Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Menangis Sendiri


__ADS_3

Ghani menatap Bylla yang sedang termenung. Kepalanya menunduk, menatap lantai tempat mereka berpijak. Dalam hati, Ghani menduga ada beban yang sedang Bylla sembunyikan. Sebuah beban yang mungkin cukup berat baginya.


Cukup lama mereka saling terdiam, hening, hanya suara tawa anak-anak yang terdengar di telinga mereka. Ghani mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan. Meskipun Ghani tidak tahu apa masalahnya, tapi ia mencoba untuk meringankan bebannya.


"Bylla!" panggil Ghani.


Bylla mengangkat wajahnya, ia menoleh, dan menatap Ghani sekilas, lalu membuang pandangannya ke depan. Meskipun hanya sekejap, namun Ghani dapat melihat jelas, jika sudut mata Bylla mulai basah. Seberat itukah bebannya?


"Aku tidak tahu masalah apa yang membuatmu pindah ke sini. Tapi aku percaya, pilihanmu ini adalah yang terbaik bagimu. Satu hal yang harus kau tahu Bylla, takdir itu selalu indah. Apapun yang yang diberikan Tuhan padamu, itu pasti ada alasannya. Pasti ada hikmah, dibalik setiap kejadian. Tuhan telah menuntunmu ke negara ini, itu karena Tuhan sudah menyiapkan hal yang sangat indah untukmu, di sini." Kata Ghani dengan panjang lebar.


"Begitukah?"


"Iya, asal kau mau percaya."


"Berapa umurmu sekarang?" tanya Bylla sambil menatap Ghani.


"Mungkin lebih tua darimu, aku sudah 24 tahun." Jawab Ghani, ia sedikit heran kenapa Bylla menanyakan usianya. Apakah wajahnya terlihat begitu tua?


"Kamu salah, aku sudah 25 tahun. Aku lebih tua darimu, tapi kau jauh lebih dewasa, daripada aku.


Selama ini aku jarang mensyukuri hidupku, aku lebih sering mengeluh. Aku sering menyalahkan keadaan, yang menurutku sangat tidak adil." Kata Bylla. Tatapan matanya kosong, pikirannya menerawang jauh entah kemana.


Ghani menatap Bylla lekat-lekat, seakan tak percaya jika wanita di hadapannya itu sudah berusia 25 tahun. Wajahnya yang anggun, cantik, terlihat begitu imut, bak gadis remaja.


"Bersyukur itu wajib Bylla, karena dengan bersyukur hati kita akan damai. Kita tidak akan membandingkan hidup kita dengan orang lain, karena kita merasa puas dengan apa yang telah diberikan kepada kita." Kata Ghani.


Bylla terdiam, lelaki yang setahun lebih muda darinya, dengan keadaan hidup yang jauh dari kata layak, ia bisa mensyukuri apa yang ada dalam dirinya. Bisakah ia melakukan hal yang sama?


Pikiran Bylla kembali ke masa lalu, mengingat satu sosok yang merampas semua hal yang pernah ia punya.


"Apakah kita masih harus bersyukur, disaat semua yang kita punya perlahan menghilang? Apa salah, jika aku membenci seseorang yang telah merampas apa yang menjadi milikku?" tanya Bylla sambil menatap Ghani.


"Tentu saja, bahkan disaat tertimpa musibahpun kita harus tetap bersyukur. Untuk apa membenci, jika Tuhan menghilangkan apa yang kau punya, itu artinya Tuhan sedang menyiapkan pengganti yang lebih baik. Bersabarlah, ada saatnya kamu nanti akan mengerti, jika yang kau punya dimasa lalu, itu bukanlah yang terbaik untukmu," jawab Ghani sambil tersenyum.


"Seperti itu ya?"


"Iya. Ditimpa musibah, ditimpa masalah, itu artinya Tuhan sedang jatuh cinta." Kata Ghani.

__ADS_1


"Jatuh cinta?"


"Iya, Tuhan jatuh cinta, dan sedang merindukan kita. Maaf, tapi kebanyakan, orang lebih dekat dengan Tuhan-nya, saat ia sedang dalam kesusahan. Itu sebabnya Tuhan menurunkan musibah untuk kita, agar kita kembali dekat dengan-Nya." Ucap Ghani.


Lagi-lagi Bylla terdiam, apa yang diucapkan Ghani sepenuhnya memang benar. Saat di Paris, ia sering menghadap pada Sang Pencipta, berkeluh kesah sambil menitikkan air mata. Tapi sejak pindah ke sini, dan bertemu dengan Reymond, hatinya mulai bahagia, dan kehidupannya terasa jauh lebih indah. Disaat itulah ia mulai melupakan Tuhan-nya. Ia sibuk dengan urusan dunia, sampai tak menyisakan waktu untuk akhiratnya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Ghani.


