
"Maukah kamu menjadi imamku?" tanya Bylla sambil tersenyum.
Ghani terperangah, jantungnya berdetak tak beraturan kala mendengar pertanyaan Bylla. Wanita yang dicintainya, meminta dirinya untuk menjadi imam. Apakah ini hanya pelarian untuk membuat Reymond cemburu? Ataukah keputus asaan? Kenapa Bylla membuat keputusan secepat ini.
"A...aku..."
"Belum terlambat kan untuk melaksanakan shalat maghrib?" tanya Bylla.
Ghani tersadar seketika, ibarat seekor burung, ia baru saja terbang di atas awan, dan kini terhempas ke dasar bumi. Pertanyaan Bylla membuat Ghani berpikir tentang rumah tangga, namun ternyata maksudnya hanya imam dalam shalat.
"Kenapa aku berpikir sejauh itu, apa yang kupunya, yang membuat Bylla mau mengajakku menikah. Dia sedang rapuh, mana mungkin hatinya berpaling secepat itu," batin Ghani sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ghani!" panggil Bylla.
"Bisa, iya bisa." Kata Ghani dengan tegas.
"Terima kasih," jawab Bylla sambil tersenyum lebar.
Kemudian Ghani beranjak dari duduknya, ia mendorong kursi roda Bylla, dan membawanya ke ruangan yang berada di dekat ruang tengah. Sebuah ruangan yang memang khusus digunakan untuk shalat. Ghani membersihkan dirinya terlebih dahulu, ia mengganti celananya dengan sarung yang disediakan di sana. Juga mengganti bajunya dengan kemeja milik Kairi.
"Ruangan ini memang dikhususkan untuk ibadah, tapi kami jarang memasukinya. Jika sedang ada di sini, biasanya hanya Papa dan Mama yang sering ke ruangan ini," ucap Bylla sambil menatap setiap jengkal ruangan itu.
Kakek, nenek, dan juga dirinya, mereka lebih mengutamakan urusan dunia, daripada akhiratnya. Lain halnya dengan ibu dan ayahnya, mereka selalu menyempatkan diri untuk menghadap pada Sang Pencipta. Meskipun ibunya bukan wanita berhijab, tapi dia adalah wanita dengan kepribadian yang nyaris sempurna.
"Mulai besok, kamu saja yang sering masuk sini, ya!" kata Ghani sambil tersenyum.
"Aku akan berusaha." Jawab Bylla.
Lalu Ghani membantu Bylla turun dari kursi rodanya, juga membantu dia mengambil mukenahnya. Ghani tersenyum, kala menatap wajah cantik Bylla berada dalam balutan kerudung putih yang panjang. Ia bersimpuh di atas sajadah, menghadap kiblat, dan bersiap menghadap Sang Pencipta.
Ghani berdiri membelakangi Bylla, dan melafalkan niat shalat dalam hatinya. Kini mereka bersama-sama menghadap pada Yang Maha Kuasa.
Seusai melaksanakan shalat, mereka berdua menengadahkan tangan, melantunkan doa dalam hati masing-masing.
"Ya Allah selama ini hamba tidak pernah membayangkan, bisa menjadi imam shalat bagi Bylla. Kiranya Engkau menghendaki, izinkan hamba menjadi imam dalam hidupnya, agar perasaan ini tidak menjadi dosa. Ya Allah, Engkau yang maha mengerti jalan apa yang terbaik untuk hidup hamba. Ampunilah hamba jika mimpi ini terlalu tinggi. Ya Allah, jika hamba belum pantas untuk menjadi pendampingnya, mohon tuntun hamba untuk memantaskan diri. Lindungilah dia Ya Allah, kuatkanlah hatinya dalam menghadapi ujian ini." Ucap Ghani dalam hatinya. Lalu ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ya Allah, ampunilah hamba yang selalu jauh dari-Mu. Kenikmatan dunia membuat hamba lalai, ampunilah dosa-dosa hamba Ya Allah. Ya Allah, hamba berusaha ikhlas untuk menerima kenyataan ini, berikanlah tempat yang indah untuk Mika, maafkan hamba yang selama ini berprasangka buruk padanya.
