Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Ketika Perasaan Dan Keadaan Dalam Persimpangan


__ADS_3

Beberapa menit berselang, Bylla belum juga mendongak. Ia malah menikmati semilir angin yang meriapkan rambut panjangnya.


"Bylla!" panggil Ghani.


Bylla hanya memejam dan membiarkan air matanya terus menetes. Bahkan, kini kedua bahunya bergerak naik turun seirama dengan isakan.


"Bylla!"


"Semua sudah terlanjur, Ghani. Apa pun perasaanku, aku tidak bisa membatalkan pernikahan ini. Hanya kurang lima hari, apa yang bisa kulakukan, Ghani?" Bylla mendongak dan menatap Ghani dengan air mata yang berderai.


"Jadi benar 'kan, perasaanmu masih untukku?"


"Iya, aku sangat mencintai kamu. Itu sebabnya, aku sangat sakit saat melihat berita tentangmu. Sakit itu membuatku kecewa dan putus asa, lantas tak berani berharap lagi. Di saat aku sedang terpuruk, Kak Rubben datang dengan cinta yang ia simpan sejak lama. Aku yakin, sampai kapan pun aku tidak akan jatuh cinta lagi. Itu sebabnya, aku menerima lamaran dia. Aku tidak pernah menyangka bila semua ini hanya salah paham," terang Bylla dengan panjang lebar.


"Kenapa kamu meragukan aku, Bylla? Kenapa?" tanya Ghani. "Sekarang semua sudah jelas, kita berdua masih saling mencintai. Tidak maukah kamu mengubah keputusanmu, Bylla?" Ghani menangkup kedua pipi Bylla dan menatapnya dengan penuh cinta.


"Maafkan aku, Ghani. Dari awal, pekerjaanmu membuatku cemburu. Itu sebabnya, kepercayaanku semakin hari semakin terkikis. Dibandingkan lawan mainmu, aku begitu banyak kekurangan. Aku, aku___"


"Aku mengerti. Maafkan aku, Bylla, seharusnya mendengarkan kamu dan tidak pernah pergi ke Jakarta. Bylla, sekarang bagaimana keputusanmu, kamu tidak akan menikah, 'kan?" pungkas Ghani. Lantas, ia menyeka air mata Bylla dengan kedua jemari.


"Maafkan aku, Ghani. Aku tidak bisa mengubah keputusanku. Aku tahu betapa sakitnya ditinggalkan menjelang pernikahan. Aku tidak akan melakukan itu pada orang lain. Aku memang tidak mencintai Kak Rubben, tapi aku juga tidak bisa menyakiti dia," jawab Bylla.


"Bylla, kamu tidak tega menyakiti dia, tapi kamu tega menyakiti aku dan menyakiti dirimu sendiri. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Bylla!"


"Ghani, undangan sudah disebar. Semua orang tahu bahwa lima hari lagi keluargaku dan keluarga Kak Rubben menjalin ikatan. Jika tiba-tiba batal, bukankah itu akan mempermalukan kedua kelurga? Selama ini, aku sudah memberi harapan untuk Kak Rubben, jika tiba-tiba aku menolak menikah dengannya, bagaimana perasaan dia?" ujar Bylla menjelaskan maksudnya.


"Tapi, Bylla."


"Ghani, kamu percaya 'kan takdir itu selalu indah dan tak pernah salah. Jika kita tidak bersama, mungkin memang itulah yang terbaik untuk kita. Namun, jika takdir kita memang bersama, Allah pasti punya jalan untuk menyatukan kita. Aku ingat, salah seorang guruku pernah memberi nasihat. Mudahkanlah urusan orang lain, maka Allah akan mempermudah urusan kita. Hindari menyakiti orang lain, maka Allah akan memelihara kita dari luka." Bylla menatap Ghani lekat-lekat, berharap lelaki itu mau menerima keputusannya.


"Tapi, Bylla, aku tidak bisa berpisah denganmu." Mata Ghani berkaca-kaca, ia rela menjatuhkan sedikit harga diri di depan wanita yang dicintai.


"Kamu yang lebih paham ilmu agama. Kamu pasti mengerti, Ghani. Kita bisa berencana, tapi Allah yang menentukan takdirnya. Jika perasaan kita tulus dan Allah memang meridhoi, percayalah, pasti ada jalan untuk kita bersama, tanpa menyakiti dan tanpa melukai hati yang lain. Entah hari ini, esok, ataupun nanti. Aku memang tidak bisa berdiri di sampingmu, tapi namamu akan selalu kusebut dalam setiap doaku. Di manapun kamu berada, doaku selalu menyertaimu, Ghani." Bylla mengusap setetes air mata yang membasahi pipi Ghani.

__ADS_1


Ghani tak menjawab, tetapi langsung memeluk Bylla dengan erat. Sakit rasanya ketika rasa masih senada, tetapi keadaan tak mengijinkan bersama.


"Aku mengerti, sangat mengerti dengan maksud baikmu, Bylla. Baiklah, mulai sekarang kita akan menjalani hidup masing-masing. Semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu. Hapus perasaanmu untukku agar tidak menjadi dosa. Besok aku akan terbang ke Indonesia dan menjalani hidupku di sana. Aku juga akan berusaha menghapus perasaanku untukmu karena tidak benar merindukan istri orang. Maaf, aku tidak bisa hadir di hari pernikahanmu." Ghani mengusap-usap rambut Bylla sembari memeluknya dengan erat.


