
Ghani kembali melangkah, menyusuri gang kecil yang menuju ke rumahnya. Satu kantong plastik berisi nasi dan lauk, ia tenteng di tangan kanannya. Langkahnya terasa berat, akhir-akhir ini semangatnya kian patah. Sebesar itukah pengaruh cinta dalam hidupnya?
Ghani menghela nafas panjang. Bayangan wajah Melani yang menyimpan kekecewaan, kembali menjelma dalam ingatannya. Melani adalah gadis yang cantik rupa dan juga cantik akhlak. Namun sekelumitpun tak ada namanya dalam benak Ghani. Sekian tahun saling mengenal, Melani tak mampu menyentuh pintu hatinya.
"Bang, semangat dong! Loyo banget sih!" teriak Arron dari teras rumahnya.
Ghani menatapnya sekilas, lalu ia tersenyum kaku, terlihat jelas jika ia terpaksa melakukannya.
"Anak-anak mana?" tanya Ghani sambil duduk di sebelah Arron.
"Masih mandi, Bang." Jawab Arron.
"Oh." Jawab Ghani sambil beranjak dari duduknya.
"Kemana, Bang?"
"Masuk." Jawab Ghani dengan singkat.
"Sampai kapan kamu seperti itu, Bang. Aku tahu kamu kecewa, tapi aku sedih melihatmu hilang semangat, Bang," gumam Arron sambil menatap punggung Ghani yang berjalan menjauh.
"Ya Allah, Bang Ghani adalah orang yang baik. Jika Bylla memang jodohnya, dekatkanlah mereka. Jika bukan, tolong hadirkan wanita lain yang bisa menggantikan posisi Bylla." Kata Arron dengan pelan.
***
Di suatu malam, dimana bulan dan bintang masih setia bersinar dalam kegelapan. Bylla berdiri di balkon kamarnya, gaunnya berkibar, dan rambutnya meriap diterpa hembusan angin. Malam ini, adalah malam yang membuatnya bahagia, namun jauh di dasar hatinya, ia juga menyimpan rasa kecewa.
Orang tuanya Reymond akan bertandang ke rumahnya, namun orang tuanya sendiri benar-benar tidak pulang. Mereka lebih memilih menemani Mika, daripada membicarakan hari pernikahannya. Hanya paman dan bibinya yang kemarin pulang ke Indonesia. Bukannya bahagia, Bylla malah semakin sedih. Paman dan bibinya saja bisa datang, kenapa orang tuanya tidak, mereka juga sama-sama tinggal di Eropa.
"Apa yang kamu lakukan, Bylla?" tanya Andra yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
Sejak dulu hubungan Bylla dan pamannya cukup dekat, dia sering mengunjunginya saat Bylla masih tinggal di Paris.
Andra memiliki satu orang putra, usianya tiga tahun lebih muda dari Bylla. Keyvand Anggara Hilmy, lelaki muda yang baru saja menamatkan kuliahnya, kini ia mulai belajar mengurus bisnis milik ayahnya.
"Om Andra," ucap Bylla sambil menoleh sekilas. Lalu ia menunduk, menyeka sudut matanya yang mulai basah.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Andra sambil berdiri di sebelah Bylla.
"Tidak ada, hanya mencari angin segar." Jawab Bylla.
"Jangan terlalu banyak berpikir Bylla. Orang tuamu tidak bisa datang, bukan berati mereka tidak menyayangimu. Mereka sangat menyayangimu, tapi keadaan yang membuat mereka untuk tetap di sana. Kau adalah gadis yang bijaksana, kau pasti bisa memahami kesulitan mereka." Kata Andra.
"Aku selalu berusaha paham, tapi Mama dan Papa, sama sekali tidak ada usaha untuk memahami perasaanku." Jawab Bylla.
"Jangan mempercayai satu pemikiran yang belum pasti. Menduga boleh, tapi meyakini jangan. Terkadang apa yang kita bayangkan, itu jauh berbeda dengan kenyataan. Bylla, selama ini kau selalu percaya padaku. Kuharap saat ini kau juga mau percaya. Dengarkan aku, orang tuamu sangat menyayangimu!" kata Andra sambil menatap Bylla.
"Sayang, tapi itu rasanya tidak mungkin. Sejak dulu mereka mengabaikan aku, Om. Selalu saja yang mereka perhatikan hanya Mika, Mika, dan Mika. Sejak aku tinggal di sini, sekalipun Mama dan Papa belum pernah menjengukku. Dulu sewaktu aku wisuda, hanya Oma dan Opa yang menemaniku, Mama dan Papa tidak mau datang ke sini. Itukah yang Om Andra bilang sayang?"
"Aku tahu apa yang kamu rasakan, tapi tolong percayalah, Bylla! Orang tuamu sangat menyayangimu, suatu saat nanti kau akan mengerti, kenapa mereka bersikap seperti ini." Kata Andra dengan tegas.
__ADS_1
"Apa maksud Om, Om tahu sesuatu? Apa ada rahasia di dalam keluargaku, apa aku anak angkat, apa aku bukan anak kandungnya, atau, atau yang lainnya Om?" tanya Bylla.
"Tidak ada, jangan berpikir yang macam-macam. Semua dugaan kamu itu salah," jawab Andra.
"Lalu, kenapa Mama dan Papa bersikap seperti ini?" tanya Bylla.
"Lihatlah! Reymond dan keluarganya sudah datang, ayo kita turun!" ajak Andra sambil melangkah pergi. Kala itu, mobil Reymond sudah memasuki pintu gerbang rumah Bylla.
"Maafkan aku Bylla, atas permintaan Mika, aku tidak bisa memberitahukan kebenarannya padamu." Batin Andra dalam hatinya.
