Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Sang Pemilik Rindu


__ADS_3

Sang surya mulai condong ke arah barat. Langit biru cerah dengan hiasan mega yang berarak. Semilir angin yang asing menyapu tubuh-tubuh kekar yang sedang berdiri dalam kekaguman.


Ghani dan rombongannya baru saja mendarat di Bandara Charles De Gaulle, Bandara Internasionel Paris. Mereka sedang menunggu mobil dan guide yang datang menjemput.


Diantara mereka, tidak ada satu pun yang bisa Bahasa Prancis. Maksimal hanya bisa Bahasa Inggris, itupun tidak semua.


Untuk mencegah berbagai kendala, Tommy menyewa guide, agar proses syuting berjalan dengan lancar. Kebetulan dia punya kenalan di Paris, sehingga lebih mudah mencari guide dan tempat penginapan.


"Wah, sangat indah! Anginnya sejuk-sejuk hangat, mana ceweknya cakep-cakep semua, bikin mata adem," celetuk Bryan.


Baru saja segerombolan gadis remaja melintas di hadapan mereka. Kulit putih, mata biru, rambut cokelat, itulah ciri mayoritas wanita di sana.


"Cakep sih iya, tapi pakaiannya kurang bahan. Bukannya jadi adem, yang ada malah panas dingin," timpal Arsen dengan ekor mata yang menilik seorang wanita di sebelahnya.


Wajahnya memang cantik, namun tubuhnya hanya dibalut dress yang sangat minim. Tanpa lengan, potongan dada rendah, dan panjangnya jauh di atas lutut. Rambut sengaja disanggul tinggi, sehingga kulit punggung terpampang dengan jelas.


"Jangan dilihat terus Sen, ntar kesurupan aku nggak tanggungjawab lho," goda Satya dengan bibir yang mengulas senyum miring.


"Mubazir Sat," sahut Arsen tanpa mengalihkan pandangannya.


Jawaban singkat yang mengundang tawa personel Batas.


Namun ada di antara mereka yang tetap bergeming, yakni Ghani. Dari pertama kali menginjakkan kakinya di Paris, lelaki itu tak membuka suara, atau sekadar mengulas senyuman.


Menatap susana asing di sekitarnya, pikiran Ghani tertuju pada wanita yang selalu menjelma dalam ruang rindu. Dari sekian banyak mata biru dan rambut cokelat yang melintas, ia sangat berharap salah satunya adalah Bylla.


"Aku sudah ada di negara tempat kau tinggal, Bylla. Aku sangat ingin bersua denganmu. Ya Allah, tolong berikan jalan untuk kami kembali. Engkau yang maha tahu bagaimana perasaan hamba," batin Ghani dalam hati.


"Ghan, kok ngelamun?" tanya Evelyn yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya.


Dalam lagu My Love, lagi-lagi Tommy memasangkan Ghani dan Evelyn.

__ADS_1


"Kagum aja, tempatnya sangat indah." Ghani mengulas senyuman hambar.


"Seindah sosok wanita yang tinggal di salah satu sudutnya," sambung Ghani dalam hati.


Belum sempat Evelyn menjawab ucapan Ghani, tiba-tiba ponselnya bergetar. Evelyn melihatnya, ternyata ada pesan masuk dari seseorang.


Lakukan seperti yang kukatakan! Jangan sampai ada kesalahan, ini adalah satu-satunya cara untuk membuatnya diam!


Evelyn tersenyum miring, lantas ia kembali menyimpan ponselnya.


"Pekerjaan yang sangat mudah, bahkan sambil memejamkan mata pun aku tidak akan gagal," batin Evelyn.


***


Pagi-pagi sekali, bahkan sebelum fajar menyingsing Ghani sudah membuka mata. Seluruh tubuhnya terasa nyeri karena perjalanan yang teramat panjang. Ia menyibak selimutnya dan bangkit. Di samping kanan dan kiri, tampak teman-temannya masih tertidur pulas.


Tommy mengajak mereka menginap di hotel yang tak jauh dari Menara Eiffel. Namun dia hanya menyewa empat kamar, sehingga Ghani dan personel lain harus tinggal dalam satu ruangan.


Hanya saja, Paris adalah kota padat. Jika petunjuknya sekadar dekat dengan menara, itu cukup sulit. Karena begitu banyak apartemen yang berdiri di sekitar Menara Eiffel.


Ghani beranjak menuju kamar mandi, membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Menunaikan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Lantas ia bersimpuh sambil menengadahkan tangan.


"Ya Allah, dalam kurun waktu yang lama, perasaan hamba tak pernah berubah. Meskipun belum ada sempat untuk berjumpa dan menjelaskan semua. Ya Allah, berikanlah kemudahan dalam hidup hamba. Berikanlah jalan agar hamba bisa terlepas dari pekerjaan ini. Hamba tak ingin terus-terusan larut dalam kebohongan, hamba juga tak ingin terus-terusan larut dalam hal yang Engkau larang. Hanya kepada-Mu hamba bergantung Ya Allah, tolong berikanlah jalan yang indah." Ghani mengusap wajah dengan kedua tangannya.


Ghani memejamkan mata, mengingat setiap adegan yang ia lakoni bersama Evelyn. Sejak berita pernikahan hari itu, Tommy sering membuatkan skenario yang cukup mesra. Seperti mencium kening, membelai bahu atau leher, berpelukan dan saling menatap dalam jarak yang sangat dekat. Ghani tahu semua itu dosa, tapi ia tak punya kuasa untuk menolaknya.


Cukup lama Ghani merenungi hidupnya, hingga matahari mulai terbit dan menyorotkan sinarnya. Satu persatu dari temannnya mulai membuka mata, dan bersiap menyambut tugas hari ini.


Menurut jadwal yang sudah dirancang, hari ini mereka sudah mulai syuting. Karena keterbatasan waktu, tidak ada hari untuk bersantai.


Melihat teman-temannya sudah bersiap, Ghani beranjak dari duduknya dan ikut bergabung dengan yang lain. Mereka sarapan sebentar, sebelum berangkat ke lokasi.

__ADS_1


***


Cinta sejati.


Sebuah rasa yang datangnya dengan perlahan dan tanpa alasan.


Kendati demikian, hanya segelintir insan yang mampu menerapkan.


Selebihnya, mereka mengukur cinta lewat harta serta rupa.


Cinta, ia datang dengan sejuta rasa.


Terkadang menjelma cahaya, memberikan penerang serta kehangatan, laksana sinar surya yang menerangi alam fana.


Namun, terkadang cinta juga menjelma serpihan kaca. Menorehkan luka yang teramat dalam, meretakkan hati, dan mengubur diri dalam kelam.


Cinta, jangan terlalu diagungkan.


Biarlah ia mengalir seperti air, biarkan ia berembus seperti angin. Cukup arus waktu yang menjawab, ke mana, dan seperti apa cinta yang datang menyapa. Tetaplah dalam keyakinan, Tuhan tak akan pernah salah dalam memilihkan jalan takdir untuk setiap hamba-Nya.


Saat diri merasa sendiri, ingatlah, masih ada Tuhan yang selalu ada untuk kita.


Saat tiada lagi bahu untuk bersandar, ingatlah, masih ada lantai untuk bersujud. Hanya Tuhan tempat berkeluh kesah yang tak pernah salah. Hanya Tuhan, pemilik takdir yang maha indah.


Seperti halnya takdir yang telah digariskan pada dua insan yang saling berdiri berhadapan, keduanya terpaku dan bergeming pada tempatnya masing-masing. Hanya Tuhan yang tahu, seperti apa jalan mereka selanjutnya. Akankah tetap terpisah, ataukah kembali bersama.


Mereka adalah Ghani dan Bylla, dua anak manusia yang telah lama tak bersua. Entah mengapa sekarang Tuhan mempertemukan mereka di sana, di sebuh taman, di bawah menara. Tak ada kata yang sanggup mereka ucapkan. Keduanya hanya menyelami mata masing-masing, demi mencari secercah cinta yang masih diharapkan.


Keduanya melangkahkan kaki, mengurangi jarak yang terbentang di antaranya. Dua pasang mata tetap bertatapan, seolah saling mengungkapkan isi hati. Entah itu rindu, entah itu luka.


Banyak hal yang telah mereka lalui dalam beberapa waktu terakhir, hal pahit yang membuat keduanya tersiksa dalam rasa sakit.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2