
Sambil menyeka sisa-sisa air mata, Bylla melangkah menuju pintu, dan membukanya dengan lebar.
"Vand, ini beneran kamu?" Bylla seakan tak percaya melihat sosok Keyvand di apartemennya.
"Lebih ganteng sih, tapi masa iya kamu lupa, Byl?" goda Keyvand. Ia melenggang masuk ke kamar Bylla, tak peduli akan diijinkan atau tidak oleh sang empunya.
"Vand! Main nyelonong aja, nggak sopan tahu!" teriak Bylla.
"Sejak kapan aku sopan," jawab Keyvand tanpa rasa bersalah. Ia duduk di sofa sambil mengangkat kakinya.
Bylla tersenyum miring, dalam hati ia membenarkan kata-kata keyvand. Dia bukan lelaki elegan yang penuh dengan wibawa. Dia hanyalah lelaki apa adanya, yang terkadang kekanak-kanakan dan tidak punya sopan santun. Namun dibalik sikapnya yang demikian, Keyvand adalah sosok yang bijak dan baik hati.
"Kamu kenapa ada di sini?" tanya Bylla.
"Nggak boleh?"
"Vand aku serius, aku lagi nggak minat bercanda." Bylla mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang dengan kasar.
"Pertanyaanmu aneh Byl. Kamu 'kan mau nikah, tentu saja aku datang. Aku tadi sudah sampai di rumahmu, tapi kata Mama Ella kamu ada di apartemen. Ya sudah aku ke sini," ujar Keyvand.
"Masih minggu depan," gumam Bylla.
"Terus aku harus datang kapan, bulan depan?"
Bylla memutar bola matanya dengan jengah, "terserah kamu, nggak datang juga nggak apa-apa."
"Kamu ada masalah?" tanya Keyvand.
"Enggak,"
"Bohong. Wajahmu kusut banget, persis jemuran yang nggak disetrika." Keyvand menyuap snack yang ada di atas meja Bylla.
Bylla tak menjawab, dia hanya mengembuskan napasnya dengan kasar. Berharap beban hati sedikit berkurang, seiring udara yang dibuangnya.
Keyvand menatap Bylla lekat-lekat, ia tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikannya.
"Kalau ragu mundur aja, jalanmu masih panjang Byl," celetuk Keyvand.
"Jangan gila Vand, pernikahanku udah minggu depan! Apa kata Papa dan Mama kalau aku tiba-tiba minta batal," teriak Bylla.
"Jadi sebenarnya kamu memang tidak mencintai dia." Keyvand beranjak dari duduknya, dan berdiri di depan Bylla sambil melipat tangan.
"Apa, apa maksudmu?" tanya Bylla dengan gugup.
__ADS_1
"Kalau kamu memang mencintai dia, jawabanmu tidak akan seperti itu, Bylla!" ucap Keyvand.
Bylla tak menjawab, dia hanya menunduk sembari menitikkan air mata. Kedua tangannya meremas pinggiran sprei dengan erat. Sakit, itulah satu kata yang melukiskan perasaannya saat ini.
"Bylla! Kamu nangis? Hei kenapa?" teriak Keyvand.
"Aku masih mencintai Ghani Vand," bisik Bylla.
"Ghani penyanyi itu?"
"Iya. Tapi dia sudah menikah," jawab Bylla masih dengan suara pelan.
"Dasar lelaki berengsek, awas aja ya kalau ketemu, aku bikin babak belur tuh wajah!" geram Keyvand dengan penuh emosi.
Lantas Keyvand kembali menatap Bylla, "Byl, cowok kayak dia nggak pantes kamu tangisi, sayang air mata kamu."
"Aku juga nggak pengen nangis, tapi ini jatuh sendiri." Bylla menyeka air mata dengan kedua jemarinya.
"Sekarang aku mau tanya serius sama kamu. Kamu yakin dengan pernikahan ini, kamu yakin akan bahagia dengan Rubben?" tanya Keyvand.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"
"Pernikahan itu menyangkut masa depan, Bylla. Kamu tidak bisa memutuskannya hanya berdasarkan emosi. Aku tahu kamu kecewa dengan Ghani, dan mencari pelarian untuk melupakan dia. Tapi jangan main-main dengan pernikahan Bylla, itu sekali dalam hidup kamu. Jangan sampai di masa depan kamu menyesal, dan memilih perceraian. Itu sangat buruk," terang Keyvand dengan tegas.
