
"Siapa wanita yang akan kau nikahi?" tanya Bylla sambil memalingkan wajahnya.
Reymond menatap Bylla lekat-lekat, sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan kekasihnya, atau lebih tepatnya mantan kekasih.
"Kau tidak ingin memberitahuku?" sindir Bylla sembari melirik Reymond sekilas.
"Sania." Jawab Reymond dengan pelan.
"Apa!" teriak Bylla sambil membelalakkan matanya.
"Maaf Bylla, tapi saat ini, memang hanya Sania yang paling cocok untuk menjadi pendampingku." Kata Reymond.
"Pergi Rey!" bentak Bylla sambil menatap Reymond dengan tajam.
"Bylla, aku minta maaf, aku___" ucap Reymond.
"Pergi!" bentak Bylla untuk yang kedua kalinya.
"Bylla."
"Pergi, Rey!" bentak Bylla dengan suara yang lebih keras.
"Mulai detik ini, aku tidak mau lagi menatap wajahmu! Kesalahan terbesarku adalah menganggap kamu lelaki yang baik! Pergi, pergi dari hadapanku! Selamanya, jangan pernah kembali, berbahagialah dengan wanita pilihanmu!" bentak Bylla dengan berapi-api.
"Iya, aku akan pergi. Ayo kuantar dulu kamu ke kamar!" ajak Reymond sambil beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Pergi sekarang juga!" bentak Bylla.
"Tapi Bylla!"
"Pergi! Aku bilang pergi, Rey!" teriak Bylla dengan nafas yang memburu. Dadanya naik turun menahan emosi yang sudah membara.
"Baiklah! Aku akan meminta tolong perawat untuk membantumu. Semoga kamu bisa bahagia dengan keputusanku ini, Bylla!" ucap Reymond sambil melangkahkan kakinya. Ia berjalan meninggalkan Bylla sendirian.
"Jika kamu memang laki-laki yang jantan, dan bukan pengecut. Akui keputusan kamu, di depan keluargaku! Dulu kau memintaku secara baik-baik, jika sekarang kau pergi tanpa permisi. Dimana sopan santunnya keluarga Jackson!" kata Bylla masih dengan nada tinggi. Ia menekan setiap kata yang dilontarkannya.
Reymond menghentikan langkahnya, ia berbalik badan, dan kembali menatap Bylla.
"Aku akan bicara dengan Om Kairi, dan juga yang lainnya. Tapi maaf, orang tuaku sibuk mengurus persiapan pernikahan, mereka tidak bisa datang kesini." Kata Reymond.
"Maafkan aku, Bylla!" sambung Reymon seraya meneruskan langkahnya.
__ADS_1
Bylla menatap punggung Reymond dengan nanar. Sosok yang selama ini menjadi tempatnya bersandar, kini sudah pergi menjauh. Dan bukan hanya raganya saja yang pergi, namun juga hatinya. Cinta dalam diri Reymond menguar, seiring takdir yang menguji jalan hidupnya.
Bylla menunduk, membiarkan tetesan air mata jatuh membasahi pangkuannya. Lelaki yang sangat dicintainya, sahabat yang sangat dekat dengannya, kini mereka akan menjalin ikatan halal. Mereka akan berbahagia di atas penderitaannya, kenapa takdir sangat tidak adil padanya?
Bylla semakin terisak, hingga tubuhnya ikut bergetar. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha keras untuk tidak menjerit ataupun berteriak.
Kenyataan tentang Mika, kenyataan tentang Reymond, keduanya adalah kenyataan yang sangat pahit. Keduanya menyesakkan dada, dan menghimpit rongga nafasnya. Keduanya menorehkan luka yang cukup dalam, hingga Bylla tak tahu bagaimana cara menyembuhkannya.
***
Reymond berjalan gontai, meninggalkan taman rumah sakit. Sebenarnya hatinya sedikit sakit, saat meninggalkan Bylla terpuruk dalam kesendirian. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin mengabaikan masa depannya hanya demi cinta.
Sekian lama, ia menjaga citranya sebagai pewaris tunggal dalam keluarga Jackson. Ia tumbuh menjadi lelaki muda yang sangat dikagumi, dan disegani. Sepak terjangnya di dunia bisnis, sudah tak diragukan lagi. Bahkan pembisnis besarpun, tidak akan ragu untuk bekerjasama dengannya.
Namun selain kagum, ada juga di antaranya yang merasa iri dan dengki. Mereka berusaha keras untuk mencari kelemahannya, yang kemudian dijadikan senjata untuk menjatuhkannya. Terkadang dunia bisnis memang sekeras itu.
Itulah sebabnya, kenapa Reymond memilih untuk menghempaskan perasaannya. Jika sekarang ia menikahi Bylla, semua rivalnya akan beraksi, mereka akan memiliki celah untuk mengusiknya. Jika itu terjadi, besar kemungkinan beberapa relasi akan memutuskan kerjasamanya. Dan perlahan, bisnisnya akan mengalami kemunduran. Tidak, Reymond tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Bisnis lebih segalanya, dibandingkan dengan cinta.
Reymond menghela nafas panjang, mencoba meyakinkan hatinya yang sempat gelisah. Sania adalah wanita yang cantik, dan juga kaya. Sikapnya yang anggun, namun juga humoris, mustahil jika tak bisa membuatnya bahagia. Setelah menikah, mereka akan tinggal satu atap. Mereka makan bersama, bercanda bersama, jalan-jalan bersama, bahkan tidur bersama, lambat laun cinta pasti akan datang dengan sendirinya.