Bylla tak bertanya lagi, karena pamannya sudah pergi menjauh. Ia hanya menggeram kesal, merasa penasaran dengan ucapan Andra.
"Aku yakin Om Andra tahu sesuatu, tapi apa ya?" gumam Bylla dengan pelan.
Bylla melangkah menuju ke depan cermin. Memeriksa kembali penampilannya, kalau saja ada yang kurang. Setelah merasa cukup, Bylla keluar dari kamarnya, ia menuruni tangga, dan bergegas menuju ruang tamu.
Reymond dan orang tuanya sudah duduk di sana, bersama dengan kakek, nenek, paman, dan bibinya.
"Selamat malam Tante, selamat malam Om," sapa Bylla sambil menyalami calon mertuanya.
"Selamat malam, Nak. Kamu sangat cantik, dan anggun," puji Bu Laras, ibu kandung Reymond.
"Terima kasih, Tante."
"Reymond sangat beruntung, punya calon istri sebaik kamu," sahut Pak Frans, ayah kandung Reymond.
"Terima kasih, Om."
Bylla menatapnya sambil tersenyum. Reymond terlihat begitu jantan, wajahnya yang rupawan, tingkah lakunya yang tegas, namun lembut dan penyayang. Ahh Bylla sangat bahagia, memiliki calon suami seperti dia.
"Saya sangat kagum dengan ketegasan dan keseriusan kamu. Saya adalah pamannya, sebagai wakil dari orang tuanya Bylla, saya saya menyetujui niat baik kamu." Jawab Andra.
"Alhamdulillah, jika kedua keluarga sudah saling setuju. Sekarang mari kita tentukan hari pernikahannya!" ucap Pak Frans sambil tersenyum.
"Kita tanyakan dulu pada mereka, kira-kira kapan siapnya."
"Kapanpun kami siap Om, besok, atau lusa, atau minggu depan, atau bulan depan. Iya kan, Bylla?" tanya Reymond sambil tersenyum dan menatap Bylla.
"Ini pernikahan Rey, banyak yang harus disiapkan. Bisa-bisanya kamu bilang besok," sahut Bylla sambil tersenyum lebar, dan yang lainnya menanggapi mereka dengan tertawa.
"Bagaimana kalau bulan depan saja?" tanya Andra sambil menatap Pak Frans dan Bu Laras.
"Setuju." Jawab Pak Frans.
"Iya, itu sangat bagus. Tidak terlalu lama, tapi juga ada waktu untuk persiapan." Sahut Pak Louis.
"Bagaimana Rey, Bylla, kalian setuju?" tanya Suci.
"Setuju Tante." Jawab Bylla.
__ADS_1
"Setuju." Sahut Reymond.
Setelah mencapai kesepakatan, lalu mereka makan malam bersama. Setelah itu Reymond dan, keluarganya pamit undur diri. Bylla mengantarkan mereka hingga ke ambang pintu, setelah itu ia kembali bergabung dengan keluarganya yang masih berkumpul di ruang tamu.
"Kamu sudah dewasa, Nak. Sebentar lagi kamu akan menikah, Oma akan segera menimang cicit," ucap Bu Mirna sambil merangkul tubuh Bylla.
"Nikah saja belum, Oma." Jawab Bylla.
"Tinggal bulan depan kan? Itu artinya tahun depan cicitnya sudah keluar. Kamu sudah dewasa, masa masih berencana menunda kehamilan," ucap Bu Mirna.
"Tidak Oma, tapi kan nikahnya saja belum, masa sudah membahas anak, kan malu," gerutu Bylla.
"Kamu benar-benar anak yang baik," ucap Bu Mirna.
"Persis seperti ayah dan ibumu," sambung Bu Mirna dalam hatinya.
Tak lama kemudian, Suci beranjak dari duduknya.
"Ke mana, Ma?" tanya Andra.
"Ambil minum," jawab Suci sambil melangkah pergi.
"Oma, aku akan ke kamar mandi sebentar, perutku rasanya tidak enak," ucap Bylla sambil beranjak dari duduknya.
"Iya." Jawab Bu Mirna.
Lalu Bylla melangkah pergi, namun bukan ke kamar mandi, melainkan mengikuti bibinya ke dapur.
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Bylla tiba di ruangan dapur, ia melihat bibinya yang sedang meneguk minuman.
"Tante Suci!" panggil Bylla.
"Eh Bylla, ada apa?" tanya Suci sambil menoleh.
"Boleh bicara sebentar?"
"Bicara apa, katakan saja!" jawab Suci.
"Kenapa orang tuaku tidak pernah pulang, dan mengunjungiku? Ada rahasia apa di dalam keluargaku, apa aku bukan anak kandungnya, atau apa? Tante pasti tahu, kan?" tanya Bylla.
Suci menelan salivanya, tidak menyangka jika Bylla akan menanyakan hal ini padanya. Ella dan Kairi sudah mewanti-wanti agar tidak memberitahukan keadaan Mika kepada Bylla, karena itu merupakan permintaan Mika. Sekarang apa yang harus ia katakan, keponakannya malah menduga yang bukan-bukan.
"Itu tidak mungkin Bylla, kamu anak kandungnya, Tante tahu itu."
"Lalu, kenapa mereka tidak peduli padaku?" tanya Bylla.
"Mereka hanya sibuk, Bylla. Jika mereka ada senggang, pasti mereka datang ke sini." Jawab Suci.
"Tapi Om Andra bilang, suatu saat nanti aku akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Itu artinya ada rahasia kan, Tante. Katakan Tante, ada apa sebenarnya?" tanya Bylla sambil menggenggam tangan Suci.
__ADS_1
Bersambung...