
Waktu begitu cepat berlalu. Tiga bulan sudah Ghani merintis kariernya di Jakarta. Sejauh ini tidak ada hambatan dalam pekerjaannya, peluncuran album ketiga berjalan dengan lancar.
Kehadirannya diterima baik oleh publik, dalam waktu singkat ia telah memiliki banyak penggemar. Beberapa diantara mereka banyak yang mendukung hubungannya dengan Evelyn. Dan sampai sejauh ini, Ghani dan Evelyn masih berpura-pura menjadi pasangan. Bahkan di album ketiga milik Batas, mayoritas modelnya adalah Evelyn.
Taraf hidup Ghani mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Anak-anak asuhnya mulai mengenyam pendidikan secara wajar, kendati demikian, Arron masih tetap membanting tulang untuk mereka.
Kini Ghani memiliki ponsel pribadi, tak terkecuali ia juga membelikannya untuk Arron. Meskipun bukan ponsel mewah, tapi setidaknya cukup memadai untuk digunakan berkomunikasi.
Selain itu, Ghani juga menyuruh Arron untuk mengurus ATM, untuk memudahkannya dalam mengirim uang.
Di sisi lain, kesehatan Bylla juga cukup membaik. Berkat dokter yang didatangkan dari Paris, ia kini tak bergantung lagi pada kursi rodanya. Meskipun belum sembuh seperti sedia kala, tapi Bylla sudah bisa berjalan dengan menggunakan alat penyangga.
Hubungannya dengan Ghani juga semakin membaik. Lelaki itu tak pernah lupa meneleponnya setiap malam, sebelum mereka mengarungi dunia mimpi. Bylla mulai mengerti dengan posisi Ghani. Perlahan ia mampu menepis rasa cemburunya terhadap Evelyn.
Harapan sembuh yang semakin besar, membuat kepercayaan dirinya kembali bangkit. Ia tak lagi insecure seperti beberapa waktu lalu. Ella dan Kairi sangat bahagia, melihat anak gadisnya kembali semangat seperti sedia kala.
Setelah sembuh total, Bylla mengajak orang tuanya untuk berkunjung ke Paris. Ia ingin berziarah ke makam adiknya, meminta maaf meskipun sudah sangat terlambat.
Ella tak keberatan dengan hal itu, ia berjanji akan mengajak Bylla ke Paris dan membawanya ke makam Mika. Selain itu, ia juga sangat merindukan Menara Eiffel, sebuah tempat yang menjadi awal kisah cintanya bersama Kairi (yang tertarik dengan kisah Ella dan Kairi, silakan baca novel Tentang Rasa)
Sore ini, setelah menjalani terapi rutin yang dilakukan setiap hari, Bylla pergi jalan-jalan bersama orang tuanya. Baru kemarin Kairi tiba di rumah, setelah mengurus beberapa pekerjaan di Paris. Dan sekarang, dia mengajak anak istrinya pergi berbelanja.
Mobil yang dikemudikan Kairi berhenti tepat di depan pusat perbelanjaan. Ia melepas sabuk pengamannya, dan bergegas turun dari mobil, ia membukakan pintu untuk Bylla yang duduk di bangku belakang.
"Pelan-pelan Bylla," kata Kairi sambil membantu Bylla turun dari mobil.
"Terima kasih Pa," ucap Bylla sambil tersenyum bahagia.
Bylla menoleh ke kanan dan ke kiri, menatap sekelilingnya. Lalu ia semakin melebarkan senyumannya, sudah sangat lama ia tidak datang ke pusat keramaian seperti ini.
"Aku sangat senang Pa, di rumah terus rasanya sangat bosan," kata Bylla seraya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Keadaanmu sudah membaik Bylla, besok-besok kalau merasa bosan pergi saja, kan ada Mama, ada Oma, Opa, dan ada supir juga. Ajak mereka untuk menemani kamu, pasti mau," jawab Kairi sambil menatap anaknya.
"Tapi maunya sama Mama dan Papa," ucap Bylla dengan nada yang manja.
"Ya sudah Papa di sini saja menemani kamu, tapi kalau nanti uangnya habis jangan komen ya," sindir Kairi sambil menaikkan kedua alisnya.
"Kan ada Om Dani di sana, suruh dia yang bekerja, biar uangnya tetap mengalir," jawab Bylla sambil tertawa.
__ADS_1
"Ada beberapa hal yang harus dikerjakan Papa sendiri Bylla, tidak semua urusan bisa diwakilkan. Kehadiran Mama masih kurang, ya?" goda Ella sambil menatap anak gadisnya.
"Mama, aku cuma bercanda." Sahut Bylla.
"Ya sudah ayo masuk, keburu tutup nanti," ajak Kairi sambil melangkahkan kakinya.
"Pa, ini masih sore, nggak mungkin tutup!" teriak Bylla sembari menatap punggung ayahnya.
Ella tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kairi sangat senang menggoda anaknya, meskipun ia sudah menjadi ayah, dan mungkin tidak lama lagi juga menjadi kakek, namun terkadang sikapnya masih kekanak-kanakan. Terlebih lagi jika bersama sang istri, dari dulu sampai sekarang sikapnya tidak pernah berubah.
Mereka bertiga masuk bersama ke dalam pusat perbelanjaan. Kairi berjalan di depan, sedangkan Ella berjalan di belakang bersama Bylla.
