
Ghani menghela napas panjang, "ini bukan skandal Om, memang dia kekasihku," sergahnya sambil menatap Tommy.
Dia tidak rela jika hubungannya dengan Bylla disebut skandal.
"Tapi publik tahunya pasangan kamu itu Evelyn. Banyak yang mengidolakan hubungan kalian, tolong jangan kecewakan mereka, Ghani. Lagian Evelyn itu cantik, kaya, kenapa kamu malah cari yang lain," kata Tommy dengan nada yang sedikit tinggi.
"Om ini masalah pribadi, yang kucintai dia bukan Evelyn. Lagi pula jauh sebelum aku bergabung dengan Batas, aku sudah menjalin hubungan dengan dia. Dulu aku sempat menolak sandiwara ini, tapi___"
"Kamu mau nyalahin aku, iya! Kamu pikir namamu akan melambung, jika tidak ada sandiwara ini. Kuakui suaramu memang bagus, tapi jika tidak ada yang mendongkrak. Kamu pikir itu berguna? Tidak!" potong Tommy mulai emosi.
Ghani masih bergeming, menata hati yang semakin kacau. Baru semalam ia tersenyum, karena Bylla hadir di sisinya. Tapi sekarang, sudah ada masalah baru yang datang, sebelum masalah lama sempat terselesaikan.
"Kamu harus mengklarifikasi ini, katakan jika sebenarnya kalian itu saudara. Yakinkan publik, bahwa hubunganmu dengan Evelyn baik-baik saja!" kata Tommy sembari melipat tangannya di dada.
"Aku, aku tidak bisa Om. Sandiwara ini harus berakhir, aku akan pura-pura putus dengan Evelyn. Hubungan kami tetap baik, tapi sebagai sahabat, bukan pasangan." Sahut Ghani dengan cepat.
"Aku tidak boleh kalah dengan karier, aku tidak mau mengecewakan Bylla untuk yang kesekian kali," batin Ghani.
"Tidak, aku tidak setuju. Jika kamu dan Evelyn berpisah, netizen akan kecewa. Dan ini akan berpengaruh buruk pada perfoma Batas. Jangan aneh-aneh Ghani, ini demi masa depan kalian!" kata Tommy masih dengan nada tinggi.
"Tapi ini juga masa depanku, Om. Bulan depan aku akan menikah dengannya, dan aku tidak mungkin menyembunyikan semua itu dari publik. Jadi hubunganku dengan Evelyn harus diakhiri dari sekarang," jawab Ghani dengan tegas.
"Menikah? Kariermu masih merangkak, dan sudah memikirkan pernikahan? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu, Ghani!" ujar Tommy sembari menggelengkan kepala.
"Pernikahan bukan akhir sebuah karier 'kan Om? Aku akan tetap berlatih dan berusaha keras seperti biasa, meski aku sudah menikah. Aku janji tidak akan ada yang berubah, Om!" jawab Ghani.
"Apakah seperti ini yang Livay alami. Tidak heran jika dia langsung hengkang, karena kekasihnya juga sudah hamil. Tapi, meskipun aku dan Bylla tidak melakukan kesalahan, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama seperti Livay." Batin Ghani.
"Kamu memang tidak berubah, tapi apresiasi orang yang berubah. Mereka yang sudah ngefans dengan hubungan kalian, itu akan kecewa. Mereka tidak mau lagi mendukung Batas. Dan bayangkan, nama yang baru melambung, akan terhempas kembali ke dasar. Aku tidak mau itu terjadi, Batas harus terus melambung. Untuk beberapa bulan ke depan, aku tidak akan mengijinkan kamu menikah, kecuali dengan Evelyn," terang Tommy dengan panjang lebar.
"Kenapa ada peraturan seperti ini, Om? Ini masalah pribadi, tolong beri aku kebebasan. Lagi pula selama aku masih konsisten dalam bekerja, bukankah masalah pribadi itu hanya urusanku," ujar Ghani sambil menatap Tommy.
"Bagiku ini berkaitan. Dan selama kamu masih bergabung dengan Batas, masalah pribadimu menjadi urusanku juga," sahut Tommy.
__ADS_1
"Tapi Om___"
Tommy menghela napas panjang, "ini demi kamu dan juga personel lainnya. Seharusnya kamu berterima kasih Ghani, bukan malah membangkang seperti ini!" pungkas Tommy dengan nada tinggi.
Ghani memejamkan mata, cukup sudah ia bertahan dengan dunia musik. Dengan jantung yang berdetak cepat, ia mulai membuka suara. Berharap pilihannya kali ini tidak salah.
"Kalau begitu aku keluar saja dari Batas, Om!" ucap Ghani dengan cepat.
"Aku tidak bisa terus-terusan mengecewakan Bylla. Maafkan Abang Alina, jika nanti gagal memberikan keadilan untukmu." Batin Ghani.
"Keluar, kamu yakin?" tanya Tommy sambil menaikkan kedua alisnya. "Kamu sudah menanda tangani kontrak kerjasama. Dari awal, aku sudah memberikan kamu fasilitas dan juga honor. Bahkan sejak kamu masih dalam tahap pelatihan. Aku tidak masalah kalau kamu keluar, asal kamu sanggup membayar denda," sambungnya.
