Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Kejanggalan Sikap Reymond


__ADS_3

Keesokan harinya.


Keadaan Bylla sudah semakin membaik, ia juga lebih tenang, dan mulai menerima kondisi kakinya. Ia merasa senang saat Reymond memberikan dukungan untuknya, lelaki itu masih bersikap lembut dan hangat, kendati sekarang, keadaannya penuh dengan kekurangan.


Selain dukungan Reymond, Bylla juga merasa terhibur dengan kehadiran Keyvand dan juga ayahnya. Mereka baru saja datang sekitar satu jam yang lalu. Kini, Bylla sedang duduk di ranjang sambil menyandarkan punggungnya. Ia menatap wajah ayahnya yang sedang duduk di sebelahnya.


"Pa, kenapa Mama tidak ikut pulang?" tanya Bylla dengan raut wajah yang sendu.


Kairi menghela nafas panjang, lalu ia beranjak dari duduknya, dan memeluk Bylla erat-erat.


Hatinya teriris sakit, melihat kondisi Bylla yang memprihatinkan. Sedangkan di Paris sana, satu putrinya juga sedang koma. Ia berjuang di antara hidup dan mati dalam melawan penyakitnya.


"Papa!" panggil Bylla dengan pelan. Ia dapat merasakan tubuh ayahnya yang bergetar, dan pelukannya yang semakin erat. Ada apa dengan ayahnya, beliau seperti menyimpan beban yang sangat berat.


"Pa!" panggil Bylla untuk kedua kalinya.


Kairi belum menjawab, namun kini ia melepaskan pelukannya. Ia menatap putrinya lekat-lekat, seolah ia ingin menjelaskan semuanya lewat kilatan mata.


"Pa, Papa kenapa?" tanya Bylla sambil memegang lengan ayahnya.


"Bylla, maafkan Papa dan Mama yang selama ini menyembunyikan semuanya dari kamu. Sekarang, sudah saatnya kau tahu kebenarannya." Ucap Kairi mengawali pembicaraannya.


Bylla mengernyitkan keningnya, apa gerangan yang dimaksud ayahnya? Mungkinkah dirinya bukan anak kandung orang tuanya? Ah andai saja itu benar, sanggupkah ia menerima kenyataan yang begitu menyesakkan?


Bylla menggigit bibir, sambil mengerjapkan matanya, ia berusaha keras menahan buliran bening yang sudah menggenang di sana.


"Mamamu tidak bisa ikut pulang, karena dia sedang menemani Mika. Adikmu sedang di rawat di rumah sakit, sayang." Sambung Kairi.


Bylla memalingkan tatapannya, lagi-lagi Mika, ia sudah cukup muak mendengar nama itu.


"Separah apa sakitnya Mika, sampai Mama tidak mau melihatku yang hampir kehilangan nyawa. Apa memang aku tiada artinya dalam hati Mama, atau jangan-jangan dugaanku memang benar adanya." Batin Bylla dalam hatinya.


"Bylla!" panggil Kairi, ia tahu anaknya sedang memendam kekecewaan.


"Sebenarnya, Mika mengidap penyakit lupus, sejak lama. Dia tidak ingin kau mengatahuinya, karena dia tidak mau kau khawatir. Sekarang kondisinya sedang kritis, dia koma sejak beberapa hari yang lalu." Sambung Kairi dengan suara yang pelan. Terlihat jelas, jika ia sangat tertekan dengan musibah yang datang mengujinya.

__ADS_1


"Lupus," ucap Bylla mengulangi ucapan ayahnya.


Bylla menatap ayahnya lekat-lekat, berharap jika semua yang telah dikatakannya, bukanlah kebenaran. Bylla paham benar lupus itu apa, dan dia merasa terpukul saat tahu bahwa adiknya mengidap penyakit mematikan itu.


"Benar, Mika mengidap lupus sejak lama. Itu sebabnya, Papa dan Mama selalu menuruti keinginan dia, karena kami tidak ingin dia stres, itu tidak baik untuk kesehatannya. Papa tahu, sikap Papa dan Mama membuatmu merasa sedih, kecewa, dan menganggap kami tidak adil. Tapi kami tidak punya pilihan lain, kami terpaksa melakukan ini, Bylla! Akhir-akhir ini kondisinya sering memburuk, itu sebabnya Papa dan Mama tidak bisa pulang, sewaktu orang tuanya Reymond bertandang ke rumah, Papa dan Mama tidak bisa meninggalkan Mika," kata Kairi sambil menatap anaknya.


Bylla menitikkan air matanya, selama ini dia selalu membenci adiknya, menganggap dia telah merebut apa yang ia miliki. Tapi diluar dugaan, ternyata adiknya menyimpan beban berat yang tak pernah ia ketahui. Kakak macam apa dia?


"Kenapa Papa atau Mama tidak ada yang memberitahuku? Kenapa Om Andra dan Tante Suci juga merahasiakan semua ini, kenapa, kenapa?" teriak Bylla sambil menangis.