Ya Allah, jika memang Reymond bukan jodoh hamba. Kuatkanlah hati hamba, hapuskan perasaan yang masih tersisa untuknya. Dekatkanlah hamba dengan seseorang yang memang Engkau takdirkan. Ya Allah, kiranya Engkau menghendaki, pertemukan hamba dengan jodoh yang sesungguhnya. Hamba butuh imam untuk memimpin langkah hamba, untuk membawa hamba lebih dekat dengan Engkau Ya Allah." Ucap Bylla dalam hatinya.
"Ghani!" panggil Bylla.
Ghani menoleh, menatap Bylla yang sedang tersenyum padanya.
"Aku tidak tahu kenapa, setiap kali mendengar nasihatmu, hatiku selalu tergerak. Terima kasih sudah mau peduli padaku, mengingatkan aku, dan mengajakku menjadi pribadi yang lebih baik." Kata Bylla dengan tulus.
"Tidak perlu berterima kasih, aku belum sebaik itu Bylla. Aku juga masih sering salah, tolong kamu juga jangan sungkan untuk mengingatkan aku," jawab Ghani.
"Jangan bosan berteman denganku ya, jujur aku merasa nyaman sama kamu," kata Bylla sambil memamerkan senyum manisnya.
"Nyaman," batin Ghani dengan jantung yang berdetak semakin cepat. Nyaman seperti apa yang ia maksudkan.
"I...iya. Aku, aku juga senang berteman denganmu." Jawab Ghani dengan gugup.
Tak lama kemudian, Ghani pamit pulang. Ia kembali memakai baju miliknya sendiri. Bu Mirna mengantarnya hingga ke pintu depan, sedangkan Bylla, ia masih berdiam diri di dalam ruangan.
__ADS_1
"Ghani, pintu ini selalu terbuka lebar untukmu. Sewaktu-waktu kau ingin menemui Bylla, datanglah, tidak usah sungkan!" kata Bu Mirna sambil tersenyum.
"Terima kasih, Nyonya." Jawab Ghani. Ia luar biasa senang melihat neneknya Bylla yang tidak mempermasalahkan status sosialnya.
"Kamu temannya Bylla, jangn panggil aku Nyonya, panggil Oma saja, ya!"
"Mmm tapi, tapi___"
"Tidak perlu sungkan, panggil Oma, ya!" kata Bu Mirna mengulangi ucapannya.
"Baik, baiklah Nyonya, mmm Oma." Jawab Ghani dengan gugup.
Bu Mirna menanggapinya dengan senyuman lebar.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi ya, Oma!"
"Iya, hati-hati!"
"Iya Oma. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Lalu Ghani pergi meninggalkan rumah Bylla. Langkah kakinya terasa sangat ringan, raut kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya. Secercah harapan kembali bersemi, asa untuk memiliki pujaan hati, kembali menggelora dalam sanubari.
Dalam perjalanan pulang, tak lupa Ghani membeli beberapa bungkus makanan untuk anak-anak. Ia gagal membelikan coklat, karena saat ini uangnya hanya cukup untuk makan. Tapi Ghani bersyukur, setidaknya anak-anak tidak kelaparan. Dan lagi, ia juga bersyukur karena masih dianugerahi kesehatan. Setidaknya masih ada hari esok untuk menyenangkan mereka.
***
Waktu begitu cepat bergulir, satu bulan sudah berlalu sejak Ghani datang mengunjungi Bylla. Hubungan mereka kini semakin dekat. Disela-sela kesibukannya dalam mengumpulkan recehan, Ghani selalu menyempatkan diri untuk menjenguk Bylla. Ia tak pernah bosan, untuk memberinya motivasi.
Satu hal yang membuat Ghani merasa sangat bahagia, keluarga Bylla tak pernah memandangnya sebelah mata. Mereka bersikap terbuka padanya.
Mereka adalah orang kalangan atas yang sangat bijaksana. Mereka selalu menjaga sikap, tak pernah sekalipun menyinggung perasaan Ghani. Entah itu orang tuanya, kakek-neneknya, ataupun paman, dan tantenya. Mereka menilai seseorang dari hati dan kepribadian, bukan dari harta dan kedudukan.
Sejak dua minggu yang lalu, orang tua Bylla pulang ke Indonesia. Dan mereka akan menetap, tidak kembali lagi ke Paris. Hanya kadangkala, ayahnya akan pergi ke sana sendiri, untuk mengurus bisnis yang tidak bisa diwakilkan. Hal itu juga yang membuat Bylla merasa jauh lebih baik, dibandingkan waktu lalu.
