
Jarum jam menunjukkan tepat pukul 10.00 malam. Setelah selesai melaksanakan shalat, Ghani merebahkan dirinya di atas ranjang. Namun hingga beberapa menit kemudian, matanya tak kunjung terpejam, ia membayangkan bagaimana caranya menyongsong hari esok.
Bukan latihan menyanyi yang membuatnya resah, melainkan reality show yang harus dihadiri bersama Evelyn. Ah, seperti apa kira-kira kehidupannya setelah ini.
Ghani menghela napas panjang, lalu ia meraih guling di sampingnya, dan kemudian memeluknya dengan erat.
"Saat di rumah aku tidak pernah merasa gelisah seperti sekarang, walaupun aku hidup dalam kekurangan, namun aku selalu merasa nyaman. Ya Allah, hamba percayakan semuanya kepada-Mu. Jika jalan ini salah, tuntun hamba untuk menemukan jalan pulang. Jika jalan ini benar, berilah hamba kekuatan untuk menghadapinya," ucap Ghani sambil memejamkan matanya. Ia mencoba menepis semua bayangan yang berputar-putar dalam otaknya.
"Bismillahirrahmanirrahim, sudah malam aku harus tidur." Gumam Ghani pada dirinya sendiri.
Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Bylla duduk sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Ia memeluk boneka beruang miliknya, sambil menatap jemarinya dengan lekat.
"Meskipun belum ada kata cinta di antara kita, tapi aku memilih untuk memercayaimu Ghani. Aku menunggu saat kamu kembali, tolong jangan kecewakan aku ya, tolong jangan bertingkah seperti Reymond." Ucap Bylla dengan pelan.
Lalu Bylla mulai merebahkan tubuhnya, ia memejamkan mata sambil membayangkan sosok yang selalu hadir dalam setiap mimpinya. Bylla mengulas senyuman lebar, dan kemudian bergumam pelan.
"Selamat tidur Ghani, jemput aku dan bawalah aku ke dalam mimpimu. Aku ingin bertemu, dan menghabiskan waktu bersama. Tak apa meskipun hanya dalam mimpi, asal bisa mengobati rindu sembari menunggu asa menjadi nyata." Ucap Bylla dengan pelan, seraya membayangkan saat di pantai beberapa hari yang lalu.
***
Keesokan harinya, latihan berjalan dengan cukup lancar. Meskipun Ghani masih sering salah dalam melantunkan liriknya, namun suaranya benar-benar memuaskan. Sangat merdu dan mampu menghayati setiap lagu yang dibawakannya. Keempat rekannya berdecak kagum, mereka bahagia menemukan pengganti Livay yang bakatnya luar biasa. Awal yang indah, pikir mereka kala itu.
Untuk hari ini, mereka latihan hanya sampai tengah hari. Untuk esok dan lusa mereka akan latihan full. Sudah cukup lama mereka vacum, jadi sudah tidak ada waktu lagi untuk beristirahat, album ketiga harus segera diluncurkan.
Malam ini, Ghani sedang berada di dalam mobil. Ia duduk bersebelahan dengan Evelyn. Ghani seakan tak mengenali dirinya sendiri, kala menatap pantulannya di dalam cermin.
Tubuhnya terlihat gagah dan tegap, dalam balutan celana panjang dan kaos putih tanpa kerah, yang kemudian dipadukan dengan kemeja warna biru muda, kancingnya dibiarkan terbuka begitu saja. Wajahnya juga tampak rupawan, kulitnya terlihat lebih mulus dengan polesan make up yang tipis.
Ghani menunduk, menatap jam tangan yang melingkar di lengan kirinya, modelnya simpel namun terlihat elegan. Dilihat dari bentuknya, Ghani yakin harganya tidaklah murah. Tadi, Evelyn yang memberikan barang itu padanya.
__ADS_1
"Ghan, jangan canggung! Sebentar lagi kita sampai lho, kamu harus rileks," ucap Evelyn sambil menoleh dan menatap Ghani sekilas, setelah itu ia kembali fokus dengan jalanan yang ada di hadapannya.
"Aku belum terbiasa dengan ini," jawab Ghani sambil tersenyum kaku.
"Kalau begitu, mulai sekarang biasakan ya. Geli aku melihatmu kaku seperti itu," kata Evelyn sambil tertawa renyah. Memerlihatkan gigi kelinci miliknya, dan juga lesung pipit di kedua pipinya.
"Kita ini sama Ghan, dulu awalnya aku juga seperti kamu, merintis dari bawah. Tapi, jika semangat kita kuat, dan tekad kita sudah bulat, pasti kita bisa mencapai puncak, meskipun jalannya memang tidak mudah," sambung Evelyn masih dengan senyuman yang ramah.
Detik berikutnya, Ghani menarik sudut bibirnya, dan membentuk sebuah senyuman. Sikap ramah Evelyn, lambat laun mengikis kegugupannya.
"Yang lain sudah cerita belum sama kamu, tentang Livay?" tanya Evelyn.
"Dia meninggalkan Batas," jawab Ghani sambil menoleh dan menatap Evelyn. Kenapa dia membicarakan Livay, apakah Evelyn tahu banyak tentangnya?
