Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Musibah Yang Bertubi


__ADS_3

Jalan raya yang berada di pusat Kota Surabaya, mengalami kemacetan panjang. Ada kecelakaan yang melibatkan satu mobil pribadi dengan truk tronton. Kala itu, truk sedang mengalami gangguan pada mesinnya, dan sang supir melambatkan lajunya.


Namun diluar dugaan, mobil pribadi yang sedang melaju kencang, tiba-tiba menabraknya dari belakang. Mobil itu mengalami ringsek parah di bagian depannya, karena tersangkut badan truk dan sempat terseret hingga beberapa meter. Pengemudinya terjepit di dalam mobil, polisi sempat kesulitan saat mengevakuasinya.


Pengemudi yang tak lain adalah Bylla, ia langsung dilarikan ke rumah sakit dengan menggunakan ambulance. Seluruh tubuhnya penuh dengan luka, gaunnya yang indah, kini sudah bersimbah darah. Wajahnya pucat, dan matanya tertutup rapat, entah dia akan selamat atau tidak.


Sedangkan supir truk, ia diamankan oleh kepolisian. Ia akan dimintai keterangan, terkait kronolgi kecelakaan yang dialaminya.


Sekitar setengah jam perjalanan, ambulance yang membawa Bylla tiba di rumah sakit. Dokter langsung membawanya ke IGD, dan dengan cepat beliau memberikan perawatan, untuk menyelamatkan korban.


***


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.30 malam. Pak Louis dan Bu Mirna sedang duduk bersama di meja makan, menatap masakan yang hampir dingin. Sesekali mereka melirik ponsel yang terletak di atas meja. Keduanya terlihat sangat cemas.


"Bylla kemana ya Mas, sudah jam setengah sembilan, tapi kok belum pulang? Tadi katanya hanya mengantar undangan ke rumah teman, tidak lama. Tapi kok sampai saat ini belum pulang, mana ponselnya tidak aktif lagi," ucap Bu Mirna.


"Mungkin masih di jalan, Ma." Sahut Pak Louis.


"Mungkin saja, tapi kenapa nomornya tidak bisa dihubungi, pikiranku jadi tidak tenang, Mas." Ucap Bu Mirna.


"Mungkin karena kamu terlalu memikirkan Mika Ma, jadi bawaannya tidak tenang." Kata Pak Louis.


Tadi pagi Kairi meneleponnya, dia mengabari tentang keadaan Mika saat ini. Kondisinya sangat buruk, sejak kemarin ia kritis.


"Sejak tadi aku memang memikirkannya, Mas," ucap Bu Mirna sambil menghela nafas panjang.


"Pernikahan Bylla hanya kurang satu minggu, bagaiamana kalau Ella dan Kairi tidak bisa pulang. Bylla pasti sangat kecewa." Sambung Bu Mirna dengan pelan.


"Kita berdoa saja Ma, semoga Tuhan memberikan kemudahan untuk keluarga kita. Semoga Mika segera sembuh, dan pernikahn Bylla berjalan dengan lancar," ucap Pak Louos sambil menggenggam tangan Bu Mirna.


"Iya Mas. Mmm nanti kalau Bylla sudah menikah, ayo kita ke Paris, kita jenguk Mika. Kamu mau kan, Mas?" tanya Bu Mirna.


"Tentu saja mau, aku juga ingin melihat keadaan cucuku." Jawab Pak Louis.


"Ahh, tapi ini Bylla kemana ya, kok belum pulang juga. Coba aku telfon lagi deh, mudah-mudahan nomornya bisa dihubungi," ucap Bu Mirna sambil meraih ponselnya, dan mencoba menghubungi Bylla.


"Bagaimana, Ma?" tanya Pak Louis.


"Masih tidak aktif, Mas," jawab Bu Mirna sambil menggeleng.


"Coba tanya Reymond, siapa tahu Bylla sedang bersamanya!" kata Pak Louis.


"Iya, aku coba telfon Reymond sekarang."


Tak lama kemudian, sambungan telepon mulai terhubung.

__ADS_1


"Hallo, Assalamu'alaikum Oma," sapa Reymond dari seberang sana.


"Waalaikumsalam, Nak Reymond."


"Ada apa ya, Oma?" tanya Reymond.


"Apakah Bylla sedang bersama kamu, Nak?" Bu Mirna balik bertanya.


"Tidak Oma. Tadi dia memang mengajak saya untuk mengirimkan undangan ke rumah temannya, tapi saya tidak bisa, karena ada klien yang tiba-tiba mengajak bertemu, Oma." Jawab Reymond.


"Oh begitu ya."


"Iya Oma. Mmm memangnya Bylla belum pulang, ya Oma?" tanya Reymond.


"Belum, tadi pamitnya hanya sebentar, tapi sampai sekarang belum pulang. Dan nomornya juga tidak aktif, Oma kira, dia bersama kamu." Jawab Bu Mirna.


"Tidak Oma, tadi dia terakhir mengirimkan pesan padaku, saat sudah tiba di rumah temannya. Lalu beberapa saat kemudian, saya menelfonnya, tapi tidak diangkat. Dan ini tadi, saya baru tiba di rumah, saya baru ingin menghubunginya." Kata Reymond dari seberang sana.


