
Sang surya kian merangkak, meninggalkan semburat jingga yang memantul indah di lautan lepas.
Arriano Santuso, atau kerap disapa Arron. Pemilik jemari yang sedang meraih cincin permata di sakunya. Dengan senyum yang terkulum, dia melepaskan rengkuhannya di bahu kekasih-Melani Devi Lestari.
"Kenapa, Mas?" tanya Melani dengan heran. Dia tidak tahu apa alasannya, kenapa tiba-tiba Arron melepaskan rangkulan.
"Karena aku ingin menunjukkan hal yang lebih indah, daripada rengkuhan," sahut Arron.
"Oh ya, mmm apa itu?" Pipi Melani mulai merona.
Arron, lelaki yang dulu tak pernah dipandangnya, kini berhasil mencuri sanubari, seutuhnya. Bahkan segala hal yang dilakukan lelaki itu, selalu sukses membuatnya tersipu malu.
"Mana tanganmu." Arron meraih tangan kiri Melani, lantas menyematkan cincin permata di jari manisnya.
"Hari ini, aku resmi melamarmu. Nanti malam aku akan datang ke rumahmu, memintamu pada Ayah dan Ibu. Dalam waktu dekat, aku akan menghalalkanmu, Sayang." Arron mencium cincin yang telah melingkar indah di jemari Melani.
Melani menutup mulutnya, merasa terharu dengan perlakuan Arron yang sangat memuliakannya. Benar apa kata Ghani dahulu, takdir selalu indah-takdir tak pernah salah. Kehadiran Bylla yang menorehkan luka, ternyata juga membawa hikmah. Berkat kehadirannya, Melani dapat melihat Arron. Merasakan indahnya dicintai dan mencintai. Tanpa adanya Bylla, mungkin dia akan tetap terpaku pada Ghani. Lelaki yang tak pernah menanggapi perasaannya.
"Mas Arron, kamu ... kamu benar-benar akan menikahiku?" Melani menatap Arron dengan lekat. Poni depannya terlihat berantakan, karena terpaan angin pantai yang semakin kencang.
"Memangnya dalam sebuah cinta, apa akhir yang indah, selain pernikahan? Sayang, aku tulus mencintai kamu. Aku ingin memilikimu dan membahagiakan kamu. Kita sudah sama-sama dewasa, sudah saatnya memikirkan masa depan. Kau bersedia 'kan, Sayang?" Arron menaikkan kedua alisnya sembari mengusap-usap jemari Melani.
"Tentu saja aku bersedia, aku sangat bahagia, Mas," jawab Melani dengan senyuman lebar. Senyum menawan yang berbaur dengan hangatnya suasana senja.
"Aku juga bahagia Sayang. Bahkan kebahagiaan ini sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Mendapatkan cintamu, itu ibarat mimpi. Dulu aku sama sekali tak berani membayangkan hal ini, Sayang. Rasanya ... memenangkan hatimu itu sangat sukar," ucap Arron.
"Maafkan aku ya, dulu aku tidak pernah menatapmu. Aku hanya terpaku pada seseorang, yang sebenarnya tidak pernah menganggapku." Melani menghela napas panjang, menyesali waktu dan air mata yang ia buang sia-sia demi Ghani.
"Tidak perlu minta maaf, perasaanmu dulu tidak salah. Semua orang berhak jatuh cinta, dan kita tidak bisa memilih kemana hati akan berlabuh. Kita syukuri saja, setidaknya dengan kejadian itu, aku dan kamu bisa bertemu dalam jalinan kasih. Andai saja kamu tidak terluka, mungkin selamanya aku tidak punya keberanian untuk mendekatimu, dan mengutarakan perasaanku," terang Arron. Dia menggenggam jemari Melani dengan lebih erat, dan sesekali merapikan rambutnya yang berantakan karena tiupan angin.
"Iya, kau memang benar. Mas Arron, terima kasih sudah menunjukkan padaku, tentang hal terindah yang ada di dunia ini. Kau ingin tahu, hal terindah itu apa? Mengenalmu, mencintaimu, dan memilikimu." Melani membalas genggaman tangan Arron sambil menatapnya.
__ADS_1
Dua pasang netra saling beradu, masing-masing menyiratkan rasa cinta yang seputih salju. Hingga beberapa detik berlalu, keduanya terhanyut dalam kenangan masa silam.
Di kala Melani masih sangat mencintai Ghani, lelaki itu semakin dekat dengan Bylla. Ghani nyaris tak pernah menemuinya, dia selalu menghabiskan waktunya bersama Bylla.
Dalam hati, Melani sangat cemburu, benci dengan keadaan yang tak berpihak padanya. Namun ia tak punya hak untuk meluapkan emosi, sedari awal Ghani tak pernah mengiyakan perasaannya. Lelaki itu selalu menolaknya dengan cara halus. Hanya saja Melani tak pernah menyerah, ia bersikeras menyimpan perasaannya dengan rapi. Lantas siapa yang salah? Entahlah, yang jelas kala itu ia sangat terluka.
