Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Nafas Terakhir


__ADS_3

Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Di salah satu sudut Kota Jakarta, di dalam studio besar yang menjadi tempat bagi Batas untuk mengais rezeki. Ghani sedang duduk di kursi, di dekat jendela. Ia menatap lekat ke arah ponsel yang sedang digenggamnya, Ghani mengernyitkan kening, merasa heran karena Bylla memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.


"Ada apa denganmu, Bylla?" Ghani berbicara pada layar ponselnya. Lalu ia menghela napas panjang, dan beranjak dari duduknya.


Kala itu, Batas sedang mempersiapkan video klip untuk lagu mereka. Lagu yang menceritakan tentang kehilangan dan kematian. Mereka sengaja mengambil gambar di dalam ruangan dengan cahaya yang tidak terlalu terang. Menurut mereka, itu sangat cocok dengan temanya, sedih dan putus asa.


Dalam lagu itu, lagi-lagi Evelyn Patricia yang menjadi modelnya. Dan dalam lagu kali ini, pasangan mainnya adalah Ghani Alghibrani. Jika di lagu-lagu sebelumnya, Ghani hanya menjadi pemain sampingan, karena pemain utamanya adalah Bryan. Diantara personil Batas, Bryan adalah yang paling tampan.


Menurut rencana awal, dalam lagu kali ini juga Bryan yang menjadi modelnya. Namun karena permintaan penggemar yang sangat mengidolakan hubungan Evelyn dan Ghani, akhirnya Tommy memutuskan untuk memasangkan Ghani dan Evelyn dalam video klip lagu yang berjudul Nafas Terakhir.


"Ghan, kamu kenapa?" tanya Evelyn yang saat itu masih berdiri di depan Ghani.


"Tidak apa-apa, mmm yang lain sudah siap?" Ghani balik bertanya, seraya menyimpan kembali ponselnya.


Tadi, mereka merasa lelah setelah merilis separuh video, dan mereka beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga yang sempat terkuras. Evelyn mengisi waktu istirahatnya dengan tidur, sedangkan Ghani, ia memilih duduk menyendiri di dalam ruangan, sambil menelepon Bylla.


"Tinggal menunggu Bryan, dia masih di kamar mandi." Jawab Evelyn.


"Oh, ya sudah ayo ke sana!" ajak Ghani sambil melangkahkan kakinya.


"Iya," jawab Evelyn seraya menyunggingkan senyuman lebar. Lantas ia mengikuti langkah Ghani di belakangnya.


Ghani dan Evelyn berjalan beriringan menuju ruangan yang telah disulap menjadi kamar pengantin. Di sinilah Ghani dan Evelyn akan beradu akting, mengisi adegan paling romantis dalam lagu itu.


Lagu Nafas Terakhir, adalah lagu yang menceritakan sepasang pengantin baru yang saling mencintai. Namun cinta mereka terpaksa kandas karena kematian. Sang suami mengidap penyakit kronis, dan ia mengembuskan napas terakhirnya saat malam pertama. Sang suami meninggal, tepat di pelukan sang istri.


"Nah itu Ghani dan Evelyn, ayo lanjut lagi!" kata Tommy sambil melangkah mendekati mereka.


"Siap Om," jawab Evelyn sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mari Mbak ke ruangan sebelah, Mbak harus dirias ala-ala pengantin," ucap Audy, MUA yang bertugas merias para personil.


"Rin, kamu yang mengurus Mas Ghani ya," kata Audy pada salah satu rekannya.


"Siap Mbak," jawab Airin.


Sekitar setengah jam kemudian, semua personil sudah didandani menurut perannya masing-masing. Ghani dan Evelyn sebagai pemain utama, yang berperan sebagai pasangan pengantin. Sedangkan Arsen, Bryan, Satya, Rizki, dan satu model wanita lainnya, mereka berperan sebagai teman yang ikut menangisi kepergian Ghani, sekaligus menjadi pelengkap dalam acara pemakaman.


Ghani memelajari skenario yang diberikan padanya. Ia sedikit canggung saat membaca beberapa adegan yang menurutnya cukup intim. Seperti mencium kening, membelai leher, membelai bahu, dan kemudian melepaskan kancing gaun milik Evelyn.


Meskipun ini hanya akting, tapi Ghani merasa adegannya terlalu berlebihan. Bahkan kepada Bylla saja, ia belum pernah melakukan hal itu. Karena Ghani sadar, itu semua adalah perbuatan dosa. Ia ingin melakukannya nanti, setelah menjadi pasangan halal. Namun sekarang, pekerjaan menuntutnya untuk melakukan itu.


"Kenapa Ghan, ada masalah dengan skenarionya?" tanya Evelyn sambil menepuk bahu Ghani.


