
Ketika jarak mereka semakin dekat, Ghani mengulas senyuman. Mengucapkan syukur dalam hati, atas kemudahan yang Tuhan berikan. Takdir memang indah, mereka dipertemukan tanpa ada kesukaran.
Samar-samar Bylla melihat senyuman di bibir Ghani. Sebuah senyum yang selama ini selalu ia rindu. Bylla seakan tak percaya, bersua dengan Ghani di bawah menara, benar-benar hal yang tak terduga.
"Ghani datang ke negara ini sendirian, mungkinkah aku telah salah dalam mengambil keputusan," batin Bylla dengan perasaan getir.
Demi cinta yang masih bertahta, Bylla menepis sedikit harga diri serta egonya. Dia ingin mendengar penjelasan dari Ghani, meskipun sebenarnya sudah sangat terlambat. Mengingat statusnya saat ini.
Namun ketika Bylla membuka mulutnya dan hendak berbicara, seorang wanita cantik tiba-tiba datang dan menggandeng tangan Ghani.
"Ayo Ghani!" ucap wanita itu dengan nada yang manja, sebaris kalimat yang cukup menyesakkan dada Bylla.
"Ternyata tidak ada yang perlu dijelaskan. Keputusan yang kuambil adalah benar," batin Bylla. Ia paham benar siapa wanita itu, dia adalah Evelyn, istri Ghani.
Ghani hendak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun belum sempat ia membuka suara, tiba-tiba seorang lelaki datang menghampiri Bylla.
"Maaf sayang aku sedikit lama," ucap lelaki itu sambil tersenyum ke arah Bylla.
Ghani menghela napas panjang, berusaha meredam api cemburu yang membara dalam hati. Sayang, satu kata yang cukup menjelaskan seperti apa hubungan mereka.
"Kenapa Bylla, kenapa takdir kita harus seperti ini? Karena kesalah pahaman, sekarang aku kehilangan kamu. Andai saja aku tahu akan ada hari ini, aku tak akan pernah menerima tawaran itu, aku tidak akan pernah mau menjadi penyanyi. Bylla, tak adakah kesempatan untukku?" batin Ghani sambil menatap punggung Bylla yang berjalan semakin menjauh.
Seakan tersadar dari lamunan, Ghani langsung mengayunkan kakinya, hendak mengejar Bylla. Namun belum jauh ia berjalan, Evelyn menarik tangannya, dan memaksa berhenti.
"Ghani, kita masih syuting!" teriak Evelyn karena Ghani menepiskan tangannya.
"Aku hanya sebentar." Ghani kembali melanjutkan langkahnya.
"Om Tommy akan marah Ghani, kau tidak mau 'kan itu terjadi?" teriak Evelyn.
Ghani menggeram kesal, ia tahu kemana arah pembicaraan Evelyn. Kata marah yang ia ucapkan adalah istilah halus dari 'dikeluarkan dan membayar denda' Ghani tidak punya pilihan lain, dengan terpaksa ia kembali menuju tempat syuting.
"Sudahlah Ghan, mungkin dia bukan jodohmu. Kulihat ... dia cukup serasi dengan lelaki yang tadi," ucap Evelyn tanpa rasa bersalah.
Ghani tak menjawab, ia hanya menatapnya dengan sinis. Kendati raganya berjalan menuju tempat syuting, namun pikirannya menerawang ke segala arah.
"Tadi kenapa tiba-tiba Evelyn menggandeng tanganku, apa memang sengaja, atau hanya kebetulan? Ahh semakin kesini, aku merasa sikapnya semakin janggal," batin Ghani.
***
Di dalam perjalanan menuju apartemen, Bylla tak banyak bicara. Hanya sesekali menyahut, setiap kali Rubben melontarkan kalimat panjang.
__ADS_1
Sekuat apapun Bylla mencoba melupakan, namun bayangan tangan Evelyn yang menggandeng Ghani dengan mesra, selalu saja melintas dalam ingatan.
"Ahh menyebalkan!" gerutu Bylla dengan kesal. Ia menggelengkan kepala sembari menghentakkan kakinya. Kebetulan saat itu mereka tidak menggunakan mobil.
"Sayang, siapa yang menyebalkan? Aku?" tanya Rubben dengan heran.
Bylla tersentak kaget, terlalu memikirkan Ghani ia sampai lupa dengan keberadaan Rubben.
"Mmm maaf bukan begitu maksudku, aku hanya ... hanya sedikit lelah saja Kak. Cuaca hari ini terlalu panas," kilah Bylla dengan senyuman yang dibuat-buat.
"Begitukah?" Rubben menatap Bylla dengan intens.
"Iya." Bylla mengangguk, dan lantas menunduk.
"Kupikir aku yang menyebalkan, karena aku memanggilmu dengan sebutan 'sayang' di depan Ghani," ujar Rubben tanpa basa-basi.
"A...apa maksudmu Kak?"
"Laki-laki tadi Ghani, 'kan?" Rubben balik bertanya.
"Iya, tapi aku sudah tidak ada hubungan apa-apa sama dia. Hanya kebetulan saja bertemu," jawab Bylla. Langkah kakinya terus terayun, semakin mendekati apartemen.
"Kalau perasaanmu bagaimana?" tanya Rubben.
"Kenapa aku merasa sakit ya saat mengatakan kalimat ini. Tapi Ghani sudah menikah, apa yang bisa kuharapkan darinya. Meskipun perasaan ini masih ada, namun aku hanya bisa menyimpannya untuk diriku sendiri. Aku sudah dewasa, aku butuh seseorang yang mencintaiku, bukan hanya orang yang memberikan harapan palsu," batin Bylla.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Rubben.
"Kamu,"
"Aku?"
"Iya. Pernikahan sudah di depan mata Kak, jangan membahas hal-hal yang membuat kita tidak nyaman," ujar Bylla dengan tatapan sendu.
"Maafkan aku. Aku terlalu mencintaimu Sayang, aku sangat takut kehilangan. Sekian lama aku menunggumu, aku tidak ingin rasa ini kembali hampa." Rubben memeluk Bylla, dan mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Tidak akan hampa Kak, aku selalu di sini, di sampingmu," bisik Bylla.
Dalam pelukan Rubben, Bylla memejamkan mata. Memori bersama Ghani kembali berputar dalam otaknya. Senyumannya, kata-kata bijaknya, motivasinya, ahh semua tentang dia melekat erat dalam ingatan Bylla.
"Ya Allah tolong hapuskan perasaan ini, bantu hamba melupakan semua kenangan bersamanya," batin Bylla.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Rubben melepaskan pelukannya. Ia tersenyum sambil mengusap puncak kepala Bylla.
"Terima kasih, Sayang," ucap Rubben dengan senyuman menawan.
"Tidak perlu berterima kasih Kak, aku yang lebih beruntung bisa mendapatkan Kak Rubben." Bylla membalas senyuman Rubben.
"Kita sama-sama beruntung," sahut Rubben. Lantas keduanya melangkah bersama menuju apartemen.
Beberapa menit kemudian, Rubben dan Bylla sudah tiba di ambang pintu.
"Aku langsung pulang ya," ucap Rubben.
"Nggak mampir dulu, Kak?"
"Sudah sore Sayang, lain kali saja ya," jawab Rubben.
"Baiklah,"
Lantas Rubben mendekati Bylla, dan memeluknya sekilas.
"Jaga diri baik-baik ya, Sayang. Persiapkan dirimu untuk minggu depan," bisik Rubben tepat di telinga Bylla.
Bylla terkesiap ketika mendengar kata 'minggu depan' tak disangka waktu begitu cepat berlalu, sebentar lagi ia akan melepas masa lajangnya.
"Semoga pernikahan ini adalah yang terbaik bagiku," batin Bylla.
Setelah itu Rubben melepaskan pelukannya, dan pamit undur diri. Bylla menatap punggungnya, hingga sosok itu menghilang di belokan. Bylla menghela napas panjang, dan mengembuskannya dengan pelan.
"Keputusan ini pasti benar, Kak Rubben adalah orang baik, dia pasti bisa membuatku bahagia," ucap Bylla meyakinkan dirinya sendiri.
Lantas Bylla masuk ke aparteman. Ia langsung melenggang menuju kamarnya, dan duduk di dekat jedela. Menatap menara besi yang masih berdiri kokoh di tempatnya. Beberapa menit yang lalu, ia bertemu sang pemilik hati di bawah sana. Namun bukannya mengobati rasa rindu, tapi malah memperdalam goresan luka dalam khalbu.
"Kenapa Ghani, kenapa kamu mengkhianatiku?" gumam Bylla dalam kesendirian. Setetes air mata lolos membasahi pipi mulusnya.
"Kamu tidak ada bedanya dengan Reymond, datang dengan sejuta keindahan, lantas pergi meninggalkan sejuta luka." Bylla menyeka sudut matanya yang basah.
Bylla menunduk, sembari menautkan jemarinya di atas pangkuan. Kurang apa dirinya, kenapa selalu gagal dalam membina cinta.
Disaat ia sedang larut dalam lara, tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar.
"Byl! Nggak tidur, 'kan?"
__ADS_1
Bylla mengernyitkan keningnya kala mendengar suara lelaki yang sangat familiar. Kenapa dia ada di sini?
Bersambung...