Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Bertemu Diujung Rindu


__ADS_3

Bylla menggigit bibirnya kuat-kuat. Apa yang dikatakan Ghani bukanlah hal yang salah, justru merupakan sesuatu yang patut untuk dihargai. Dia bekerja demi masa depan anak-anak asuhnya, dia bekerja demi mencari bekal untuk menikahinya.


Bylla berada dalam dilema, jika dia mengedepankan rasa cemburu, itu sama saja dengan menodai harga diri Ghani. Padahal dia berusaha dengan keras hingga ke Jakarta, demi menjaga harga diri di depan keluarganya. Dia tidak mau bergantung pada Bylla, sebagai seorang lelaki, dia berusaha mengandalkan dirinya sendiri.


Namun jika mendukung pendapat Ghani, hatinya yang teriris sakit. Membayangkan Ghani yang selalu bermain peran dengan model cantik, ia benar-benar takut drama itu menjadi nyata.


"Bylla!" panggil Ghani.


"Mmmm iya." Jawab Bylla.


"Kenapa kamu diam, jika masih ada yang mengganjal katakan saja," ucap Ghani masih dengan nada yang lembut.


"Mmmm Ghani, kalau seandainya kamu bekerja di kantor saja, bagaimana? Aku bisa membantumu mendapatkan pekerjaan itu," kata Bylla dengan hati-hati.


"Bylla, aku bukan orang yang berpendidikan. Mana mungkin aku bisa bekerja di kantor, aku tidak sanggup bergumul dengan deretan angka dan juga huruf. Aku tidak secerdas itu Bylla." Ucap Ghani.


Lagi-lagi Bylla terdiam, yang dikatakan Ghani memang benar adanya. Menjadi karyawan di kantor harus cerdas, cekatan, dan juga kreatif. Ahh Bylla kembali berpikir keras, bagaimana caranya menyuruh Ghani kembali dengan tetap mendapat pekerjaan yang layak.


"Bylla percayalah padaku, perasaan ini tidak akan pernah berubah, meskipun aku jauh darimu. Mungkin aku memang sering bermain peran dengan wanita lain, tapi ini sekedar peran Bylla, bukan nyata. Jika aku sudah punya cukup bekal, aku akan segera menikahimu. Aku akan mengenalkanmu pada publik, sebagai pasanganku yang sebenarnya. Bylla tolong jangan ragukan perasaanku," kata Ghani dari seberang sana.


"Aku tidak punya pilihan lain, selain menghargai keputusanmu. Ghani, semoga kamu bisa menepati janjimu." Batin Bylla dalam hatinya.


"Aku mengerti Ghani, maafkan aku yang sudah cemburu dan meragukan kesetiaan kamu." Ucap Bylla.


"Tidak perlu meminta maaf, aku yang seharusnya mengatakan itu. Maaf ya, aku tidak peka dan membuatmu dalam keraguan. Mulai saat ini aku akan berusaha untuk tidak teledor lagi, dan aku akan lebih sering menghubungi kamu," kata Ghani.


"Terima kasih Ghani. Aku sudah melabuhkan hatiku untukmu, jangan nodai kepercayaanku, ya," ucap Bylla.


"Tidak akan. Bylla, bagiku kamu ibatat bintang yang paling terang. Meraihmu adalah hal terindah dalam hidupku, jadi mana mungkin aku melepasmu. Aku adalah insan yang paling beruntung, saat berhasil menggenggammu. Memilikimu adalah mimpi terbesarku, Bylla." Jawab Ghani dengan serius, sebuah jawaban yang mampu memercepat detak jantung Bylla.


***

__ADS_1


Detik demi detik terus berdetak menjadi menit, menitpun silih berganti menjadi jam dan hari. Waktu terus bergulir, tak terasa tiga bulan sudah berlalu sejak Bylla meninggalkan kursi rodanya.


Tiga bulan Bylla bertahan dengan alat penyangga, dan menjalani terapi rutin setiap hari. Dan akhirnya usaha keras membuahkan hasil, kini Bylla telah sembuh seperti sedia kala. Telapak kakinya mampu menapak sempurna, ia melangkah dan berjalan seperti manusia pada umumnya.


Sesuai dengan rencana awal, Bylla akan berkunjung ke Paris setelah sembuh dari lumpuhnya. Dan bulan depan, dia bersama ibunya akan terbang ke sudut Benua Eropa. Sementara ayahnya, dia sudah berangkat ke sana sejak hari ini. Ada proyek besar yang membutuhkan penanganannya.


Hubungan Bylla dan Ghani semakin dekat, mereka saling terbuka dan saling memaafkan jika ada kesalah pahaman. Meski terkadang Bylla merasa cemburu, dan kurang nyaman dengan profesi Ghani. Namun dia mencoba mengerti, dia berusaha menepis egonya demi kelanggengan hubungan mereka.


Tadi malam, Ghani tiba di Surabaya. Dia berkunjung ke tanah kelahiran, disela-sela kesibukannya. Ghani pulang demi mengunjungi Bylla, dan juga anak-anak asuhnya. Dia ingin menemui sang kekasih yang baru saja sembuh dari lumpuhnya. Juga menemui Alina yang sedang sakit demam.


Meskipun hanya diberi waktu tiga sampai empat hari, namun Ghani sudah bahagia. Setidaknya ia bisa melepaskan rasa rindu pada orang-orang yang disayanginya.