Tak lama kemudian, mereka mulai memilih beberapa pakaian, ada kemeja, celana, dress, dan juga baju santai. Selain itu, mereka juga melihat-lihat tas dan sepatu.
"Ma!" panggil Bylla, kala itu ibunya sedang sibuk memilihkan sepatu untuk ayahnya.
"Iya Nak, ada apa?" tanya Ella sambil menoleh.
"Aku ke toilet dulu ya Ma," ucap Bylla.
"Ayo Mama antar, biar Papa menunggu di sini," kata Ella sambil meletakkan sepatu yang dipegangnya.
"Bylla, biarkan Mama menemanimu," sahut Kairi seraya menatap Bylla.
"Tida usah Pa, toiletnya dekat kok. Mama dan Papa tunggu di sini saja, belum selesai kan milih sepatunya," jawab Bylla.
"Kamu yakin mau pergi sendiri?" tanya Ella sembari menilik wajah anaknya.
"Yakin Ma, ya sudah aku pergi dulu ya," kata Bylla sambil melangkah pergi, meninggalkan kedua orang tuanya.
Ella dan Kairi menatap punggung Bylla yang berjalan semakin menjauh. Langkahnya masih tertatih-tatih, tapi semakin hari semakin ada kemajuan.
"Dia adalah wanita yang tegar, dan juga mandiri, sama seperti kamu," ucap Kairi sambil merangkul bahu Ella.
"Seperti kamu juga," jawab Ella sambil tersenyum lebar.
"Begitukah?"
"Iya. Kamu tahu, sekarang aku sangat senang, Bylla sudah bangkit dari keterpurukannya. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk masa depannya." Kata Ella dengan penuh harap.
__ADS_1
"Amiinn."
Sementara itu, Bylla berjalan menuju ke kamar mandi. Dengan bantuan alat penyangga, ia lebih mudah menggerakkan kakinya.
Ketika tiba di depan pintu kamar mandi, Bylla tersentak kaget, bahkan ia sampai menghentikan langkahnya. Jantung Bylla berdetak cepat, amarah dan kecewa perlahan menyeruak dalam relung hatinya.
Lelaki yang pernah membawanya terbang ke langit tinggi, lalu menghempaskannya ke dasar bumi. Kini sosok itu menjelma di hadapannya. Lengannya yang dulu selalu merengkuhnya, kini digenggam mesra oleh wanita lain, wanita yang pernah menjadi sahabat dekatnya.
"Reymond, Sania, kenapa aku harus bertemu dengan mereka," batin Bylla sambil memalingkan wajahnya. Kendati hatinya telah berbelok arah kepada Ghani, namun rasa kecewa itu jelas masih ada.
"Bylla, bagaimana kabar kamu?" tanya Sania dengan santainya. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara keduanya.
"Sangat baik." Jawab Bylla dengan nada datar.
"Kami juga baik. Lihat Bylla, sudah ada nyawa yang bersemayam dalam rahimku," kata Sania sambil tersenyum, seraya mengusap perutnya yang sedikit membuncit.
"Oh hamil, selamat deh." Ucap Bylla lagi-lagi dengan nada datar.
"Byl...Bylla, kamu, kamu bisa berjalan?" tanya Reymond dengan sedikit gugup. Matanya menatap lekat ke arah kaki Bylla yang menapak di lantai.
Reymond berpikir keras, menurut perkiraan dokter, butuh waktu yang sangat lama untuk menyembuhkan kaki Bylla. Paling cepat tiga tahun, dan paling lama lebih dari lima tahun. Tapi sekarang, Bylla sudah bisa berjalan, meskipun masih menggunakan alat bantu. Besar kemungkinan, Bylla akan kembali normal dalam beberapa bulan ke depan. Itu artinya tidak sampai setahun pengobatan, ia sudah sembuh. Kenapa bisa seperti ini?
"Kenap Rey? Kamu tidak suka, ya?" tanya Bylla dengan diiringi senyuman, namun kilatan matanya terlihat sangat tajam.
"Bu...bukan begitu, maksudku, maksudku___"
"Kenapa gugup, kamu tidak menyesal kan Rey dengan keputusanmu?" tanya Bylla sambil melirik Sania.
Wanita itu membuang muka, terlihat jelas jika ia sangat kesal dengan Bylla.
"Sepertinya kamu sedikit kurusan, kamu baik-baik saja kan, Rey? Kamu bahagia kan dengan kehidupan kamu?" tanya Bylla sambil menatap Reymond lekat-lekat.
Lelaki itu semakin salah tingkah, bahkan ia gelagapan saat menjawab pertanyaan Bylla.
"Aku, aku, aku___"
"Ayo kita pergi Rey, masih banyak yang harus kita beli. Maaf Bylla, kami buru-buru!" sahut Sania dengan cepat, seraya menarik tangan Reymond, dan mengajaknya pergi meninggalkan Bylla.
Bylla tersenyum lebar, ia merasa puas karena berhasil membuat Sania cemburu. Namun senyuman itu memudar, ketika Reymond melangkah tepat di sebelahnya. Reymond membisikkan sesuatu sebelum berlalu pergi. Sesuatu yang berhasil membuat tubuh Bylla terpaku.
__ADS_1
Bersambung...