
Burung besi yang membawa Ghani dan Tommy, kini sudah mendarat dengan aman di Bandara Soekarno-Hatta. Ghani menghela napas panjang, saat menapakkan kakinya di Kota Jakarta. Kota yang menjadi pusat dari Negara Indonesia.
Ghani menoleh ke kanan dan ke kiri, ia berdecak kagum saat menatap bangunan megah yang berdiri kokoh di sekitarnya. Bandara ini jauh lebih besar, daripada Bandara Juanda.
"Hari ini aku akan mengantarmu ke rumah, di sana kau bisa berkenalan dengan personil Batas yang lainnya. Selanjutnya, besok pagi kita akan ke studio, kita latihan untuk persiapan album yang ketiga," kata Tommy sambil terus melangkah.
"Iya, Om." Jawab Ghani.
"Seperti apa ya personilnya, apakah mereka bisa menerima diriku? Ya Allah, semoga semuanya berjalan dengan lancar," batin Ghani sambil mengikuti langkah Tommy.
Tak lama kemudian, mereka tiba di dekat mobil warna hitam. Seorang lelaki dewasa menyambut mereka sambil tersenyum ramah.
"Silakan Tuan!" ucap lelaki itu sambil membuka pintu mobil.
"Terima kasih, ayo Ghani!" kata Tommy mengajak Ghani masuk ke dalam mobil.
"Iya, Om." Jawab Ghani sambil melangkah masuk ke dalam mobil, tak lupa ia juga memasukkan tas besar miliknya.
Sepanjang perjalanan, Tommy berbincang dengan supir yang sedang mengemudikan mobilnya. Tommy banyak bertanya tentang Bryan dan Rizki, entah siapa mereka, Ghani sama sekali tak bisa menebaknya.
Sedangkan Ghani, ia lebih memilih untuk memandangi gedung-gedung pencakar langit yang berbaris rapi di sepanjang jalan. Kota Surabaya memang kota yang padat, namun masih kalah jauh dengan Jakarta. Dari balik kaca mobil Ghani dapat melihat betapa sibuknya orang-orang yang berlalu lalang di sana. Seakan tidak ada kata santai dari raut wajah mereka.
"Apakah nanti kehidupanku juga akan sesibuk ini?" batin Ghani tanpa memalingkan pandangannya.
Ghani mengambil napas dalam-dalam, dan membungnya dengan pelan. Ia mencoba menenangkan hatinya sendiri. Salah ataupun benar, pilihan ini sudah ia ambil, ia tak mungkin membatalkannya begitu saja. Ghani mencoba meyakinkan hatinya sendiri, masih ada Tuhan yang selalu bersamanya. Jika pilihannya ini adalah salah, Tuhan pasti akan menunjukkan jalan yang benar, Tuhan tidak akan pernah meninggalkannya.
Sekitar setengah jam perjalanan, mobil yang membawa Ghani berhenti di depan rumah mewah berlantai dua. Rumah minimalis dengan dominan warna putih, di bagian depannya dilengkapi aneka bunga yang tertata dengan rapi, tampak elok dan asri.
Tommy dan Ghani turun dari mobil, sedangkan Pak supir, beliau tetap menunggu di dalam mobil.
Tommy mengajak Ghani untuk melangkah masuk ke dalam rumah.
Lagi-lagi Ghani berdecak kagum, kala menatap perabotan yang ada di rumah itu. Sofa, meja, dan pernak-pernik lainnya yang tampak berkilauan. Perabotan di sini tidak berbeda jauh dengan perabotan yang ada di rumah Bylla.
Benarkah ia akan tinggal di rumah mewah ini? Batin Ghani kala itu.
"Om Tom!" sapa seorang lelaki, ketika Ghani dan Tommy sudah tiba di ruang tengah.
"Hai Sat, yang lain mana?" tanya Tommy sambil menepuk lelaki yang bernama Satya.
__ADS_1
"Masih di atas Om." Jawab Satya.
"Bryan dan Rizki baik-baik saja, kan?" tanya Tommy.
"Tidak terlalu baik, tapi lebih mendingan daripada hari itu," jawab Satya sambil tersenyum.
"Syukurlah," ucap Tommy seraya membuang napasnya dengan kasar.
"Oh jadi Bryan dan Rizki itu personil Batas." Batin Ghani dalam hatinya.
"Apapun yang terjadi, kalian tidak boleh terpuruk, kalian harus bangkit bersama-sama. Om yakin, meskipun tanpa Livay, kalian pasti bisa." Sambung Tommy dengan sungguh-sungguh.
"Iya Om." Jawab Satya.
"Oh ya, tolong panggil yang lain, Om sudah membawa personil untuk menggantikan Livay," ucap Tommy sambil menatap Satya.
"Iya Om," jawab Satya seraya melangkahkan kakinya, dan pergi meninggalkan Tommy dan Ghani.
"Duduklah!" kata Tommy sambil menatap Ghani, lalu ia mendaratkan tubuhnya di sofa dalam ruangan itu.
"Iya Om," jawab Ghani sambil mengangguk, kemudian ia duduk di sebelah Tommy.