Pagi ini, sang surya mulai merangkak naik. Menyemburatkan sinar hangatnya yang keemasan. Ghani, Arron, dan anak-anak sedang duduk bersama di ruang tamu. Ghani tersenyum, kala menatap ruangan yang terlihat lebih layak daripada waktu lalu.


Jika dulu hanya ada tikar, sekarang sudah ada meja kayu lengkap dengan kursinya. Tembok yang mengelupas, sudah direnovasi menjadi lebih baik lagi. Di sudut ruangan, tampak rak buku dengan ukuran yang cukup besar. Di sanalah anak-anak menyimpan buku pelajaran dan pengetahuan.


Alina meringkuk dalam pelukan Ghani, gadis kecil itu sedang sakit. Tubuhnya panas, namun ia merasa kedinginan. Wajah dan bibirnya terlihat pucat, Ghani sangat khawatir, dan dia akan membawanya ke rumah sakit.


"Sekitar tiga harian Bang, aku sudah membawanya ke klinik dua kali. Tapi, lagi-lagi demamnya kambuh." Jawab Arron.


"Mungkin dia rindu sama Bang Ghani, sejak seminggu yang lalu Alina selalu mengigau, memanggil-manggil nama Abang," sahut Bayu sambil menatap Ghani.


"Iya Bang, Bayu benar. Bahkan saat ada tugas menggambar, dia menggambar dirinya dan Bang Ghani, sedang duduk bersama di bawah pohon." Ian ikut menyela.


"Begitu ya," gumam Ghani dengan pelan, sambil mengusap-usap rambut Alina yanh sedikit berantakan.


"Maafkan Abang Alina, Abang meninggalkan kamu dalam waktu yang cukup lama," batin Ghani dalam hatinya.


Ghani menatap gadis kecil yang meringkuk dalam pelukannya. Matanya terpejam, namun bibirnya bergerak-gerak, terlihat jelas jika ia sangat kedinginan.


"Tunggu sebentar ya Alina, tidak lama lagi Tante Putri akan ke sini. Abang akan membawamu ke rumah sakit, Abang akan menjagamu sampai sembuh," ucap Ghani seraya mengeratkan dekapannya.

__ADS_1


Menurut rencana, Ghani akan mengajak Bylla jalan-jalan. Namun karena kondisi Alina yang kurang sehat, Ghani menunda rencananya. Akan tetapi, Bylla menawarkan diri untuk mengantar mereka ke rumah sakit. Dan Ghani, ia menerima tawaran Bylla. Karena jujur, ia juga sangat merindukan wanita itu.


Tak lama kemudian, mobil merah milik Bylla berhenti tepat di depan rumah Ghani. Ghani tersenyum, namun detak jantungnya berdegub kencang. Bertemu dengan wanita yang dicintainya, setelah sekian lama tinggal di sudut yang berbeda. Ahh apa yang harus ia lakukan?


Ghani menurunkan Alina, dan menyelimutinya dengan selimut tebal. Kemudian ia beranjak dari duduknya. Ia melangkah keluar rumah, dan menyambut sosok wanita yang baru saja keluar dari mobilnya.


Mereka saling bertemu pandang. Manik biru milik Bylla seakan mengunci tatapannya, dan membuat Ghani tak mampu memalingkan barang sekejab saja.


Bylla mengulas senyuman tipis, sambil terus melangkah mendekati sosok lelaki yang selalu dirindukannya. Sungguh seperti mimpi, jika lelaki itu benar-benar menjelma dalam wujud yang nyata.


"Assalamu'alaikum." Ucap Bylla dengan pelan.


"Waalaikumsalam." Jawab Ghani juga dengan suara pelan.


"Ghani, ini, ini benar-benar kamu," ucap Bylla setelah ia berdiri tepat di hadapan Ghani. Ia terlihat gugup dan salah tingkah.


Ghani tak menjawab, namun ia langsung memeluk Bylla dengan erat. Ia melepaskan rasa rindunya. Sosok wanita yang selalu hadir dalam mimpi disetiap malamnya, kini dia benar-benar hadir di hadapannya. Mereka benar-benar bersua diujung rindu yang kian membuncah.


Bylla menggerakkan tangannya, ia membalas pelukan Ghani dengan erat. Bylla memejamkan mata, menikmati cinta yang mendekapnya dengan hangat. Setetes demi setetes air bening, merembas keluar dari sudut matanya.


"Kenapa menangis?" bisik Ghani di dekat telinga Bylla. Ia merasakan ada sesuatu yang membasahi bahunya.


"Aku terharu," jawab Bylla juga dengan bisikan.


Tak lama kemudian, Ghani melepaskan pelukannya. Ia menatap Bylla sambil tersenyum. Lalu ia mengusap air mata Bylla dengan kedua jemarinya.


"Kita sedang bahagia, jangan menitikkan air mata. Maafkan aku yang terlambat pulang, maafkan aku yang menciptakan rindu diantara kita," ucap Ghani dengan jemari yang masih menempel di pipi Bylla.


Bylla mengulas senyuman lebar, kendati demikian air matanya kembali menetes. Bersua dengan Ghani, seolah rasa cintanya semakin mekar dan bersemi.


Bylla menatap lekat ke arah Ghani. Wajah lelaki itu berubah hampir 180 derajat. Kulitnya terlihat lebih putih, gaya rambutnya tampak lebih modis, dan penampilannya jauh lebih elegan. Menatap Ghani yang seperti sekarang, seakan tak percaya jika dulu dia hanyalah pengamen dan kuli bangunan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2