Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Kembali Ke Indonesia


__ADS_3

Sang fajar masih menyembul malu di kaki langit timur, kirananya tampak remang-remang mewarnai awan di sekitar.


Ghani baru saja keluar dari kamar mandi, tubuh tegapnya hanya dibalut celana pendek. Sedangkan dadanya dibiarkan terbuka, tanpa tertutup sehelai benang.


Ghani melangkah sambil menggosok rambutnya dengan handuk. Titik-titik air berjatuhan membasahi wajah rupawan. Ghani tersenyum, kala menatap sosok bidadari tak bersayap yang masih meringkuk di bawah selimut tebal. Lantas Ghani mendekat dan duduk di sebelahnya.


Ia pandangi wajah ayu nan teduh yang sedang terlena dalam dunia mimpi. Deru napasnya tenang dan teratur, seolah ia berada di zona paling nyaman.


"Ma cherie!" panggil Ghani membangunkan sang istri.


"Ma cherie!" Ghani menepuk pelan pipi mulus nan menawan.


Bylla menggeliat pelan, sangat enggan untuk membuka mata. Mungkin mimpi terlalu indah, sehingga ia sangat berat untuk meninggalkannya.


"Ma cherie!" panggil Ghani untuk yang kesekian kalinya.


Bylla mengerjap pelan, sinar lampu mulai tertangkap manik biru yang masih sayu. Ketika ia membuka netra lebih lebar, satu obyek yang menarik perhatiannya adalah Ghani. Lelaki yang belum genap 24 jam menyandang status suami, kini sedang duduk di sebelahnya tanpa mengenakan kaus. Ahh dada bidang itu, mengingatkannya pada kejadian semalam.


Dengan cepat Bylla menarik ujung selimut, dan menutupi wajahnya. Rasa malu yang semalam hirap, kini kembali menghampiri.


"Ma cherie, apa yang kamu lakukan? Ayo bangun, sebentar lagi fajar menyingsing. Mandilah, dan nanti kita shalat bersama!" Ghani menarik kembali selimut yang menutupi kepala Bylla.


"Jangan melihatku!" Bylla membenamkan wajahnya di bantal.


"Kenapa, hemm?" Ghani menyibakkan rambut Bylla yang menutupi sebagian wajah.


"Aku malu, kamu sudah melihatnya," gumam Bylla tanpa menoleh.


"Ma cherie, bukan hanya aku yang melihatmu. Tapi, kamu juga melihatku. Kita sudah menikah, sekarang kita saling memiliki. Tidak perlu malu lagi, ya!" Ghani mencium pipi Bylla sekilas, lantas membujuk wanita itu itu menatap ke arahnya.


"Tapi aku malu," gumam Bylla.


"Lama-lama akan terbiasa. Ayo kubantu!" Ghani membimbing Bylla bangkit dari tidurnya.


"Aww!" rintih Bylla, kala menggerakkan kakinya.


"Sakit ya?" tanya Ghani dengan penuh kekhawatiran.


"Sedikit, tapi tidak apa-apa," jawab Bylla.


"Apa perlu aku gendong, atau___"


"Tidak usah, aku bisa sendiri. Tunggu sebentar ya," pungkas Bylla.


Lantas ia beringsut turun, dan mengayunkan kaki menuju kamar mandi. Selimut tebal masih ia bawa, guna menutupi raga yang polos bak awal dilahirkan di dunia. Bylla meringis, menahan sakit dan nyeri yang mendera tubuhnya. Namun ia berusaha tersenyum, malu jika Ghani tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.

__ADS_1


"Ma cherie, kamu yakin bisa sendiri?" tanya Ghani yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Bylla.


"Yakin."


"Tapi sepertinya kamu kesakitan, aku gendong aja, ya," tawar Ghani, ia merasa khawatir ketika melihat istrinya berjalan tertatih.


"Tidak usah, aku tidak apa-apa. Kamu siap-siap aja sambil menungguku, ya." Bylla mengusap lengan Ghani, meyakinkan suami jika ia baik-baik saja.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya, panggil aku jika butuh bantuan!"