Sore ini, Ghani kembali mengunjungi Bylla, wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke taman. Ghani meluluskan permintaannya, ia mendorong kursi roda Bylla, dan membawanya ke taman, yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh.
Ghani berhenti di dekat kursi panjang, yang berada di bawah pohon akasia. Anginnya bertiup sepoi-sepoi, seakan-akan membelai tubuh keduanya dengan lembut.
Bylla tersenyum, entah darimana datangnya, tiba-tiba ada perasaan yang sangat nyaman dan tenang, perlahan menyusup ke dalam khalbunya. Perasaan yang entah apa namanya, ia sendiri kesulitan untuk mendefinisikan.
Bylla masih memegang gitar kecil di atas pangkuannya, gitar milik Ghani. Lelaki itu datang setelah mengais rezeki di pinggir jalan, jadi tidak heran, jika gitar kecil itu selalu ada bersamanya.
"Ghani!" panggil Bylla.
"Iya," jawab Ghani sambil melangkah ke hadapan Bylla.
"Kamu mau sesuatu?" tanya Ghani.
"Tidak, duduklah!" jawab Bylla sambil menggeleng.
Ghani mendaratkan tubuhnya di atas bangku panjang, ia menatap Bylla yang terus tersenyum padanya.
"Kamu kenapa?" tanya Ghani sedikit salah tingkah. Ia merasa gugup saat Bylla terus menatapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Nyanyikan satu lagu untukku!" kata Bylla sambil menyodorkan gitar kecil yang digenggamnya.
"Aku, menyanyi, mmmm tapi."
"Kenapa? Kamu tidak mau ya?" tanya Bylla.
"Bukannya tidak mau, tapi kamu tahu kan, suaraku sangat buruk," jawab Ghani sambil menggaruk kepalanya. Ia luar biasanya gugupnya.
"Bagiku merdu kok, ayo nyanyi!" kata Bylla.
"Tapi Bylla."
"Please!" ucap Bylla dengan pelan.
Tidak ada pilihan lain, Ghani meraih gitar yang disodorkan padanya. Meskipun jantungnya seakan meloncat dari tempatnya, namun ia berusaha untuk terlihat tenang.
"Setelah kamu selesai nyanyi, aku akan mengatakan satu kabar yang sangat baik," ucap Bylla.
"Kabar apa, tentang apa?" tanya Ghani dengan cepat.
"Simpan dulu rasa penasaran kamu! Selesaikan satu lagu, baru aku mau cerita!" kata Bylla sambil tertawa renyah.
Ghani menatapnya sambil menghela napas panjang. Ahh andai saja dirinya bisa bersikap tenang seperti Bylla. Tapi rasa cinta, selalu saja membuatnya gugup dan salah tibgkah.
"Kamu ingin lagu apa?" tanya Ghani.
"Terserah kamu."
"Kok terserah?"
"Iya, terserah kamu saja inginnya memberiku lagu apa," jawab Bylla, lagi-lagi sambil mengulas senyuman manis. Senyuman yang seolah mampu menghentikan detik waktu dalam hidup Ghani.
Ghani mulai menggerakkan jemarinya, memetik senar gitar, dan membuat alunan melodi yang sedap didengar. Selang beberapa detik, Ghani mulai membuka suara, melantunkan lirik lagu yang sedang melukiskan perasaannya. Lagu milik Once, dengan judul Dealova.
Jika waktu lalu, ia melantunkan lagu itu di hadapan banyak orang, ia meresapinya sambil membayangkan sosok Bylla yang selalu menjelma dalam mimpinya.
Kini, ia melantunkan lagu itu sambil menatap langsung sosok wanita yang bertahta dalam hatinya.
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela
Kau selalu ada
Tiba di lirik itu, jantung Bylla berdetak lebih cepat. Entah ada apa dengan dirinya. Detik selanjutnya, ia tak lagi meresapi lagu yang dinyanyikan Ghani, namun ia malah menilik wajah lelaki itu.
Ghani tampak terhanyut dalam alunan lagu, seolah lagu itu benar-benar melukiskan perasaannya.
Untuk siapa?
Satu pertanyaan yang kini mulai mengusik benak Bylla. Ia merasa tidak tenang saat membayangkan Ghani yang sedang jatuh cinta. Ada apa dengan dirinya? Lagi-lagi Bylla gagal memahami perasaannya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1