"Semoga di Indonesia kamu mendapatkan penggantiku. Semoga kamu bahagia, Ghani," bisik Bylla.


Keduanya saling menumpahkan tangis dalam pelukan. Kendati bibir mereka mengatakan kalimat panjang, tetapi hati mereka hanya melantunkan satu doa. Semoga kuasa Tuhan memberikan jalan untuk bersama.


Ketika perasaan dan keadaan dalam persimpangan, cinta terserak tinggalkan puing-puing hati yang retak. Dalam rasa yang senada, keduanya menggantungkan asa pada keajaiban Tuhan.


***


Detik waktu begitu cepat berlalu. Lima hari rasanya hanya satu jam saja. Belum sempat Bylla mengobati luka hati, waktu telah mengantarkannya pada hari pernikahan.


Dari balik jendela kamar, Bylla dapat melihat jelas, dekorasi yang teramat indah. Mulai dari pintu gerbang, hingga halaman depan. Bunga-bunga, lampu hias, lampu kristal, semua ditata sedemikian rupa. Masa lajang akan berakhir hari ini, bagaimana kehidupannya kelak setelah menyandang status istri?


Bylla menggigit bibir, sang pemilik hati sudah terbang ke Indonesia sejak empat hari yang lalu. Bagaimana keadaannya sekarang, apakah ia sedih, apakah ia terluka, ataukah dia bahagia.


Suara MUA membuyarkan lamunan Bylla. Tanpa menjawab, ia kembali menatap ke depan. Menatap pantulan dirinya di cermin.


Gaun putih panjang bertabur permata, melekat menghiasi tubuhnya. Kerudung dan mahkota, sudah disiapkan di atas meja, siap untuk dikenakan. Wajah ayu menawan, bak bidadari. Mata biru miliknya terlihat bening, dengan bulu mata hitam nan lentik.


"Andai saja kecantikanku ini untuk Ghani," batin Bylla. Tanpa sadar ingatannya kembali pada Ghani.


"Ahh apa yang kupikirkan, kecantikan ini untuk suamiku. Aku akan menikah, aku tidak boleh memikirkan pria lain," sambung Bylla masih dalam hati.


Setelah hampir setengah jam waktu berlalu, MUA selesai merias Bylla.


"Sudah cantik Mbak, ini tinggal pakai high hells saja." MUA menyodorkan hihg hells kepada Bylla. Kebetulan, pelayan baru saja memberitahu mereka. Penghulu dan pengantin pria sudah menunggu di lantai bawah.


"Sebentar Mbak, taruh saja dulu," jawab Bylla.


Lantas ia mengambil buku dan pena yang berada di atas meja. Ia menulis akhir kisahnya bersama Ghani. Sang pemilik hati kembali ke Indonesia, dan dirinya menikah dengan Rubben Aljazayn. Cukup lama Bylla menatap aksara yang baru ditulis, rasa perih kembali menyayat dalam hati.

__ADS_1


"Mbak, penghulu dan mempelai pria sudah menunggu!"


Untuk yang kesekian kalinya, MUA mengingatkan Bylla.


Lantas Bylla menghela napas panjang. Sambil memejamkan mata ia berdoa, semoga memang ini garis takdirnya.


"Ayo Mbak!" ajak Bylla setelah hatinya kembali tertata. Tak lupa ia menyimpan bukunya ke dalam laci.


Kemudian ia mengenakan high hells, dan melenggang keluar dari kamar. MUA membantu memegangi gaunnya. Satu demi satu anak tangga Bylla pijak, samar-samar suara orang berbincang mulai terdengar.


"Semoga ini yang terbaik untuk kita, Ghani!" batin Bylla.


Bylla terus melangkah, hingga tiba di anak tangga yang terkahir. Suasana di ruang tengah terlihat dengan jelas. Di atas karpet merah yang digelar di lantai, seluruh keluarga berkumpul. Mereka bersimpuh dengan raut wajah yang berbinar senang.


Namun tiba-tiba mata birunya menyipit, menelisik wajah yang duduk di depan penghulu. Apakah ia tidak salah lihat?


Di depan penghulu, Ghani duduk bersimpuh sambil tersenyum. Tubuh tegapnya dibalut kemeja dan jas formal, rambut yang berdiri cinta langit, tertutup songkok warna hitam. Bylla melirik ke sana ke mari, tidak ada Rubben, tidak ada calon mertua, juga tidak ada calon ipar.


Apa yang terjadi?


"Duduklah, dan aku akan menghalalkanmu, Bylla!" kata Ghani dengan suara lantang.


Bylla terkesiap, apakah ini mimpi?


Bersambung...


Apakah setelah ini kisahnya manis thor??


Entahlah,, aku juga tidak tahu. Yang kutahu authornya memang manis.


Eiittssss jangan protes,, aku cuma ngikutin kata Emak.


Maksihh ya sudah dukung Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa hingga saat ini. Maaf jika konfliknya terlalu banyak,, bukan apa-apa, biar nanti pas happy happy tambah uhhhh gitu.

__ADS_1


__ADS_2