Melani terpuruk dalam kesedihan, ia memeluk sepi sembari menghabiskan sisa-sisa air mata. Di saat ia berada di titik terlelah, Arron datang padanya. Menawarkan dada dan bahu sebagai tempat bersandar, juga sebagai tempat untuk menumpahkan air mata.
Detik waktu kian berjalan, luka dan sembilu semakin memudar. Senyum merekah mulai tampak samar-samar. Arron berhasil menyalakan pelita yang sempat padam. Api cinta yang telah suram, kembali berpendar, berkat kehadirannya.
Sering menghabiskan waktu bersama, Melani mulai terbiasa. Bahkan ia merasa rindu, ketika sehari saja tak saling bertegur sapa. Lantas keduanya semakin dekat, dan Arron mulai berani mengutarakan perasaannya. Untuk pertama kalinya Melani merasakan indahnya dicintai, dan ia tak mau melewatkan kesempatan itu. Ia menerima Arron, kendati belum paham akan perasaannya sendiri. Dan semakin lama ia semakin sadar, bahwa rasa cinta itu perlahan bersemi dan tumbuh subur dalam relung hati.
"Sayang, sudah maghrib. Ayo kita shalat dulu, setelah itu pulang dan menemui orang tuamu," ucap Arron membuyarkan lamunan.
Melani tersenyum, suara adzan memang sudah berkumandang dari surau yang ada di sana. Pantai yang sedang mereka kunjungi, bukan sekadar pantai pariwisata. Selain kafe dan warteg, di sana juga banyak rumah-rumah warga. Itu sebabnya, ada tempat ibadah yang didirikan di kawasan sana.
"Ayo." Melani menerima uluran tangan Arron.
____
Satu bulan sudah berlalu, sejak Ghani dan Bylla tinggal di Jakarta. Mereka sudah mulai bekerja dari tiga minggu yang lalu. Ghani yang masih awam dalam dunis bisnis, butuh usaha keras untuk memahami setiap arahan yang diberikan istrinya. Walaupun terkadang pekerjaan itu cukup memeras otak, namun Ghani tak pernah menyerah. Ia akan belajar menjadi suami yang bertanggung jawab.
"Ma cherie, masak apa hari ini?" Ghani bertanya sambil merangkul tubuh Bylla dari belakang. Merasakan hangat tubuh sang istri yang hanya dibalut piyama tipis.
Memasak adalah rutinitas Bylla setiap pagi, dia tidak mau melimpahkan tugas itu pada asisten. Sebagai seorang istri, dia sangat senang jika suami menikmati masakannya. Mereka punya satu asisten rumah tangga, dia bertugas mencuci, menyetrika, dan bersih-bersih rumah. Dia datang pukul 08.00 pagi, dan pulang sebelum jam 04.00 sore.
"Menyingkirlah!" Bylla melepaskan rengkuhan Ghani, dan melangkah menjauhi suaminya.
"Kenapa?" Ghani mengernyit heran.
"Parfume apa yang kamu pakai, aromanya sangat tidak enak," ucap Bylla.
__ADS_1
"Ini parfume yang biasa kupakai, Ma cherie. Bukankah kamu sangat menyukai wangi bvlgari?" Ghani mengendus-endus kemeja yang dikenakan. Tidak ada yang aneh, aroma wanginya sama seperti hari-hari sebelumnya.
"Ini sangat tidak enak. Pergilah, kamu membuatku mual!" Bylla menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangan.
"Tapi Ma cherie, aku___"
"Ganti baju atau jangan mendekat!" pungkas Bylla.
"Baiklah, aku akan ganti baju." Ghani menghela napas panjang, lantas kembali ke kamar.
Meskipun tidak mengerti apa alasannya, namun ia menuruti keinginan Bylla.
"Jangan memakai parfume!"
Teriakan Bylla terdengar menggema. Ghani dapat menangkapnya dengan jelas, kendati sudah tiba di ambang pintu kamar.
"Iya," jawab Ghani dengan pelan, entah dapat didengar istrinya atau tidak.
Sekitar lima belas menit kemudian, Ghani keluar kamar. Ia sudah mengganti kemejanya, dan kali ini tidak memakai parfume. Ghani langsung menuju meja makan, karena sang istri sudah menunggunya di sana.
"Nah kalau begini, aku jadi nyaman dekat sama kamu, Mon cherie. Ayo makan, aku masak spesial hari ini." Bylla menggelayut manja di lengan Ghani. Lantas membimbing suaminya duduk di kursi.
Ghani terkesiap, matanya membelalak lebar kala menatap hidangan yang tersaji rapi di atas meja makan.
"Ayo makan, aku ambilkan ya," ucap Bylla sambil tersenyum lebar. Tersirat binar kebahagiaan di dalam manik birunya.
Namun, untuk beberapa detik lamanya Ghani masih mematung. Bahkan ia tetap bergeming, walaupun Bylla sudah mengisi piringnya.
"Ada apa dengannya?" batin Ghani. Ia melirik Bylla dan setiap hidangan secara bergantian.
Bersambung...
__ADS_1