"Iya."


Setelah beberapa menit berlalu, Bylla keluar dari kamar mandi. Ia mengganti baju dan kemudian mengambil mukenah. Lantas menghampiri Ghani yang sudah membentangkan sajadah.


Ghani berdiri tegap menghadap kiblat, dan Bylla, ia berdiri di belakangnya. Mereka mengucapkan niat dalam hati, bersiap menghadap Sang Ilahi. Ini adalah kedua kalinya Ghani dan Bylla shalat bersama. Namun, sekarang berbeda. Ghani tidak hanya menjadi imam dalam shalat, namun juga imam dalam hidupnya.


Keduanya melaksanakan ibadah wajib dengan khusuk. Mereka akan bersama-sama mendekatkan diri kepada Tuhan, mereka akan menjadikan pernikahan sebagai ibadah panjang yang menghantarkan wangi surga.


Beberapa menit berlalu, Ghani dan Bylla mengakhiri shalat dengan ucapan salam. Lantas Bylla mencium punggung tangan Ghani, dan dia membalasnya dengan kecupan di kening. Laksana guyuran hujan di padang gersang, rasa cinta yang mereka siramkan sejuk dan menentramkan.


Masing-masing saling menengadahkan tangan, memanjatkan doa dan rasa syukur pada Sang Ilahi. Setelah selesai, keduanya beranjak dan bersiap turun ke lantai bawah.


Saat melintas di samping ranjang, wajah Bylla seketika merona. Kelopak mawar yang layu dan berserakan, mengingatkannya pada api cinta yang menggelora. Diam-diam Bylla mengusap perutnya, dalam hati ia berharap segera ada nyawa yang bersemayam di dalam sana. Walaupun ia sadar, hal itu masih terlalu awal untuk diimpikan.


Di belakangnya, Ghani mengulas senyuman lebar. Menatap noda merah di antara kelopak mawar yang putih, rasa bahagia memenuhi seluruh rongga dalam sanubari. Beberapa hari yang lalu, ia sempat pesimis. Ia merasa tak ada lagi jalan untuk memiliki Bylla. Namun berkat kuasa Tuhan, semua itu menjadi sangat mudah baginya.


***


Setelah melewati banyak waktu di sana, mereka kembali ke Indonesia. Mereka menempati rumah Alina, yang sebelumnya menjadi tempat tinggal Batas. Sehan sudah terbang ke Malaysia, mengurus pekerjaan yang ada di sana, sekaligus menjaga Alina. Gadis kecil itu tinggal, dan mengenyam pendidikan di Negeri Jiran.


Bisnis milik keluarga Alina yang ada di Indonesia, Sehan percayakan pada Ghani. Dengan bimbingan Bylla, dia akan belajar menekuni bisnis. Dia berusaha mengemban amanat Sehan dengan baik.


Namun, sebelum tinggal di Jakarta, mereka lebih dulu pulang ke Surabaya. Menemui Pak Louis, Bu Mirna, Arron, dan juga anak-anak. Tiga hari mereka menginap di sana, dan pagi tadi, mereka baru tiba di Jakarta.


Malam ini, mereka akan menghadiri acara reality show yang diadakan Livay. Bukan kembali menjadi artis, melainkan Ghani akan pamit undur diri. Sekaligus mengonfirmasi publik, jika vocalis Batas kembali pada posisi semula.


"Bagus ini, apa ini?" Bylla menunjukkan dua kerudung dengan warna yang berbeda.


"Semua akan bagus, jika sudah menempel di tubuhmu. Warna apapun tidak akan memengaruhi obyek yang sudah jelas keindahannya," sahut Ghani yang lantas membuat Bylla tersipu.


"Mon cherie, aku serius." Bylla menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona.


"Aku juga serius, kamu memang indah, dan akan selalu indah." Ghani menghampiri Bylla, dan berdiri tepat di hadapannya.


Bylla semakin menunduk, menatap jemari kaki yang nyaris tertutup ujung jubah, sembari menghirup wangi bvlgari yang menguar dari tubuh sang suami.