Sungguh suatu kenyataan yang sangat pahit. Ia selalu menilai Mika dengan buruk, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Sebagai seorang kakak, seharusnya ia bisa menjadi sandaran, disaat seorang adik merasa rapuh. Namun dirinya sama sekali tidak pernah peduli, ia bahkan meninggalkan Mika dengan amarah, saat tahu bahwa gadis itu menjalin hubungan dengan Rubben. Ahh, betapa kejamnya dia.


"Ini keinginan Mika, sayang. Dia tidak ingin membuatmu khawatir, itu sebabnya dia ingin merahasiakan semua ini." Jawab Kairi.


"Tapi Pa, aku kakaknya, aku berhak tahu apa yang terjadi padanya," ucap Bylla dengan nafas yang berderu lebih cepat. Kenyataan ini sungguh memukul hati dan jiwanya.


"Papa tahu Bylla, tapi ini keinginan Mika. Demi kesehatannya, kami terpaksa menuruti permintaannya." Sahut Kairi.


Bylla tak bisa lagi menlontarkan kata-kata, dia hanya menghembuskan nafas kasar, sambil memijit pelipisnya.


"Pa!" panggil Bylla setelah cukup lama saling diam.


"Iya, Nak."


"Aku ingin melihat keadaan Mika." Ucap Bylla dengan sungguh-sungguh.


"Sayang, kondisi kamu belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan panjang. Nanti jika keadaanmu sudah membaik, kita pergi ke Paris. Untuk sekarang, lakukan video call dulu, ya!" kata Kairi sambil memegang kedua bahu Bylla.


"Baiklah!" Jawab Bylla mengalah.


"Oh ya, bagaimana dengan pernikahan kamu? Apakah ditunda? Setidaknya menunggu sampai kesehatanmu benar-benar membaik,"


Bylla menghela nafas panjang, ia sendiri juga belum tahu, bagaimana keputusan Reymond. Apa menundanya beberapa hari kedepan, atau tetap melangsungkannya sesuai hari yang telah disepakati.


"Aku juga belum tahu, Pa. Reymond belum mengatakan apa-apa padaku." Jawab Bylla.

__ADS_1


"Apa ditunda resepsinya saja, keadaan kamu masih seperti ini, Nak. Apa kau sanggup menyambut ratusan tamu, dari pagi sampai malam?"


"Nanti aku akan membicarakannya lagi dengan Reymond, Pa." Ucap Bylla.


"Iya. Ya sudah sekarang istirahatlah! Papa akan keluar dulu," kata Kairi sambil mengusap puncak kepala Bylla dengan lembut.


"Iya Pa," jawab Bylla seraya menganggukkan kepalanya.


Kemudian, Kairi melangkah pergi meninggalkan Bylla. Namun sebelum itu, ia membenarkan selimut yang menutupi tubuh anaknya.


Setelah ayahnya pergi, Bylla meraih ponsel yang ada di sebelahnya. Ia hendak menelepon ibunya, namun ia terlebih dahulu memeriksa pesan chat dari Reymond.


"Kenapa kamu belum membalas pesanku, Rey? Apakah kamu sedang sibuk?" gumam Bylla dengan pelan.


Ia mengirimkan pesan chat untuk Reymond, sejak tadi pagi. Namun hingga hampir tengah hari, Reymond belum juga membalas pesannya. Tidak biasanya Reymond bersikap seperti ini, ada apa dengannya?


Rey, kamu sedang sibuk ya? Aku merindukan kamu, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.


Bylla kembali mengirimkan pesan untuk calon suaminya. Selain menanyakan perihal pernikahan, Bylla juga ingin berbagi beban tentang Mika.


Dan hanya dalam hitungan detik, Reymond membalas pesannya.


Maaf, hari ini aku masih sibuk. Besok aku akan datang ke rumah sakit, aku juga ingin membicarakan hal penting denganmu, tentang pernikahan.


Berulang kali Bylla membaca pesan itu, seperti ada yang janggal menurutnya. Reymond tidak membalas kata rindu darinya, juga tidak menanyakan bagaimana keadaannya, dan sudah makan atau belum. Tidak seperti biasanya, kenapa?


Apakah kamu tidak menanyakan keadaanku, Rey?


Aku sedang sibuk, Bylla. Tolong mengertilah!


Oh, baiklah!


Bylla menatap nanar ke arah pesan yang baru saja ia kirimkan. Hingga beberapa menit lamanya Bylla menunggu, namun tak kunjung ada balasan dari Reymond.


"Ada apa denganmu, Rey? Aku merasa kau sedikit berubah, apakah itu karena kesibukan kamu. Ahh semoga saja iya. Ya Allah dia terlalu berharga bagiku, tolong takdirkan dia untukku," ucap Bylla sambil mengusap wajahnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2