Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa

Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa
Kecelakaan


__ADS_3

Ketika Bylla masih menunduk lesu, dan mencoba memahami apa yang terjadi dengan hatinya. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara pintu yang berdecit, seorang lelaki muda sedang membuka pintu sambil tersenyum lebar.


"Budhe, saya masih ada di sini. Saya tidak kemana-mana," ucap lelaki itu.


Bylla tersentak kaget, spontan ia langsung mendongak, dan menatap ke arah lelaki yang tak lain adalah Ghani. Hatinya berdebar kala netranya menangkap sosok Ghani yang sedang tersenyum manis. Tubuh tegapnya dibalut kemeja panjang warna putih, dan sarung warna coklat. Rambutnya disisir rapi, wajahnya tampak segar, dan terlihat lebih rupawan, daripada biasanya.


"Ternyata yang sudah dijual adalah rumahku sendiri. Oh takdir, betapa malangnya nasibku, kenapa aku harus berakhir seperti ini," kata wanita paruh baya itu sambil menangis keras. Ia terus meraung sambil melangkah pergi, menjauhi rumah Ghani.


Bylla menatapnya sambil mengernyit heran. Apa yang sebenarnya terjadi?


"Maaf Bylla, dia orang baru, dia adiknya Ibu yang tinggal di sana," ucap Ghani sambil menunjuk ke arah rumah yang berada di seberang jalan.


"Sebenarnya dia tinggal bersama suaminya di Malang. Tapi bisnisnya bangkrut, dan suaminya di penjara, karena tidak bisa melunasi hutang-hutangnya. Dia sangat terpukul, dan jadi seperti itu. Otaknya sedikit, mmmm," sambung Ghani sambil menggaruk kepalanya, berharap Bylla akan mengerti dengan apa yang ia maksudkan.


"Stres?" tanya Bylla.


"Ya, semacam itulah." Jawab Ghani.


Bylla mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedikit lega, karena ternyata Ghani tidak pergi kemana-mana. Sekilas Bylla melirik Ghani yang berdiri di hadapannya. Tanpa ia ketahui dari mana datangnya, tiba-tiba ada perasaan aneh yang menjalar dalam dirinya. Sebuah rasa yang membuat jantungnya berdetak cepat, dan membuat hatinya berdebar keras, namun juga sangat nyaman untuk dinikmati. Ada apa dengan dirinya?


"Mmm Bylla, ayo masuk! Maaf aku terlambat membukakan pintu, tadi aku dan yang lainnya masih shalat," kata Ghani sambil tersenyum.


Bylla memalingkan wajahnya, ia merasa sangat gugup saat menatap senyuman Ghani.


"Bylla!" panggil Ghani, karena Bylla hanya diam dalam waktu yang cukup lama.


"Mmm maaf, aku...aku hanya sebentar. Sebenarnya, aku hanya ingin memberikan ini padamu. Tolong ajak Arron, dan juga anak-anak, ya!" kata Bylla sambil beranjak dari duduknya, seraya menyodorkan kertas undangan kepada Ghani.


Ghani terpaku seketika, wanita yang dicintainya benar-benar menikah. Ia masih bergeming, terlalu berat untuk menggerakkan tangannya. Rasa sakit dan sesak di dadanya, membuat tubuhnya membeku saat itu juga. Seperti inikah cinta? Dia datang dengan sendirinya, dan pergi dengan semaunya. Dia menghadirkan keindahan, namun ia juga meninggalkan kedukaan.

__ADS_1


Bylla menatap lelaki yang mematung di hadapannya. Ada apa dengan dirinya? Jantungnya semakin berdetak cepat saat melihat Ghani menghembuskan nafasnya dengan kasar, mungkinkah ia telah membuatnya kecewa?


"Ghani, kau baik-baik saja?" tanya Bylla.


"Mmm aku baik, aku tidak apa-apa. Maaf." Jawab Ghani.


"Ini undangan untukmu, ajak Arron dan juga anak-anak!" kata Bylla mengulangi ucapannya.


"Iya, terima kasih," jawab Ghani sambil meraih undangan itu.


"Iya, cukup Arron dan anak-anak yang datang, tapi tidak denganku. Aku tidak cukup kuat untuk menatapmu bersanding dengan pria lain di pelaminan. Meskipun aku sadar siapa diriku, tapi nyatanya perasaan ini sangat menyiksaku. Bylla, kau hadir dan bertahta dalam hatiku, entah bagaimana caranya aku menghapus namamu. Kau telah menempati seluruh ruang dalam khalbuku." Batin Ghani dalam hatinya.


