
Ghani tersenyum kala melihat Bylla yang menilik wajahnya tanpa kedip.
"Apa aku cukup tampan?" goda Ghani sambil menaikkan kedua alisnya.
"Apaan sih," ucap Bylla sembari menunduk, ia menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Tatap lagi dong," ucap Ghani sambil tertawa kecil.
"Enggak. Mana Alina?" tanya Bylla mengalihkan pembicaraan. Lantas ia masuk ke dalam rumah, dan meninggalkan Ghani yang masih berada di teras.
"Tante Putri!" teriak anak-anak kala Bylla sudah tiba di ruang tamu.
"Hai, kalian apa kabar?" tanya Bylla sambil mengusap puncak kepala mereka.
"Kita baik Tante, tapi Alina sakit." Jawab Bayu dengan polosnya.
"Sejak kapan dia sakit, Ron?" tanya Bylla sambil menatap Arron.
"Udah tiga harian," jawab Arron sambil tersenyum. Melihat hubungan Ghani dan Bylla yang semakin dekat, ia ikut bahagia. Ia tahu betapa besarnya cinta Ghani untuk Bylla.
Bylla duduk di kursi, di sebelah Alina. Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh kening Alina.
"Suhu tubuhnya sangat tinggi. Ghani, ayo segera ke rumah sakit!" kata Bylla seraya menatap Ghani yang baru saja masuk ke ruang tamu.
"Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu," jawab Ghani sambil terus melangkah ke dalam kamarnya.
"Aku bahagia melihat kedekatan kalian. Kamu tahu, sejak dulu Ghani menyukaimu. Setiap malam, dia selalu memainkan gitarnya sambil melantunkan lirik yang semacam puisi gitu. Katanya untuk si mata biru, yang menempati ruang rindu," kata Arron setelah tubuh Ghani menghilang di balik dinding.
"Benarkah?" tanya Bylla sambil tertawa renyah.
"Iya. Dan setiap tengah malam, dia selalu menyebut namamu dalam doanya. Sekarang aku benar-benar yakin, tikungan paling tajam itu memang di sepertiga malam. Bang Ghani akhirnya bisa mendapatkan kamu, berkat doanya di sepertiga malam. Tolong jaga dia ya Bylla, dia adalah lelaki yang sangat baik. Meskipun dia sederhana dan tidak memiliki banyak harta, tapi hatinya sangat mulia. Tolong bahagiakan dia," ucap Arron dengan panjang lebar.
"Itu pasti Ron. Aku sangat beruntung, bisa mendapatkan lelaki seperti Ghani, aku pasti menjaganya." Jawab Bylla sambil tersenyum manis.
"Aku juga beruntung kalian bisa bersama. Secara tidak langsung, kebersamaan kalian membuatku bertemu dengan wanita yang bisa menerimaku. Berawal dari curhat, akhirnya kami saling berbagi rasa. Dan sekarang, aku sedang berusaha untuk menghalalkannya." Batin Arron dalam hatinya.
Tak lama kemudian, Ghani keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju ruang tamu, menghampiri Arron dan Bylla.
Bylla tersipu malu kala menatap Ghani yang tampak lebih rupawan. Tubuh tegapnya dibalut celana panjang, atasan warna putih yang dipadukan dengan jaket warna hitam. Sedangkan rambut hitamnya dibiarkan berdiri cinta langit.
"Ada yang salah dengan penampilanku, mmm kurang cocok ya, atau___"
"Tidak, tidak. Cocok, iya cocok. Udah bagus," jawab Bylla sedikit gugup.
Arron meliriknya sambil tersenyum, "salut aku sama pesonamu Bang, bahkan wanita impor ini saja bisa tersipu malu karenamu." Ucap Arron dalam hatinya.
"Mmm ayo berangkat!" ajak Bylla sambil beranjak dari duduknya.
"Iya." Jawab Ghani.
Kemudian ia mengangkat tubuh Alina, dan membawanya keluar rumah.
"Ron jaga anak-anak ya!" ucap Ghani sebelum masuk ke dalam mobil.
"Pasti Bang. Kalian hati-hati ya. Bang kabari aku jika sudah sampai," jawab Arron sambil tersenyum.
"Iya."
***
Di antara banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, Bylla mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sejak kecelakaan yang menimpanya waktu itu, ia tak berani kebut-kebutan lagi.
"Bylla, maaf ya aku belum bisa meluangkan waktuku untuk kamu," ucap Ghani sambil menatap Bylla yang sedang fokus dengan kemudinya.
"Tidak apa-apa, bukankah sekarang kita juga jalan berdua, hemm?" jawab Bylla sambil tersenyum manis.
Ghani pula ikut tersenyum, menatap manik biru itu hatinya menjadi tentram. Rasanya tak ingin lagi kembali ke Jakarta.
"Tapi bukan jalan-jalan seperti ini yang kumaksud," sahut Ghani.
__ADS_1
"Aku mengerti Ghani, dia sedang sakit. Justru aku malah kecewa, kalau kamu mengabaikan dia hanya demi aku." Jawab Bylla dengan serius. Kali ini sambil menoleh sekilas, dan menatap ke arah Ghani.
"Bylla!" panggil Ghani.
"Iya."
"Kapan kamu ke Paris?" tanya Ghani tanpa mengalihkan pandangannya.
"Bulan depan. Sebenarnya aku ingin segera ke sana, tapi kata Mama menunggu kesehatanku pulih total. Padahal kakiku sudah sembuh, tapi ya sudahlah nurut saja sama Mama," jawab Bylla sambil menghela napas panjang.
"Iya, nurut aja. Tante Ella melakukan ini, juga demi kebaikan kamu Bylla," kata Ghani sembari menyunggingkan senyuman lebar.
"Iya."
"Rencananya kamu berapa lama di sana?" tanya Ghani.
"Tidak lama, mungkin sekitar satu bulan, kenapa?" Bylla balik bertanya.
"Aku ingin menikahimu, setelah kamu pulang dari Paris." Jawab Ghani dengan sangat tegas.
"A...apa!" teriak Bylla sambil membelalak lebar. Ia tak menyangka Ghani akan menghalalkannya secepat ini.
"Kenapa Bylla? Kamu, kamu keberatan?" tanya Ghani sambil mengernyitkan keningnya.
"Tidak, bukan begitu. Aku kaget aja, aku tidak menyangka kamu punya rencana secepat ini. Ghani, nama kamu baru saja naik daun. Apa tidak apa-apa jika kamu menikah secepat ini, apa nantinya tidak memengaruhi karier kamu? Apalagi, publik tahunya kamu pasangannya Evelyn, kan?" jawab Bylla mengutarakan pendapatnya.
"Nanti aku akan bicara dengan Om Tommy. Aku dan Evelyn hanya pura-pura, sebelum aku mengenalkan kamu, aku akan berpura-pura putus dengan dia. Yang penting aku tidak mengabaikan pekerjaanku, aku rasa pernikahan bukanlah kendala." Kata Ghani dengan senyuman lebar.
"Penjualan lagu Nafas Terakhir lumayan laris, bahkan melebihi target yang ditentukan. Doakan saja semoga produser film itu benar-benar melirik lagu ini. Jika itu benar terjadi, aku lebih percaya diri untuk menikahi kamu. Aku ada bekal untuk membahagiakan kamu Bylla," sambung Ghani sambil menatap wajah ayu Bylla dari samping.
Bylla menoleh sekilas, lalu ia kembali fokus dengan jalanan yang ada di hadapannya. Ghani dapat melihat jelas, jika pipinya merona.
"Bersama kamu aku selalu bahagia Ghan, aku tidak akan menuntut banyak-banyak. Cinta, kesetiaan, dan kejujuran, itu lebih dari cukup buat aku." Jawab Bylla dengan sedikit menunduk.
"Mmm Bylla, tapi kamu mau kan ikut aku?" tanya Ghani.
"Ke mana?" Bylla balik bertanya.
"Tentu saja, jika kita sudan sah, aku akan ikut apa kata kamu." Jawab Bylla dengan senyuman yang luar biasa manisnya.
"Jangan tersenyum seperti itu," kata Ghani.
"Kenapa?" tanya Bylla dengan heran.
"Terlalu manis, nanti aku khilaf." Jawab Ghani.
"Kamu juga jangan nggombal, nanti aku yang khilaf," sindir Bylla.
"Waduh khilaf bersama, bahaya ini. Jangan dilanjut deh," ucap Ghani. Dan Bylla tertawa renyah kala mendengar candaan Ghani.
Tak lama kemudian, Bylla menghentikan mobilnya di halaman rumah sakit. Alina membuka mata, saat Ghani mengangkat tubuhnya.
"Kita di mana, Bang?" tanya Alina. Gadis kecil itu meringkuk dalam dekapan Ghani.
"Kita di rumah sakit, berobat ya biar Alina cepet sembuh," jawab Ghani sambil menatapnya dengan penuh kasih.
"Aku nggak mau disuntik Bang, sakit." Rengek Alina.
"Tidak, tidak disuntik, hanya diperiksa Alina." Sahut Bylla yang sudah berdiri di sebelahnya.
"Bilang sama dokternya Bang, jangan disuntik ya," ucap Alina sambil menatap Ghani.
"Iya, nanti Abang bilangin dokternya." Jawab Ghani.
Lalu keduanya melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Seorang perawat membimbingnya masuk ke UGD. Ghani menemani Alina di dalam, sedangkan Bylla, dia menunggunya di kursi, di depan ruangan.
Bylla menunggu sembari memainkan ponselnya, ia menonton lagu-lagu milik Batas lewat youtube. Namun ada satu lagu yang selalu Bylla hindari, yakni lagu Nafas Terakhir. Pertama kali launching, Bylla menontonnya, dan ia merasa sesak kala menatap chemistry antara Ghani dan Evelyn.