"Denda?" gumam Ghani mengulangi ucapan Tommy.
"Iya. Waktu itu aku sudah menyuruhmu membaca isi kontrak dengan teliti. Seharusnya bagian denda juga tidak kamu lewatkan. Aku mempromosikan kamu, memberikan fasilitas dan dukungan. Aku membuatmu menjadi bintang, semua itu butuh banyak biaya Ghani. Kontrak kita dua tahun, jika dalam tempo itu kamu memutuskan kerjasama secara sepihak, kamu harus siap membayar denda!" terang Tommy dengan serius.
"Inilah alasannya kenapa aku lebih suka mencari orang-orang biasa yang bertalenta. Mereka akan patuh, dan tidak berani macam-macam. Honornya pun lebih murah, meski sudah menjadi bintang. Selama mereka masih terikat kontrak, apa yang bisa dilakukan? Jika aku menaungi penyanyi papan atas, aku yang harus tunduk dengan mereka. Heh, aku tidak sudi." Batin Tommy.
"Ghani, kamu masih ingat 'kan dengan dendanya? Kamu membaca isi kontrak itu dengan benar, 'kan?" tanya Tommy kala menatap Ghani yang tetap bergeming.
"Ghani!" panggil Tommy.
"Maaf aku lupa Om," jawab Ghani sembari menghela napas panjang.
"Aku juga minta maaf, mungkin kata-kataku tadi sedikit kasar. Aku tidak masalah kamu tetap berhubungan dengan kekasihmu, tapi jangan terbuka. Tunggu sampai kamu benar-benar mencapai puncak, jangan membuat kendala di tengah jalan. Tunda dulu pernikahan kalian, barang empat atau lima bulan. Dan untuk berita ini, ayolah bekerjasama Ghani. Buat klarifikasi, agar profil Batas tidak tercoreng!" terang Tommy sambil menepuk bahu Ghani dengan pelan.
***
Di atas kursi panjang, di pinggir kolam renang. Bertemankan angin yang berembus pelan, menerpa jernihnya air hingga beriak ke sana ke mari.
Dua insan duduk bersebelahan, sembari menikmati segelas es jeruk. Keduanya masih bergeming, hanya memainkan gelas minuman masing-masing.
"Maafkan aku Ghani, kehadiranku di sini jadi masalah dalam karier kamu," ucap Bylla mengawali perbincangan. Ia sudah tahu berita tentang dirinya dan Ghani.
__ADS_1
"Bylla, apa yang kamu katakan. Karierku baik-baik saja, hanya berita gosip, sehari dua hari pasti sudah hilang," jawab Ghani sambil tersenyum.
Ia berusaha baik-baik saja di hadapan Bylla. Ia tak kuasa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Menunda pernikahan, ahh entah bagaimana cara mengungkapkannya nanti.
Besok Bylla sudah terbang ke Eropa, dia tidak ingin pertemuan singkatnya dilalui dengan sendu. Ia akan berusaha membuat kekasihnya tersenyum. Meskipun hanya menghabiskan waktu di belakang rumah, namun Ghani ingin mengukir kenangan indah bersama Bylla. Tidak ada air mata, juga tidak ada perih luka.
"Kamu yakin, semuanya akan baik-baik saja?" tanya Bylla.
"Yakin, percaya saja padaku. Yah mungkin sekarang aku belum bisa membawa hubungan kita ke hadapan publik, dan mungkin nanti aku harus mengakuimu sebagai teman. Tapi kamu tenang saja, pada saatnya nanti, seluruh dunia akan tahu kalau kekasihku itu kamu," jawab Ghani sambil tersenyum lebar.
Bylla menghela napas lega, "syukurlah kalau semua baik-baik saja, aku takut kehadiranku malah merepotkan kamu."
Ghani merangkul bahu Bylla sambil tersenyum manis.
"Kalaupun repot, mungkin itu hanya hatiku. Repot memperdalam rasa untuk kamu," ucap Ghani.
"Mulai deh," sahut Bylla sembari tertawa renyah.
"Semoga tawa itu terus terukir di bibirmu, Bylla. Apapun ujian dalam kisah kita nanti, aku harap takdir kita memang bersama." Batin Ghani sambil mengulas senyum tipis.
Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Seorang pria dewasa sedang menatap layar ponselnya dengan serius. Dia adalah Tommy, dia memandang nanar pada deretan aksara yang membentuk sebuah kalimat.
Waspada, anak asuhmu mulai curiga dengan kita. Gadis yang digosipkan dengannya adalah putri dari keluarga Da Vinci. Kurasa dia yang membantu. Pisahkan mereka atau kejadian masa lalu akan terungkap. Kau mau berakhir di penjara?
Tommy menggeram kesal, sekian tahun ia hidup dalam kedamaian, kini kembali diusik oleh kejadian masa silam.
Bersambung...
Drama pojokan
Ghani : Rumit bener hubunganku sama Bylla.
Aku : Tak bikin gitu.
__ADS_1
Ghani : Kejam banget sama tokoh sendiri.
Aku : Makanya lebih rajin kalau kirim nasi pecel. Masa kirim cuma seminggu sekali, mana gak ada peyeknya lagi, kan bete.