasih. Lantas di akhir video, dia mencantumkan nomor telepon yang dikhususkan untuk gadis dalam rindu.
Bylla menutup mulutnya, dia tahu siapa yang Ghani maksud. Gadis dalam rindu adalah dirinya sendiri.
"Aku telah salah mengambil keputusan, sekarang apa yang harus aku lakukan," gumam Bylla. Ia menatap nanar pada deretan angka yang tertera di layar.
Bersambung...
__ADS_1