__ADS_1


"Kok malah diam? Apa yang menarik di bawah sana, sampai-sampai enggan menatapku?" Ghani meraih dagu Bylla, dan membimbingnya mengangkat wajah.


"Kamu selalu saja menyanjungku seperti itu, aku 'kan malu," gerutu Bylla.


"Aku melakukannya, karena aku sangat suka menatap wajahmu yang sedang tersipu," sahut Ghani.


"Mon cherie!" teriak Bylla.


Ghani tertawa renyah, lalu direngkuhnya tubuh sang istri, dan dikecup keningnya cukup lama.


"Aku tidak terlalu paham dengan fashion, Ma cherie. Tapi ... mungkin yang ini lebih cocok." Ghani menunjuk kerudung berumbai warna biru muda.


"Kalau gitu aku pakai yang ini, ya."


Ghani menjawabnya dengan anggukan.


Lantas Ghani duduk di tepi ranjang, menatap gerak-gerik sang istri yang sedang memasang kerudung. Dalam pantulan kaca, terlihat jelas wajah ayu nan teduh, tindak-tanduknya anggun dan lemah lembut. Indah nian jodoh yang Tuhan kirimkan untuknya.


***


Gemerlap lampu kristal, menerangi ruang lapang nan elegan. Di antara kursi-kursi yang tertata rapi, beberapa insan tampak duduk sambil berbincang dan bercanda. Ghani dan Bylla melangkah bersama memasuki ruangan. Kedua tangan saling menggenggam, memamirkan kemesraan dalam ikatan.


Ghani tampak rupawan dengan balutan jas dan setelan formal. Rambutnya dibiarkan berdiri cinta langit, ciri khas dari seorang Ghani Alghibrani. Di sebelahnya, berdiri seorang wanita cantik pemilik manik biru bening. Postur tubuh yang nyaris sempurna tertutup jubah longgar warna biru tosca, senada dengan kerudungnya yang berwarna biru muda.


Ghani menghela napas panjang, kala menapakkan kakinya di dalam ruangan. Untuk kesekian kalinya dia bertandang ke tempat ini, dan setiap kali itu terjadi, secara tidak langsung dia sudah menyakiti sang kekasih. Namun kali ini tidak, ia akan mengungkapkan fakta yang sesungguhnya. Siapa Bylla dan apa statusnya. Dia akan mengenalkannya pada publik, sebagai cinta sejati.


"Ghani, akhirnya kamu datang juga. Kami sudah merindukanmu, kawan!" Satya menghambur, menghampiri Ghani. Memeluk, sembari menepuk punggungnya dengan pelan.


"Selamat ya Ghan, akhirnya kamu berhasil menikah dengan gadis impianmu." Bryan ikut menghambur.


"Maaf, kami tidak bisa menunggu ijab kabulmu," timpal Arsen yang juga ikut mendekat.


Kala itu mereka sudah terlanjur memesan tiket pesawat. Sebagai orang yang tidak bergelimangan harta, harga tiket Perancis-Indonesia cukuplah mahal. Itu sebabnya mereka tidak bisa membatalkan kepulangannya begitu saja.


"Semoga ini menjadi awal yang indah untuk kita semua." Rizki ikut menyahut.


Masing-masing bergantian memeluk Ghani. Sejak berpisah di Paris, ini adalah pertama kalinya mereka bersua.


"Amiinn, terima kasih semuanya. Oh ya, kenalkan ini istriku, Bylla." Ghani tersenyum sembari menatap ke arah Bylla.


Lantas mereka semua menyalami Bylla sambil menyebutkan nama.


Di saat mereka sedang berbincang dan bercanda bersama. Tiba-tiba ada satu suara yang mengejutkan Bylla.


"Bylla!" panggil seseorang yang baru saja datang.

__ADS_1


Bylla menoleh dengan cepat, dalam hati ia merasa familiar dengan suara itu. Dan detik berikutnya ia memicingkan mata. Benar dugaannya, sang pemilik suara adalah seseorang yang hadirnya tak pernah ia harapkan.


Bersambung...


__ADS_2