Beberapa saat kemudian, Reymond sudah tiba di depan ruangan, yang menjadi kamar rawatnya Bylla. Keyvand dan Bu Mirna menatapnya dengan heran. Pasalnya ia datang seorang diri, sementara tadi, ia pergi jalan-jalan bersama Bylla. Lalu di mana Bylla sekarang?
"Rey, mana Bylla?" tanya Bu Mirna.
"Bylla, Bylla masih di taman.
Di mana Om Kairi?" Reymond balik bertanya.
"Ke kantin depan sama Mas Louis, mereka sedang mencari sarapan. Rey, dengan siapa Bylla di sana? Kenapa kau meninggalkannya?"
"Dia menolak untuk kuajak ke sini, Oma." Jawab Reymond.
"Kenapa? Kalian bertengkar?" tanya Bu Mirna sambil menatap Reymond lekat-lekat. Menilik wajahnya, dan mencoba memahami situasi yang sedang terjadi.
"Sebenarnya ada yang ingin saya katakan, Oma, penting!" kata Reymond.
"Apa itu? Katakan saja!"
"Saya dan Bylla sudah berakhir Oma. Pernikahan kita batal, dan minggu depan saya akan menikah dengan wanita lain." Kata Reymond dengan cepat.
"Keputusanku sudah bulat, aku harus berani mengatakan hal ini, tak peduli bagaimana tanggapan mereka. Lebih cepat urusan ini selesai, itu akan lebih baik." Batin Reymond dalam hatinya.
__ADS_1
"Apa!" teriak Bu Mirna sambil mebelalakkan matanya.
Sedangkan Keyvand, ia memicingkan matanya. Tangannya mengepal, emosinya mulai tersulut saat mendengar ucapan Reymond.
"Kenapa, Rey? Kenapa kamu melakukan ini, apa salah Bylla?" tanya Bu Mirna dengan cepat.
"Dia tidak bersalah Oma. Hanya saja, sekarang dia tidak bisa berjalan, aku tidak bisa menikahinya." Jawab Reymond, tanpa rasa bersalah.
Belum sempat Bu Mirna membuka suara, tiba-tiba beliau sudah dikejutkan oleh gerakan Keyvand yang begitu cepat.
Tanpa basa-basi, Keyvand mendaratkan kepalannya di wajah Reymond. Tubuh Reymond terhuyung ke belakang, dan Keyvand memanfaatkan situasi itu untuk terus melayangkan pukulannya.
Reymond sama sekali tak punya celah untuk membalas, ia tanpa persiapan, dan tiba-tiba langsung diserang dengan membabi buta. Hingga akhirnya tubuhnya tersungkur di lantai, dengan Keyvand yang berada di atasnya. Keyvand menggapit tubuhnya, di antara kedua kakinya.
"Dasar lelaki berengsek! Kau meninggalkan dia saat dalam kekurangan. Kau pikir ini keinginan dia, ini ujian bodoh! Dasar laki-laki pengecut!" teriak Keyvand dengan nafas yang memburu.
"Jika kau menerimanya hanya karena rupa dan fisik. Itu bukan cinta, tapi nafsu belaka. Dimana hatimu, dasar lelaki berengsek!" sambung Keyvand masih dengan nada tinggi, seraya tangannya bersiap untuk memukul Reymond. Namun niatnya terhenti, saat tangan kekar menangkap lengannya.
"Key, apa yang kau lakukan?" bentak Kairi yang baru saja tiba di sana.
"Dia pantas menerimanya, Om!" Jawab Keyvand dengan cepat.
"Bangunlah, kita bicarakan baik-baik!" kata Kairi sambil menarik lengan Keyvan.
Sedangkan Pak Louis, beliau membantu Reymond untuk berdiri. Pelipis dan pipinya, tampak lebam dan memar, juga sudut bibirnya yang terluka dan mengeluarkam sedikit darah.
"Apa yang terjadi?" tanya Kairi sambil menatap keponakan, dan calon menantunya secara bergantian.
"Dia membatalkan pernikahannya, dan akan menikah dengan wanita lain. Dia meninggalkan Bylla, karena sekarang dia tidak bisa berjalan!" teriak Keyvand sambil menunjuk wajah Reymond.
"Apakah itu benar, Reymond?" tanya Kairi dengan pelan, pertanyaannya hampir menyerupai sebuah geraman.
"Maaf Om, itu benar. Sebagai pewaris tunggal keluarga Jackson, saya harus bisa menjaga reputasi saya. Om juga pembisnis, saya rasa Om mengerti dengan maksud saya." Jawab Reymond seraya menundukkan kepalanya.
Kairi memang tidak membentak, ataupun berkata kasar padanya. Namun kilatan dari sorot matanya, serta kewibawaannya, membuat Reymond kehilangan nyali. Tatapannya mampu menghisap habis keberanian yang ada dalam dirinya. Berhadapan dengan Kairi, benar-benar menakutkan.
"Jadi seperti itu jalan pikiran kamu! Baiklah, aku merestui keputusanmu. Sekarang pergilah, tinggalkan Bylla, dan jangan pernah kembali! Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah menemuinya lagi!" kata Kairi masih dengan suara pelan. Namun dalam suara itu, tersirat amarah yang mampu membuat bulu kuduk meremang.
"Jadi seperti ini sifat kamu yang sesungguhnya, syukurlah, Tuhan menujukkan seperti apa dirimu sebelum Bylla sah menjadi istrimu.
Aku ingin melihat, bagaimana reaksimu nanti, saat melihat Bylla bisa berjalan dengan sempurna, hanya dalam hitungan bulan." Batin Kairi dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung...