
Detik waktu terus berjalan, meninggalkan hari kemarin, menyongsong hari ini, dan menyambut hari esok.
Tak terasa lima bulan sudah berlalu sejak kejadian hari itu. Alina sudah hidup damai bersama Sehan di Malaysia. Sedangkan Frans masih mendekam di penjara. Berbagai cara Tommy lakukan, namun tak ada hasilnya. Dan sampai saat ini pula, Tommy masih tidak bisa membuktikan keterlibatan Ghani.
Masalah seakan jalan di tempat, Ghani pula masih terjebak dalam belenggu Batas. Sekian lamanya ia tak bisa menghubungi Bylla. Meskipun ia tak menginginkan perpisahan, namun ia juga tak mampu membuatnya bertahan. Sembari berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan, Ghani juga berusaha keras mencari celah untuk menjebloskan Tommy.
Jika dia terbukti bersalah, Tommy akan dipenjara dan tidak menjadi produser. Dan otomatis Ghani akan terbebas dari kontraknya, ia punya kesempatan untuk mengejar Bylla. Karena semakin kesini, Tommy semakin mengikatnya. Jangankan untuk pergi ke Paris, pulang ke Surabaya saja Tommy tak pernah memberikan izin.
Dalam kasus Tommy, Livay tak bisa membantu terlalu banyak. Cara kerjanya sangat rapi, dan Livay sudah tak berhubungan dengannya. Namun dia punya satu petunjuk untuk Ghani. Tommy tidak melakukan kejahatan itu sendiri, ia menyuruh orang untuk melakukannya. Salah satu celah untuk membuatnya kalah adalah mencari tahu siapa orang suruhannya.
Namun itu bukanlah hal mudah, karena sampai lima bulan berlalu, Ghani belum juga berhasil mencari tahu.
Satu hal baik yang terjadi dalam hidup Ghani adalah karier. Nama Batas semakin melejit, dan dia sukses menjadi Sang Bintang. Lagu-lagu yang dinyanyikannya hits di semua kalangan, baik dewasa maupun anak muda. Satu lagu yang berjudul Nafas Terakhir sudah diadaptasi menjadi film. Sedangkan lagu yang berjudul Penantian, masih dalam proses.
Namun, hingga saat ini publik masih salah paham dengan kisah asmaranya. Mereka menganggap ia dan Evelyn benar-benar pasangan suami-istri.
Ingin sekali Ghani menyangkal opini itu, namun lagi-lagi kebebasannya dibatasi oleh Tommy. Sekali saja Ghani berani membuka suara, Tommy akan mengeluarkannya dan menuntut denda.
Malam ini, Tommy dan semua personel Batas sedang berkumpul di ruang tengah. Mereka membahas satu lagu yang akan launching bulan depan, lagu dengan judul My Love. Menurut rencana, mereka akan mengambil latar luar negeri. Karena itu yang sedang trend saat ini. Semua penyanyi berlomba-lomba mencari negara terbaik untuk merilis video klip mereka.
"Kalian ada usul?" tanya Tommy. Matanya menatap satu persatu personel secara bergantian.
"Singapura, aku pernah lihat lagu yang syutingnya di sana keren banget, Om," jawab Arsen.
"Jangan dong! Jepang aja gimana, syutingnya di antara bunga-bunga sakura. Hmmm khas banget, pasti bagus tuh," sahut Bryan dengan senyum yang mengembang.
"Kurang greget, masa cowok syuting di bunga-bunga. Kesan maskulinnya nyungsep Yan," timpal Satya, kurang setuju dengan pendapat Bryan.
"Terus kamu punya usul di mana?" tanya Bryan.
__ADS_1
"Bagaimana kalau New York, syuting di dekat Patung Liberty. Wih amazing pasti," sahut Rizki sebelum Satya sempat menjawab.
"Kejauhan Ki, gak cukup sehari semalam. Itu buat berangkatnya aja, belum syutingnya, belum baliknya," protes Bryan.
"Kita ini 'kan Batas. Band lain di bawah kita aja ada lho yang syutingnya sampai London. Masa kita cuma di Asia aja, gengsi dong. Iya 'kan Om?" ujar Rizki. Ekor matanya beralih menatap Tommy.
"Aku ada usul. Gimana kalau ke Paris aja, syuting di bawah Menara Eiffel. Kita sudah keluar Asia, dan icon nya juga keren banget. Menara Eiffel itu sudah mendunia, hampir semua orang manyanjung keindahannya. Dan lagi, tema lagu kita romantis, 'kan? Menurutku lebih cocok Menara Eiffel daripada Patung Liberty," usul Ghani yang sedari tadi belum membuka suara.
Tommy langsung menoleh, dan menatapnya dengan tajam. Tommy tahu apa maksud Ghani mengusulkan Negara Prancis. Suatu hal yang berhubungan dengan Bylla.
Personel yang lain pun saling pandang, mereka tahu kesulitannya Ghani. Mereka tahu jika hubungan Ghani dengan Tomny sekarang memburuk.
"Aku tidak setuju, Paris itu di Eropa Ghan. Terlalu jauh untuk kita tempuh, kita tidak punya banyak waktu." Tommy memicingkan matanya. Seolah dia melontarkan ancaman lewat sorot netra.
"Tapi aku setuju Om. Aku sering lihat di film-film itu Menara Eiffel memang dipakai untuk adegan romantis. Kayaknya memang cocok dengan tema kita. Dan soal jarak, kurasa pendapat Rizki benar. Kita harus mempertahankan citra kita, diantara banyaknya band, hanya kita yang belum syuting di luar negeri. Dan sebagai Batas, memang lebih bagus jika syutingnya keluar Asia, biar lebih wow gitu," sela Satya sebelum Ghani membuka suara.
"Aku setuju," sahut Arsen.
"Aku rasa memang Paris yang paling cocok," kata Rizki.
Mereka semua menyetujui usul Ghani. Dalam hati mereka membatin, hanya inilah satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk membantu Ghani. Kendati mereka berharap mampu melakukan yang lebih, namun apalah daya keadaan tak memberi kuasa pada mereka.
Ghani menatap temannya satu persatu, lewat sorot mata ia menyiratkan kata terima kasih setulus hati.
"Baiklah, jika kalian semua sudah setuju. Lusa kita berangkat ke Paris!" pungkas Tommy. Kendati ia tersenyum, namun kilatan matanya menyiratkan amarah yang begitu besar.
Ghani tak peduli, entah Tommy akan marah atau tidak, karena hubungannya memang sudah retak. Ghani hanya memikirkan satu hal, bagaimana cara menemui Bylla, dan menjelaskan semuanya. Menurut Arron, Bylla belum pernah kembali. Ia masih tetap tinggal di Paris.
"Percuma kau pergi ke Paris. Kekasihmu tidak akan mau kembali padamu. Ingat baik-baik Ghani, kau akan menyesal telah mengusulkan Kota Paris," geram Tommy dalam hatinya.
__ADS_1
"Kau pasti merencanakan sesuatu Om, tapi aku juga tidak sebodoh itu. Aku punya Tuhan yang selalu melindungiku. Kau boleh menang karena kekuasaan, tapi aku juga tidak akan kalah, karena aku memiliki posisi yang benar," batin Ghani.
Setelah keputusan deal, Tommy pamit undur diri. Kini tinggal Ghani dan personel yang lain.
"Aku harap kamu ada kesempatan untuk memperbaiki hubunganmu dengan Bylla, Ghan," ucap Bryan.
"Aku juga berharap demikian. Setelah tiba di sana nanti, carilah kesempatan untuk mencari alamat Bylla dan menemuinya. Aku yakin kau bisa." Satya menepuk bahu Ghani dengan pelan.
"Terima kasih banyak ya, tanpa kalian mungkin Om Tommy tidak akan menyetujui usulku," ucap Ghani dengan senyuman lebar.
"Kita teman, selagi kita bisa, pasti kita bantu," sahut Arsen.
"Benar, dan menurutku ... akhir-akhir ini sikap Om Tom lebih egois," timpal Bryan.
"Bukan akhir-akhir ini Yan, tapi sejak dulu. Kamu ingat 'kan, Livay sampai keluar gara-gara Om Tom yang terlalu egois dan ambisius." Rizki menoleh dan menatap Bryan.
"Iya aku ingat. Tapi sejak Tuan Frans dipenjara, egoisnya semakin menjadi. Bahkan sikapnya juga sering semena-mena. Tapi ya mau bagaimana lagi. Orang bawah kayak kita, nggak akan punya nama, kalau nggak bernaung sama orang kaya. Jadi ya nggak ada pilihan lain, cukup mempertebal mental aja. Mau bayar denda juga gak mungkin sanggup solanya," terang Bryan yang ditutup dengan tawa.
"Tapi kalau sama Evelyn kok selalu ramah ya, lembut gitu bicaranya, nggak pernah marah-marah. Apa karena dia cantik itu ya, jadi emosinya perlahan meleleh," timpal Arsen dengan raut cemberut.
"Sana operasi plastik! Suruh bikin kayak boneka barbie, biar diperhatiin sama Om Tom," goda Bryan dengan tawa yang cukup keras.
"Ogah, otakku masih waras. Emang situ udah setengah miring," gerutu Arsen dengan pelan, yang kemudian hanya ditanggapi tawa oleh teman-temannya.
Di antara gelak tawa yang terdengar renyah, Ghani malah melarutkan diri dalam pikirannya sendiri.
"Evelyn," gumam Ghani dalam hati.
Satu-satunya artis wanita yang paling dekat dengannya. Namun akhir-akhir ini sikapnya sedikit berubah. Ia selalu menurut apa kata Tommy, termasuk pura-pura menikah. Tak pernah sekali pun membantah, meskipun yang Tommy ucapkan terkadang cukup ajaib.
__ADS_1
"Apakah ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan dariku," batin Ghani dengan pikiran yang semakin tak menentu.
Bersambung...