
"Kai, jawab! Ada apa?" tanya Andra dengan suara yang lebih keras.
"Mas!" panggil Ella.
Kairi mengusap wajahnya dengan kasar, menyeka bintik-bintik keringat yang membasahi kening dan pelipisnya.
"Bylla kecelakaan." Ucap Kairi dengan sangat pelan, nyaris seperti bisikan saja.
"A...apa!" teriak Ella sambil menutup mulutnya.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Ella dengan cepat.
"Dia koma, kata Mama, lukanya cukup parah," jawab Kairi masih dengan suara pelan.
"Tidak, ini tidak mungkin! Kenapa harus seperti ini!" kata Ella sambil menangis. Ia terduduk lesu di lantai rumah sakit.
Anak bungsunya mengidap penyakit parah, dan sekarang kritis. Lalu anak sulungnya kecelakaan, dan sekarang koma. Kenapa cobaan datang bertubi-tubi, kenapa badai kembali datang, disaat badai yang lama belum berlalu.
"Ya Allah, kenapa harus seperti ini. Kenapa harus anak-anakku," ratap Ella sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sayang sudah, jangan menangis seperti ini!" ucap Kairi menenangkan istrinya.
"Aku tidak sanggup, Mas. Kedua anakku sedang berjuang antara hidup dan mati, apa yang harus aku lakukan sekarang, Mas? Katakan jika semua ini hanya mimpi, Mas!" ucap Ella masih terus menangis.
"Sayang, tenanglah! Aku tahu ini berat, tapi ini cobaan sayang, kita harus bisa melewatinya," kata Kairi sambil memeluk Ella.
Beberapa menit kemudian, tangis Ella sudah reda, dan kini ia juga lebih tenang. Kairi melepaskan peluakannya, dan menatap mata istrinya lekat-lekat.
"Aku akan pulang, kau tetaplah di sini menemani Mika! Biar aku yang menemani Bylla. Sekarang kita harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Mika. Bylla akan semakin sedih, jika kita terus menyimpannya sendiri." Kata Kairi dengan tegas.
"Baiklah, sepertinya memang itu jalan yang terbaik. Sebenarnya aku sangat ingin melihat keadaan Bylla, tapi tidak mungkin aku meninggalkan Mika." Ucap Ella.
"Doakan semoga kondisi Bylla baik-baik saja, dan semoga Mika juga lekas sembuh. Dengan begitu, kita bisa berkumpul bersama," kata Kairi sambil tersenyum.
"Amiin, aku juga berharap demikian." Sahut Ella.
"Kai, aku akan ikut bersamamu!" sela Andra.
"Aku juga, Om!" timpal Keyvand.
"Ndra, kau di sini saja, temani Mika! Cukup Keyvand yang ikut bersamaku. Aku tidak tega meninggalkan Ella dan Suci sendirian," kata Kairi sambil menatap Andra.
"Tapi Kai."
"Di sana sudah ada Mama dan Papa, sementara di sini, hanya ada kau, Suci, dan Ella. Tetaplah di sini, Ndra!" ucap Kairi.
__ADS_1
"Baiklah!" jawab Andra sambil menghela nafas panjang. Ia mengalah, dan menuruti perkataan Kairi.
Sore itu juga, Kairi dan Keyvand pergi ke bandara. Mereka akan terbang ke Indonesia secepatnya.
***
Pukul 08.00 pagi waktu Indonesia. Pak Louis, Leon, Bu Halimah, dan Reymond, mereka duduk bersama di kursi tunggu, di depan ruang IGD. Dokter baru saja memberitahukan, bahwa Bylla sudah sadar dari pingsannya. Dan kini, Bu Mirna sedang melihatnya ke dalam.
Di antara mereka, tidak ada yang membuka suara. Semua saling diam, dan terhanyut dalam pikirannya masing-masing. Reymond menunduk, hatinya resah dan gelisah. Wanita yang enam hari lagi akan dinikahinya, kini sedang terbaring dalam keadaan sakit. Bagaimana nasib pernikahannya nanti?
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Bu Mirna melangkahkan kakinya sambil menyeka sudut matanya yang basah.
"Bagaimana keadaan Bylla, Bu?" tanya Bu Halimah, ibu kandung Ella.
"Keadaannya sudah membaik, tapi juga buruk." Jawab Bu Mirna dengan pelan.
"Oma, Opa!" panggil Reymond.
"Boleh saya menjenguknya?" tanya Reymond sambil menatap Bu Mirna, dan Pak Louis secara bergantian.
"Silakan!" ucap Pak Louis.
"Terima kasih, Opa," jawab Reymond sembari melangkahkan kakinya. Ia berjalan menuju ranjang, tempat kekasihnya berada.
Beberapa detik kemudian, Reymond tiba di dekat Bylla. Ia duduk di sebelahnya sambil menggenggam jemarinya.