"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu ya!" ucap Bylla sambil tersenyum.


"Iya, hati-hati!"


"Assalamu'alaikum."


Lalu Bylla melangkah pergi, dan masuk ke dalam mobilnya. Ia mulai melajukannya, dan meninggalkan Ghani yang masih terpaku di tempatnya.


Ghani menatap kepergian Bylla dengan hati yang tak menentu. Tak sedikitpun ia memalingkan netranya, sampai mobil Bylla menghilang di tikungan.


Ghani menunduk, menatap wajah ayu Bylla yang terukir di dalam kertas undangan. Ia sedang tersenyum manis bersama calon suaminya. Ghani memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya, ia mencoba menenangkan hatinya yang terus bergejolak.


Dengan langkah yang berat, Ghani masuk ke dalam rumahnya. Ia menggenggam erat kertas undangan, yang ada di tangannya. Ghani mentap sekilas ke arah anak-anak yang sedang mengaji bersama Arron. Ia tersenyum masam, sambil terus melangkah menuju ke kamarnya.


Senja telah jauh berlalu, kini tinggal malam yang mengalun merdu. Dalam keremangan, Ghani duduk bersimpuh di atas tikar yang digelar di atas lantai. Ia menengadahkan kedua tangannya, mengadu pada Sang Pencipta atas apa yang yang terjadi dengan hatinya.


"Ya Allah, hanya Engkau yang mengerti, seperti apa perasaan hamba. Ampuni dosa-dosa hamba Ya Allah, mungkin tidak seharusnya hamba memikirkan wanita yang belum halal bagi hamba, bahkan sekarang wanita itu akan menjalin hubungan halal dengan lelaki lain. Ya Allah, jika dia memang bukan takdir hamba, tolong hapuskan perasaan ini, dekatkanlah hamba dengan jodoh hamba yang sesungguhnya. Hamba mohon Ya Allah, hanya Engkau yang berkuasa membolak-balikkan hati, tolong hapuskan perasaan hamba untuknya, Ya Allah." Kata Ghani kepada Sang Penciptanya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Arron masuk ke dalam kamar. Ia mendekati Ghani, dan duduk di sebelahnya.


"Kenapa Bang?" tanya Arron.


"Minggu depan Bylla menikah. Kau datanglah bersama anak-anak, aku akan menunggu di rumah!" jawab Ghani sambil menghela nafas panjang.


Arron menatap secarik kertas undangan yang ada di pangkuan Ghani. Ia meraihnya, dan membacanya sekilas.


"Sabar ya, Bang!" ucap Arron sambil menepuk bahu Ghani.


"Aku ikhlas Ron, lelaki itu yang bisa membuatnya bahagia," jawab Ghani seraya beranjak dari duduknya, dan melangkah menuju jendela kamarnya.


Arron menatapnya dengan nanar.


"Ya Allah, tolong jodohkan Bylla dengan Bang Ghani. Jika takdir mereka sebenarnya tidak berjodoh, tolong rubahlah takdir itu. Kasihan Bang Ghani, dia sangat tulus mencintai Bylla. Berikanlah kebahagiaan untuk mereka berdua," batin Arron sambil menatap punggung Ghani.


***


Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 malam. Gemerlap bintang, dan indahnya sinar purnama, tampak menghiasi hamparan langit luas. Kelap-kelip lampu kota, berpadu dengan sorot lampu kendaraan yang berlalu lalang di jalanan, menemani sang malam yang belum lama menyapa.


Bylla masih duduk di dalam mobil, ia mengemudikannya dengan kecepatan tinggi. Sejak tadi perasaannya tidak nyaman, ia ingin secepatnya beristirahat di kamarnya. Rumah Ghani sudah jauh ia tinggalkan, dan beberapa kilo lagi, ia akan tiba di rumahnya sendiri.


Tak lama kemudian, Bylla dikejutkan oleh suara ponsel yang berdering nyaring. Bylla membuka tas selempangnya, dan meraih ponselnya, ternyata Reymond yang menelepon.


Ketika Bylla hendak mengusap tombol hijau, tiba-tiba ponselnya malah terlepas dari genggamannya. Ponsel itu jatuh di dekat kakinya.


"Ahh, malah jatuh lagi," gerutu Bylla sambil menunduk, dan meraih ponselnya.


Belum sempat Bylla menegakkan duduknya, tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara tabrakan yang cukup keras, bersamaan dengan kaca mobil yang hancur berserakan, menghujami tubuhnya. Detik selanjutnya, Bylla tak ingat lagi apa yang terjadi dengan dirinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2