"Kau benar, manusia lebih dekat dengan Tuhan, disaat ia sedang kesusahan. Bukan siapa-siapa, tapi diriku sendiri." Ucap Bylla.


"Maaf, sebenarnya aku tidak bermaksud menyinggungmu."


"Tidak, kau tidak menyinggungku. Aku justru berterima kasih dengan semua kata-kata kamu, sekarang aku sadar, masih banyak hal yang perlu aku perbaiki dalam diriku." Kata Bylla.


Belum sempat Ghani menjawab perkataan Bylla, tiba-tiba ponsel Bylla berbunyi cukup nyaring.


"Hallo Opa!


Oh iya Opa, aku akan segera pulang!"


"Iya, terima kasih banyak atas kunjunganmu." Jawab Ghani.


"Iya, lain kali aku akan datang lagi."


"Terima kasih, hati-hati," ucap Ghani saat Bylla sudah melangkahkan kakinya.


"Iya. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Ghani menatap tubuh Bylla yang mulai masuk ke dalam mobilnya. Ada perasaan aneh yang berdesir dalam hatinya. Mungkinkah ini cinta? Ah, tapi apakah pantas sosok sepertinya, jatuh cinta dengan sosok seperti Bylla. Ibarat bumi dan langit, sangat jauh berbeda.


***


Di depan rumah mewah berlantai dua, Bylla membelokkan mobilnya. Ia menyusuri pelatarannya, dan menghentikan mobilnya di garasi. Bylla menghela nafas panjang, lalu membuka pintunya, dan melangkah turun dari mobil.


Bylla melangkah menuju pintu utama yang sedang terbuka lebar. Menurut keterangan kakeknya, saat ini Pak Dani datang ke rumahnya. Pak Dani adalah salah satu orang kepercayaan Kairi Da Vinci, ayah kandungnya Bylla.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." Ucap Bylla. Ia melangkah menuju sofa ruang tamu, di sana Pak Dani sedang duduk bersama kakek dan neneknya.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka bersamaan.


Bylla mengulas senyuman hambar, lalu duduk di sebelah Bu Mirna. Ia menatap beberapa bungkusan yang tertata rapi di atas meja. Hatinya kembali getir, bahkan untuk menyapa Pak Dani saja, ia merasa enggan.


"Nona Bylla!" panggil Pak Dani.


"Iya Om." Jawab Bylla pelan, dan singkat.


"Ini adalah kiriman dari Tuan Kairi, beliau menitipkannya kepada saya. Kebetulan saya akan mengurus sedikit pekerjaan di sini." Kata Pak Dani.


"Kenapa bukan Papa sendiri yang ke sini?" tanya Bylla.


"Maaf Nona, Tuan sedang sibuk. Sebentar lagi ada acara pesta tahunan di kampusnya Nona Mikayla, para orang tua harus hadir di acara itu, Nona." Jawab Pak Dani.


"Mikayla," gumam Bylla sambil menggigit bibirnya.


"Saya..."


"Saya menerima kiriman ini, sampaikan pada Papa, kalau saya sangat menyukainya. Saya lelah, saya permisi!" kata Bylla memotong pembicaraan Pak Dani. Lalu Bylla beranjak dari duduknya, dan melangkah pergi meninggalkan ruang tamu.


Bylla mempercepat langkahnya, ia menaiki anak tangga dengan mata yang semakin berkaca-kaca.


Beberapa detik kemudian, Bylla membuka pintu kamarnya, ia melangkah masuk, dan mengunci dirinya di sana.


Bylla duduk di sofa kamarnya, air mata sudah menetes membasahi kedua pipinya.


"Kapan Papa dan Mama peduli padaku, kapan?" gumam Bylla sambil menatap sebingkai foto yang terletak di atas meja. Foto dirinya, adiknya, dan kedua orang tuanya.


Kedua bahu Bylla bergerak naik turun, seirama dengan tangisnya yang semakin terisak. Manik birunya semakin memburam, kerana air mata yang semakin menggenang. Hatinya teriris sakit, mengingat kenyataan pahit yang terjadi dalam hidupnya.


Beberapa menit kemudian, Bylla menyeka air matanya dengan kedua lengannya. Matanya menatap datar ke arah foto yang ada di hadapannya. Luka lama kembali menganga, memaksanya untuk mengingat pada masa yang telah silam.


Flas back on


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2