Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Evelyna Patricia


__ADS_3

"Ghani! Woi kamu kenapa?" teriak Arsen sambil menepuk bahu Ghani.


Keempat pasang mata itu, semua menatap ke arah Ghani yang sedang terpaku.


"Kamu ada masalah?" Rizki mulai angkat suara. Diantara mereka, Rizki yang paling pendiam. Ia tidak banyak bicara seperti yang lainnya.


"Aku sedikit kaget mendengar rencana itu, Om Tommy sama sekali tidak memberitahuku." Kata Ghani dengan pelan.


"Apakah menurutmu rencana itu buruk? Mungkin kedengarannya sedikit curang, tapi ya memang seperti inilah dunia selebritis. Bukan hanya kita saja kok, lainnya juga banyak yang melakukan hal seperti ini, karena ini adalah cara yang paling instan untuk mendongkrak popularitas," ucap Bryan dengan santainya.


"Sipp, dan bukan hanya penyanyi, artis sinetron, film, model, banyak yang melakukan settingan biar kembali laku," Arsen ikut menimpali.


"Tenang saja, Evelyn itu cakep kok. Kalau settingan ini berujung jadi kisah nyata, kamu yang menang banyak," kata Rizky sambil menepuk-nepuk bahu Ghani.


Cukup lama Ghani terdiam, membiarkan diri dalam keheningan, sementara teman-temannya larut dalam canda dan tawa. Setelah beberapa menit kemudian, Ghani mulai membuka suara.


"Sebenarnya, aku sudah punya pacar, itu yang membuat aku ragu. Harus banget ya, pura-pura jadi pacarnya model itu," ucap Ghani seraya menatap teman-temannya secara bergantian.


"Ini hanya settingan Ghan, kamu tinggal jelaskan saja semuanya sama pacar kamu, aku yakin dia bisa mengerti," ucap Bryan yang kemudian ditanggapi anggukan oleh teman-temannya.


Ghani masih terdiam, banyak hal yang berkecamuk di dalam benaknya. Benarkah Bylla akan mengerti?


"Itu ada telepon, gunakan saja! Hubungi pacar kamu, dan jelaskan semuanya. Besok malam kamu harus mengisi acara reality show bersama Evelyn, memang lebih baik, jika kamu jelaskan terlebih dahulu." Kata Satya dengan tegas.


"Ini adalah kesempatan yang langka Ghan, ikuti saja alurnya. Om Tom pasti bisa mengantarkan kamu menjadi sang bintang, dia tahu apa yang dia lakukan," sela Arsen sambil tersenyum lebar.


"Baiklah, aku akan meminjam teleponnya sebentar." Kata Ghani.


"Gunakan saja, tidak perlu sungkan. Setelah kau resmi menjadi personilnya Batas, kau juga punya hak atas barang-barang yang ada di rumah ini," jawab Satya.


Ghani melangkah mendekati meja kecil di sudut ruangan. Ia mengangkat gagang telepon, dan menekan beberapa tombol angka yang tertera di sana.


Tak lama kemudian, sambungan telepon mulai terhubung. Suara anggun dan merdu, menyambutnya dari seberang sana.


"Hallo, ini siapa ya?" tanya Bylla.


"Assalamu'alaikum Bylla." Ucap Ghani.


"Waalaikumsalam. Ini kamu Ghan?" tanya Bylla dengan riang.


"Iya, aku sudah tiba di Jakarta." Jawab Ghani.


"Syukurlah, bagaimana di sana?" tanya Bylla.


"Tidak ada masalah, hanya saja___" Ghani menggantungkan kalimatnya, rasanya sangat sulit untuk berterus terang pada Bylla. Baru saja sehari ia pergi, haruskah membuatnya kecewa?

__ADS_1


"Kenapa, ada masalah?" tanya Bylla.


"Sebenarnya bukan masalah, tapi___


Maafkan aku Bylla," ucap Ghani dengan pelan.


"Ada apa, kenapa kamu meminta maaf? Ghani bicaralah yang jelas, aku tidak mengerti," kata Bylla dari seberang sana.


