Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Menyingkap Sedikit Rahasia


__ADS_3

Satya mengantarkan Frans hingga depan pintu kamar mandi. Lantas ia kembali ke ruang tengah, mencari Ghani yang tiba-tiba hilang entah kemana.


Tak lama kemudian, Frans datang menghampiri Satya.


"Satya!" panggil Frans.


"Iya Tuan."


"Kalian punya asisten rumah tangga sekarang?" tanya Frans.


"Tidak Tuan," jawab Satya sambil menggeleng.


"Tapi barusan saya bertemu dengan bibi pelayan di belakang. siapa dia?" tanya Frans sembari menatap Satya.


"Oh, itu Bik Lastri Tuan. Dia bukan asisten rumah tangga, dia pengasuhnya Ali___"


"Tuan Frans!" panggil Ghani sambil tersenyum. Ia memotong pembicaraan Satya.


"Kamu Ghani, kan?"


"Iya, senang sekali bertemu dengan Anda, Tuan. Terima untuk hadiahnya, dan terima kasih untuk dukungannya selama ini," ucap Ghani dengan sedikit membungkuk.


"Jangan terlalu sungkan, kamu memang pantas bergabung dengan Batas. Bakatmu luar biasa, aku kagum dengan kegigihanmu," kata Frans sambil menepuk bahu Ghani dengan pelan.


"Saya sangat tersanjung, terima kasih banyak Tuan." Ucap Ghani lagi-lagi sambil membungkuk.


"Iya, teruslah berkarya!


Oh ya Satya, pelayan tadi, siapa yang diasuh? Diantara kalian masih lajang semua, kan?" tanya Frans sembari menatap Satya.


"Maaf Tuan, yang diasuh adik saya. Di kampung dia sendirian, itu sebabnya saya membawanya ke sini. Maaf jika ini merepotkan, tapi saya bersedia membayar pelayan itu sendiri," sahut Ghani sebelum Satya sempat menjawab.


"Oh adikmu, iya tidak apa-apa. Ngomong-ngomong siapa namanya, dan umur berapa sekarang?" tanya Frans.


"Namanya Alifah, dia berumur 7 tahun." Jawab Ghani sengaja berbohong.


Satya menatap Ghani sekilas sambil mengernyitkan keningnya. Kenapa Ghani berbohong? Satu pertanyaan yang mengusik benaknya.

__ADS_1


"Masih kecil," gumam Frans dengan pelan.


"Seumuran dengan anak sial itu." Sambung Frans dalam hatinya.


"Iya Tuan. Itu sebabnya saya bawa ke sini," ucap Ghani sambil tersenyum.


"Iya tidak apa-apa. Mmm ya sudah saya keluar dulu. Ghani, kamu tidak ingin berbincang dengan saya?" ucap Frans sambil menaikkan kedua alisnya.


"Tentu saja mau, saya akan ikut keluar."


Lantas mereka bertiga menuju ruang tamu, dan berbincang bersama dalam waktu yang cukup lama. Untungnya hari ini adalah hari Minggu, sehingga Alina tidak perlu ke sekolah. Dia bisa tetap bersembunyi di kamar, selama Frans masih ada di rumahnya.


Sekitar pukul 08.00, Frans pamit undur diri. Ghani dan yang lainnya kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap, karena sebentar lagi mereka harus ke studio.


Sebelum masuk ke kamarnya, Satya menyapa Ghani terlebih dahulu.


"Ghani!" panggil Satya, ketika Ghani hendak masuk ke kamarnya.


"Iya, ada apa Sat?" tanya Ghani dengan heran.


Pasalnya Satya menatapnya dengan pandangan yang tak menentu.


"Tidak, aku baik-baik saja. Kamu kenapa bertanya seperti ini?" Ghani balik bertanya.


"Aku lihat raut wajahmu berubah sejak Tuan Frans datang. Dan, kamu kenapa berbohong tentang nama Alina? Kita sahabat Ghan, kalau ada masalah cerita saja," jawab Satya.


"Aku tidak bohong Sat, namanya memang Alifah, Alifah Naufara. Alina itu panggilan sayangku padanya. Dan soal Tuan Frans, aku hanya gugup. Dia orang besar, sementara aku. Kau sendiri juga tahu, masa laluku seperti apa. Rasanya seperti mimpi bisa menyapa Tuan Frans," ucap Ghani, lagi-lagi berbohong. Ia menyamarkan nama Alina Haliza Putri menjadi Alifah Naufara.


"Maafkan aku Satya, masalah ini cukup berat. Aku belum bisa jujur sama kamu. Aku juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba Batas berkaitan dengan Frans, apakah ini memang jalan untuk menguak masa lalu. Semoga saja Alina segera mendapatkan kembali hak miliknya." Batin Ghani.


"Kamu sangat tertutup Ghani," batin Satya sambil menghela napas panjang. Dalam hati, ia sangat yakin jika ada sesuatu yang Ghani sembunyikan.


