
Bylla masih bergeming di tempatnya, bahkan sentuhan di pundak pun tak membuatnya berhenti tertegun.
"Bylla, kenapa kamu hanya diam saja?" tanya Ella, entah kapan datangnya, tiba-tiba ia sudah berdiri di sebelah Bylla.
"Apa, apa ini mimpi? Kenapa___"
"Aku belum terlambat, 'kan?"
Suara lelaki yang baru saja masuk ke ruangan, membuat Bylla berpaling dengan cepat. Ia kenal pemilik suara itu, Rubben.
"Kak Rubben." Bylla menelisik penampilan Rubben. Celana panjang dipadu kemeja pendek warna putih. Kendati pakaiannya terkesan rapi, namun itu bukan pakaian pengantin.
"Aku datang untuk menyaksikan pernikahan kamu, Bylla menikahlah dengan Ghani," ucap Rubben dengan senyuman.
Bylla menoleh ke arah Ghani, lelaki itu beranjak, dan melangkah mendekatinya. Jantung Bylla berdetak cepat, sebenarnya apa yang terjadi?
"Bylla, kamu mau 'kan menikah denganku?" Ghani tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya.
"Ini sebenarnya, ini kenapa bisa begini? Ma!" Bylla menoleh, dan menatap Ibunya. Berharap mendapatkan penjelasan secara rinci.
"Cinta tidak harus memiliki. Membiarkan seseorang yang kita cintai bahagia dengan pilihannya sendiri, itulah makna cinta yang sejati," sahut Rubben sebelum Ella sempat membuka suara.
Bylla terkesiap, ia ingat kalimat itu adalah kalimat yang diucapkan pada Ghani, lima hari yang lalu.
"Kak Rubben, kamu___"
"Iya, aku ada di sana waktu itu. Aku sudah menduga, kau akan bertemu Ghani di bawah menara, karena itu adalah tempat favoritmu. Sejak pukul 06.00 aku tiba, dan dari sana aku tahu, hatimu memang bukan untukku. Mungkin pernikahan kita sudah di ambang mata, tapi apa gunanya, jika semua itu hanya membuatmu tersiksa. Kau dan Ghani saling mencintai, tidak etis rasanya jika aku menjadi penghalang di antara kalian. Bylla, aku bahagia, jika kamu bahagia," ungkap Rubben masih dengan senyumannya.
"Kamu, kamu ada di sana, Kak?" tanya Bylla.
"Iya, aku sengaja melakukannya, karena aku ingin tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya. Aku ikut menitikkan air mata, saat kamu dan Ghani saling berpelukan sambil menangis. Aku merasa jadi orang yang paling jahat, Bylla. Cintaku, egoku, ternyata itu menyakitimu," ujar Rubben dengan tatapan sendu.
"Maafkan aku Kak, aku___"
"Jangan meminta maaf, selagi belum terlambat, mari kita perbaiki semua ini. Setelah kau pergi, aku menemui Ghani, aku berbincang lama dengannya. Aku tahu kamu tidak mau meninggalkan aku, karena kamu tidak ingin menyakitiku. Jadi sekarang, aku yang meninggalkan kamu, karena aku tahu kebersamaan kita menyakitimu," pungkas Rubben.
"Terus bagaimana dengan Papa dan juga Mama?" Bylla sudah terbiasa memanggil calon mertuanya dengan sebutan itu.
"Kami merestuimu Bylla, maafkan Rubben ya, yang selama ini egois. Mama tahu, soal hati itu tidak bisa dipaksakan. Menikahlah dengan lelaki pilihanmu, dan Rubben, Mama yakin saatnya nanti dia akan menemukan cinta sejati. Cinta yang hanya tulus tentang rasa, bukan bercampur dengan ego," sahut Bu Mia.
"Mama, maafkan aku Ma." Bylla menunduk.
"Tidak perlu meminta maaf, Mama mengerti. Ya sudah sekarang cepat bersiap, kamu sangat menantikan hari ini, 'kan?" goda Bu Mia.
"Ayo, Sayang!" ajak Ghani dengan pelan. Tangan hangatnya menggenggam jemari Bylla, dan mengajak duduk di depan penghulu.
Berkali-kali Bylla menepuk kedua pipinya, takut jika semua ini sekadar penggalan mimpi indah. Bersanding dengan Ghani di depan penghulu, sesuatu yang untuk membayangkan saja, ia belum berani. Setelah ini mereka akan resmi menjadi suami istri, memadu cinta, melakukan banyak hal bersama. Ahh pipi Bylla mulai merona membayangkan semua itu.
