
Ghani bergeming di tempatnya. Ia menatap Livay tanpa kedip.
"Ya Allah, kenapa dia ada di sini, bukannya dia di luar negeri. Apa mungkin dia tidak rela, jika posisinya aku ganti." Batin Ghani.
"Hei! Kenapa kau diam saja, Ghani?" ucap Livay sambil mendekat.
"Kamu, kamu yang mengirim pesan itu?" tanya Ghani sedikit gugup.
"Iya. Aku ingin bicara penting denganmu. Tapi, tidak sekarang. Banyak hal yang ingin kubicarakan, waktunya tidak akan cukup," jawab Livay sambil tersenyum.
"Dari mana kamu tahu nomorku, dan hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Ghani.
"Jangan membrondongku dengan banyak pertanyaan. Tenang saja Ghani, aku datang dengan maksud baik. Kau luar biasa, bahkan nama Batas langsung melambung berkat kehadiran kamu," kata Livay sembari menepuk bahu Ghani dengan pelan.
"Aku tidak sebaik dirimu," gumam Ghani dengan pelan. Ia tak menyangka akan bertemu dengan sang vocalis yang sesungguhnya.
"Tidak penting siapa yang terbaik diantara kita. Aku datang bukan untuk membahas Batas, tapi membahas hal lain," ucap Livay sambil menghela napas panjang.
"Hal lain?" Ghani mengulangi ucapan Livay. Saling mengenal saja tidak, bagaimana bisa membahas masalah yang lain. Tentang apa itu?
"Ini tentang Reymond, mmm keluarga Reymond lebih tepatnya." Kata Livay.
"Reymond, kamu mengenal dia?" tanya Ghani dengan kaget.
"Tidak, tapi aku tahu dia. Awalnya aku penasaran denganmu Ghani. Suaramu sangat merdu, bahkan lebih merdu dariku. Aku ingin tahu identitas kamu, aku yakin kamu bukan pacarnya Evelyn. Dan ternyata, aku menemukan satu fakta yang tidak terduga." Kata Reymond. Di akhir kalimat, suaranya sedikit menurun.
"Fakta tak terduga, apa maksudmu?" tanya Ghani semakin tak mengerti.
"Kamu mengasuh beberapa anak yatim, salah satunya adalah Alina. Dan ternyata dia punya hubungan dengan keluarga Jackson." Jawab Livay yang sontak membuat Ghani tersentak kaget.
"Kau tahu itu?" gumam Ghani dengan pelan.
"Awalnya aku hanya kesal dengan Reymond, dia sudah merampas apa yang aku miliki. Aku mencari tahu tentang dia, dan keluarganya. Dan aku menemukan sedikit rahasia, seorang bocah yang dibuang setelah ditinggal mati orang tuanya. Tak lama berselang, Om Tom menemukan penggantiku. Aku penasaran ingin tahu siapa kamu. Dan disaat itulah, aku menemukan nama Alina." Kata Livay.
"Kamu kesal dengan Reymond, kenapa?" tanya Ghani dengan hati-hati.
"Kau kenal Sania?" Livay balik bertanya. Ghani menjawabnya dengan anggukan.
"Dulu dia adalah kekasihku, dan dia juga mengandung anakku. Tapi dia pergi demi Reymond. Entah apa yang ada dalam pikiran Sania, dia mengorbankan anak kami demi keegoisannya," ucap Livay dengan pandangan datar, seolah ia menerawang jauh ke masa lalu.
__ADS_1
"Kau dan Sania___"
"Iya. Aku dan dia sudah merencanakan pernikahan, sama seperti Reymond dan Bylla. Tapi, yah semuanya seperti ini," sahut Livay sambil menggelengkan kepala.
"Kau juga tahu tentang Bylla?" tanya Ghani.
"Tentu saja. Bylla lumpuh, dan Reymond tidak bisa menerima itu. Dia merayu Sania agar pernikahannya tidak batal, dan bodohnya Sania luluh dengan semua itu. Dia rela menggantikan posisi Bylla, meskipun tidak ada cinta dari Reymond. Dan sekarang Bylla menjadi kekasihmu, kan?" kata Livay sambil menaikkan kedua alisnya.
"Iya," jawab Ghani dengan pelan. Ia masih tak percaya dengan serangkaian fakta yang cukup mengejutkan. Apakah dunia memang sesempit itu?
"Ghani, simpan nomorku! Jika ada senggang, ayo minum bersama, sambil membahas beberapa hal yang belum terungkap," ucap Livay.
"Baik, aku akan menyimpannya."
"Jangan bilang pada Om Tom kalau aku menemuimu. Ghani, berhati-hatilah dengannya!" kata Livay sambil menepuk bahu Ghani. Lantas ia pergi meninggalkan Ghani sendiri.
