Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Tak Seindah Ayu Wajahmu


__ADS_3

Suara gesekan sepatu yang beradu dengan lantai marmer, mengisi kekosongan di pagi hari. Sayup samar perbincangan terdengar bak bisikan. Terlalu jauh sumber suara berada, sehingga tak dapat ditangkap dengan sempurna.


Di dalam ruang sempit yang dibatasi terali besi, seorang wanita duduk meringkuk memeluk sepi.


Rambut panjangnya berantakan, menutupi sebagian wajah yang dipenuhi gurat kesedihan. Telaga bening yang menutupi bola mata, perlahan meleleh membasahi tulang pipi yang menonjol.


Kendati netra menatap jemari kaki, namun pikirannya menerawang jauh entah kemana. Sudah tak ada lagi rencana untuk masa depan. Sejak ia mendekam di balik jeruji, dunianya seolah telah berakhir. Tak ada lagi sekeping asa atau secercah mimpi yang dapat ia raih. Semua harapan dan angan terserak tanpa jejak.


Suara langkah kaki semakin lama semakin terdengar jelas. Namun wanita yang tak lain adalah Evelyn, dia sama sekali tak mengangkat wajah. Siapa pun yang datang, tak akan mengubah keadaan.


"Nona Evelyn!"


Evelyn melirik polisi yang sedang berdiri di depan jeruji ruangannya. Dia hanya menatapnya, tanpa mengeluarkan sepatah kata.


"Ada seseorang yang datang membesukmu!"


Evelyn menghela napas panjang. Untuk saat ini, dia tak ingin menemui siapa pun. Dia sudah lelah dan kecewa dengan semua orang yang ada di sekitarnya. Sejak ia masuk bui, semua sahabatnya menjauh. Tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar peduli. Begitu pula dengan sanak saudara, mereka yang dulunya mengaku kerabat, kini tak ada satu pun yang mendekat.


Evelyn tak memiliki saudara kandung, dan sejak remaja orang tuanya sudah pergi menghadap Tuhan. Ia hidup sendiri, dan berkat Tommy-lah ia berhasil merintis karier. Namun sekarang, pria itu jua yang mengantarnya dalam derita.


"Saya tidak mau menemuinya," ucap Evelyn setelah hening untuk beberapa saat lamanya.


"Kau yakin?"


"Yakin."


"Baiklah." Polisi itu pergi meninggalkan Evelyn.


Evelyn menatap punggung polisi yang semakin menjauh, ada rasa pedih setiap kali melihat kebebasan diluar sana. Lantas Evelyn menenggelamkan wajahnya di antara dua lutut. Ia menangis dan menumpahkan air matanya di pangkuan.


"Kenapa kamu tak mau menemuiku?"

__ADS_1


Setelah cukup lama tenggelam dalam tangis, Evelyn mendengar satu suara yang tak asing. Suara wanita yang tegas, namun juga lembut. Dengan ragu-ragu Evelyn mengangkat wajah. Dan bernar saja dugaannya. Wanita bermanik biru berdiri anggun di depan jeruji.


"Kamu, untuk apa datang ke sini?" tanya Evelyn. Suaranya terdengar lirih, namun juga tegas.


"Untuk menemui kamu," jawab Bylla.


"Kamu merasa menang, dan akan menertawakan aku, iya 'kan?" Napas Evelyn mulai memburu. Rasa marah dan putus asa, kian menghimpit dalam dada.


"Kamu salah, aku datang ke sini bersama sumiku. Aku tahu, selain menjadi tersangka, kamu juga menjadi korban. Sesama wanita, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Suamiku akan bicara pada polisi, dia akan membantu meringankan hukumanmu," terang Bylla.


Evelyn terkesiap, dan sontak ia menatap Bylla, "apa maksudmu?"


"Kami memang tidak bisa mencabut hukuman yang menjeratmu, tapi kami bisa membantu meringankan. Maafkan Mas Ghani yang sudah menjebloskanmu ke sini, tapi asal kau tahu, dia sangat menyayangi Alina. Gadis itu sudah seperti anaknya sendiri, dia tidak akan tinggal diam jika ada seseorang yang menyakitinya." Bylla menatap Evelyn dengan iba. Dia tahu betapa hancur wanita yang sedang meringkuk di hadapannya.


"Aku tidak punya pilihan lain, aku sangat membutuhkan uang kala itu." Evelyn menunduk, menyembunyikan deraian air mata.


"Aku tahu, tapi aku juga tidak membenarkan caramu. Apapun alasannya, kejahatan tidak bisa dibenarkan."


"Tapi tidak selamanya kejahatan itu menang, Evelyn. Ada Tuhan yang maha adil, Tuhan tidak akan membiarkan kebenaran tertindas.


Bersabarlah, jika beberapa bulan ke depan kamu masih ada di sini. Satu hal yang harus kau ingat, hidupmu tidak lantas berakhir hanya karena ini, Evelyn. Jalanmu masih panjang, masih ada banyak waktu untuk merajut masa depan yang lebih indah," ujar Bylla.