"Maksudku kamu tahu tidak, apa alasannya kenapa dia meninggalkan pekerjaan itu?" tanya Evelyn seraya membelokkan mobilnya, menyusuri jalan raya yang jauh lebih padat.
"Dia frustrasi, dia patah hati karena kekasihnya menikah dengan lelaki lain. Sekarang dia menyusul ayahnya ke Tokyo, keluarganya punya bisnis di sana. Dia marah, dia menganggap Batas yang menjadi penyebab kandasnya hubungan mereka," kata Evelyn sambil menghela napas panjang.
"Kekasihnya hamil, Livay ingin segera menikahinya. Namun saat itu Batas sedang sibuk karena persiapan album ketiga, dan Om Tom memintanya untuk fokus dulu dengan karier. Livay menurut, ia menunda pernikahannya. Namun diluar dugaan, kekasihnya tiba-tiba menikah, kenyataan ini sangat memukul Livay, dia sangat marah dengan Om Tom dan semua personil Batas. Dan saat itu juga ia langsung pergi, meninggalkan kariernya. Om Tom dan Batas kalang kabut, tanpa vocalis, mereka tidak bisa meluncurkan albumnya. Itu sebabnya Om Tom berusaha keras mencari pengganti." Sambung Evelyn dengan panjang lebar.
"Kata Om Tommy, vocalisnya pergi karena sukses di album yang kedua. Aku pikir dia meninggalkan Batas untuk solo karier," ucap Ghani seraya menoleh, dan mentap Evelyn sekilas.
"Bukan, karena sukses di album kedua, Om Tom sangat berambisi untuk segera meluncurkan album yang ketiga. Awalnya Livay senang-senang aja, namun setelah tahu pacarnya hamil, dia mulai sering berselisih dengan Om Tom. Dia kurang setuju, saat Om Tom memintanya untuk menunda pernikahan. Dan puncaknya bulan lalu, saat pacarnya menikah. Dia benar-benar hancur, dia sangat mencintai wanita itu. Dia marah, dan langsung pergi. Dan akhirnya, album ketiganya malah tersendat, dan Batas vacum. Ada beberapa konser yang terpaksa mereka batalkan, dan hal ini membuat citra Batas memburuk." Ucap Evelyn, menjelaskan semuanya dengan detail.
"Kasihan Livay." Gumam Ghani dengan pelan. Ghani teringat pada Bylla, saat ditinggal menikah oleh Reymond, ia sangat hancur. Mungkin Livay juga tidak jauh berbeda dengan Bylla.
"Iya sih, tapi itu salah dia juga. Sejak awal, Om Tom sudah mewanti-wanti mereka untuk menjaga pergaulan. Free sex, narkoba, itu harus dihindari. Karena dua hal ini yang biasanya menghancurkan karier seorang seleb." Kata Evelyn mengungkapkan pendapatnya.
"Begitu ya?"
__ADS_1
"Iya, kamu juga hati-hati Ghan, jangan tergoda oleh dua hal itu. Tetaplah berpegang teguh pada pendirian kamu," ucap Evelyn sambil menatap Ghani.
"Iya." Jawab Ghani.
"Aku sudah punya Bylla, jadi aku tidak mungkin tergoda. Memilikinya itu merupakan anugerah terindah dalam hidupku. Setelah perbedaanku dan dia tidak terlalu jauh, aku akan segera menikahinya," batin Ghani sambil tersenyum lebar.
"Kamu kenal dekat ya dengan Livay?" tanya Ghani setelah hening beberapa saat.
"Lumayan, diantara personil Batas, memang Livay yang paling dekat denganku. Aku pernah menjadi model dalam lagunya Batas, aku dan dia berpasangan, itu awal mulanya kami kenal dekat." Jawab Evelyn.
"Oh gitu," ucap Ghani sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
***
Seorang wanita sedang duduk terpaku di tepi ranjang. Matanya menatap tajam ke arah televisi yang sedang menyala. Dalam layar tipis itu, tampak dua insan sedang menceritakan betapa manisnya hubungan mereka.
Wanita yang tak lain adalah Bylla, dia menunduk sambil mencengkeram sprei dengan erat. Api cemburu mulai membara dalam hatinya, menyisakan rasa panas yang semakin menjalar dalam dada.
Meskipun ia tahu itu hanya pura2, tapi ia tak bisa memungkiri perasasaannya yang mulai sesak. Mereka bergandengan tangan, terkadang juga memeluk, tertawa dan bercanda bersama. Mereka duduk merepat, sama sekali tak ada jarak di antara keduanya.
Bylla menggigit bibirnya, dalam layar itu, Ghani terlihat begitu rupawan, jauh berbeda dengan dia yang biasanya.
Dan wanita yang duduk di sebelahnya, wajahnya sangat cantik, dengan postur tubuh yang nyaris sempurna. Ia terlihat seperti boneka hidup.
Akankah Ghani tetap menyimpan namaku, jika di sekitarnya banyak wanita seperti dia.
Sebaris kalimat yang mulai mengusik pikiran Bylla.
Bersambung...
__ADS_1