
"Saya terima nikahnya Melani Devi Lestari Binti Suwardi dengan mas kawin lima gram emas dibayar tunai." Suara Arron terdengar lantang saat mengucapkan ijab kabul, meskipun tadi sempat gugup dan melakukan kesalahan.
"Bagaimana Saksi, sah?"
"Sah!" jawab para saksi dengan serempak.
Usai mendengar ucapan 'sah' dari para saksi, Arron meraih kepala Melani, dan memegang ubun-ubunnya.
"Allahumma inni as 'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltahaa 'alaih." Setelah selesai mengucapkan doa, Arron mencium kening Melani dengan lembut, bersyukur karena Allah telah mengirimkan bidadari surga untuknya.
Melani tersenyum lebar, hari ini merupakan hari terindah dalam hidupnya. Mulai detik ini, ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Ia akan melakukan ibadah panjang bersama lelaki yang menempati seluruh ruang dalam hati. Melani meraih tangan Arron dan menciumnya dengan penuh bakti, dalam hati ia berjanji untuk selalu menjaga martabatnya sebagai seorang istri.
Usai membaca doa dan shalawat, Arron dan Melani meminta restu pada kedua orang tua. Pak Suwardi dan Bu Ratmi memeluk mereka, sembari mengucapkan nasihat dan petuah untuk bekal rumah tangga.
Setelah selesai meminta restu, mereka menyalami sanak saudara yang ikut hadir di sana. Dalam balutan kebaya putih dan jarik cokelat terang, Melani terlihat cantik nan menawan.
"Selamat ya Mel, aku ikut bahagia dengan pernikahan kalian, sekarang kita menjadi saudara." Bylla memeluk Melani dengan erat, semerbak wangi melati menyeruak tajam dalam hidungnya.
"Terima kasih ya, Mbak. Aku juga bahagia, hubungan kita bisa sebaik ini. Maaf ya, dulu aku pernah membenci Mbak," ucap Melani.
"Seharusnya aku yang minta maaf, aku datang tanpa permisi dan membuatmu sakit hati. Gara-gara aku, kamu harus memupuskan harapanmu," kata Bylla.
"Aku memang salah Mbak, dari awal Bang Ghani tidak pernah menanggapi perasaanku, tapi ... aku tetap bersikeras mengejarnya. Tapi dari sana juga aku bisa dekat dengan Mas Arron, dan akhirnya aku benar-benar jatuh cinta dengannya," sahut Melani dengan tawa renyah.
"Takdir memang indah, takdir tak pernah salah, aku percaya itu." Bylla melepaskan pelukannya, dan menatap Melani sambil tersenyum lebar.
"Aku juga percaya Mbak, dan sepertinya aku juga ingat itu kata-kata siapa," ujar Melani. Ekor matanya melirik ke samping, ke arah Ghani yang sedang berbincang dengan Arron.
Bylla ikut meliriknya, dan kemudian mereka berdua tertawa bersama.
Kala itu, Ghani sedang memberikan ucapan selamat untuk Arron, sekaligus memberi sedikit nasihat. Arron sudah dianggap seperti adiknya sendiri, oleh sebab itu Ghani berani mewanti-wanti.
"Aku senang pilihanmu jatuh pada Melani, aku tahu dia gadis yang baik dan mulia. Arron, cintailah istrimu dan jangan sekalipun menyakitinya. Meskipun surganya ada pada ridhomu, tapi kau tidak berhak semena-mena. Muliakan dia, sayangi dia, dia rela meninggalkan keluarganya demi hidup bersamamu, dia rela menomor duakan baktinya pada orang tua, demi berbakti kepadamu. Rejeki dan rahmat Allah tidak akan pernah terputus, selama kau menyayangi istrimu, dan memperlakukannya dengan patut. Jika dia bersalah, nasihati dengan cara yang halus, tidak perlu membentak apalagi memukul. Kelak dia mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan darah dagingmu, ingat itu, Arron!" kata Ghani dengan panjang lebar.
"Aku mengerti, Bang, aku berjanji akan selalu mencintainya dan tidak menyakitinya. Terima kasih untuk nasihatnya selama ini. Berkat Bang Ghani aku bisa seperti sekarang, punya kepribadian, dan punya masa depan. Terima kasih, Bang!" Arron memeluk Ghani dengan erat. Ia sangat bersyukur dipertemukan dengan lelaki sebaik Ghani. Tanpa pertolongannya, ahh entah bagaimana nasibnya dulu.
Beberapa detik kemudian, teriakan anak-anak membuyarkan suasana haru diantara mereka. Bayu, Ian, Doni, Sandi, Albi, Raffi, dan Alina, mereka bergantian memeluk Arron dan Melani. Mereka sangat bahagia.
Canda dan tawa terus menggema hingga malam tiba. Para tamu undangan mulai hadir satu persatu. Arron dan Melani menyalami dengan penuh suka cita. Meskipun pesta pernikahan tidak digelar secara besar-besaran, namun Arron dan Melani merasa luar biasa senangnya. Kini tak ada lagi pembatas untuk memiliki satu sama lain, mereka akan terus memupuk rasa cinta dan kasih dalam ikatan suci.
_____
Tujuh bulan kemudian.
__ADS_1
Di tengah malam yang sunyi dan lengang, Bylla mengerang kesakitan. Ia merasakan nyeri hebat di perut bagian bawah. Di atas brankar ia menangis sambil menggenggam tangan suami, sesekali menyebut nama Allah, berharap rasa sakit itu bisa berkurang.
Menurut keterangan dokter yang menanganinya, bayi akan lahir sekitar satu jam kedepan. Beliau menyarankan agar Bylla berhenti menangis, suapaya tenaganya tetap maksimal saat mengejan nanti.
Namun, rasa sakit itu teramat menyiksa. Bylla tak sanggup menahan air matanya, ia terus menggenggam tangan Ghani dengan erat sembari menitikkan buliran-buliran bening.
"Mas, sakit! Sakit, Mas," rintih Bylla untuk yang kesekian kali.
"Sabar ya, Sayang. Kamu pasti bisa, kamu pasti kuat. Aku selalu di sini menemani kamu, Sayang." Ghani menciumi kening Bylla sambil mengusap-usap kepalanya yang tertutup jilbab.
Ghani berusaha terlihat tenang, meskipun sebenarnya sangat khawatir. Sesungguhnya ia tidak tega melihat Bylla kesakitan, namun apa yang bisa ia lakukan, itu sudah kodratnya sebagai seorang wanita. Ghani hanya bisa berdoa dan terus mendukungnya.
"Mama, sakit Ma," rintih Bylla mengadu pada ibunya.
"Sabar ya, Nak, kamu pasti bisa. Mama ada di sini, Mama tidak akan meninggalkan kamu, Nak," ucap Ella dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tahu betul betapa sakitnya melahirkan. Ia pernah berada di posisi seperti itu, dan ia masih ingat benar bagaimana rasanya.
"Ahh ... sakit ... sakit ... ini sangat sakit." Bylla terus merintih, entah sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan.
Selang satu jam, dokter meminta mereka untuk keluar. Kini sudah saatnya Bylla mengejan. Dokter berpesan agar mereka membantunya dengan doa.
Di luar ruangan, seluruh keluarga mondar-mandir ke sana ke mari. Mereka menunggu dengan diliputi rasa cemas dan was-was. Masing-masing memanjatkan doa dalam hati, sambil menajamkan
pendengaran, menanti suara tangis bayi.
"Alhamdulillah Pa, anakku sudah lahir," ucap Ghani dengan girang.
"Iya Nak, semoga mereka berdua sehat. Aku sudah tidak sabar untuk melihat anak-cucu-ku," jawab Kairi.
"Mereka pasti sehat, Mas. Bylla wanita yang kuat, aku yakin dia bisa melewati semua ini," timpal Ella.
"Iya, Sayang, kamu benar. Bylla pasti bisa," jawab Kairi.
"Aku juga sependapat dengan Papa dan Mama. Sayang, Ma cherie, kamu wanita yang luar biasa, kamu pasti bisa," batin Ghani.
Sekitar satu jam kemudian, pintu ruangan terbuka, seorang dokter berdiri di sana sambil tersenyum.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Ghani tanpa basa-basi.
"Alhamdulillah, persalinannya berjalan lancar. Selamat ya, Pak, Anda sekarang menjadi seorang ayah. Nyonya Bylla dan bayinya dalam keadaan sehat, Ibu dan Bapak bisa menjenguknya secara bergantian, ya," terang Dokter.