Ghani masih terpaku, ia berusaha mencerna setiap kalimat yang Livay ucapkan padanya. Tommy, ada rahasia apa dalam dirinya? Kenapa Livay menyuruhnya berhati-hati?
***
Malam sudah beranjak, berganti dini hari. Ghani merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkelana ke segala penjuru. Rasa penat di tubuhnya, tak sebanding dengan rasa penat di otaknya.
Ghani mengusap wajahnya dengan kasar, meskipun konser berjalan dengan lancar, namun pertemuannya dengan Livay menyisakan tanda tanya besar dalam hatinya.
Ghani terus memikirkan misteri yang disembunyikan Tommy. Hingga tanpa sadar, pikiran itu menuntunnya ke dunia mimpi.
Keesokan harinya, Ghani terbangun disaat fajar belum menyingsing. Ia bergegas membersihkan diri, dan kemudian menghadap Sang Ilahi. Berkeluh kesah, dan meminta jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapinya.
Setelah selesai shalat, Ghani keluar dari kamarnya. Ia turun ke lantai bawah, hendak menemui Alina. Namun langkahnya terhenti, ketika ia masih menapak di anak tangga yang terakhir.
Ghani menatap beberapa kotak hadiah yang menumpuk di meja ruang tengah. Dari mana, dan untuk siapa? Satu pertanyaan yang mengusik benak Ghani.
"Satya!" panggil Ghani kala melihat Satya yang baru saja keluar dari ruangan dapur.
"Selamat pagi, Ghan," sapa Satya.
"Pagi Sat. Mmm, ini semua apaan?" tanya Ghani sambil melirik ke atas meja.
"Oh, itu hadiah buat kita. Dari beberapa produk yang kita sponsorkan tadi malam. Kalau yang besar itu, dari Tuan Frans," jawab Satya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tuan Frans, siapa dia?" tanya Ghani dengan jantung yang berdetak cepat. Mungkinkah Frans Been Jackson?
"Dia pembisnis besar yang selalu menyokong Om Tom. Dia yang bertanggungjawab atas semua biaya yang dibutuhkan untuk mengantarkan kita-kita ini," jawab Satya.
"Maksud kamu?"
"Band dalam naungan Om Tom itu cukup banyak, butuh biaya besar untuk mengantarkan mereka sampai ke puncak. Tanpa bantuan Tuan Frans, Om Tom pasti kesulitan melakukan itu Ghan. Dia orang biasa, hampir sama seperti kita," jawab Satya menjelaskan.
"Iya juga sih. Mmm apa yang kamu maksud ini Frans Been Jackson?" tanya Ghani semakin penasaran.
"Iya, kamu kenal?" Satya balik bertanya.
"Tidak, cuma tahu aja namanya." Jawab Ghani.
"Jadi orang yang ada di belakang Om Tommy itu Frans. Apakah Om Tommy juga terlibat dalam kasus Alina? Apakah ini ada hubungannya dengan ucapan Livay semalam? Aduh aku makin pusing memikirkan ini," batin Ghani sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ghani!"
"Ehh iya, kenapa?"
"Kamu malah ngelamun. Ayo ke ruang tamu, yang lain sudah ngumpul di sana!" ajak Satya.
"Ngapain?" tanya Ghani dengan heran.
"Tuan Frans ada di sana. Beliau datang pagi-pagi sekali agar bisa bertemu dan berbincang dengan kita. Beliau tahu, kalau nanti kita harus kerja," jawab Satya sambil melangkahkan kakinya.
"Aku duluan ya, minumannya keburu dingin. Cepet nyusul ya, Ghan!" sambung Satya. Saat itu dia memang membawa secangkir teh hangat. Selang beberapa detik, tubuhnya sudah menghilang di balik dinding.
"Bang Ghani!" panggil Alina yang baru saja keluar dari kamarnya.
Tubuh Ghani panas dingin, jantungnya seakan berhenti berdetak. Oh tidak, Frans ada di ruang tamu, bagaimana kalau dia menyadari kehadiran Alina. Gadis kecil itu memanggilnya dengan suara yang nyaring, bisa saja Frans mendengarnya.
"Kenapa, Bang?" tanya Alina, karena Ghani hanya tertegun.
Belum sempat Ghani menjawab pertanyaan Alina, samar-samar ia menangkap suara Satya dan pria dewasa.
Kamar mandinya di sebelah sini Tuan, mari saya antar!
Iya, terima kasih.
__ADS_1
Ghani semakin panik, Frans dan Satya akan ke kamar mandi. Itu artinya, mereka akan melewati ruang tengah. Sebuah ruangan tempat ia dan Alina berdiri saat ini.
Bersambung...