Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Skandal Sang Bintang


__ADS_3

Kerlip lampu kota berpendar indah, seindah senyuman wanita yang duduk di sebelah Ghani.


Ghani dan Bylla sedang berada di dalam taxi, yang membawanya menuju Hotel Permata. Hotel tempat Bylla menginap, sebelum terbang ke Benua Eropa. Bylla sengaja memilih Hotel Permata, karena jaraknya tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal Ghani.


Ghani tersenyum tipis kala menatap gelang yang masih melingkar manis di tangan Bylla. Sungguh seperti mimpi, mendapatkan wanita yang dulu hanya mampu ia damba. Ia ingat betul awal pertemuan mereka. Sejak pandangan pertama, wajah Bylla selalu menari indah dalam ruang rasa.


"Ghani!" panggil Bylla.


Ghani terkesiap, lamunannya buyar seketika.


"Iya," jawabnya sambil menoleh dan menatap Bylla.


"Aku punya sesuatu untuk kamu, tapi tidak aku berikan sekarang," ucap Bylla sembari mengulas senyuman manis.


Ghani mengerutkan keningnya, "kok gitu?"


"Iya, karena ini sangat spesial, aku sendiri yang membuatnya. Akan kuberikan nanti setelah kamu menghalalkan aku," jawab Bylla.


"Kamu sendiri yang membuatnya, hmmm aku jadi penasaran. Berupa apa itu?" tanya Ghani.


"Buku."


"Buku?" Ghani mengulangi ucapan Bylla sambil mengernyit heran.


"Iya. Ehh tapi pikiranmu jangan kemana-mana ya, ini bukan buku aneh-aneh kok. Ini hanya___"


"Bylla, aku tidak pernah menilaimu seburuk itu," sahut Ghani dengan cepat.


"Kamu kaget, aku pikir nganggap yang aneh-aneh," kata Bylla.


"Aku kaget, karena nggak nyangka aja kamu mau kasih aku buku. Kamu bilang itu hasil buatanmu, sejak kapan kamu membuat buku?" tanya Ghani.


Bylla tersenyum lebar, "sejak kenal kamu."


"Aku serius Bylla."


"Aku juga serius Ghan."


Ghani menghela napas panjang, "kalau boleh tahu, itu buku tentang apa?"


"Tentang rasa." Jawab Ghani dengan cepat.


"Hah!"


"Kenapa kaget, isinya memang tentang perasaan kok. Kamu nggak tahu ya, kalau aku ahli cinta," ucap Bylla sambil menatap Ghani.


"Perasaan siapa, apa semacam diary, atau puisi gitu?" tanya Ghani penasaran.

__ADS_1


"Bukan."


"Lantas?"


"Ahh sudahlah jangan banyak tanya. Itu rahasia ya Ghan, nanti saja kalau sudah nikah. Aku kasihkan buku itu ke kamu, silakan dibaca, dan aku yakin kamu pasti suka," kata Bylla dengan penuh percaya diri.


"Eh aku tambah penasaran, Bylla. Isinya tentang apa sih, kasih cuplikannya dong, sedikit saja!" ujar Ghani.


"Tidak, nanti aja kalau sudah nikah. Udah tak kasih tanda titik ya, nggak boleh tanya-tanya lagi," kata Bylla.


"Aku mau koma," sahut Ghani dengan santainya.


"Titik."


"Koma."


"Titik Ghani."


Perdebatan kecil yang berhasil membuat keduanya tertawa. Dengan cinta, hal sederhanapun akan jadi lebih indah. Apalagi cinta yang merangkul di ujung rindu. Tak harus mencium, ataupun tidur bersama. Dengan perbincangan saja, romantisme itu bisa tercipta.


Namun sayang, canda mesra itu harus terhenti saat itu jua. Taxi yang membawa mereka telah tiba di halaman hotel. Ghani turun dari mobil dan membukakan pintu untuk sang kekasih.


"So sweet," goda Bylla sembari melangkah turun.


"Punya kekasih bidadari, kalau nggak sweet nanti dia terbang lagi ke langit," jawab Ghani sambil menyeret koper milik Bylla. Keduanya melangkah masuk ke hotel. Tak lupa Ghani memakai jaket dan juga topi hitam.


"Kenapa pikiranmu pada kematian?" tanya Ghani sambil tetap melangkah.


"Kan tadi katamu terbang ke langit," ujar Bylla.


"Terus apa hubungannya dengan kematian? Gini ya, orang itu kalau mati dikubur dalam tanah Bylla, bukan dilempar ke langit tinggi," terang Ghani sambil tertawa.


"Nggak lucu," sungut Bylla.


"Tapi cantik."


"Apaan sih, nggak lucu Ghan," ucap Bylla sembari memukul lengan Ghani. Kendati demikian, pipinya mulai merona.


Tak lama kemudian, keduanya tiba di depan pintu kamar Bylla. Ghani meletakkan kopernya di sana, dan kemudian pamit pulang. Keduanya saling memandang sebelum berpisah. Berharap esok hari, ada waktu untuk meneruskan sepenggal kisah.


***


Sang surya baru merangkak naik dari ufuk timur. Sinar jingga yang menyemburat indah masih terasa hangat kala menerpa.


Suasana pagi yang masih khas dengan aroma basah, tak menghentikan niat Tommy untuk mengunjungi Batas. Ada sedikit hal yang ingin ia bicarakan dengan salah satu personel mereka.


"Pagi Sat!" sapa Tommy sambil menghampiri Satya di ruang dapur.

__ADS_1


"Pagi Om, tumben sudah sampai sini," jawab Satya sembari mengaduk kopi hitam yang baru saja diseduhnya.


"Di mana Ghani?" tanya Tommy.


"Ada di atas. Kenapa___"


"Baiklah, aku akan ke atas," potong Tommy sambil melangkah pergi.


Satya menatapnya sambil mengernyitkan kening. Kendati ia tak membuka suara, namun rasa penasaran menyeruak dalam benak. Apa yang terjadi?


Di lantai dua, Ghani sedang duduk manis di sofa. Menatap lembaran kertas putih yang terbentang di atas meja. Beberapa aksara sudah ia rangkai di sana, sebait lirik yang lengkap dengan aransemen.


Jemarinya masih menjepit sebuah pena, namun bingung apa yang akan ditulisnya. Lirik yang sudah jadi, belum memuaskan hati Ghani. Tapi ia tak tahu bagian mana yang harus dibenahi.


Disaat ia masih larut dalam tulisannya sendiri, tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar. Ghani menyuruhnya masuk, dan sedikit heran setelah tahu siapa yang datang.


"Mmm ada apa ya, Om?" tanya Ghani sembari menatap Tommy.


Tidak mungkin Tommy datang hanya untuk melihatnya. Semoga bukan tentang Alina.


"Apa yang kau lakukan semalam, Ghani?" Tommy balik bertanya.


"Semalam?"


Tommy meletakkan ponselnya di atas meja, "lihat itu, agar kau bisa mengingatnya!"


Ghani meraih ponsel milik Tommy, dan ia terperangah kala menatap berita hangat yang tertera di sana.


SKANDAL SANG BINTANG


Sebaris judul yang ditulis dengan hituf kapital. Jantung Ghani berdetak dengan cepat, lantas ia membaca isi dari berita itu.


Ghani Alghibrani, vocalis Batas yang namanya semakin melambung. Berhasil mencuri hati netizen karena keromantisannya bersama Evelyna Patricia. Namun tanpa publik ketahui, Ghani terlibat skandal dengan wanita Indo. Bahkan mereka sudah tidur bersama di sebuah hotel.


Lalu Ghani menatap beberapa poto yang diunggah di sana. Sewaktu ia dan Bylla di Bandara, juga sewaktu masuk ke hotel.


Tak lupa Ghani juga mengintip beberapa komentar, kebanyakan mereka menghujat Bylla sebagai pelakor. Ada juga yang menyebut dirinya bodoh, meninggalkan Evelyna demi wanita sederhana.


"Siapa dia?" tanya Tommy sambil menatap Ghani.


Ghani menghela napas panjang, "dia kekasihku Om. Aku dan dia menjalin hubungan, sebelum aku bergabung dengan Batas. Inilah alasannya kenapa aku keberatan bersandiwara dengan Evelyn."


"Kalau kamu tidak bersandiawara, namamu tidak akan dikenal. Netizen pasti menolakmu, dan kamu tidak akan bisa mengganti posisi Livay!" kata Tommy dengan tegas.


"Kenapa kamu sangat sembrono, bertemu di bandara, di hotel. Itu tempat umum Ghani, dan kamu tidak memakai masker. Kamu sengaja menantang publik? Aku tidak mau tahu ya, kamu harus mengklarifikasi masalah ini. Aku tidak mau nama baik Batas tercoreng hanya karena skandal kamu!" sambung Tommy sembari melipat tangannya di dada.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2