Bekas goresan kaca tampak memenuhi pipi dan keningnya. Dan tak hanya itu, kedua tangannya juga dipenuhi dengan goresan, dan memar. Reymond memandangnya sambil menggigit bibir, hatinya teriris sakit menatap tubuh sang kekasih yang sangat memprihatinkan.
"Tubuhku rasanya sakit semua, Rey." Ucap Bylla dengan pelan.
"Dan..." Sambung Bylla menggantungkan kalimatnya.
"Dan, apa?" tanya Reymond.
"Kakiku, kakiku tidak bisa digerakkan. Aku tidak bisa berjalan, Rey!" jawab Bylla sambil menitikkan air matanya.
"Bylla, sayang sudah! Jangan menangis, kamu yang sabar ya, nanti pasti akan sembuh!" kata Reymond seraya menyeka air mata Bylla.
"Tidak, Rey, tidak!" ucap Bylla semakin terisak.
"Nona Bylla, tolong jangan menangis! Jangan berpikir terlalu keras, agar kondisi Anda bisa secepatnya membaik!" kata Dokter sambil melangkah mendekati Bylla dan Reymond.
"Tapi kakiku, Dokter!" Ucap Bylla terus menangis.
"Ada apa dengan kakinya, Dokter?" tanya Reymond. Tadinya, ia berpikir jika kaki Bylla terluka, dan sakit saat digerakkan. Tapi sekarang, ia berpikir lebih dari itu.
__ADS_1
"Nona Bylla mengalami cedera pada saraf tulang belakangnya, dan itu menyebabkan kelumpuhan pada kedua kakinya." Jawab Dokter.
"Lumpuh, apakah itu permanen?" tanya Reymond.
"Sebenarnya tidak, tapi dilihat dari cederanya, butuh waktu yang sangat lama untuk membuatnya sembuh seperti sedia kala." Jawab Dokter.
"Apakah sampai satu tahun?" Reymond kembali bertanya.
Dokter menghela nafas panjang, sebelum menjawab pertanyaan Reymond.
"Lebih. Paling cepat sekitar tiga tahun, dan paling lambat lebih dari lima tahun."
"Lima tahun?"
"Iya."
"Aku tidak bisa berjalan lagi Rey, aku tidak mau seperti ini!" ratap Bylla.
"Nona Bylla tenanglah! Ini tidak permanen. Memang membutuhkan waktu yang lama, tapi ada harapan untuk sembuh seperti semula. Berpikirlah postif, dan berusahalah untuk melawan sakit mendera Anda. Dengan demikian, peluang sembuh akan semakin besar," kata Dokter dengan panjang lebar.
"Tapi Dokter, aku tidak mau seperti ini!" teriak Bylla.
"Bylla, tenang ya. Berdoa dan yakinlah, kamu pasti akan sembuh. Aku tahu ini sangat berat, tapi kamu adalah wanita hebat. Kamu pasti bisa, ya!" ucap Reymond sambil menggenggam kedua tangan Bylla.
Lalu ia mengusap-usap rambutnya dengan lembut, dan menenangkan kekasihnya yang sedang kalut.
"Kenapa semua jadi begini, Rey?"
"Ini ujian, sayang. Kamu yang sabar ya!" jawab Reymond sambil menatap manik biru dalam mata Bylla.
"Membayangkannya saja aku sudah sesak, duduk di atas kursi roda, dan tidak bisa berjalan kemana-mana. Aku tidak mau, Rey!" ucap Bylla, buliran bening semakin berderaian dari sudut matanya.
"Semua orang juga tidak mau Bylla, tapi yang namanya ujian, yang namanya takdir, kita tidak bisa melawannya. Sabar ya, yakinlah kamu pasti akan sembuh!" kata Reymond sambil tersenyum.
"Tapi Rey."
"Kamu harus semangat, ya!"
Cukup lama Bylla terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Hingga kemudian, ia mulai membuka suara.
"Rey, bagaimana dengan pernikahan kita yang tinggal beberapa hari lagi? Apakah kita menundanya, atau..."
"Bylla, jangan banyak berpikir, itu tidak bagus untuk kondisimu saat ini." Sahut Reymond sebelum Bylla sempat melanjutkan kalimatnya.
"Menikah, aku akan memikirkannya Bylla. Aku memang mencintaimu, bahkan sangat mencintaimu, tapi sebagai putra tunggal dalam keluarga Jackson, aku juga butuh pendamping yang sempurna. Meskipun kau adalah putri dalam keluarga Da Vinci, tapi dengan keadaanmu saat ini, aku akan berpikir dua kali. Aku bukan lelaki yang hanya mendewakan cinta, aku juga suka mengutamakan logika. Meskipun aku mencintaimu, tapi reputasi juga merupakan segalanya bagiku. Sambil menunggu kondisimu membaik, aku akan memikirkan ini matang-matang." Batin Reymond dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung...