
Deru motor yang berlalu lalang berbaur dengan suara canda dan tawa. Di rumah yang berada di ujung gang, di salah satu sudut Kota Suarabaya, beberapa insan sedang sibuk menata dekorasi pernikahan.
Ada yang memasang rangkaian bunga, lampu kristal, kain renda, dan segala macam hiasan lain yang akan memperindah tempat itu.
Di dalam rumah, tepatnya di ruangan dapur, beberapa ibu-ibu sedang sibuk menyiapkan jamuan untuk acara nanti malam. Salsabylla Dela Vinci, wanita yang tengah hamil muda, juga ikut berdiri di antara mereka. Dia sedang mengaduk adonan kue brownis.
Hari ini adalah hari pernikahan Arron dan Melani, Ghani dan Bylla sudah tiba di Surabaya sejak kemarin, mereka ikut menyumbangkan tenaga demi lancarnya acara. Selain mereka, ada juga Alina, gadis kecil itu tiba di Surabaya sejak dua hari yang lalu. Dia datang bersama Sehan, dia begitu bahagia saat bertemu kawan lamanya.
Saat ini, usia kandungan Bylla sudah memasuki minggu ke-9. Kondisi bayinya sehat, meskipun selalu mual di pagi hari. Sejak mengetahui bahwa Bylla hamil, Ghani tak mengijinkannya memasak, ia melimpahkan tugas itu pada asisten rumah tangga. Orang tua Bylla sangat bahagia ketika mendengar kabar itu, mereka sudah tidak sabar untuk menimang cucu. Namun, saat ini mereka masih ada di Paris, dan baru bulan depan mereka pulang ke Indonesia.
"Bylla, jangan terlalu lelah! Istirahat saja dulu di kamar," ucap Arron yang saat itu sedang melintas di depan Bylla.
"Aku belum lelah, Ron," jawab Bylla.
"Kamu sangat berkeringat, Bang Ghani pasti khawatir melihatmu seperti ini," ujar Arron.
"Ya, dia memang berlebihan." Bylla menjawab sambil tersenyum lebar.
Sejak dirinya hamil, Ghani memang lebih cerewet, lebih perhatian, namun juga lebih banyak aturan. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu, tapi Bylla merasa bahagia, karena ia tahu semua itu Ghani lakukan demi kebaikannya.
"Iya, aku memang berlebihan, untuk itu ayo ke kamar, kamu sudah cukup lelah hari ini." Bukan Arron yang menyahut, melainkan Ghani, entah sejak kapan ia berdiri di belakang Bylla.
"Mon cherie, aku harus menyelesaiakan ini dulu, nanggung tinggal sedikit lagi," ujar Bylla dengan diiringi senyum manis.
"Jangan membantah, kamu sudah cukup lama berdiri seperti ini, itu tidak baik untuk kesehatan kamu," kata Ghani.
"Tapi Mon cherie___"
"Ma cherie, istirahat!" pungkas Ghani dengan tatapan intens.
"Byl, ditinggal aja, masih ada ibu-ibu yang lain kok. Jadi ... ikuti kata Bang Ghani, istirahat, oke," timpal Arron.
"Tapi___"
"Ma cherie, ayo!" kata Ghani tak mau dibantah lagi.
Tidak ada pilihan, akhirnya Bylla mengikuti apa kata suami. Ia tidak menolak saat Ghani menggenggam tangannya dan membawa pergi dari sana. Mereka berjalan menaiki anak tangga dan menuju ke kamar Ian. Sejak Alina mendapatkan kembali haknya, dia meminta Sehan untuk merenovasi rumah Ghani yang ada di Surabaya.
Di rumah itulah Alina mendapatkan cahaya untuk bertahan hidup, di sana pula ia merasa aman dan tak sendiri lagi. Oleh sebab itu, ia membagi rejekinya dengan mereka, Alina sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri.
Rumah yang dulu kecil dan usang, kini sudah disulap menjadi lebih besar dan megah. Masing-masing memiliki kamar sendiri, meskipun tidak semewah kamar di rumah Alina. Selain itu, Sehan juga mendirikan restoran yang cukup besar di pusat kota, dan restoran itu ia percayakan pada Arron. Kini, Arron tak perlu lagi menjadi kuli bangunan atau menyanyi di pinggir jalan demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah, bersama Melani ia mengurus restoran milik Alina.
"Ma cherie, istirahatlah dulu! Kata dokter, kamu harus menyempatkan diri untuk tidur siang, kan?" ucap Ghani ketika mereka sudah tiba di kamar.
"Tapi mereka sedang sibuk, masa aku malah tiduran, kan nggak enak," gerutu Bylla.
"Kamu sedang hamil, Ma cherie, mereka pasti mengerti," ujar Ghani.
"Tapi___"
__ADS_1
"Tidurlah, ini sudah waktunya istirahat," pungkas Ghani.
"Baiklah."
"Tidur yang nyenyak, agar dedek bayinya juga bahagia di sana." Ghani mengusap perut Bylla yang mulai terlihat berisi. "Aku keluar dulu ya, bantu-bantu yang lain," sambungnya sembari mengecup kening Bylla.
"Mon cherie," panggil Bylla ketika Ghani hendak meninggalkannya.
"Hmmm."
"Kamu mau aku istirahat, 'kan?" Bylla mengulas senyum lebar.
"Iya."
"Kalau gitu temenin, aku nggak mau tidur sendiri." Bylla berucap sembari menggenggam lengan Ghani.
"Tapi___"
"Temenin atau aku nggak mau istirahat," pungkas Bylla.
Ghani menghela napas panjang sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal, "baiklah, ayo aku temani."
"Jangan ditinggal, ya. Harus tidur di sampingku sampai aku bangun nanti," ujar Bylla.
"Iya." Ghani menjawab sambil naik ke atas ranjang, lantas dia berbaring, dan kemudian Bylla menyusulnya.
"Dedeknya lagi pengen dimanja," kata Bylla. Ia beringsut mendekati Ghani dan berbaring di pelukannya.
"Ya udah kalau nggak mau," sungut Bylla.
"Jangan manyun gini, jelek tahu." Ghani mencubit pipi Bylla sambil tertawa.
"Makanya buruan dimanja," ucap Bylla masih tanpa senyuman.
"Sini cintaku, sayangku, rinduku. Aku manja-manja, biar tidurnya nyenyak dan mimpi indah." Ghani meraih tubuh Bylla dan mengikis jarak di antara keduanya. Lantas ia mengusap-usap perut Bylla sambil melantunkan lagu milik Once yang berjudul Dealova.
Sejak kehamilannya memasuki bulan kedua, Bylla menjadi lebih manja. Setiap kali akan tidur, dia selalu meminta Ghani untuk mengusap perutnya sambil menyanyikan lagu Dealova. Ghani tidak boleh berhenti, sebelum ia benar-benar tertidur.
"Mon cherie, kamu tahu nggak apa yang paling kuharapkan saat anak kita dewasa nanti?" tanya Bylla ketika Ghani mengambil jeda dalam lagunya.
"Apa?" Ghani balik bertanya.
"Aku berharap jalannya untuk mendapatkan jodoh diberi kemudahan, jangan sampai kisahnya rumit seperti orang tuanya, kakek-neneknya, atau eyang buyutnya. Patah hati itu sakit, aku tidak mau dia merasakan hal itu," terang Bylla.
"Apakah kisah kita rumit?" goda Ghani.
"Aku tidak tahu menurutmu rumit atau tidak, yang penting aku patah hati," sahut Bylla dengan cepat, dan Ghani menanggapinya dengan tawa keras.
"Tapi iya sih, kisah kita memang tidak serumit kisah Papa dan Mama, atau Opa dan Oma," ucap Bylla dengan pelan.
__ADS_1
"Memang seperti apa kisah mereka?" tanya Ghani penasaran.
