Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Sekeping Asa Dalam Cinta


__ADS_3

Sang fajar sudah menyingsing di kaki langit timur. Embun-embun yang sebening kristal mulai menetes seiring desir angin pagi.


Di tengah suasana hari yang masih lengang, Ghani melangkah meninggalkan Evelyn yang belum terjaga. Semalam, Ghani membawanya ke rumah sakit. Setelah diberi obat penenang, Evelyn tertidur pulas dan tak lagi merancau.


Ghani berusaha mencari petunjuk lewat ponsel milik Evelyn, namun sayang ia tidak menemukan apapun. Cara kerja Tommy sangat rapi. Dalam memberikan perintah, ia tidak meninggalkan jejak sedikit pun.


Ghani berjalan menuju telepon umum, ia sengaja mematikan ponsel miliknya, dan juga milik Evelyn. Ia tidak ingin Tommy menghubungi, dan mengetahui keberadaanya. Ia tidak akan kembali sebelum mendapat kabar baik dari Livay.


Tak lama kemudian, Ghani tiba di bilik telepon umum. Lantas dia menghubungi Livay, berharap lelaki itu sudah melihat apa yang ia kirimkan semalam.


"Hallo," sapa seseorang di seberang sana.


"Hallo, Livay ini aku, Ghani," sahut Ghani dengan cepat.


"Ghani, akhirnya kau menghubungiku juga! Sejak semalam aku kalang kabut, nomormu mati, kau sengaja menghilang dan membuatku kebingungan, ya!" kata Livay sedikit meninggikan suaranya.


"Maaf Vay, aku sengaja mematikan nomorku. Aku tidak mau dihubungi Om Tommy," ujar Ghani.


"Baiklah, aku mengerti. Sekarang kau ada di mana?" tanya Livay.


"Aku masih di rumah sakit," jawab Ghani.


"Bagus, tetaplah di sana! Jangan menemui Tommy sebelum urusannya beres."


"Apa bukti itu cukup?" tanya Ghani ragu-ragu. Untuk mengungkap kasus yang besar, rasanya bukti itu masih tiada arti.


"Memang tidak cukup kuat untuk menjebloskannya ke penjara. Tapi, dengan bukti ini, kita bisa mendapatkan bukti yang lebih besar," terang Livay dengan serius.


"Bukti yang lebih besar, bagaimana caranya?" Ghani masih tidak mengerti.


"Dengan bukti ini, polisi punya kuasa untuk memeriksa kediaman Tommy. Sangat kebetulan sekarang dia tidak ada di rumah, jadi dia tidak akan sempat menyembunyikan sesuatu yang bisa menjadi bukti. Dan kedua, dengan rekaman ini, besar kemungkinan Frans atau Laras akan membuka mulut. Jika tidak ada harapan, untuk apa mereka masih menyembuyikan identis Tommy. Bukankah lebih baik menyeret, dan mengajaknya menikmati bui bersama-sama. Lebih adil, 'kan?" Livay menjelaskan dengan panjang lebar.


"Rencana yang brilliant, aku berharap semuanya berjalan dengan lancar," ujar Ghani.


"Dengan batuan Om Sehan, semua pasti berjalan sesuai rencana. Aku sudah di kantor polisi Ghani, dan hal ini sudah kami diskusikan. Sekarang mereka sedang bersiap menjalankan tugas masing-masing. Ada beberapa yang meluncur ke rumah Tommy, dan ada beberapa yang menemui Frans. Setelah semua bukti terkumpul, mereka akan meminta bantuan kepolisian Prancis. Untuk itu tetaplah bersembunyi, bertahanlah sebentar sampai urusan ini mencapai titik terang," kata Livay dengan tegas.


"Iya, terima kasih sudah banyak membantuku Livay."


"Tidak perlu berterima kasih, aku pula menghendaki demikian. Dan ... aku mau membantumu juga tidak sepenuhnya tulus. Kau tahu 'kan, kalau aku mengharapkan imbalan," ucap Livay.


"Iya, aku tahu. Tapi tetap saja aku sangat berterima kasih," jawab Ghani.


"Baiklah, aku juga berterima kasih padamu."

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu aku tutup ya," uacap Ghani.


"Iya, hubungi aku secara berkala. Agar kau tahu perkembangannya."


"Baik."


***


Salsabylla Dela Vinci, wanita berparas ayu yang enam hari lagi akan melepas masa lajang. Kendati demikian, tak lantas membuat hatinya senang. Justru ia merasa resah dan gelisah. Semakin dekat hari pernikahannya, semakin ia malas melakukan aktivitas. Rubben memang pilihannya sendiri, bukan calon suami hasil perjodohan atau paksaan. Namun ia tak memilihnya dengan perasaan, melainkan dengan keputus asaan.


Satu demi satu anak tangga Bylla pijak. Dengan berbalut piyama panjang, dan rambut yang berantakan, Bylla turun ke lantai bawah. Sebenarnya ia sangat malas, namun Bibi pelayan terus memanggilnya. Semua anggota keluarga sudah meunggu untuk sarapan bersama.


"Sekarang aku tidak percaya dengan peribahasa, buah jatuh tak jauh dari pohonnya," sindir Keyvand. Mata hitamnya menatap ke arah Bylla.


"Apa maksudmu?" bentak Bylla.


