
Gemericik air di kamar mandi, menjadi satu-satunya suara yang masuk pendengaran Bylla. Ia masih berbaring di ranjang, namun kerudungnya sudah dilepas. Rambutnya yang kecoklatan meriap menutupi sebagian wajah. Jemari tangannya meraba ke samping, ke atas sprei yang beberapa menit lalu ditempati Ghani.
Katanya yang pertama itu sakit, jadi aku tidak akan melakukannya sekarang. Nanti malam masih harus menemui tamu, aku tidak ingin kau lelah.
Wajah Bylla merona kala mengingat ucapan Ghani sebelum pergi ke kamar mandi. Lelaki itu benar-benar memperlakukannya dengan lembut, seolah dirinya adalah berlian yang tak boleh tergores sedikitpun.
"Terima kasih Ya Allah, akhirnya cintaku berujung indah." Bylla memejamkan mata, sembari menyentuh bibirnya yang masih basah.
Ia sangat bersyukur selama ini tak pernah memberikan bibirnya untuk Reymond, karena ternyata lelaki itu hanya menjadi kenangan. Dan cinta sejatinya adalah Ghani, lelaki yang akan menemani merajut mimpi di masa depan.
"Apa kamu menginginkannya lagi, Ma cherie?" bisik Ghani tepat di telinga Bylla.
Bylla tersentak, ia terlalu larut dalam lamunan, hingga tak sadar dengan kehadiran Ghani yang entah sejak kapan. Lantas Bylla menenggelamkan wajahnya di bantal, terlalu malu untuk menatap netra sang suami.
"Hey, kamu kenapa?" Ghani tertawa renyah sambil merengkuh pinggang Bylla. Ia berbaring di sampingnya, dan memaksanyalllpppl untuk mengangkat wajah.
Jantung Bylla berdegub kencang, wajah Ghani terlihat tampan dengan hiasan titik-titik air. Dadanya terpampang jelas, tak tertutup sehelai benang. Sedangkan bagian bawah hanya dililit handuk. Untuk pertama kalinya, Bylla melihat separuh tubuh Ghani.
"Kalau sudah puas melihat, boleh kok disentuh. Ini milik kamu, bahkan yang lainnya pun juga milikmu." Ghani meraih tangan Bylla, dan menuntunnya menyentuh dadanya sendiri.
Niat hati ingin menggoda Bylla, namun justru dirinya sendiri yang terjebak dalam gejolak hasrat. Jemari Bylla terasa hangat menyentuh kulit tubuhnya yang masih basah. Ghani memejamkan mata, menghalau rasa panas yang kian menjalar.
Beberapa detik berlalu, sentuhan jemari Bylla berubah menjadi cengkeraman. Perlahan Ghani membuka mata, ditatapnya wajah sang istri yang menggigit bibir sembari memejamkan netra. Dari sana Ghani tahu, Bylla juga merasakan hal yang sama.
"Ma cherie, ayo turun ke lantai bawah!" ajak Ghani.
"Kenapa?" Bylla membuka matanya perlahan, deru napas semakin terdengar tak beraturan.
"Aku tidak bisa menahan, jika kita terlalu lama dalam posisi seperti ini. Ma cherie, nanti malam masih ada acara, aku tidak mau merusaknya," jawab Ghani.
Bylla tersenyum, "aku mengerti, turunlah lebih dulu, aku akan mandi sebentar!"
"Iya." Ghani mengangguk sambil bangkit dari tidurnya.
__ADS_1
Kemudian ia berjalan menuju sofa, mengambil baju ganti yang baru saja di antarkan oleh pelayan. Namun belum sempat ia mengambil kaus dan celana, tak sengaja matanya menatap kotak hadiah dari Rubben.
"Ma cherie!" panggil Ghani.
"Iya," jawab Bylla yang masih berdiri di belakang Ghani.
"Aku___" Ghani tak meneruskan kalimatnya, namun ekor mata melirik ke atas meja.
Bylla tersenyum, ia mengerti apa maksud Ghani. Lalu ia berjalan ke arah meja, dan meraih kotak hadiah.
"Ayo kita buka!" Bylla duduk di sofa sambil membuka kotak itu.
Ghani ikut duduk di sana, memperhatikan jemari sang istri yang membuka bungkusan dengan cekatan.
Beberapa detik kemudian, Bylla meraih beberapa lembar poto, serta lipatan kertas kecil.
Aku sudah tidak berhak menyimpan semua ini, semoga kamu bahagia Salsabylla Dela Vinci.