Ghani tersentak, dan kemudian mengangkat wajahnya. Ia menatap Evelyn yang sudah menjelma bak seorang putri. Tubuhnya yang tinggi dan sintal dibalut gaun putih tanpa lengan, dengan bagian dada yang sedikit rendah. Rambutnya yang panjang ditata menyamping, dengan hiasan bunga melati yang dirangkai dengan indahnya. Mahkota kecil bermata biru safir, menghiasi puncak kepalanya. Ghani semakin gugup kala melihat penampilan Evelyn, ia membayangkan adegan yang harus dilakoninya, ahh pikirannya mulai kacau.


"Mmmmm aku, mmmm ini___" ucap Ghani dengan gugup.


"Ada apa Ghan? Kamu merasa kesulitan, bagian mananya, katakan saja!" kata Tommy sambil melangkah mendekati Ghani.


Ghani menghela napas panjang, andai saja boleh memilih, ia lebih senang menjadi pemain pendukung, bukan pemain utama seperti ini.


"Ghani!" panggil Tommy.


"Mmmm begini Om, apa, apakah adegannya ini tidak terlalu intim?" tanya Ghani dengan ragu-ragu.


"Intim, kurasa tidak. Ini hanya mencium kening Ghan, itu adalah hal biasa. Kamu tahu, di dalam lagu lain, banyak adegan yang lebih dari itu. Tapi kita sebagai Batas, sebagi band yang punya citra positif, kita tidak akan mengambil adegan yang vulgar." Jawab Tommy dengan santainya.


"Ta...tapi Om___"

__ADS_1


"Ghani dengarkan aku! Mungkin kamu gugup, karena ini adalah pertama kalinya kamu melakoni peran utama. Rileks saja, lakukan seperti saat kamu menjadi pemeran pendukung. Ingat ya, ini permintaan netizen, jangan mengecewakan mereka." Sahut Tommy sebelum Ghani sempat meneruskan kalimatnya.


"Aku, aku takut dosa Om." Kata Ghani dengan polosnya.


"Dosa itu kalau kamu punya niat lain, kalau niatnya cuma kerja, itu nggak apa-apa. Aku kasih tahu satu hal, ini bukan hanya untuk Ghani, tapi untuk kalian semua. Marvin Abraham, produser film yang cukup populer, dia melirik lagu ini. Dia tertarik dengan kisah cinta Ghani dan Evelyn, dan dia juga tertarik dengan lagu ini. Jika video ini sesuai dengan ekspetasinya, dia akan mengadaptasi lagu ini, dan mengembangkannya menjadi sebuah film. Bayangkan, jika ini berhasil, kita akan mendapat royalti yang cukup besar. Kalian tahu, diantara banyaknya band yang ada dalam naunganku, aku menaruh harapan yang lebih besar kepada Batas! Kalian yang paling menonjol diantara yang lainnya," ucap Tommy menjelaskan dengan panjang lebar.


"Om, serius Om? Ada produser yang melirik lagu kita?" tanya Bryan dengan antusias. Selama tiga tahun berkecimpung dalam dunia musik, baru kali ini ia mendengar kabar yang begitu menggembirakan.


"Serius, makanya aku ingin hasil yang maksimal untuk lagu ini." Jawab Tommy.


"Nama kita akan semakin melejit jika lagu ini berhasil," sahut Arsen.


"Yap betul, ini benar-benar menjadi batas perjuangan kita," Satya ikut menimpali.


"Aku masih tidak percaya ini, rasanya seperti mimpi, kita akan menjadi bintang," timpal Rizki dengan tawa yang renyah.


Ghani menatap Tommy, dan keempat rekannya secara bergantian. Mereka sangat antusias, saat mendengar ada produser yang tertarik dengan lagu Nafas Terakhir.


Apakah aku memang harus melakukannya?


Sebaris kalimat yang benar-benar mengusik benak Ghani.


"Ghani, sebenarnya Bryan yang lebih cocok memainkan peran ini, karena dia yang sudah terbiasa melakukannya. Tapi karena mereka inginnya kamu yang berpasangan dengan Evelyn, aku tidak bisa memilih Bryan. Kami semua berharap sama kamu Ghan, tolong jangan kecewakan kami," ucap Tommy sambil menepuk-nepuk bahu Ghani.


"Ini adalah adegan inti dari lagu kita, kamu dan Evelyn harus menciptakan chemistry yang luar biasa. Dalami peran ini, agar penonton ikut terhanyut dalam adegannya. Betapa romantis dan manisnya cinta kalian, dan betapa sakitnya Evelyn saat kehilangan kamu, itu semua harus kalian tunjukka dengan penuh perasaan. Intinya, kalian harus membuat mereka baper!" sambung Tommy sambil menatap Ghani dan Evelyn.


Ghani memejamkan matanya, apa yang harus ia lakukan sekarang?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2