
"Kau mau menjenguknya?" tanya Reymond.
"Iya, keluarganya kurang mampu, aku kasihan Rey." Jawab Bylla.
"Hatimu sangat mulia sayang."
"Jangan terlalu memujiku, aku hanya berusaha bertanggungjawab. Aku sudah bersalah Rey, mana mungkin aku akan membiarkannya. Terkadang kepedulian itu jauh lebih berharga, daripada sekadar uang Rey." Ucap Bylla.
"Iya kau benar Bylla, tapi sepertinya aku akan mengecewakan kamu," kata Reymond sambil menghela nafas panjang.
"Kenapa begitu?"
"Satu jam lagi aku ada rapat, aku tidak bisa mengantarkan kamu. Maaf ya." Jawab Reymond dengan raut wajah yang penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa Rey, nanti aku akan kesana sendiri. Tempatnya tidak terlalu jauh kok," ucap Bylla sambil tersenyum.
"Maaf ya Bylla."
"Tidak apa-apa Rey, aku mengerti. Lagipula bukan hanya kali ini saja aku mengajakmu pergi. Jangan terus meminta maaf ya," ucap Bylla sambil menggenggam jemari Reymond.
"Terima kasih ya Bylla. Kamu adalah wanita terbaik yang pernah aku temui," kata Reymond sambil tersenyum.
"Gombal." Cibir Bylla.
"Aku serius Bylla, kamu tahu, aku sudah menyiapkan hadiah yang sangat spesial, untuk ulang tahun kamu minggu depan. Aku yakin kamu pasti menyukainya." Kata Reymond.
"Oh ya, hadiah apa?"
"Rahasia dong, kalau aku beritahu sekarang, nanti bukan kejutan lagi namanya." Jawab Reymond.
"Ckk, pelit deh."
"Tapi kamu suka."
"Tidak."
"Iya."
"Tidak"
"Betah ya kalau diajak debat," ucap Reymond sambil mengacak rambut Bylla.
Dan Bylla menggapinya dengan senyuman manja.
"Oh ya sayang, aku pergi dulu ya, rapat akan dimulai satu jam lagi," kata Reymond sambil beranjak dari duduknya.
"Iya, hati-hati ya Rey," kata Bylla sambil ikut beranjak.
"Iya, nanti kamu juga hati-hati ya. I love you sayang," ucap Reymond sambil memeluk tubuh Bylla, dan mencium keningnya sekilas.
Bylla mengangguk sambil tersenyum, lalu ia mengantarkan Reymond hingga ke ambang pintu.
Bylla kembali duduk di tempatnya, kala tubuh Reymond sudah menghilang di balik dinding.
Bylla mengulas senyuman lebar, saat menatap bingkai foto yang terletak di atas meja. Foto dirinya dan Reymond yang sedang duduk bersama di pinggir pantai.
__ADS_1
"Aku sangat mencintai kamu Rey, aku sangat senang bisa menjadi kekasihmu. Semoga suatu saat nanti, hubungan kita bisa sampai ke pelaminan. Aku berharap takdirku adalah dirimu Rey," ucap Bylla sambil mengusap foto itu dengan pelan.
***
Sang surya semakin condong ke arah barat, sinarnya masih terang benderang meskipun tak sepanas tadi. Bylla melajukan mobilnya dengan pelan, menyusuri gang kecil yang berkerikil.
Beberapa menit kemudian, Bylla menghentikan mobilnya di depan rumah kecil yang sangat sederhana. Dari balik kaca mobil Bylla mengulas senyuman, ia ikut senang kala menatap beberapa anak kecil yang sedang bermain di teras rumah.
"Mereka tampak bahagia, meskipun hidup dalam kesederhanaan." Gumam Bylla seorang diri.
Lalu ia membuka pintu mobilnya, dan melangkah turun. Tak lupa ia membawa beberapa kotak makanan yang tadi sempat ia beli, saat perjalanan menuju kesini.
Bylla tersenyum, sambil melangkah menghampiri anak-anak yang terpaku menatapnya.
"Assalamu'alaikum." Sapa Bylla.
"Waalaikumsalam Tante." Jawab mereka dengan serempak.
"Asyik ada Tante putri," sorak Alina dengan tawa riangnya.
"Bagaimana kabar kamu, Nak? Masih sakit?" tanya Bylla sambil mengusap kepala Alina.
"Tidak Tante, aku sudah sembuh." Jawab Alina.
"Syukurlah."
"Bang Ghani, Bang Arron ada Tante putri. Sini cepat, Bang!" teriak Bayu sambil berlari masuk ke dalam rumah.
"Ayo masuk, Tante!" ajak Alina sambil menggenggam lengan Bylla.
Bylla tersenyum, sembari melangkahkan kakinya, mengikuti Alina yang membawanya masuk ke dalam rumah.
Tak berapa lama kemudian, dua orang lelaki berjalan mendekatinya. Keduanya mengulas senyuman lebar kala menatap Bylla.
"Bylla." Sapa Ghani sambil duduk di antara anak-anak asuhnya.
Wajahnya tampak segar, meskipun tubuhnya dibalut pakaian kusam.
"Apa kedatanganku mengganggu?" tanya Bylla.
"Tentu saja tidak, aku senang kau mau berkunjung kesini, Bylla." Jawab Ghani.
"Arron," ucap Arron sambil mengulurkan tangannya, seraya mendaratkan tubuhnya di sebelah Ghani.
"Bylla," jawab Bylla sambil menyambut tangan Arron.
"Kamu wanita yang waktu itu, kan?" tanya Arron.
"Waktu itu? Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" Bylla balik bertanya.
"Iya, waktu aku ngamen di pinggir jalan. Kau memberiku uang dua ratus ribu, aku ingat itu kau." Kata Arron.
"Benarkah? Maaf, aku sedikit lupa," ucap Bylla sambil menatap Arron.
"Waktu itu kau mengingatku Bylla, apa itu artinya aku dan Arron berbeda. Ah, apa yang sedang kupikirkan, mimpi lagi, mimpi lagi." Batin Ghani dalam hatinya.
__ADS_1
"Tida apa-apa, kita bertemu juga hanya sekali kok, wajar kalau kamu tidak mengingatku." Kata Arron.
"Bylla, apa yang kau bawa?" tanya Ghani.
"Sedikit makanan, semoga anak-anak menyukainya." Jawab Bylla.
"Seharusnya kau tidak perlu repot-repot, dengan kau mau datang saja, aku sudah senang. Terima kasih ya, aku tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikanmu ini," kata Ghani sambil tersenyum. Lalu ia membagikan kotak makanan itu untuk anak-anak asuhnya.
"Jangan terlalu dipikirkan, aku senang melakukannya." Jawab Bylla.
Tak lama kemudian, anak-anak mulai menyantap makanannya. Mereka menyuap dengan lahap, karena memang jarang menikmati makanan seenak itu. Mereka makan ditemani oleh Arron, sedangkan Ghani dan Bylla, mereka berbincang di teras.
"Siapa mereka?" tanya Bylla sambil menatap Ghani.
"Mereka adalah anak-anak yatim yang tidak punya keluarga. Aku mengajak mereka tinggal di sini, meskipun aku tidak bisa memberikan kehidupan yang layak, tapi setidaknya di sini masih lebih baik, daripada hidup di jalanan," jawab Ghani sambil menatap anak-anak asuhnya lewat kaca di jendela.
"Apakah ada di antaranya yang merupakan adik kandungmu, atau kerabatmu?" tanya Bylla.
"Tidak," jawab Ghani seraya menggelengkan kepalanya.
"Mulai sekali hatinya, mau mengasuh anak-anak yang terlantar. Padahal mereka bukan siapa-siapanya. Ya Allah lancarkanlah rezekinya, mudahkanlah setiap urusannya." Batin Bylla dalam hatinya.
"Lalu di mana keluargamu? Mmm maaf, aku banyak bertanya. Jika kau keberatan, tidak usah dijawab, aku mengerti," ucap Bylla.
"Apa yang kau pikirkan, tentu saja aku tidak keberatan," jawab Ghani sambil tertawa, dan Bylla juga ikut tertawa.
Lesung pipitnya terlihat sangat menawan, ah Ghani semakin terpesona.
"Aku tidak punya keluarga, aku adalah anak tunggal, dan ayah ibuku, mereka meninggal sejak aku berusia 10 tahun. Dulu tempat ini adalah sebuah panti, namun sejak orang tuaku tiada, panti ini mulai terbengkalai. Bertahun-tahun aku hidup sendiri, mencari makan dari belas kasihan orang. Lalu setelah beranjak remaja, aku bertemu dengan Arron, dia sama sepertiku, hidup sebatang kara. Sejak saat itu, aku mengajaknya tinggal di sini." Kata Ghani dengan panjang lebar.
"Tak lama berselang, aku bertemu dengan Bayu, bocah kecil yang hidup sendiri di jalanan, entah dimana keluarganya. Aku mulai mengasuhnya, dan berusaha membahagiakan dia. Setelah itu, aku bertemu dengan yang lainnya. Aku pernah merasakan hidup sendiri, itu sangat sulit. Aku tidak ingin anak-anak lain merasakan hal yang sama sepertiku." Sambung Ghani.
"Kau lelaki yang luar biasa, Ghani. Aku kagum padamu." Ucap Bylla.
"Cita-cita terbesarku adalah memberikan kehidupan, dan masa depan yang layak untuk mereka, meskipun aku masih tidak tahu bagaimana caranya.
Yang penting aku tidak pernah menyerah, aku akan tetap berusaha. Aku menggantungkan harapanku pada takdir, aku percaya, Tuhan tidak akan pernah salah dalam memberikan jalan, untuk setiap hambanya," kata Ghani sambil tersenyum.
"Pemikiran yang sangat bagus. Selama ini, aku belum bisa berpikir sedalam itu," ucap Bylla dengan pelan.
"Menurutku kau wanita yang sangat baik." Kata Ghani.
"Aku tidak sebaik yang kau kira Ghani, aku masih sering mengeluh atas apa yang terjadi dalam hidupku," ucap Bylla sambil menunduk.
"Apa yang kau keluhkan, bukankah hidupmu nyaris sempurna? Maaf, tapi kulihat kau berasal dari keluarga yang berada."
"Kebahagiaan bukan hanya dari harta Ghan, tapi juga dari kasih sayang."
"Kasih sayang? Apakah ada masalah dengan keluargamu?" tanya Ghani. Mungkinkah orang tuanya bercerai, atau mungkin salah satunya sudah tiada.
"Entahlah, orang tuaku tinggal di Paris, dan aku tinggal di sini bersama Oma dan Opa." Jawab Bylla.
"Kenapa? Apa orang tuamu yang menyuruhmu tinggal di sini?" tanya Ghani.
"Tidak, ini pilihanku sendiri. Tapi aku punya alasan, kenapa melakukan ini," jawab Bylla dengan suara yang pelan. Ia menunduk membayangkan kehidupannya sewaktu di Paris.
__ADS_1
"Mama, Papa, sebenarnya aku berat tinggal di sini tanpa kalian. Tapi aku tidak punya pilihan lain, aku lebih sakit jika tetap tinggal di sana," batin Bylla sambil menggigit bibirnya. Ada luka dimasa lalunya yang membuat matanya selalu berkaca-kaca, setiap kali mengingatnya.
Bersambung...