"Mungkin aku bersalah, karena sudah merebutmu darinya. Tapi aku benar-benar mencintaimu, aku tidak rela kamu menyimpan luka. Aku ingin kamu bahagia, hari ini, esok, dan juga nanti. Aku tidak mau kamu terbelenggu dalam ikatan tanpa cinta." Ghani berujar sembari menggenggam jemari Bylla.
"Bukan salah kamu, dari awal aku memang milikmu, hanya saja aku yang bodoh, terlalu gegabah dalam memilih keputusan. Mon cherie, takdir selalu indah. Kak Rubben orang yang baik, aku yakin Allah juga memberikan takdir indah padanya," kata Bylla dengan senyuman lebar.
"Kamu benar, kita doakan dia ya, semoga secepatnya menemukan jodoh sejati," ucap Ghani.
"Iya."
Lantas keduanya saling merangkul erat, menikmati cinta yang memikat. Dan tak lama kemudian, Bylla beranjak menuju kamar mandi.
***
Pukul 07.00 malam waktu Indonesia.
Dua insan duduk berhadapan di atas kursi, di tengah taman. Keduanya saling menatap, mencurahkan suara hati lewat sorot netra. Mereka adalah Sania dan Livay, dua raga yang sempat menjalin cinta, namun kandas karena perselisihan.
__ADS_1
"Aku merindukan kamu, Sania," ucap Livay setelah sekian menit tak ada yang membuka suara.
Sania tak menjawab, dia hanya mengulas senyuman tipis. Perasaannya tak menentu, antara bahagia, dan kecewa. Livay menghamilinya, namun dia tak lantas menikahi karena alasan pekerjaan. Sania sangat kecewa, hingga akhirnya ia lebih memilih menerima pinangan Reymond.
Di kala perasaannya untuk Livay mulai memudar, hubungannya dengan Reymond mulai renggang. Lelaki itu masih mencintai Bylla, dan ia sama sekali tak mau menganggapnya sebagai seorang istri. Berbulan-bulan Sania hidup dalam nista, sang suami selalu menginjak-injak harga dirinya karena noda yang ia bawa.
Sekarang, di saat ia sudah terlepas dari Reymond, dan terbiasa hidup dalam kesendirian, Livay kembali datang. Lelaki yang pernah menjadi pemilik hati, mengajaknya menuju pelaminan. Dalam relung hati, rasa cinta untuk Livay memang masih ada, namun rasa kecewa juga kian membesar, nyaris mengubur sisa-sisa cinta.
"Sania!"
"Vay, di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa, kita sudah berakhir. Sejak kamu lebih memilih Batas, kamu sudah menjadi orang lain bagiku. Dan sekarang, kamu juga akan kembali pada Batas, lantas untuk apa kamu mendatangiku?" Sania tersenyum masam. Kedatangan Livay seolah membuka luka lama yang belum mengering.
"Beda Sania, dulu Om Tom yang membuatku tak bisa menikahimu. Sekarang dia sudah dipenjara, aku yang memegang kendali Batas. Aku bisa menikah dan melakukan apa yang kumau, tidak ada lagi yang mengikatku. Sania, kita sudah punya anak, tolong pikirkan lagi. Aku masih sangat mencintai kamu," ucap Livay dengan serius.
Sania menghela napas panjang, bingung harus menjawab apa. Karena dia juga belum mampu memahami perasaannya saat ini.
"Sania!" panggil Livay.
"Aku terlanjur kecewa sama kamu Vay, aku tidak bisa semudah itu menerima kamu kembali," jawab Sania.
"Sania, beri aku kesempatan kedua. Kali ini aku berjanji akan membuatmu bahagia. Aku tidak akan merahasiakan hubungan kita, aku akan mengenalkanmu pada publik. Aku ingin semua orang tahu kisah cinta kita, kali ini aku bebas, tidak terkekang seperti dulu," terang Livay. Ia menggenggam kedua tangan Sania dengan lembut.
Lagi-lagi Sania hanya diam. Mencerna kata demi kata yang Livay lontarkan. Membina rumah tangga untuk yang kedua kali, benarkah pilihan yang tepat adalah Livay?
"Sania!" panggil Livay.
"Beri aku waktu untuk berpikir, pernikahan bukan mainan Livay, aku tidak ingin gagal untuk yang kedua kali," ucap Sania dengan mata yang terpejam.
Pikirannya menerawang jauh mengingat masa lalu, ia sangat menyesal telah menyakiti sahabatnya. Namun semua sudah terlanjur, Bylla sudah kecewa, dan karma sudah menyapa dirinya.
"Sekarang aku sadar, kebahagiaan yang didapat dengan cara salah, itu malah membuat sengsara. Aku terjebak dalam posisi seperti ini, karena merampas kebahagiaan Bylla," batin Sania.
Bersambung...
__ADS_1