
Bylla mengakhiri sambungan teleponnya, dan kemudian membanting ponselnya begitu saja ke atas meja. Telaga bening mulai menggenangi manik birunya. Baru tiga bulan Ghani pergi, namun telah banyak hal yang ia rasakan.
Semakin hari, rasa takut dan khawatir semakin menyeruak dalam hatinya. Keyakinannya perlahan terkikis, ia takut jika suatu saat nanti Ghani berpaling darinya, seperti halnya yang telah dilakukan oleh Reymond.
"Semoga kamu tidak menodai kepercayaanku, aku benar-benar takut kehilangan kamu Ghani," ucap Bylla dengan pelan, seraya menatap ponsel miliknya dengan nanar.
Bylla mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menerka apa yang sebenarnya terjadi. Namun hingga sekian menit lamanya, Bylla belum juga mendapatkan alasan yang positif, pikirannya sudah dipenuhi dengan prasangka negatif.
Ketika Bylla masih larut dalam kekesalannya, tiba-tiba ponselnya bergetar. Dengan cepat Bylla kembali meraihnya, ternyata sebuah pesan dari nomor Ghani.
"Apa yang dia kirimkan padaku, apakah mau pamer kalau dia adalah kekasihnya, dan menyuruhku untuk menjauhinya, norak!" umpat Bylla sambil menatap layar ponselnya.
"Tidak, aku tidak akan membuka pesan darimu. Aku sama sekali tidak tertarik dengan tulisanmu!" sambung Bylla tanpa mengalihkan tatapannya.
Kendati mulutnya mengumpat demikian, namun tangannya berkhianat. Tanpa dipinta, jemari telunjuknya mengusap layar ponsel itu, dan akhirnya pesan dari nomor Ghani terpampang begitu jelas. Bylla menatap tajam pada rangkaian kata demi kata, yang membentuk sebuah kalimat.
Maaf, semalam ponselnya Ghani tertinggal di studio. Aku takut hilang, jadi aku bawa pulang. Rencananya nanti siang akan kukembalikan, sambil menemui Bryan, salah satu personil Batas.
Sebaris pesan yang dikirimkan dari nomor Ghani. Bylla terhenyak, kenapa bukan umpatan atau makian, kenapa malah kata maaf? Apakah ia telah salah menilai hubungan mereka?
Bylla menimang-nimang ponselnya, sambil sesekali menghela napas panjang.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, membalasnya dengan kata terima kasih, ah tidak, nanti besar kepala dia," gerutu Bylla dengan pelan.
"Aku sudah terlanjur kesal sama kamu, kesal, kesal, kesal! Menyebalkan, seharusnya tidak usah diangkat, atau kamu memang sengaja membuatku cemburu, iya! Dasar wanita tidak punya perasaan!" umpat Bylla sambil mendaratkan tubuhnya di sofa dengan sangat kasar.
Bylla melipat tangannya di dada, kedua bahunya terlihat naik turun, mengikuti irama napasnya yang cepat.
Tak berapa lama kemudian, ponselnya kembali bergetar. Bylla meliriknya sekilas, ada panggilan dari nomor yang tak dikenal.
Bylla mengernyitkan keningnya, siapakah gerangan? Wanita tadi, ataukah orang lain?
Setelah cukup lama ponsel itu berdering, akhirnya Bylla meraihnya, dan menerima teleponnya.
"Hallo," sapa Bylla dengan malas.
"Assalamu'alaikum, Bylla." Ucap seseorang dari seberang sana.
Ibarat padang tandus yang diguyur air hujan, sangat menyejukkan. Seperti itu jua perasaan Bylla saat ini, ia luar biasa bahagia, kala mendengar suara yang sangat dirindukannya.
"Waalaikumsalam." Jawab Bylla masih dengan nada datar.
Kendati ia sangat bahagia, namun ia juga masih sedikit kesal. Dan Bylla akan menunjukkan kekesalannya, agar Ghani tahu jika dirinya cemburu.
__ADS_1
"Kok nadanya gitu banget?" tanya Ghani.
"Gara-gara kamu," jawab Bylla dengan cepat.
"Aku?" tanya Ghani.
"Ponselmu di mana, jawab dengan jujur! Ghani, sekarang juga aku ingin bicara denganmu!" kata Bylla dengan tegas.
Ghani bukanlah lelaki yang peka, entah karena ia belum pernah pacaran, atau karena ia menganggap semua orang akan bersikap seperti dirinya, selalu berpikir positif.
"Ponselku ketinggalan di studio, semalam syutingnya sampai larut. Aku sangat lelah, dan tidak sengaja meninggalkan ponselku di sana. Ponselku dibawakan Evelyn, nanti akan diantarkan ke sini, kebetulan dia juga ada janji dengan Bryan." Ucap Ghani menjelaskan dengan panjang lebar.
Bylla menghela napas panjang, jawaban Ghani sama persis dengan wanita itu.
"Bylla!" panggil Ghani, karena Bylla diam tanpa kata untuk beberapa detik lamanya.
"Ini nomor siapa?" tanya Bylla dengan pelan.
"Ini nomornya Bryan, aku pinjam ponselnya karena ingin menghubungimu." Jawab Ghani.
Lagi-lagi Bylla terdiam, mungkin Ghani memang tidak salah. Namun entahlah, Bylla merasa kurang nyaman dengan pekerjaan Ghani saat ini. Meskipun ia lebih tampan dan memiliki uang, namun Bylla lebih menyukai Ghani yang dulu. Tak apa meski sederhana, dan tak punya banyak harta, asalkan dia tidak dikelilingi oleh banyak wanita.