"Dulu Opa sangat mencintai Oma, tapi waktu itu Oma sudah punya pacar. Opa adalah orang kaya, jadi dia menggunakan cara curang untuk mendapatkan Oma. Berkat harta yang berlimpah, orang tua Oma menerima lamaran Opa, dan memaksa Oma untuk menikah. Walaupun sudah menjadi istri, tapi Oma masih mencintai kekasihnya. Sifat Opa yang sangat pemaksa, membuat Oma semakin membencinya. Kamu tahu, Oma berkali-kali berusaha menggugurkan kandungannya, Oma sama sekali tidak ingin melahirkan anak Opa," ungkap Bylla dengan panjang lebar.
"Benarkah, lantas bagaimana nasib anak itu?" tanya Ghani.
"Anak itu selamat sampai lahir, dan dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Anak itu adalah Papa," jawab Bylla.
"Papa Kairi?"
"Iya. Awalnya hubungan Oma dan Papa itu cukup buruk, namun berkat kehadiran Mama, hubungan mereka berangsur-angsur membaik," ucap Bylla.
"Mama?"
"Iya. Walaupun Oma sudah melahirkan anak Opa, namun Oma masih tetap berhubungan dengan kekasihnya, dan hubungan terlarang itu menghasilkan buah hati. Meskipun kecewa, namun Opa membiarkannya. Akhirnya anak itu lahir dan tumbuh menjadi Om Andra, Oma sangat menyayanginya. Lantas Opa membawa Papa pergi ke Paris, mereka hidup di sana dalam waktu yang cukup lama. Namun Opa tak pernah menceraikan Oma, karena Opa masih sangat mencintainya," kata Bylla menjelaskan.
"Jadi Papa dan Om Andra itu beda ayah, pantas saja mereka nggak mirip," gumam Ghani.
"Iya, Opa itu bukan ayah kandungnya Om Andra, dulu Papa dan Om Andra itu saling membenci, karena perlakuan orang tua yang tidak sama. Tapi takdir itu memang indah, mereka kembali dipertemukan dengan jalan yang tidak terduga, dan ini ada hubungannya dengan Mama. Mau tahu ceritanya?" Bylla masih bersemangat.
"Cerita gih," jawab Ghani.
"Dulu, Mama dan Om Andra itu sahabatan, dekat banget. Mama mencintai Om Andra, tapi Om Andra sama sekali tidak menyadari. Lantas Mama sakit hati dan kuliah ke London, di sanalah Mama bertemu dengan Papa. Mama jatuh cinta dengan Papa, dan mereka menjalin hubungan serius. Mereka pulang ke sini, dan meminta restu pada Nenek Halimah dan juga Oma. Mereka sudah merencanakan pernikahan. Saat berkunjung ke rumah Oma, saat itu juga Mama tahu kalau Om Andra dan Papa itu saudara," terang Bylla.
"Terus hubungan mereka gimana?"
"Sempat renggang, dan pernikahannya nyaris batal. Tapi Alhamdulillah, masih bisa diperbaiki dan benar-benar berakhir di pelaminan. Sampai akhirnya ada aku dan juga Mikayla. Berkat kejadian itu juga, Oma dan Opa bisa balikan, dan hubungan keluarga kami kembali membaik," ucap Bylla.
"Rumit juga ya, tapi Ma cherie, kok kamu bisa tahu sedetail itu? Apakah Mama yang bercerita?" tanya Ghani.
"Tentu saja bukan, yang cerita padaku Om Andra," jawab Bylla.
"Oh gitu."
"Iya. Mmmmm Mon cherie," panggil Bylla.
"Kenapa?" tanya Ghani.
"Aku tidak ngantuk, aku malah menginginkan sesuatu," ucap Bylla.
"Sesuatu apa? Jus buah, es buah, atau salad?" tanya Ghani. Setiap kali Bylla menginginkan sesuatu, selalu saja yang berhubungan dengan buah, dan Ghani sudah hapal betul dengan hal itu.
"Bukan." Bylla menggeleng.
"Lantas?"
"Aku menginginkan kamu," bisik Bylla dengan tatapan sayu.
Tanpa Ghani duga, jemari Bylla langsung merayap di daerah terlarang, dan belum sempat ia berucap, Bylla sudah membungkam bibirnya.
__ADS_1
Bersambung....