"Aku sudah hancur, sangat hancur. Karierku berakhir, aku tidak akan bisa memperbaikinya lagi."


"Kamu salah Evelyn. Kalaupun kamu tidak bisa lagi menjadi model, masih ada banyak cara untuk menghasilkan uang. Apakah kamu kalah dengan Alina? Dia masih bocah, tapi bisa menghadapi kerasnya hidup dengan senyuman. Kau tahu, sejak dia dibuang ke Suarabaya, dia hidup di jalanan ... sendirian. Butuh usaha keras untuk mendapatkan sesuap nasi, dan berhari-hari ia sanggup bertahan. Lantas Mas Ghani menemukannya, tapi hidupnya tak banyak berubah. Kau juga tahu 'kan, bagaimana hidup Mas Ghani dulu. Bertahun-tahun Alina menikmati hidup di tengah kesederhanaan, sampai akhirnya ia mendapatkan kembali apa yang menjadi haknya. Terkadang kita harus melewati ujian Evelyn, sebelum tiba di masa yang indah." Bylla bicara panjang lebar, guna memberikan semangat untuk Evelyn.


"Aku hamil, tanpa suami. Kau pikir mudah melewati semua itu! Tidak Bylla! Orang-orang akan merendahkan aku, dan mereka juga akan merendahkan anakku. Apa kau pikir masih ada alasan untuk bertahan hidup? Tidak, sama sekali tidak ada!" Evelyn menggelengkan kepala dengan cepat.


"Jika kau pikir ini adalah kejadian yang paling buruk, apa menurutmu menjebak lelaki lain itu pilihan yang terbaik. Kalaupun kau berhasil, apa yang dapatkan selain status, Evelyn? Kau akan hidup di atas kebohongan, apa menurutmu itu akan membuat bahagia? Tidak, kau tidak akan bahagia," ujar Bylla dengan tegas.


"Bukan aku yang menginginkan ini, tapi kenapa harus aku yang menanggung aib. Sekian tahun aku menjaga kehormatanku, dan semua sia-sia. Bukan aku yang melakukan, tapi aku yang menanggung malu," ratap Evelyn.

__ADS_1


"Kau percaya dengan keberadaan Tuhan?" tanya Bylla.


Evelyn tak menjawab, dia hanya menatap Bylla dengan lekat.


"Jika kau punya keyakinan, kau tidak akan merasa terpuruk, Evelyn. Percayakan saja semuanya pada Tuhan, Dia yang maha tahu, apa yang terbaik untukmu. Dia bisa menjadikan hal mustahil, menjadi mungkin. Dekatkan diri pada-Nya, dan yakinlah jika suatu saat nanti ada seseorang yang mencintaimu dan mau menerima keadaanmu," sambung Bylla dengan senyum manis.


"Apa itu mungkin?" gumam Evelyn.


"Sangat mungkin," jawab Bylla.


Dua pasang mata saling beradu, Bylla berusaha meyakinkan Evelyn, agar wanita itu bisa keluar dari keterpurukan.


Sedangkan Evelyn, dia berusaha mencari secercah keyakinan dalam dirinya sendiri. Dia mencoba bersikap tegar, seperti wanita berkerudung yang ada di hadapannya.


_____


Desir angin yang berpadu dengan deburan ombak, menjadi harmoni dalam nyanyian burung camar yang beterbangan di atas lautan. Hangat sinar surya yang hampir pulang ke peraduan, menerpa kilauan pasir putih yang membentang di sepanjang pantai.


Dua insan duduk bersama di atas batu karang, saling menautkan jemari, meresapi alunan cinta dan kasih.


"Aku selalu terpesona dengan panorama di sini. Rasanya aku menjadi anak alam." Wanita berambut lurus sebahu dengan poni depan yang tebal dan rapi, menyandarkan kepala di bahu kekasih. Ia memejamkan mata, menikmati keindahan alam yang tiada duanya.


"Panorama di sini memang indah, tapi tak seindah ayu wajahmu. Dari sekian banyak hal yang pernah aku lihat, menatap pantulan diriku dalam bola matamu ... itulah keindahan yang sebenarnya. Aku selalu terhanyut dalam pesonamu, Sayang." Sang lelaki merangkul kekasihnya, mengusap lembut lengan mulus yang tertutup kain tipis.


Lelaki itu tersenyum lebar, dalam hati ia bersorak riang, karena berhasil melontarkan rayuan pada wanitanya. Tidak sia-sia setiap malam berselancar di dunia maya, hanya demi mempelajari kata-kata manis untuk meluluhkan hati wanita.


Sebelah tangannya merogoh saku celana, meraba benda kecil yang biasa tersemat di jari manis. Dia tidak akan melewatkan kesempatan, detik ini juga dia akan melamar kekasihnya.


Bersambung...


Kira-kira siapa mereka??

__ADS_1


__ADS_2