Cemburu, tentu saja. Namun Bylla berusaha berpikir positif. Ghani hanya bekerja, yang mereka lakukan hanya pura-pura.
__ADS_1
Disaat Bylla sedang larut dalam ponselnya, tiba-tiba ada seorang lelaki yang datang menghampirinya.
"Bylla!" panggil lelaki itu.
Bylla mengangkat wajahnya, dan menatap lelaki itu. Ia sedikit tersentak saat menyadari siapa yang datang.
"Kamu kenapa di sini, siapa yang sakit?" tanya lelaki yang tak lain adalah Reymond.
"Adik temanku." Jawab Bylla dengan singkat.
Melihat sosok Reymond, Bylla kembali teringat dengan bisikannya waktu itu. Karma, satu kata yang berhasil membuat Bylla penasaran.
"Kamu tidak membawa, mmm___"
"Aku sudah sembuh Rey, aku tidak butuh penyangga itu lagi." Sahut Bylla sambil tersenyum lebar.
"Mmmm." Gumam Reymond.
"Kamu kenapa di sini?" tanya Bylla.
"Aku menunggui Sania." Jawab Reymond dengan pandangan yang semakin menunduk.
"Dia sakit?"
"Melahirkan."
"Hah!" teriak Bylla. Baru tujuh bulan menikah, tapi Sania sudah melahirkan. Apa yang terjadi?
"Dia bukan anakku," sahut Reymond dengan cepat, seolah dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Bylla.
"Hah, kok, kok bisa?" tanya Bylla sembari membelalakkan matanya.
"Aku tertipu. Dia sudah hamil sebelum menikah denganku." Jawab Reymond.
"Oh."
"Jadi ini karma yang dimaksud Reymond." Sambung Bylla dalam hatinya.
"Bylla!" panggil Reymond.
"Hmmmm."
"Setelah ini aku dan Sania akan cerai. Bylla, aku sangat menyesali keputusanku. Seharusnya waktu itu aku tidak gegabah, maafkan aku Bylla," ucap Reymond sambil menatap Bylla.
"Sudah berlalu Rey, lupakan saja. Aku sudah memaafkanmu sejak saat itu. Jangan diungkit lagi," jawab Bylla sambil berusaha tersenyum.
Sebenarnya ia sangat ingin mencaci dan memaki Reymond saat ini. Namun melihat raut wajahnya yang sangat lesu, Bylla tidak tega untuk melakukannya. Bagaimanapun juga, dia pernah menjadi sandaran hatinya. Bylla tidak setega itu untuk menambah beban pikirannya.
"Kamu benar-benar wanita yang mulia, aku yang bodoh telah menyakitimu sedalam itu. Bylla, masih adakah kesempatan untukku. Aku berjanji akan memerbaiki semua kesalahanku diwaktu lalu. Bylla, bisakah kamu memberiku kesempatan kedua? Aku ingin merajut kembali kenangan indah kita dimasa lalu," ucap Reymond dengan penuh harap.
Belum sempat Bylla membuka suara, pintu ruangan tiba-tiba terbuka dari dalam.
"Bylla, maaf membuatmu menunggu," ucap Ghani sambil melangkah mendekati Bylla. Lantas ia duduk di sebelahnya, sebelum Bylla sempat menjawab ucapannya.
"Kamu nonton itu, Bylla? Apa yang di sini tidak lebih tampan darinya, hmm?" goda Ghani sambil tertawa renyah. Ia merasa geli, melihat Bylla menonton video miliknya.
"Bylla, siapa dia?" tanya Reymond sambil melirik ke arah Ghani. Ia mengerutkan keningnya, merasa familiar dengan sosok wajah yang berada di hadapannya.
Ghani menoleh dan menatap Reymond. Terlalu fokus dengan Bylla, ia sampai tak menyadari keberadaan lelaki itu.
"Jika Allah mengizinkan, aku ingin menjadi imam dalam hidupnya. Terima kasih sudah memberiku kesempatan," ucap Ghani sambil beranjak dari duduknya.
"Kalian, kalian pacaran?" tanya Reymond.
"Bukan pacaran, tapi berusaha bersama untuk menuju pelaminan," jawab Ghani lagi-lagi sambil ternyum.
Reymond menatap lekat ke arah Bylla, tak ada reaksi sama sekali darinya. Berarti lelaki itu tidak berbohong, mereka menjalin hubungan yang dilandasi perasaan.
Rasa sesak perlahan menyeruak dalam hati Reymond. Jika dulu, dialah yang selalu menatap mata birunya, menggenggam jemarinya, memeluk tubuhnya, mencium keningnya. Tapi sekarang, dia ibarat orang asing, dia tak lagi memiliki tempat dihati Bylla. Di antara keduanya, kini terbentang jarak yang sangat jauh. Kenangan indah dimasa lalu, tak cukup mampu mengikis jarak di antara mereka.
__ADS_1
Bersambung...