Ghani menunduk, ia merasa dirinya berbeda. Empat lelaki itu terlihat rupawan, kulitnya putih bersih dan halus. Sedangkan Ghani, ia sangat jauh dari kata itu.
"Dia adalah Ghani Alghibrani, dia yang akan menggantikan Livay. Aku harap kalian bisa saling bekerjasama, silakan berbincang dan mengenal satu sama lain. Aku harus segera ke studio untuk mempersiapkan latihan besok," kata Tommy dengan panjang lebar.
"Iya Om." Mereka semua menjawab bersamaan, termasuk juga Ghani.
Setelah itu Tommy beranjak dari duduknya, dan pergi meninggalkan mereka.
Kini tinggalah Ghani dan empat lelaki yang akan menjadi rekannya. Ghani menghela napas panjang, terlalu insecure untuk membuka suara terlebih dahulu.
"Aku Satya," ucap salah seorang dari mereka sambil mengulurkan tangannya.
"Ghani," jawab Ghani seraya menyambut tangan Satya.
"Aku Arsen."
"Aku Bryan."
__ADS_1
"Rizki."
"Ghani," ucap Ghani sambil menyalami mereka satu persatu.
"Om Tom sudah memberitahu kami tentang kamu. Semoga kamu betah bekerja dengan kami, dan semoga kehadiran kamu membawa kebaikan untuk Batas. Sejak Livay meninggalkan kami, Batas terpaksa harus vacum. Dan hal itu membuat nama Batas terus merosot." Kata Satya dengan panjang lebar.
Dia antara mereka, sepertinya Satya yang paling dewasa.
"Semoga saja, aku berjanji akan berusaha semaksimal mungkin, tapi juga tolong bantu aku ya. Awalnya aku juga tidak menyangka, bisa bertemu dengan Om Tommy, dan ditawari pekerjaan ini. Aku hanya pengamen jalanan, semua ini seperti mimpi bagiku," jawab Ghani sambil tersenyum kaku.
"Kau tenang saja, kami pasti membantumu. Kau tahu, kenapa band ini dinamakan Batas, itu karena kami semua berharap ini menjadi batas perjuangan kami. Kami semua, keculai Livay, itu juga berawal dari jalanan. Berkat Om Tom, kami semua menjadi seperti sekarang." Kata Satya.
"Iya, kau tidak perlu minder dengan statusmu. Kita semua sama, aku yakin dalam waktu dekat kau akan terbiasa dengan semua ini," sela Arsen sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih, aku sangat senang mendengarnya," ucap Ghani sambil membalas senyuman Arsen. Ia bernapas lega, karena mendapat sambutan yang luar biasa baik dari rekannya.
"Beristiratlah terlebih dahulu, nanti malam Evelyn akan ke sini untuk menemuimu. Kalian harus saling mengenal, agar nanti tidak canggung, biar kesannya natural," ucap Satya sambil menyulut rokok yang baru saja diambilnya.
"Evelyn, siapa dia?" tanya Ghani sambil mengernyitkan keningnya.
"Lho, memangnya Om Tom tidak memberitahumu?" Satya balik bertanya.
"Tidak, Om Tommy sama sekali tidak menyinggung nama Evelyn. Siapa dia?" tanya Ghani semakin penasaran. Entah kenapa ia merasa kurang nyaman saat mendengar nama Evelyn.
"Begini lho Ghan." Kali ini Bryan yang angkat bicara.
"Livay, vocalis kita yang dulu, itu adalah orang cukup populer. Kami memang percaya suaramu bagus, tidak kalah kerennya dengan dia, tapi semua itu tidak cukup. Kau harus punya nama sebelum mengisi posisi ini. Evelyn adalah model papan atas, dia pernah sekali mengisi video klip dalam lagu kita. Om Tom akan membuat settingan antara kau dan dia. Setelah namamu dikenal, orang akan terbuka, dan menerimamu menjadi vocalis Batas. Dan itu akan berpengaruh baik bagi band kita." Sambung Bryan, menjelaskan dengan panjang lebar.
"Settingan?" gumam Ghani sambil menatap Bryan.
"Iya. Evelyn akan mengenalkan kamu sebagai pasangannya. Nama dia cukup populer, dan kami semua memanfaatkan hal itu untuk mengangkat nama kamu. Evelyn sudah menyetujui hal ini, jadi kurasa kau juga harus menyetujuinya Ghani." Kata Bryan.
"Hanya pura-pura Ghani, tapi dia juga sangat cantik, kalau kau benar-benar mampu meluluhkan hatinya, itu suatu keberuntungan buatmu," sahut Arsen sambil tertawa.
"Sedikit tips untukmu, dia sangat menyukai lelaki yang bijak dan setia. Kalau aku sih, nyerah ya. Aku sama sekali tidak bisa bersikap dewasa." Bryan ikut menimpali, juga sambil tertawa.
Rizki dan Satya, mereka juga ikut tertawa. Namun lain halnya dengan Ghani, ia sangat terkejut mendengar rencana itu.
Di antara suara tawa yang terdengar renyah, pikiran Ghani menerawang jauh ke Surabaya. Ingatannya terpaku pada satu sosok yang selalu menjelma dalam rindunya.
__ADS_1
Bersambung....