"Selain Rubben, pasti masih ada lelaki lain yang mencintaimu. Bylla, kamu tidak perlu mengorbankan masa depanmu hanya karena kecewa," kata Keyvand dengan berapi-api.
"Kamu tidak mengerti Vand! Ini adalah keputusanku, aku pasti bahagia menikah dengan Kak Rubben," jawab Bylla dengan nada yang sedikit tinggi.
"Aku sudah dewasa, usiaku terus bertambah. Aku tidak bisa menunggu hal yang tidak pasti. Sudah ada Ghani yang menempati seluruh ruang dalam hati, ke depannya aku tidak akan bisa mencintai yang lain. Tapi lelaki itu sudah menikah, aku tak punya harapan lagi. Jadi tidak ada salahnya kalau aku menerima Kak Rubben," batin Bylla.
"Baiklah, aku percaya padamu." Keyvand menepuk bahu Bylla dengan pelan.
"Ayo pulang, tadi Mama dan Papa mencarimu," kata Keyvand setelah hening beberapa menit.
"Om dan Tante ikut ke sini?" tanya Bylla.
"Menurutmu?"
"Aku kira tidak datang secepat ini," gumam Bylla dengan pelan.
"Mereka juga orang tuamu Byl, masa iya datangnya minggu depan," ujar Keyvand.
"Iya juga sih. Ya udah aku siap-siap dulu, tunggu di luar gih!" Bylla beranjak dari duduknya, dan melangkah menuju kamar mandi.
__ADS_1
***
Ghani duduk sendiri di balkon kamar, menatap indahnya Kota Paris saat malam. Gemerlap lampu yang berpendar, bak cerminan bintang di angkasa raya. Semilir angin yang menyapu wajahnya, tak sedingin hati dan perasaan.
Ghani mengacak rambutnya dengan kasar, ingatannya terus menerawang memikirkan Bylla. Jika menuruti kata hati, ia akan mencari Bylla detik itu juga. Namun keadaan yang membuatnya tak bisa melakukan itu. Tadi sore, dia masih harus menyelesaikan syuting. Dan malam, ini, ia diminta menemani Tommy belanja.
"Ghani!" panggil Satya dari belakang.
Ghani tak menjawab, namun ia menoleh dan beranjak dari duduknya.
"Evelyn mencarimu," ucap Satya.
"Evelyn, ada perlu apa?" tanya Ghani dengan heran.
"Mana kutahu, temui saja." Satya mengedikkan bahunya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Ghani melenggang pergi. Ia menemui Evelyn yang berada di ambang pintu.
"Ada apa Ev?" tanya Ghani.
"Om Tom masih ada pekerjaan. Jadi urusan belanja, ia serahkan padaku. Ayo!" ajak Evelyn dengan senyum yang mengembang.
"Mmmm sebenarnya aku sedikit lelah, bagaimana kalau kamu sama yang lain saja," jawab Ghani berusaha menghindar. Akhir-akhir ia merasa risih dengan sikap Evelyn.
"Kata Om Tom harus sama kamu," sahut Evelyn.
"Apa bedanya aku sama yang lain," kata Ghani mulai emosi.
"Ghan, ini perintah Om Tom. Kamu tidak mau 'kan, kalau dia marah?" Evelyn menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Ayo!" ucap Ghani sambil melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia merasa kesal dengan sikap Tommy dan Evelyn yang seakan menindas. Lama-lama ia kehilangan arah dan tujuan dalam hidupnya.
"Ghan, tunggu! Jangan terlalu cepat!" teriak Evelyn, ketika mereka sudah tiba di halaman hotel.
Ghani tak menjawab, dia terus melangkah, bahkan lebih cepat. Evelyn sedikit kesulitan mengimbanginya, karena saat itu dia sedang mengenakan high hells.
"Ghan, kamu ini kenapa sih? Kakiku lecet tahu," gerutu Evelyn dengan manja.
"Aku lelah Ev," ucap Ghani dengan datar. Ia terus melangkah sambil memasukkan kedua tangannya di saku jaket.
"Dasar menyebalkan! Kalau bukan karena ingin membungkam mulutmu, aku tidak akan sudi melakukan ini, Ghani!" geram Evelyn dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1