
Ghani terdiam, belum ada jawaban yang keluar dari mulutnya hingga sekian detik lamanya. Ghani hanya menatap manik biru yang teduh dan jernih. Ia mencoba menyelaminya hingga ke dasar, mencari makna atas kalimat yang baru saja diucapkannya.
Seakan tersadar dari lamunannya, kini Bylla menunduk, memutus tatapan antara dirinya dan Ghani. Tak lupa, ia juga menarik tangannya, dan menautkan di atas pangkuannya.
"Maaf, maksudku rindu kata-kata bijakmu. Berkat nasihat dan motivasi dari kamu, aku jadi semangat dan tidak rapuh lagi, terima kasih." Kata Bylla dengan gugup.
Ghani tersenyum sambil meraih tangan Bylla. Ia menggenggam kedua tangan Bylla dengan jemarinya yang kasar.
"Terima kasih sudah menyisihkan sedikit rindu untukku. Kau tahu, sejak pertama kali aku bersua denganmu, bayang tentangmu selalu menjelma dalam ruang rinduku," ucap Ghani sambil menatap Bylla lekat-lekat.
Sesekali Ghani memejamkan matanya, dan menghela napas panjang, guna menetralkan detak jantungnya yang tidak normal.
"Mak...maksud kamu?" tanya Bylla dengan gugup. Untuk pertama kalinya, ia merasa salah tingkah ketika berhadapan dengan Ghani.
"Di dalam rinduku, hanya ada sosok dirimu. Di dalam hatiku, hanya ada nama kamu. Sampai saat ini, aku memang belum pantas untuk menyatakan perasaanku, tapi kau tahu, rasa itu sudah lama tumbuh dan bersemi. Bylla, ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu," jawab Ghani sambil tersenyum.
Bylla menunduk, menyembuyikan wajahnya yang semakin merona. Angin pantai tak mampu meredam rasa hangat yang mulai menjalar dari dasar hatinya. Mungkinkah Ghani mencintanya? Satu pertanyaan yang terus berputar dalam benak Bylla.
"Lusa aku akan pergi ke Jakarta," Ucap Ghani tanpa basa-basi.
Sontak Bylla langsung mengangkat wajahnya, dan menatap lelaki yang berada tepat di hadapannya. Ia tak peduli meskipun Ghani melihat wajahnya yang memerah, ia terlanjur kaget dengan kalimat yang baru saja dilontarkannya. Setelah memberikan harapan yang setinggi langit, tiba-tiba ia mengucapkan kata perpisahan, apa maksudnya?
"Bylla, aku kemarin bertemu dengan produser, dan katanya dia tertarik dengan suaraku. Aku akan mengikutinya ke Jakarta, aku ingin mengadu nasib, dan mencoba merintis karierku di sana. Doakan semoga semua ini berjalan dengan lancar, agar aku bisa mengikis perbedaan diantara kita," sambung Ghani sambil tetap menggenggam tangan Bylla.
Ia bernapas lega setelah mengutarakan semuanya.
"Aku tidak pernah menganggap kita berbeda Ghani, aku menerima apapun yang ada dalam diri kamu." Sahut Bylla dengan cepat.
Ia menurunkan sedikit harga dirinya, dan mengakui semua perasaannya. Berharap Ghani tidak pergi meninggalkannya.
"Aku hanya wanita lumpuh, aku masih tidak tahu sampai kapan aku bisa sembuh. Jika suatu saat nanti Ghani menjadi bintang, akankah dia memilih aku yang cacat?" Batin Bylla dalam hatinya.
Rasa takut mulai menyeruak dalam hati Bylla, takut jika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Meskipun dirinya bukan selebritis, namun sedikit banyak ia tahu tentang kehidupan mereka.
Sebagai seorang penyanyi, pasti dia akan sering berinteraksi dengan beberapa model untuk merilis video klip. Dan selain itu, dia juga akan sering berinteraksi dengan penyanyi wanita untuk kolaborasi. Dari berita yang sering Bylla lihat, banyak diantara mereka yang kemudian terlibat cinta lokasi. Akankah Ghani tetap bertahan dengan perasaannya, jika di sekitarnya dikelilingi banyak wanita yang jauh lebih sempurna daripada dirinya?
__ADS_1
"Bylla, kamu kenapa?" tanya Ghani saat melihat Bylla diam sambil menggigit bibirnya.
"Aku...aku..."
"Katakan saja," sahut Ghani.
"Tidak bisakah tetap di sini saja, jangan pergi ke Jakarta," ucap Bylla dengan nada yang tertahan.
"Aku ingin memantaskan diri Bylla. Aku tahu kau tidak mempermasalahkan perbedaan kita, tapi sebagai seorang lelaki, aku juga ingin bertanggungjawab. Selain menjaga hatimu, aku juga ingin memenuhi kebutuhan hidupmu. Aku ingin menjadi orang yang berharga di depan keluarga kamu. Aku ingin menjadi orang yang bisa kau banggakan, dan juga kau andalkan, agar kau tidak menyesal menyandarkan hidupmu padaku," kata Ghani dengan panjang lebar.
"Tapi Ghani, aku takut." Ucap Bylla dengan pelan. Ia memejamkan matanya, menghalau air mata yang hampir merembas keluar.
Bylla tak bisa membayangkan, jika kejadian waktu lalu akan terulang untuk kedua kalinya. Ditinggalkan, ketika mimpi hanya tinggal sejengkal.
"Apa yang kau takutkan?" tanya Ghani sambil merapikan rambut Bylla yang berantakan karena tertiup angin.