"Mmm begitu, nanti kalau sudah dapat kabar tentang Bylla, tolong hubungi Oma, ya!" ucap Bu Mirna.


"Iya Oma, begitu juga sebaliknya. Kalau Bylla sudah pulang, tolong kabari saya, ya Oma!" jawab Reymond.


"Iya. Ya sudah Oma matikan ya. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, Oma."


"Bagaimana, Ma?" tanya Pak Louis.


"Bylla tidak bersamanya, tadi terakhir kali Bylla menghubunginya, saat ia sedang berada di rumah temannya." Jawab Bu Mirna.


"Kemana ya Bylla," gumam Pak Louis sambil memejit pelipisnya.


Belum sempat Bu Mirna menjawab ucapan suaminya, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh dering telepon yang cukup nyaring.


Bu Mirna beranjak dari duduknya, beliau melangkah ke ruang tengah, dan mengangkat gagang telepon.


"Hallo, selamat malam!" sapa Bu Mirna.


"Selamat malam, Bu. Apakah benar ini keluarga Da Vinci?" tanya lelaki yang menjadi lawan bicaranya.


"Iya benar, ini dengan siapa ya?"


"Ini dari Rumah Sakit Pelindo Husada Citra Surabaya, saya ingin mengabarkan, bahwa anak Ibu yang bernama Salsabylla Dela Vinci, saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Dia terlibat insiden kecelakaan, dan sekarang keadaannya koma. Diharapkan keluarga segera datang ke rumah sakit." Ucap lelaki itu dengan panjang lebar.


"Apa! Ini, ini tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" teriak Bu Mirna sambil menutup mulutnya.

__ADS_1


Gagang telepon sudah terlepas begitu saja dari genggamannya, kakinya lemas, tenaganya hilang entah kemana. Bu Mirna terduduk lemah di lantai, beliau menyandarkan punggungnya di sofa. Ait mata terus keluar, dan berderaian membasahi pipinya yang keriput.


"Ma, ada apa Ma? Kamu kenapa Ma?" teriak Pak Louis sambil berjongkok di depan Bu Mirna. Mendengar istrinya berteriak, beliau langsung berlari menghampirinya.


"Bylla, Mas."


"Ada apa dengan Bylla? Bylla kenapa?" tanya Pak Louis.


"Bylla kecelakaan, sekarang dia koma di rumah sakit, Mas," ucap Bu Mirna disela-sela isakannya.


"Apa!" teriak Pak Louis sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ma, ayo kita segera ke sana!" ajak Pak Louis sambil membantu Bu Mirna untuk berdiri.


"I...iya Mas."


***


Pukul 03.00 sore waktu Paris.


Ella, Kairi, Andra, Suci, dan Keyvand, mereka sedang berkumpul di depan ICU. Sejak kemarin, kondisi Mika sangat kritis, itu sebabnya Andra dan keluarganya datang berkunjung ke Paris.


Ella duduk sambil terisak, sejak tadi buliran bening terus keluar dari sudut matanya. Ia tidak tega melihat keadaan Mika saat ini. Wajah, leher tangan, dan kakinya, semua sudah membengkak dan penuh ruam. Matanya tertutup rapat, sebanyak apapun Ella mengajaknya bicara, tidak ada sedikitpun respon darinya.


"Yang sabar ya El, kita berdoa saja, semoha Tuhan memberikan kesembuhan dan keselamatan untuk Mika," ucap Suci sambil merangkul Ella, dan mengusap-usap bahunya.


"Aku tidak tega melihatnya, rasanya pasti sangat sakit, Ci." Jawab Ella sambil tetap menangis.


"Kamu wanita yang kuat El, kamu pasti bisa melewati semua ini. Aku tahu ini berat untuk kamu, tapi Mika sedang butuh kamu. Dia butuh kamu yang semangat, yang selalu mendukungnya, bukan kamu yang rapuh seperti ini," sahut Andra sambil menatap Ella.


"Mereka benar sayang, yang sabar ya. Kita sama-sama berdoa, aku yakin Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untuk kita." Kairi ikut menimpali, seraya mengusap lembut puncak kepala istrinya.


"Aku selalu berdoa, Mas. Tapi aku sangat sedih setiap kali melihat keadaan Mika. Dan disisi lain aku juga memikirkan Bylla, minggu depan dia menikah. Jika kita tidak pulang, dia pasti akan sangat kecewa, tapi kita juga tidak mungkin meninggalkan Mika." Ucap Ella.


Belum sempat Kairi menjawab ucapan Ella, tiba-tiba ponselnya bergetar, lalu ia beranjak dari duduknya. Kairi meraih ponsel yang disimpan di sakunya.


"Mama telfon," ucap Kairi sambil menatap Ella.


"Hallo, Assalamu'alaikum, Ma." Sapa Kairi.


"Apa! Ini, ini tidak mungkin!" teriak Kairi sambil memegangi kepalanya.


"Mas, ada apa Mas?" tanya Ella. dengan cepat. Spontan ia langsung beranjak dari duduknya, dan menghampiri suaminya.


"Kai, ada apa Kai?" teriak Andra sambil menatap Kairi dengan tajam.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2