"Bylla! Kamu kenapa?" tanya Ghani dengan embusan napas yang panjang. Sepertinya lelaki itu mulai tahu, jika Bylla sedang tidak baik-baik saja.
"Tentu saja tidak, katakan saja Bylla! Maaf, aku memang tidak bisa memahami wanita," ucap Ghani.
"Aku cemburu." Kata Bylla, singkat, padat, dan jelas.
Bylla tidak ingin hubungannya kandas, untuk itu ia rela menurunkan sedikit harga dirinya.
"Cem...cemburu?"
"Iya, aku cemburu dengan lawan mainmu. Aku, aku, aku___" Bylla tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Meskipun ia sangat ingin mengungkapkan isi hatinya, namun ia juga takut menyinggung perasaan Ghani.
"Bylla, lanjutkan saja. Katakan apa yang ingin kamu katakan!" kata Ghani dari seberang sana.
Bylla masih terdiam, ia hanya memejamkan matanya, menghalau buliran bening yang hendak merembas keluar.
"Bylla!" panggil Ghani, namun masih belum ada jawaban dari Bylla.
"Selama ini aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini, selama ini aku belum pernah memiliki pasangan. Jadi maafkan aku, aku tidak bisa meraba isi hatimu, aku tidak bisa memahami sikap pasanganku. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku sangat mencintaimu Bylla. Aku ingin menikahimu, dan menjalani sisa hidupku bersamamu," kata Ghani dengan panjang lebar.
Bylla membuka matanya, setetes demi setetes buliran bening, lolos begitu saja membasahi pipinya. Ini adalah pertama kalinya Ghani mengatakan cinta, setelah menjalani hubungan sekian bulan lamanya.
__ADS_1
"Dalam setiap doaku, aku selalu menyebut namamu, aku memohon agar diberi kemudahan dalam menapaki jalan untuk menggapaimu. Bylla, perasaan ini tulus untukmu. Aku ingin menjadikanmu wanita pertama dan terakhirku." Sambung Ghani dengan serius.
Bylla semakin menangis. Haru dan bahagia menyelimuti benaknya. Tanpa sadar, Bylla benar-benar menjatuhkan hatinya pada lelaki itu.
"Aku juga mencintaimu Ghani," satu kalimat yang melontar begitu saja dari mulut Bylla.
Meskipun sebenarnya banyak kalimat yang ingin ia ungkapkan, namun kenyataannya hanya satu kalimat itu yang berhasil ia ucapkan.
"Kita berdua saling mencintai. Mari kita berdoa bersama-sama, semoga Allah merestui perasaan kita, dan menyatukan kita dalam ikatan halal. Bylla, sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan. Bantu aku agar tidak mengecewakan kamu," ucap Ghani dengan lembut.
"Kamu yakin tidak marah? Kamu yakin ingin tahu apa yang mengganjal dihatiku?" tanya Bylla.
"Iya, dalam suatu hubungan, bukankah lebih baik untuk saling terbuka," jawab Ghani.
Lagi-lagi Bylla menghela napas panjang, sebelum kembali membuka suara.
"Ghani!"
"Hmmm."
"Sebenarnya aku lebih nyaman dengan kamu yang dulu. Melihatmu menjadi penyanyi, aku sedikit berat. Ghani, tidak bisakah kamu kembali?" tanya Bylla dengan hati-hati.
"Bylla, bukannya aku mengabaikan keinginanmu. Tapi, aku juga membutuhkan pekerjaan ini. Aku ingin memberikan masa depan yang layak untuk anak-anak, aku juga ingin mencari bekal untuk menikahimu. Aku tahu, kamu sama sekali tidak kekurangan. Tapi sebagai lelaki, aku juga ingin bertanggungjawab. Setelah menikahimu, aku ingin memberikan kehidupan yang layak untukmu. Aku ingin membahagiakan kamu dengan keringatku sendiri. Aku tidak ingin kamu merasa malu, karena memilih pasangan sepertiku," jawab Ghani dengan panjang lebar.
Bersambung....
Hai kakak-kakak semua, terima kasih ya masih mendukung karya recehku sampai saat ini. Dukungan kalian adalah semangat bagiku, aku harap semoga kalian betah menemani Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa hingga episode akhir.
Besok kita sudah memasuki bulan Ramadhan (bagi yang beragama islam). Untuk itu, mari kita saling memaafkan, sebelum menyongsong bulan suci yang penuh berkah.
Maafkan aku ya kakak-kakak semua, atas semua salah dan khilaf, baik yang kusadari maupun yang tidak kusadari.
Marhabban ya Ramadhan, semoga Allah memberikan kemudahan dan keberkahan untuk kita semua. Semoga Allah masih mengijinkan kita untuk bertemu dengan hari kemenangan.
Selain kata terima kasih dan kata maaf, aku juga ingin menulis sedikit pemberitahuan. Mulai hari ini sampai lebaran, di dunia nyata banyak sekali kesibukan. Jadi maaf ya, seandainya terlambat up atau terlambat membalas komentar. Aku harap kakak-kakak semua maklum, dan masih betah dengan cerita ini.
Selepas lebaran, aku usahakan up dan balas komentar seperti biasanya.
Sekali lagi terima kasih, dan mohon maaf lahir dan batin.
Salam manis dari penulis
Gresya Salsabila
__ADS_1