"Saya ... saya boleh melihatnya, Dokter?" tanya Ghani.
"Silakan, Pak, sekalian di-adzani, ya." Dokter tersenyum lebar.
__ADS_1
"Baik Dokter, kalau begitu saya akan wudhu' dulu." Ghani berlari menuju kamar mandi. Ia mengambil wudhu' dan bergegas kembali ke ruang bersalin.
"Ma, Pa, aku dulu, ya," ucap Ghani sebelum masuk ke ruangan.
"Iya, Nak." Kairi tersenyum sambil mengangguk.
Ghani masuk ke ruang bersalin dengan jantung yang berdetak cepat. Haru, bahagia, dan entah perasaan apalagi yang menggelora dalam benaknya. Ghani tak tahu lagi, bagaimana caranya berterima kasih pada Bylla. Istrinya itu sudah mepertaruhkan nyawa demi darah dagingnya.
"Papa."
Suara Bylla yang mengalun merdu membuat Ghani menoleh seketika. Lantas lelaki itu langsung menghambur mendekati anak istrinya. Kebahagiaan tak bisa lagi diungkapkan dengan uraian, melihat Bylla duduk di ranjang sambil memangku bayi, ahh demi apa ini adalah pemandangan terbaik yang pernah ia lihat.
"Ma cherie, ini ... ini anak kita." Ghani menitikkan air mata. Ia terlalu bahagia melihat sosok mungil yang teramat elok. Rambutnya lebat, bergelombang dan kecokelatan. Matanya yang sedikit terbuka, menampilkan manik biru bening, persis seperti ibunya.
"Iya, ini anak kita, Ciara Maharani. Ayo gendong dia, kumandangkan adzan dan iqomah untuknya," ucap Bylla dengan mata yang berkaca-kaca.
Rasa nyeri dan sakit yang mendera seluruh tubuhnya, terbayar lunas dengan kehadiran sosok kecil yang menjadi wujud cinta kasihnya bersama suami.
Ghani membungkuk dan meraih tubuh kecil yang ada dalam gendongan sang istri, dengan pelan dan hati-hati ia membawa bayi itu dalam gendongannya.
Ciara Maharani, nama yang sudah mereka sepakati sejak jauh-jauh hari. Ciara artinya terang dan bersih, sedangkan Maharani memiliki arti 'seorang ratu'.
Setelah mengucapkan basmallah, Ghani mengumandangkan adzan di telinga kanannya, yang kemudian dilanjut dengan iqomah di telinga kiri. Usai melaksanakan kewajibannya, Ghani memandangi wajah elok Ciara dengan tatapan takjub. Ia benar-benar terpukau dengan ciptaan Tuhan yang maha indah.
"Ara, selamat datang, Nak. Papa benar-benar bahagia hari ini." Ghani membelai lembut pipi anaknya yang masih lunak. Lantas ia duduk di sebelah Bylla, dan mengusap peluh yang membasahi kening istrinya.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah berjuang untuk dia." Ghani meraih kepala Bylla, dan mencium keningnya cukup lama.
"Itu sudah kewajibanku, Mas. Aku bahagia berhasil mengantarnya ke dunia ini, dan aku berharap ini bukan yang terakhir. Ke depannya aku masih ingin berada di posisi ini," ucap Bylla.
"Kau masih mau punya anak lagi?" tanya Ghani.
"Tentu saja. Aku ingin lebih dari satu anak yang memanggilku bunda. Meskipun memang iya sakit, tapi semua itu dapat terabaikan setelah menatap wajah mungilnya yang memukau. Mas, kamu masih mau 'kan, mempercayakan tugas ini padaku?" goda Bylla.
"Apa yang kau bicarakan, Sayang, tentu saja iya. Kamu adalah satu-satunya wanita yang boleh melahirkan anakku. Aku sangat mencintaimu, Sayang." Ghani mengusap-usap pipi Bylla dengan lembut.
"Aku juga mencintaimu, Mas," jawab Bylla.
Lantas keduanya beradu pandang sekilas, lalu masing-masing menatap bayi mungil yang ada dalam pangkuan Ghani.
Tak henti-hentinya bibir mereka tersenyum, hari ini merupakan puncak kebahagiaan dalam kisah asmara mereka.
TAMAT
__ADS_1