"Sebelum menjadi vocalis Batas, publik harus mengenal namaku. Dan untuk mendapatkan nama itu, aku harus menjalankan apa yang Om Tommy rencanakan, yaitu berpura-pura menjadi pacarnya model papan atas," ucap Ghani sambil menghela napas panjang.


Sejujurnya ia sangat berat mengatakan hal ini, namun bagaimana lagi, ia tak mungin menyembunyikan semuanya, nanti Bylla malah akan salah paham dengannya.


"Menjadi pacarnya model?" gumam Bylla dengan pelan.


Dari nada suaranya, sangat ketara jika ia sedang menahan kecewa.


"Hanya pura-pura, aku tidak bisa menolaknya Bylla. Percayalah padaku, perasaanku tidak akan pernah berubah," ucap Ghani dengan sungguh-sungguh.


"Aku percaya, kejarlah masa depanmu, dan aku selalu menunggumu di sini," jawab Bylla.


"Terima kasih Bylla, jaga dirimu baik-baik," ucap Ghani.


"Iya, kau juga."


Ghani masuk di ruangan yang paling ujung, ruangan yang sekarang akan menjadi kamarnya. Ghani meletakkan tas miliknya di atas sofa, lalu ia duduk di tepi ranjang. Ghani meraba sprei cokelat yang bermotif panda, ada perasaan sakit yang menjalar begitu saja dalam hatinya.


Di dalam ruangan yang mewah, ia hanya seorang diri, ia meninggalkan Arron dan anak-anak asuhnya dalam kekurangan. Meskipun ia melakukan ini demi masa depan mereka, namun entahlah, Ghani merasakan sakit yang teramat sangat.


Di awal karier yang akan dikejarnya, ia harus mengecewakan wanita yang sangat dicintainya. Niat hati ingin memantaskan diri, namun entahlah, sepertinya tidak semudah itu.


"Ya Allah, tolong takdirkan Bylla untuk hamba. Berikanlah jalan yang terbaik untuk kami berdua. Lindungilah Arron, dan lindungilah anak-anak. Semoga pilihan hamba menjadi harapan terang bagi mereka," ucap Ghani sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Bylla menunduk lesu di atas kursi roda yang selalu menopang tubuhnya. Mendapat telepon dari Ghani, hatinya mulai tidak nyaman. Kendati wajahnya nyaris sempurna, dan statusnya sebagai anak orang kaya, namun karena lumpuh di kakinya, kepercayaan dirinya menyurut. Bylla takut, jika suatu masa ia kembali patah hati, seperti halnya saat bersama Reymond.


Bylla menatap cincin manis yang melingkar di jemarinya, ia mengusapnya pelan, dan kemudian menggenggamnya dengan erat.


"Aku selalu menunggumu Ghan, aku sudah melabuhkan hatiku padamu, tolong jangan kecewakan aku," bisik Bylla seorang diri.


"Sayang, ada apa?" tanya Ella yang tiba-tiba berdiri di samping Bylla. Ia mengusap rambut anaknya dengan lembut, penuh kasih sayang.


Bylla menimang-nimang ponsel yang digenggamnya, ia masih diam hingga beberapa detik lamanya.


"Aku takut Ma," ucap Bylla sambil menghela napas panjang.


"Apa yang kamu takutkan?" tanya Ella.

__ADS_1


"Ghani merintis kariernya sebagai penyanyi. Jika ia sukses, apakah masih mau dengan diriku yang cacat ini. Sementara di sekitarnya, pasti banyak wanita yang lebih sempurna daripada aku Ma," kata Bylla mengungkapkan satu hal yang sangat mengusik benaknya.


Ella tersenyum, lalu ia menggenggam kedua tangan Bylla, dan menatapnya lekat-lekat.


"Cinta sejati tidak memandang fisik Bylla. Kau lihat Mama dan Papa, Mama hanya wanita sederhana, wajah Mama juga seperti ini, tidak lebih cantik dari kamu. Sedangkan Papa, dia adalah lelaki yang luar biasa. Tampan, mapan, bijaksana, kepribadiannya baik, benar-benar sempurna. Tapi buktinya, Papa memilih Mama." Kata Ella dengan panjang lebar.


"Tapi Mama tidak cacat," gumam Bylla sambil menunduk.


Ella menggigit bibirnya, ia tahu kecelakan yang menimpa Bylla, mengubahnya menjadi pribadi yang sangat rapuh. Terlebih lagi, lelaki yang dicintainya langsung pergi, padahal hari pernikahan tinggal satu minggu lagi. Ella tahu, kenyataan ini sangat memukul Bylla. Hingga anak gadisnya itu kehilangan kepercayaan diri.


"Kamu tidak cacat Bylla, kamu hanya sedang sakit. Bukankah Papa sudah memberitahumu, jika dokter kenalannya akan segera tiba. Besok setelah dia datang, kamu akan ditangani, kaki kamu akan sembuh seperti sedia kala. Percaya sama Mama," ucap Ella sambil tersenyum, ia berusaha meyakinkan anaknya, dan membuat semangatnya kembali membara.


Bylla masih bergeming, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


"Dulu, Mama tinggal di Indonesia, dan Papa, dia tinggal di Paris. Tapi takdir mempertemukan kami di London, kami saling mencintai dan akhirnya menikah. Seperti itulah jika sudah jodoh Bylla, apapun yang terjadi pasti ada jalan untuk bersama. Percayakan semuanya kepada Allah, biarkan Dia yang mengatur semuanya. Panjatkan doa, dan gantungkan harapanmu pada-Nya, Mama yakin nanti hatimu akan tenang," ucap Ella seraya mengusap lembut pipi Bylla.


Bylla tersenyum, wanita yang ia panggil mama, adalah wanita yang paling sempurna baginya. Tutur sapanya, tindak tanduknya yang lemah lembut, selalu berhasil menenangkan hati dan perasaan.


"Aku sayang Mama," kata Bylla sambil memeluk ibunya dengan erat.


"Mama juga sangat menyayangimu, Nak." Jawab Ella.


***


Sang rembulan menggantung indah di angkasa raya, bertemankan dengan ribuan kerlip bintang, dan mega-mega kelabu yang berarak pelan.


Di sebuah taman, di halaman rumah yang baru beberapa jam lalu dipijaknya. Ghani duduk di atas kursi, berhadapan dengan seorang wanita yang luar biasanya cantiknya.


Wajahnya oval dan tirus, hidung mancung, dan bibirnya tebal kemerahan. Mata bulatnya dihiasi lensa warna cokelat, senada dengan warna rambutnya. Kulitnya putih mulus, tanpa ada cela sedikitpun. Postur tubuhnya langsing dan sintal, gambaran yang nyaris sempurna.


"Lebih cantik Bylla." Batin Ghani kala pertama kali menatap wanita yang bernama Evelyna Patricia. Entah kenapa ia langsung membandingkannya dengan Bylla.


Ghani menggoyang-goyangkan gelas minumannya. White coffe yang tinggal setengah, tampak bergerak-gerak seirama dengan gerakan tangannya.


Ia merasa kurang nyaman saat duduk berdua dengan Evelyn. Andai saja boleh memilih, ia akan mengajak Evelyn masuk ke dalam rumah, dan duduk bersama teman-temannya. Namun tidak, dengan dalih agar saling mengenal, mereka harus duduk berdua di sana.


"Tidak perlu canggung Ghan, ke depannya kita akan sering terlibat kerjasama. Anggap saja kita teman lama," ucap Evelyn sambil tersenyum, lalu ia menyesap secangkir teh hijau yang ada di hadapannya.


"Iya." Jawab Ghani dengan singkat.


"Besok kau tidak boleh seperti ini Ghani, kau harus rileks dan bersikap senatural mungkin. Jangan kecewakan Om Tom, kau harus mendalami peran ini, agar nama Batas kembali melambung," ucap Evelyn sambil membungkuk ke depan.


"Kau harus terbiasa dengan ini," sambung Evelyn sambil mengerlingkan matanya, seraya menggenggam jemari Ghani.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2