"Jika kau menjadi penyanyi, akan ada banyak wanita yang mengagumimu. Akankah kau tetap pada perasaanmu, jika di sekitarmu banyak wanita yang sempurna. Sedangkan aku, kau lihat bagaimana kondisiku," jawab Bylla sambil menunduk.
"Apa kau tidak percaya padaku Bylla? Dengarkan aku, apapun yang terjadi, tetap kau yang ada dihatiku," ucap Ghani seraya melepaskan genggamannya.
Ghani meraih benda kecil dalam saku celananya. Lalu ia kembali meraih tangan Bylla, dan menyematkan cincin permata di jari manis Bylla.
Detik itu juga, Bylla tak kuasa lagi menahan air mata. Buliran bening itu menitik begitu saja dari sudut matanya. Antara bahagia, terharu, dan juga gelisah, semua rasa itu berkecamuk dalam hatinya.
"Aku berjanji akan selalu menjaganya, dan kamu juga berjanjilah untuk tidak mengecewakan aku. Aku sudah memercayakan hatiku padamu, tolong jangan nodai itu," kata Bylla sambil tersenyum manis.
"Aku berjanji."
"Produser mana yang akan membawamu, Ghani?" tanya Bylla sambil menyeka sudut matanya yang basah.
"Produser yang menanungi Batas." Jawab Bylla.
Bylla seakan kesulitan menelan salivanya, ia tahu siapa Batas, band ternama yang akhir-akhir ini sedang naik daun. Lagi-lagi perasaan takut kembali menyeruak dalam hatinya, akankah kisahnya bersama Ghani berakhir bahagia, ataukah mungkin malah berujung luka?
Bylla menggigit bibirnya, ia sendiri belum terlalu paham bagaimana hubungannya dengan Ghani. Dikata bukan siapa-siapa, tapi lelaki itu sudah menyematkan cincin di jari manisnya. Dikata kekasih, tapi lelaki itu belum menyatakan cinta yang sebenarnya. Mereka hanya sekadar membicarakan perasaan masing-masing, belum ada kalimat 'aku mencintaimu' dan 'aku juga mencintaimu' apakah hal seperti ini bisa dikatakan sepasang kekasih? Entahlah.
__ADS_1
"Jangan mengganti nomormu, nanti jika tiba di sana aku akan menghubungimu," kata Ghani yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Bylla.
***
Di tengah keremangan malam, hanya bertemankan sorot lampu kendaran yang berlalu lalang, Ghani berjalan menyusuri jalanan beraspal.
Sesekali senyuman tersungging di bibirnya, merasa lega setelah memberikan keputusan pada Tommy Dinata.
Baru saja Ghani menemui produser itu, ia mengiyakan ajakannya untuk bekerjasama, dan besok lusa mereka akan berangkat ke Jakarta. Ghani menolak kala Tommy menawarkan diri untuk merawat anak-anak asuhnya. Mereka belum lama kenal, Ghani merasa tidak enak jika terlalu merepotkannya. Lagipula masih ada Arron yang tinggal bersama mereka.
Ghani juga merasa lega, setelah berbicara dengan Bylla. Ia tak menyangka, jika dirinya berani menyematkan cincin itu di jari manis Bylla.
"Ya Allah, semoga ini menjadi awal yang baik bagi hubunganku dengan Bylla," ucap Ghani sambil terus melangkah.
Ghani mempercepat langkahnya agar segera tiba di rumah. Ia ingin menghabiskan waktunya bersama anak-anak, sebelum lusa harus meninggalkan mereka.
***
Dua hari kemudian, ketika sang mentari belum beranjak dari kaki langit timur. Ghani dan Tommy sudah tiba di Bandara Juanda. Ghani berdiri tegap, menatap burung besi yang akan membawanya ke kota seberang. Tommy memang sengaja memesan tiket penerbangan yang paling pagi.
Sebenarnya tempat tujuannya tidak terlalu jauh, namun entah kenapa hati Ghani sangat gelisah, seolah takut jika suatu saat nanti tak bisa kembali lagi ke kota ini.
Menjadi penyanyi, seperti apa kira-kira kehidupannya setelah itu?
Terbersit keinginan untuk mengubah keputusannya, namun semua sudah terlanjur. Semakin lama ia menatap burung besi itu, semakin ragu ia atas keputusan yang telah diambilnya.
"Ayo Ghani!" ajak Tommy yang baru saja membeli minuman.
"I...iya." Jawab Ghani dengan gugup. Sudah terlambat jika ia mengubah keputusannya sekarang.
"Ya Allah, semoga pilihanku ini benar," batin Ghani sambil mengikuti langkah Tommy.
Beberapa menit kemudian, Ghani sudah duduk di bangku, di dalam pesawat. Untuk pertama kalinya ia naik benda seperti ini. Gugup, takut? Tidak, yang ada dalam benak Ghani hanyalah resah dan gelisah. Ia seakan berat meninggalkan kota yang sudah ia pijak sejak belia.
Tak lama kemudian, Ghani merasakan getaran pesawat yang mulai lepas landas. Ia memejamkan matanya, dan terus berdoa semoga pilihannya tidak salah.
__ADS_1
"Ya Allah, kuatkan hatiku, dan mudahkanlah jalanku. Arron jaga anak-anak dengan baik, aku percaya padamu. Bylla tunggu aku kembali," batin Ghani sambil mencengkeram secarik kertas yang bertuliskan nomor telepon Bylla.
Bersambung...