"Kamu ingin mahar apa?"
Bisikan Ghani membuyarkan lamunan Bylla. Membuatnya menoleh, dan menatap sang pemilik hati yang rupawan.
"Mahar?"
"Iya, kamu ingin mahar apa?"
__ADS_1
"Mmm apa ya, mmmm terserah saja," jawab Bylla dengan gugup.
"Jangan terserah, itu hak kamu. Ayo katakan!" ujar Ghani.
"Mmm kalau begitu sepuluh gram emas saja, tapi kalau belum siap diganti___"
"Sepuluh gram emas, persis seperti yang kamu minta." Ghani meletakkan kotak kecil di atas meja. Ia membukanya, dan tampak di sana kalung berliontin apel dengan hiasan permata warna biru, sangat cantik.
Sepuluh gram emas adalah mahar yang Bylla minta saat merencanakan pernikahan dengan Rubben, dan sekarang Ghani yang memberikannya.
"Kok kamu sudah ada?" tanya Bylla dengan heran.
"Karena aku tahu isi hatimu." Ghani mengedipkan sebelah mata.
"Kamu kenapa tidak bilang-bilang, kamu sengaja, ya." Bylla menatap Ghani lekat-lekat.
"Aku tidak sempat, aku mondar-mandir ke sana ke mari mengurus bermacam-macam surat," jawab Ghani.
"Bisa kita mulai?"
Suara penghulu menghentikan perbincangan Ghani dan Bylla. Ghani mengangguk sambil tersenyum. Begitu halnya dengan yang lain, mereka semua diam dan mengikuti jalannya ijab kabul dengan khidmat.
Setelah penghulu selesai memimpin doa, Kairi menjabat tangan Ghani. Seorang lelaki yang akan mengambil alih tanggung jawabnya atas diri Bylla.
"Saya nikahkan engkau Ghani Alghibrani Bin Almarhum Hariadi dengan Sasabylla Dela Vinci Binti Kairi Da Vinci dengan mas kawin sepuluh gram emas dibayar tunai." Kairi menyentak tangannya, sebagai isyarat bagi Ghani untuk menyahut.
Ghani mengucapkan basmallah dalam hati, lantas ia melantunkan ijab kabul.
"Saya terima nikahnya Salsabylla Dela Vinci Binti Kairi Da Vinci dengan mas kawin sepuluh gram emas dibayar tunai." Suara Ghani terdengar lantang, menggema dalam ruangan.
"Sah!" sahut mereka serempak.
Usai mendengar ucapan 'sah' dari para saksi, Ghani meraih kepala Bylla, dan memegang ubun-ubunnya.
"Allahumma inni as 'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltahaa 'alaih." Setelah selesai mengucapkan doa, Ghani mencium kening Bylla dengan lembut. Bersyukur karena Allah benar-benar menyatukan mereka dalam ikatan halal.
Mata Bylla berkaca-kaca, ia terlalu bahagia saat ini. Segala sesuatu memang terasa mudah, jika kita percaya dengan rencana Tuhan. Karena sesungguhnya hanya Tuhan-lah yang maha tahu apa yang baik untuk hambanya.
Sambil menitikkan air mata, Bylla mencium punggung tangan Ghani. Sang pemilik hati yang kini sah menjadi suami.
Lantas mereka semua sama-sama melantunkan shalawat, dan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta'ala yang telah menyatukan dua insan dalam ikatan suci.
Setelah itu, Ghani dan Bylla meminta doa dan restu kepada orang tua. Bylla memeluk Ibunya dengan erat, menumpahkan tangis haru di bahu. Lantas ia memeluk Ayahnya, dengan tetap menangis.
"Jangan menangis Nak, ini hari bahagiamu. Setelah ini Ghani yang bertanggung jawab penuh atas hidupmu, turuti apa kata dia, berbaktilah padanya! Surgamu bukan lagi pada orang tua, tapi pada ridho suami. Kamu sudah menyempurnakan separuh agamamu, ke depannya jadilah pribadi yang lebih baik," pesan Kairi pada putrinya.
"Iya Pa, maaf jika selama ini aku banyak salah sama Papa. Doakan semoga rumah tanggaku diberi kemudahan Pa," jawab Bylla.
Kemudian Bylla melepaskan pelukannya, dan kini berganti Ghani yang memeluk Kairi.
"Aku percaya kamu lelaki yang baik, itu sebabnya aku mau menyerahkan putriku padamu. Jangan kecewakan kepercayaanku, bahagiakan dia dan bimbing dia ke jalan yang benar. Jika dia salah, ingatkan dengan baik. Dalam rumah tangga, perselisihan itu wajar. Tapi bukan berarti harus ada kekerasan dan air mata, semua masalah bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Jika kamu melukainya, aku tidak akan segan-segan untuk mengambilnya darimu," kata Kairi.
"Tidak akan Pa, sedikitpun aku tidak akan kasar padanya. Aku akan selalu membahagiakan dia, aku tidak akan menodai kepercayaan Papa." Ghani melepaskan pelukannya.
Setelah itu satu persatu dari sanak saudara memberikan ucapan selamat pada Ghani dan Bylla. Termasuk Andra, Suci, Keyvand, dan juga Rubben. Sambil mengucapkan selamat, Rubben memberikan kotak hadiah yang entah apa isinya. Lantas dia pamit undur diri, yang kemudian disusul oleh beberapa kerabat yang lain.
__ADS_1
"Byl, ajak suamimu istirahat, selagi ada waktu, agar nanti malam tidak lelah saat menemui tamu. Ratusan lho, pestanya pasti berakhir larut malam," ucap Ella.
"Iya Ma, kalau begitu kami ke atas dulu, ya," jawab Bylla.
"Hmm sekarang ceria, kemarin aja uring-uringan," sindir Keyvand.
"Vand!" Bylla melotot tajam ke arah Keyvand.
"Kami ke atas dulu ya, Ma," ucap Ghani.
"Iya." Ella mengangguk sambil tersenyum.
"Udah tiga hari lho Ghan dia nggak mandi, siap-siap masker ya!" teriak Keyvand saat Bylla dan Ghani sudah menaiki anak tangga.
"Keyvand!" teriak Bylla dengan pelototan tajam.
"Aku bener, 'kan?" Keyvand menaikkan alisnya sambil tertawa.
"Keyvand!" Kali ini Andra yang yang menyahut. Dia menatap anaknya dengan tajam.
"Bercanda Pa," ujar Keyvand.
Beberapa menit kemudian, Bylla membuka pintu kamarnya. Malu, haru, bahagia, bercampur jadi satu. Sebagai pengantin baru, berdua di dalam kamar, ahh kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bylla duduk di tepi ranjang, setelah meletakkan hadiah dari Rubben di atas meja. Dengan wajah merona, Bylla menatap Ghani yang masih berdiri di hadapannya.
"Ghani, kamu nggak duduk?" tanya Bylla. Jantungnya berdegub kencang kala Ghani menatapnya tanpa kedip.
"Ghani?" Ghani menaikkan kedua alisnya.
"Mmm maksudku Mas Ghani," ucap Bylla.
"Tidak, jangan mas. Aku setahun lebih mudah darimu, jadi jangan memanggilku mas," ujar Ghani.
"Lalu?"
"Aku ingin panggilan yang mesra, sayang, atau hubby gitu. Lagipula kalau mas itu sudah banyak, yang beda dikit, 'kan udah suami istri." Ghani duduk di sebelah Bylla, sembari menatapnya.
Bylla mengubah posisi duduknya, dan menghadap ke arah Ghani. Kedua pasang netra saling bertemu dalam jarak yang teramat dekat.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memanggilmu Mon cherie, dan kau harus memanggilku Ma cherie. Mesra, dan tidak ada yang menyamai. Bagaimana?" Mata biru bening nan menawan menatap penuh perasaan.
"Benar-benar wanita impor, mon cherie, ma cherie, apa artinya?" Ghani mengernyit heran. Rambut berdiri cinta langit miliknya tiba-tiba gatal tanpa sebab.
Bersambung....
Terima kasih untuk kakak kakak semua yg masih berkenan mendukung novel Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa.
Tak terasa kita sudah sampai di penghujung Ramadhan, semoga amal ibadah kita di bulan ini diterima oleh Allah SWT.
Beberapa hari lagi kita akan tiba di hari Fitri. Maafkan semua salah dan khilaf, entah yang kusadari atau yang tidak. Minal aidzin wal faidzin,,, mohon maaf lahir dan batin.
Maaf jika hari-hari ini selow update, dan belum bisa balas komentar. Seusai lebaran, Insyaa Allah akan kembali normal. Up teratur, balas komen juga teratur.
Sekali lagi terima kasih dan mohon maaf yang sebesar-besarnya.
__ADS_1