
Sentuhan lembut di jemari, menyadarkan Ghani dari lamunan. Belum ia temu apa jawabannya, namun bibir mengulas senyum lebar, tatkala melihat sang istri tertawa renyah.
"Kenapa malah diam?" tanya Bylla disela-sela tawanya.
"Nggak ada jawaban, karena aku nggak tahu artinya," sahut Ghani dengan cepat.
"Mon cherie, ma cherie, itu panggilan sayang dalam bahasa Prancis, sejenis my darling. Mon cherie panggilan wanita ke pria, sedangkan ma cherie panggilan pria ke wanita. Tapi tidak selalu digunakan untuk memanggil pasangan, terkadang juga dipakai untuk memanggil anak ataupun adik," terang Bylla.
"Oh begitu." Ghani mengangguk pelan.
"Jadi, setuju nggak?"
"Setuju, Ma cherie." Ghani mendekatkan wajahnya, dan tersenyum manis.
Bylla menunduk menyembunyikan wajah yang semakin merona. Namun tak lama kemudian, Ghani meraih dagunya dan memaksa mendongak.
"Aku belum puas menatapmu," ucap Ghani.
"Kamu sudah sering menatapku," sahut Bylla.
"Iya, tapi aku aku tidak pernah merasa puas. Wajah ini terlalu indah, hingga aku tidak tahu bagaimana caranya berpaling." Ghani membelai wajah Bylla dengan lembut. Lantas ia meraih pinggangnya, dan membaringkan di ranjang.
"Mon cherie, apa, apa yang kamu lakukan?" tanya Bylla. Ia luar biasa gugup saat berbaring dalam jarak yang begitu dekat.
"Sesuatu yang menyenangkan, sudah suami istri, 'kan?" Ghani menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum.
"Mmmm aku, aku___"
Ghani merengkuh tubuh Bylla dengan lebih erat, hingga tak ada lagi jarak di antara mereka. Lantas Ghani menyandarkan kepala di ceruk leher sang istri yang masih tertutup kain kerudung. Ghani memejamkan mata, menghirup aroma tubuh Bylla yang membuat jantung berdebar.
"Aku sangat mencintaimu, Ma cherie," bisik Ghani.
"Aku juga mencintaimu, aku benar-benar bahagia bisa menikah denganmu. Perasaanku detik ini, berbeda jauh dengan perasaanku tadi pagi. Ini adalah anugerah terindah dalam hidupku, Mon cherie," jawab Bylla juga dengan bisikan. Tanpa sadar air matanya meleleh membasahi pipi. Ia terlalu bahagia dengan anugerah yang diberikan Tuhan padanya.
"Takdir memang selalu indah. Allah punya banyak cara untuk mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Usaha tidak akan sia-sia, jika diiringi dengan doa. Karena hanya Allah yang maha tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya." Ghani mengusap-usap punggung Bylla.
__ADS_1
"Iya, kamu benar. Mon cherie, bimbing aku menjadi pribadi yang lebih baik. Selama ini imanku masih lemah, tolong tuntun aku agar lebih dekat dengan-Nya," ucap Bylla.
"Aku imammu, aku sudah mengambil tanggungjawab penuh atas hidupmu. Aku pasti berusaha keras untuk membawamu dalam kebaikan. Ma cherie, jika detik ini aku meminta satu hal darimu, apa kamu bersedia?" Ghani melepaskan pelukannya, dan menatap Bylla lekat-lekat.
"Satu hal apa?" tanya Bylla.
"Ayo duduk dulu!" Ghani mengajak Bylla bangkit dari tidurnya. "Jangan menangis, ini hari bahagia kita." Ghani mengusap air mata Bylla kala keduanya sudah duduk berhadapan.
"Aku terharu," jawab Bylla. "Lantas hal apa yang kamu minta?" sambung Bylla.
Ghani tak langsung menjawab, dia malah berdiri, dan mengambil sesuatu dari balik jas yang dikenakannya. Sebuah kain tipis berwarna putih yang dilipat kecil. Kemudian Ghani membentangkan kain itu, dan menutupkannya di puncak kepala Bylla. Lalu dia menggenggam kedua tangan sang istri.
"Ma cherie, pernikahan adalah ibadah panjang, mari kita saling mengingatkan dan bersama-sama memperbaiki diri, menuju jalan yang diridhoi. Aku juga banyak dosa, banyak sekali larangan yang kulanggar, hanya demi uang. Tapi, selagi ada niatan, pasti masih ada ampunan. Ma cherie, aku berharap kamu bisa melakukan satu kewajibanmu sebagai seorang wanita, menutup aurat," ujar Ghani dengan serius.
Bylla menarik kedua ujung bibir, hingga membentuk senyuman, "aku akan melakukannya. Sebenarnya aku sudah lama punya niatan itu, tapi ... aku masih belum siap. Akhlakku masih jauh dari kata baik, dan aku juga belum bisa menumbuhkan rasa ikhlas dalam hati. Tapi sekarang aku merasa yakin, karena imamku yang meminta untuk melakukannya."
"Ma cherie, kamu salah," sahut Ghani.
"Salah?"
"Akhlak dan jilbab, itu tidak ada hubungannya. Baik atau buruk sikap seorang wanita, menutup aurat adalah kewajiban. Bukan akhlak yang menjadi alasan untuk menutup aurat. Tapi dengan menutup aurat, kita punya alasan untuk memperbaiki akhlak. Jangan menunggu ikhlas, lakukan saja selagi masih terpaksa. Karena lambat laun, keterpaksaan akan menjadi kebiasaan, dan dari kebiasaan kita akan menemukan rasa ikhlas. Jangan karena aku, kamu mau menutup aurat, tapi lakukanlah karena itu adalah kewajibanmu," terang Ghani.
Bylla beranjak dari duduknya, ia mendongak dan menatap netra sang suami. Mendapatkan imam seperti Ghani, kebahagiaan yang ia rasa tak bisa lagi diuangkap dengan kata-kata.
"Darimu aku belajar banyak hal, terima kasih sudah hadir dalam hidupku." Bylla memeluk Ghani dengan erat, ia menyandarkan kepala di dada sang suami.
"Aku juga senang kau hadir dalam hidupku, Ma cherie." Ghani merengkuh bahu Bylla dan menyandarkan dagunya di puncak kepala.
Setelah cukup lama larut dalam pelukan mesra, kini keduanya saling melepaskan. Dua pasang mata bertatapan, mengutarakan cinta yang tak cukup lewat lisan.
"Sekarang, boleh 'kan aku meminta sesuatu itu?"
"Sesuatu?" Bylla sedikit gugup.
"Ma cherie, katanya kamu punya buku untukku, mana?" ucap Ghani masih dengan senyuman lebar.
__ADS_1
Bylla menghela napas panjang, ternyata bukan hal intim yang Ghani maksud.
"Duduk di sini, dan aku akan menununjukkannya!" Bylla menunjuk tepi ranjang, dan kemudian berjalan ke meja. Ia mengambil buku yang ia simpan di dalam laci.
"Ini adalah kisahku bersamamu. Dari pertama kali kau menabrakku, lantas kita kenal, dekat, menjalin hubungan, dan sampai kita berpisah. Semua kutulis di sini, di buku inilah aku berbagi kebahagiaan dan juga kesedihan." Bylla duduk di sebelah Ghani dan menyerahkan buku tebal yang ia tulis dari beberapa waktu lalu.
Ghani meraih buku itu, dan mulai membaca judul yang tertera di sana. Ia mengernyit heran, lantas melihat lembaran terakhir.
"Ada pena?" tanya Ghani.
"Untuk apa?" Kendati Bylla balik bertanya, namun ia beranjak dan mengambil pena yang berada di atas meja.
"Akhir kita tidak seperti ini, Ma cherie. Kau menikah denganku, bukan dengan orang lain." Ghani mencoret nama Rubben dan mengganti dengan namanya.
"Aku menulisnya tadi pagi, aku tidak tahu jika Allah punya rencana yang lebih indah," jawab Bylla.
"Boleh aku mengganti judulnya?" tanya Ghani.
"Silakan saja," jawab Bylla.
"Sekeping Asa Yang Terserak, itu artinya asa yang kamu punya hancur dan berantakan. Dan kisah kita tidak seperti ini, Ma cherie. Aku akan menggantinya dengan Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa. Di saat kita masih menyimpan rasa yang sama, keadaan memaksa berpisah. Kita hanya bergantung pada setitik harapan dalam hubungan. Bukankah ini lebih cocok, Ma cherie?" Ghani menatap istrinya sambil tersenyum.
"Iya, itu sangat tepat." Bylla menggenggam jemari Ghani dengan lembut.
"Ma cherie, bolehkah aku membacanya nanti saja?" Ghani menutup buku yang ada di pangkuan.
"Tidak apa-apa, masih ada banyak waktu. Aku___"
"Aku terpesona dengan senyumanmu," pungkas Ghani. Ia menyentuh ujung bibir Bylla dengan kedua jemari.
Sentuhan dan tatapan Ghani ibarat aliran listrik yang menyengat tubuh Bylla. Membuat jantungnya berdetak cepat, dan aliran darahnya memanas.
"Aku, aku___"
Belum sempat Bylla meneruskan kalimatnya, Ghani sudah lebih dulu mendekatkan wajahnya, mengikis jaraka hingga habis tak tersisa. Sebelah tangannya merengkuh pinggang, dan sebelah lainnya meraih tengkuk. Dua benda kenyal saling menempel, mereguk rasa manis yang membuat jiwa bergetar.
__ADS_1
Sangat lama keduanya terlena dalam kenikmatan, melupakan sejenak segala hal yang ada di sekitar. Mereka enggan merenggangkan jarak, rasa manis itu terlalu indah untuk dilewatkan.
Bersambung...