***


Di salah satu sudut Kota Jakarta. Di sebuah kafe yang berada di dekat Alun-Alun. Ghani duduk seorang diri di meja paling sudut. Ia menunggu seseorang, sembari menatap terik surya dari balik jendela.


Ghani memainkan gelas minumannya, white coffe yang menggenang di sana tampak bergejolak ibarat perasaannya. Sejak Frans datang dua hari yang lalu, Ghani dirundung kegelisahan. Ia memikirkan segala hal yang terjadi belakangan ini.

__ADS_1


Sejak hari itu, Alina tidak ceria seperti biasa. Ia sering murung, takut jika Paman Frans mengetahui keberadaannya. Bahkan semalan, Alina merengek ingin tidur bersama Ghani. Gadis kecil itu merasa aman, jika berada dalam dekapannya.


Ghani menghela napas panjang, dan menghembuskannya dengan kasar. Matanya melirik pintu masuk, belum ada tanda-tanda kehadiran Livay di sana.


Lantas Ghani melirik jarum jam yang melingkar di tangannya, dua puluh menit sudah berlalu, dari waktu yang mereka janjikan.


"Apa aku salah mempercayai dia," gumam Ghani sambil menyesap white coffe yang nyaris dingin.


Livay adalah seseorang yang baru dikenalnya. Dan lagi, dia adalah pemilik posisi yang Ghani tempati. Sebenarnya sangat lucu jika ia mempercayai Livay begitu saja, namun masalah Alina yang begitu mendesak, memaksanya untuk mau percaya. Karena Vino, saat ini ia belum bisa membantunya.


Tak lama kemudian, Ghani bernapas lega. Sosok Livay sudah muncul di pintu masuk, ia tersenyum sambil melangkah menghampirinya.


"Maaf aku telat, tadi masih ada sedikit urusan," ucap Livay sembari duduk di depan Ghani.


"Tidak apa-apa, aku juga belum lama." Jawab Ghani. "Silakan pesan minum, aku sudah memesannya lebih dulu," sambung Ghani sambil tersenyum.


Livay mengangguk, dan kemudian memesan minuman. Sambil menunggu pesanannya datang, Livay mulai bicara serius.


"Ghani, kamu tahu siapa Alina?" tanya Livay.


"Kau, kau tahu sesuatu?" Ghani balik bertanya. Jantungnya berdetak dengan cepat, mungkinkah Livay tahu hubungan Alina dan Frans?


"Melihat reaksimu, kurasa kamu sudah tahu. Ghani, Frans Been Jackson adalah orang yang berdiri di belakang Om Tom. Membawa Alina ke Jakarta, apakah itu tidak berbahaya?"


"Aku tidak tahu, jika semuanya akan seperti ini. Waktu itu dia sakit, karena ingin tinggal bersamaku. Jadi aku membawanya ke sini," jawab Ghani dengan pelan.


"Frans tidak sebaik profilnya. Dia adalah dalang dibalik kecelakaan yang menimpa keluarga Alina. Sebenarnya Frans ingin melenyapkan semua, tapi pada hari itu Alina tidak ikut bersama orang tuanya, jadi dia selamat. Namun kemudian, Frans membuangnya, dan kurasa juga mengincar nyawanya." Kata Livay dengan panjang lebar.


"Revandio Putra, ayah Alina, dia adalah putra bungsu dalam keluarga Jackson. Namun fisiknya kurang sempurna, itu sebabnya keberadaannya tidak diakui. Ayahnya hanya memberikan sedikit aset untuknya, dan bahkan ia juga tidak menyandang nama Jackson. Namun setelah beranjak dewasa, dia menikah dengan Alsena Haliza, putri tunggal dari pembisnis besar asal Malaysia." Sambung Livay.


Ghani masih mendengarkan dengan seksama, tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Orang tua Alsena telah tiada sejak Alina berumur 2 tahun. Seluruh aset yang mereka punya, diwariskan kepada Alsena. Frans merasa iri dengan adiknya. Lantas dia berencana melenyapkan keluarga Revan, agar aset milik Alsena jatuh ke tangannya. Itu bukan kecelakaan Ghani, tapi pembunuhan yang disamarkan. Dan, Om Tom terlibat dalam hal ini. Rumah yang ditempati Batas, yang tak lain adalah rumah Alina. Itu salah satu upah yang Frans berikan, atas kerja keras dan kesetiaannya selama ini." Livay kembali meneruskan ceritanya hingga tuntas.


"Kamu tahu dari mana, tentang semua ini?" tanya Ghani sambil menatap Livay lekat-lekat.


"Dari sumber yang jelas kebenarannya," jawab Livay.

__ADS_1


"Jadi, kau punya barang bukti?" tanya Ghani dengan cepat.


Bersambung...


__ADS_2