"Mama Ella seperti itu, Om Kairi seperti itu, dan anaknya seperti itu. Andai saja tidak ada kemiripan, aku tidak percaya Byl, kalau kamu anak mereka." Keyvand menatap Bylla dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Ngomong lagi kalau berani!" Bylla meraih semangkok sambal, dan siap melemparnya ke arah Keyvand.


"Bylla, Keyvand, kalian ini seperti anak kecil saja!" teriak Ella dengan pelototan tajam.


"Bylla, duduk!" perintah Kairi.


"Keyvand itu Pa yang reseh." Bylla mendaratkan tubuhnya di kursi dengan kasar.


"Vand!" Kali ini Andra yang angkat bicara.


Keyvand tak menjawab, dia hanya menanggapinya dengan tawa renyah.


"Sudah ayo sarapan, jarang-jarang lho kita ngumpul kayak gini," timpal Suci.


"Iya Tante," sahut Bylla.


Lantas mereka menyantap sarapan yang tersaji dengan penuh kegembiraan, kecuali Bylla. Rasa resah dan gelisah semakin menyeruak di dalam hati dan jiwa.


"Om Andra!" panggil Bylla seusai sarapan.


"Kenapa Byl?" Andra menatap Bylla sambil mengusap sudut bibirnya dengan tisu.


"Om Andra sibuk, tidak?" tanya Bylla.


"Enggak, kenapa?" Andra balik bertanya.

__ADS_1


"Ada yang mau aku omongin ... sama Om," ucap Bylla.


"Mandi dulu Byl, kamu perempuan lho, mana sebentar lagi nikah. Biasanya disiplin, kenapa sekarang jadi males gitu," ucap Ella.


"Gara-gara Ghan___"


"Jangan banyak bicara!" Bylla mencomot irisan apel, dan melemparkannya ke arah Keyvand.


"Gila kamu Byl!" teriak Keyvand dengan kaget.


Bylla tak menjawab, dia hanya menatap Keyvand dengan pelototan tajam. Suci, Ella, dan Kairi, mereka hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Keyvand dan Bylla.


"Katanya mau bicara sama Om, ayo!" ajak Andra. Dia tahu jika Bylla sedang tidak baik-baik saja.


Bylla tersenyum sambil mengikuti langkah Andra. Hubungannya dengan Andra memang lebih dekat, daripada dengan ayahnya sendiri.


Mereka berjalan menaiki anak tangga, dan menuju lantai tiga. Di sana ada ruangan terbuka, yang menghadap langsung pada birunya air laut.


Andra dan Bylla duduk di sofa, mereka saling berhadapan. Andra menilik wajah Bylla yang terus menunduk, sekian lamanya wanita itu tak kunjung membuka suara.


"Bylla, katanya mau bicara. Ayo katakan saja," ucap Andra.


Bylla tetap bergeming, hanya air mata yang bicara. Setetes buliran bening jatuh membasahi lengannya.


"Bylla!" panggil Andra.


"Semakin dekat hari pernikahanku, semakin aku merasa gelisah, Om. Aku tidak tahu keputusanku ini benar atau salah," ungkap Bylla tanpa mengangkat kepala.


Andra terkesiap, tak menyangka jika seperti ini yang dirasakan Bylla.


"Apa kamu mencintai orang lain?" tanya Andra.


"Iya."


"Lalu kenapa kamu menerima lamaran Rubben? Apakah ada paksaan dari orang tuamu, atau calon mertuamu?" tanya Andra.


"Tidak, ini murni pilihanku sendiri. Orang yang kucintai sudah menikah Om, aku tidak mungkin mengharapkan dia. Aku pikir, lambat laun aku bisa mencintai Kak Rubben, tapi ternyata tidak." Bylla mengangkat wajahnya dan menatap Andra. Berharap pamannya bisa memberikan solusi yang terbaik.


"Terkadang cinta memang tidak harus memiliki, Bylla. Membiarkan orang yang kita cintai bahagia dengan pilihannya, itulah hakikat cinta yang sejati." Andra membalas tatapan Bylla.


Mata biru milik keponakannya menyiratkan kemelut sendu. Namun Andra tak lantas menyuruh mundur. Jika lelaki yang dia cintai sudah menikah, apa yang bisa harapkan? Lebih baik dia mendukung wanita itu menikah dengan lelaki yang mencintainya.


Bylla tersenyum masam, sesungguhnya bukan kalimat ini yang ingin ia dengar. Untuk pertama kalinya, Bylla merasa kecewa dengan jawaban Andra.

__ADS_1


"Ya Allah, hamba tahu takdir-Mu selalu indah, tapi kenapa hati ini gundah. Dulu hamba menerima lamaran Kak Rubben, demi mengobati luka hati. Tapi kenapa semakin kesini, perasaan untuk Ghani semakin terpatri. Sekian lama bersama, kenapa masih tidak ada perasaan untuk Kak Rubben. Ya Allah, hamba tidak mungkin membatalkan pernikahan ini, dan merusak rumah tangga Ghani. Tapi bolehkah berharap pada sekeping asa atas cinta yang hamba rasa," batin Bylla. Ia mengerjapkan mata dengan cepat, berusaha menghalau air mata yang siap tumpah.


Bersambung...


__ADS_2